Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Tragedy Wedding Private #2


__ADS_3

"Cih, aku peringatankan, jangan jadi gila disini, kamu taukan ayahmu ada di sini Nesya!".


ucap Lediya sembari melipat ke dua tangan di dadanya.


" Hahaha, lalu kenapa?, O ya apa kamu takut tersaingi olehku, sehingga kamu menyuruh ke dua orang gila itu merobek gaunku, haa!".


"Bagaimana kalau begini saja, kamu mendoakan yang terbaik untuk pernikahan antara Tjhin Won dan aku sebagai pasangan pengantin", Ledek Lediya.


"Cuih tidak mungkin, aku akan memberitahu semua orang yang hadir, kalau kamu dan ayahmu hanyalah keluarga matre, yang sengaja mendekati keluarga Lee, untuk menyelamatkan perusahaan kalian dan ingin menguasai harta mereka!", ancam Nesya.


"Tutup mulutmu!!!".


Lediya segera memberikan tendangan tepat di wajah Nesya namun tidak mengenainya, hanya saja ujung heelsnya yang runcing berhenti tepat didepan mata Nesya yang hanya berjarak 5cm, membuat mata Nesya terbelalak kaget, butiran keringat dinginpun turun dari dahinya.


Lediya menyeringai lalu menurunkan segera kakinya, saat heels Lediya sudah menjauh dari depan matanya, kaki Nesya langsung melemah dan jatuh terduduk di pasir karena kaget, tak lama Nesya pun tersadar dan segera bangkit matanya dibakar amarah.


"Kau wanita s****n, aaaaaah", Nesya ingin mencengkram Lediya namun Jun Min segera menghadangnya, Nesyapun memukul, menendang, dan mencakar, seperti orang sudah kehilangan kewarasannya, tanpa sengaja wajah Jun terkena goresan kuku tajam Nesya,


"Sreeet".


"Ouch!", Jun meringis.


Lediya segera mencengkram tangan Nesya lalu memelintir nya dan mendorong nya hingga jatuh tersungkur di pasir.


"Jun kamu tidak apa-apa?, Nesya kau benar-benar sudah gila", ucap Lediya.


"Kalian kenapa pada diam saja, cepat pegangin wanita gila ini!", perintah Lediya kepada para pengawal.


Para pengawal segera berhamburan menahan dan memegang tubuh Nesya yang sudah kehilangan akal sehatnya.


"Cukuuup Nesya!!!", Bentak seorang pria separuh baya, sembari lari tergesa-gesa yaitu ayah Nesya yang bernama Satria.


Nesyapun segera berhenti dari kegilaannya, begitu melihat dan mendengar bentakan dari ayahnya.


"Maaf sudah menyebabkan masalah untukmu dan semuanya", ucap Satria lembut kepada Lediya.


"Tidak apa-apa Om, hanya saja....", ucapan Lediya terpotong dengan kedatangan Almira.


"Jika dia tidak bisa mengendalikan dirinya, aku rasa akan lebih baik untuk tidak membiarkannya keluar Satria", Almira menghampiri, dengan wajah muram.


"Diya sayang kamu tidak apa-apakan?", tanya Almira khawatir, lalu segera menatap Nesya dengan tatapan tidak suka.


"Mira, maafkan kelakuan kekanak-kanakan Nesya, itu karena kami terlalu memanjakannya", ucap Ibu Nesya bernama Siska yang juga sudah berada disisi Satria suaminya.


"Aku akan terus mengawasinya, dan membawanya ke cottage, sekali lagi maaf ya nak Diya,nak Jun, dan Mira", ucap Satria dengan penuh penyesalan, lalu segera menghampiri Nesya.


"Jangan mempermalukan disini Nesya, lihat apa yang kamu lakukan, sangat memalukan, kita tidak bisa tetap disini, ayo ikut ayah", Satria segera menarik lengan putrinya.


Sesampainya didepan cottage tempat Nesya menginap dengan ayah ibunya, Nesya masih terus berusaha melepaskan diri dari cengkraman ayahnya,


" Tidak ayah aku tidak mau, lepaskan, Tjhin tidak boleh menikah denganya ayah, hanya aku yang boleh menikah dengan Tjhin, lepaskan... ".


Nesya terus memberontak, sebuah tamparanpun melayang ke arahnya,


"Plaaaak..", Satria melayangkan tamparan.


"Ayah, kenapa kau menampar putrimu", teriak Siska tak terima.

__ADS_1


"Ini semua kesalahanmu Siska, karena terlalu memanjakannya, lihat ulahnya telah mempermalukan keluarga dihadapan semua orang, dan keluarga Lee", geram Satria.


"Kok kamu malah menyalahkanku, justru kamu yang salah, kitakan tau Nesya sudah dari kecil memang menyukai Tjhin, harusnya kita segera menjodohkan Nesya dengan Tjhin sebelum gadis itu masuk ke kehidupan keluarga Lee", sahut Siska tidak mau kalah.


Satria mengusap wajahnya dengan kasar.


"Memang kamu pikir aku tidak berusaha menjodohkan Tjhin dengan Nesya, itu akan sangat menguntungkan perusahaanku, selama ini aku terus membicarakannya kepada Suk Ho, namun Almira maupun Tjhin tidak menyetujuinya, kamu lihat saja sikapnya hari ini telah merusak nama baik keluarga, jangan sampai pertemanan ku hancur dengan Suk Ho hanya gara-gara kelakuan bodoh anak ini", ucap Satria masih dengan nada kesal.


"O ya, kurung dia di dalam dan jangan biarkan keluar, jangan sampai dia menghancurkan pernikahan Tjhin atau kita bisa dapat masalah besar", ucap Satria lagi.


"Nesya ayo masuk sayang, ingat jangan menambah masalah kedalam keluarga kita, atau ayahmu akan mencabut kartu kredit dan semua fasilitas yang diberikannya kepadamu". bujuk Siska.


" Tapi bu, aku menyukai Tjhin, aku tidak bisa terima dia menikah dengan musuh bebuyutan ku hiks...", Nesya terisak, Siska memeluk erat putri tercintanya itu.


"Ibu tau sayang, ikhlas kan Tjhin, suatu saat nanti ibu yakin kamu akan menemukan pasangan yang lebih baik nak", Siska memeluk sembari membelai lembut rambut Nesya.


Nesya tidak mau menerima nasihat ibunya, lalu pergi menjauh dari pelukan ibunya, dan menghempaskan apapun benda yang terlihat olehnya.


"Aaaaaah, hiks... hiks, aku benci Diya, dia selalu saja berhasil mengalahkanku, aku harus mencari cara untuk menghancurkannya, ya harus..".


Nesya mondar mandir berbicara sendiri, lalu sesekali menghempas kan apapun yang dilihatnya.


"Nesya Hentikan, ayahmu nanti bisa mengamuk melihat cottage ini berantakan, sadarlah sayang!!", Siska mengguncang-guncangkan pundak putrinya.


"Aku pasti akan merebutnya dari perempuan itu, tidak akan aku biarkan perjuanganku selama ini sia-sia, akan kubuat Tjhin menceraikannya, hahaha!".


Tawa Nesya menggema ke seluruh ruangan, tingkahnya sudah seperti orang yang kehilangan akal sehatnya, membuat Siska ibunya bergidik, dan hanya bisa terdiam sambil mengawasi, supaya tidak terjadi sesuatu hal yang tidak dinginkannya.


💞


"Ssshhh, aw sakit", protes Jun seraya menghela tangan Lediya yang sedang mengobati luka cakar dibagian dagunya.


"Sakit sekali ya Jun?, maaf aku akan lebih berhati-hati lagi".


Lediya melanjutkan kegiatannya membersihkan dan mengobati luka Jun dengan lebih lembut.


Beberapa saat keduanya hanya diam, karena Lediya terlalu fokus mengobati luka Jun, sedangkan lelaki itu begitu fokus menatap wajah Lediya dari dekat, Lediya yang tidak nyaman ditatap demikian, lalu segera menghentikan kegiatannya.


"Syukurlah lukanya tidak terlalu dalam Jun, o ya terima kasih karena telah menolongku tadi sehingga membuatmu terluka seperti ini, sekarang kau sudah bisa kembali ke cottage mu Jun".


Lediya membalikkan tubuh, hendak beranjak, dan bergerak menuju pintu untuk membuka pintu, namun Jun menahan tangan Lediya.


"Diya duduklah sebentar, ada yang ingin kubicarakan padamu", Jun menatap Lediya dengan tatapan memohon.


"Baiklah, tolong di persingkat dan langsung ke intinya ya Jun, takut nanti menimbulkan prasangka buruk dari orang lain, karena sebentar lagi aku akan menikah, tidak pantas seorang wanita berlama-lama didalam cottage dengan pria lain selain suaminya", Lediya kembali duduk diatas ranjang tempat ia mengobati Jun.


"Diya biarpun ini hal yang salah, aku hanya ingin mengatakan sejujurnya, kalau aku....", belum selesai Jun berucap, terlihat seseorang membuka pintu dengan kasar.


Braaak!


Lediya menatap lekat netra di wajah garang calon suaminya, alis Tjhin nyaris bertaut dan terdapat kerutan diantaranya, memancarkan kekecewaan disana.


"Apa yang kamu lakukan di dalam bersama Jun sepupuku!!!, sebentar lagi kita akan menikah, apa kata para tamu undangan, kalau seorang mempelai wanita berada di cottage bersama pria lain di acara pernikahannya yang tinggal beberapa jam lagi!", bentak Tjhin.


"Tapi aku hanya mengobati luka Jun, dia terluka karena menolongku tadi, lagipula ada Sari dan Indra didepan menunggu", Lediya menjelaskan sembari berjalan keluar pintu, namun tidak ada siapa-siapa didepan.


"Jangan beralasan Diya, kamu lihat tidak ada siapapun diluar sini, yang kulihat hanya kalian berdua berada di dalam cottage dengan pintu tertutup!", wajah Tjhin semakin merah padam rahangnya menegang menahan amarah.

__ADS_1


"Ta.. tapi.... ".


"Ada apa Diya, kenapa raut wajah suamimu semenyeramkan itu?", tanya Sari yang tiba-tiba muncul entah darimana


"Sar, kamu kemana, si Indra juga gak ada, kenapa kalian meninggalkanku tanpa memberitahukanku", tanya Lediya dengan wajah kesal.


Karena hal itu bikin kesalahan pahaman antara dirinya dan Tjhin.


"Maaf perutku sedikit mules, jadi ke toilet sebentar, tapi tadi aku suruh Indra jangan kemana-mana, haaah emang tuh b***i, kagak bisa diandalkan".


Sari memutar bola matanya dengan jengah, karena orang yang dimaksud menghilang entah kemana.


"Ayo cepat pergi dari sini".


Tjhin menarik lengan kiri Lediya dengan kasar sehingga membuat Lediya meringis kesakitan.


" A.. aw.. aw sakit Tjhin lepaskan ".


Melihat Lediya meringis kesakitan, Jun segera menahan lengan kanan Lediya.


"Lepaskan Tjhin!!, kau tidak lihat Diya kesakitan".


Tjhin dan Jun pun saling berhadapan menatap tajam, masing-masing menahan lengan Lediya, tidak ada yang mau melepaskannya.


-Astaga, adegan ini udah seperti drakor yang kutonton selama ini, yang dimana tokoh utama wanitanya diperebutkan ke 2 oppa tampan, aku merasa seperti jadi tokoh utama wanita, jadi begini ya rasanya, hehehe. (batin Lediya).


"Itu urusanku, aku ini suaminya, kau yang harus melepaskannya, ingat Diya ini istriku berarti sepupu iparmu!", Tjhin memperingati.


Akhirnya mereka berduapun melepaskan cengkraman mereka, sekilas muncul kekecewaan diwajah Lediya.


-Yaaah masa begitu doang, gak ada adegan tarik-tarikannya sih kayak di drama. (batin Lediya).


"Haah gak seru iih", kata-kata itu terlontar begitu saja tanpa Lediya sadari.


Tjhin, Jun, dan Sari pun menatap kearah Lediya heran.


"Apaan yang gak seru?", tanya Tjhin


" A.. ah hahaha, maksudku cuaca nya rada mendung, gak seru kalau gak ada kembang api nanti kalau sampai hujan, gitu maksudku, ya gak Sar", Lediya berkata dengan nada gugup wajahnya merah menahan malu, lalu memukul punggung Sari.


"Aw, apaan sih?", ucap Sari jengkel karena tiba-tiba Lediya memukulnya.


Dari ujung terlihat Indra kembali sembari membawa dan menikmati zuppa sup, wajah Lediya dan Saripun langsung berubah mendung, Indra langsung di suguhi tatapan tajam mereka berdua.


"Kenapose, sumpe muka ye.. ye pade udin kayak buntelan, emang akika salah apose?", tanya Indra sembari memasukkan sesuap zuppasup ke mulut nya, merasa tak berdosa.


"U dari mana aja Ndra?, aku udah suruh u tunggu disini dulu, mau ke toilet bentaran, eh malah u ikut ngilang, suami Diya kan jadi salah paham noh!", ucap Sari kesal.


"Oo sorry ganteng, tadi akika udina lepra(laper), jadi cari makan di sindang, dapet ini endes endolita, mawar gak ganteng?", ucap Indra sembari menawari dan mengedipkan mata genit kepada Tjhin juga Jun.


"Diya aku balik dulu ya ke cottage ku", Jun buru-buru izin dan segera pergi.


-Buset dah, tuh manusia planet dari mana, bikin aku bergidik takut aja. (batin Jun).


"Ikut ke cottageku sekarang, ada yang ingin ku bicarakan!", Tjhin segera menarik tangan Lediya menuju cottagenya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2