
Tjhin meracau gelisah dalam tidurnya, keringat membasahi dahi Tjhin,
"Jeje... jeje.. jangan tinggal kan aku, Jenifeeeer!" teriak Tjhin.
Tubuhnya melonjak bangun, sudah 1 Minggu ini Tjhin selalu bermimpi buruk, sejak menyaksikan kematian tragis kekasih nya yang bernama Jenifer, Tjhin biasa memanggilnya dengan sebutan jeje, dia tidak akan pernah bisa melupakan Insiden tragis itu, yang telah merenggut kebahagiaan nya hanya dalam 1 malam.
"Aku tak akan biarkan pembunuh itu, lihat saja dimanapun kamu berada akan kucari, dan kubalas berlipat x ganda," gumam Tjhin,
Terlihat raut marah sekaligus benci yang teramat sangat di wajahnya, dia ingin memenjarakan si penabrak itu namun tak memiliki bukti, belum ada CCTV di sana, karena disitu masih banyak lahan kosong.
Tjhin segera mengambil ponsel yang berada di atas meja kecil samping ranjang tidurnya, dan menelepon asisten kepercayaannya.
"Hallo, selamat pagi tuan," terdengar suara disebrang sana.
"Jhon tolong kamu cari informasi tentang pemilik nomer mobil B 1**5 V*J segera, " perintah Tjhin ke asisten nya.
"Baik tuan, " jawab asisten nya.
Tjhin mematikan dan menaruh kembali ponselnya di atas meja, dan menyandarkan dirinya di kepala ranjang, dia kembali teringat dan mengenang saat-saat bersama jeje kekasih nya.
Kenangan Tjhin dan Jeje
(flashback sebelum insiden terjadi)
Jenifer adalah gadis cantik, pintar, dan Ceria,
satu-satunya gadis yang bisa membuat seorang Tjhin bertekuk lutut, sekaligus cinta pertama Tjhin.
Jeje seorang anak yatim piatu dan memiliki seorang adik.
Jeje bekerja sebagai Chef di Hotel berbintang milik Tjhin.
Tjhin dan Jeje sudah berpacaran selama 5 tahun, namun tidak ada seorang pun yang mengetahui hubungan mereka berdua, termasuk orang tua Tjhin, hanya beberapa orang dekat mereka yang mengetahui nya, seperti Asisten Tjhin, Kepala Chef, dan adik Jeje tentunya, karena Tjhin dan Jeje sengaja merahasiakan nya.
Mereka hanya bertemu saat diluar jam kerja, supaya tidak ada gosip bertebaran soal mereka berdua, apalagi Tjhin adalah CO dan General Manager di hotel itu.
Tjhin berencana untuk melamarnya terlebih dahulu dan saat Jeje menerima lamaran nya nanti, barulah dia akan mengajak Jeje bertemu ke dua orang tuanya yang saat ini berada di K*r*a.
didalam kantor General Manager, terlihat Tjhin sedang Asyik membaca dan menandatangani berkas-berkas penting, disamping nya sudah berdiri Asisten General Manager yang biasa di panggil Jhon olehnya.
"O ya Jhon, gimana persiapan yang saya suruh kamu atur untuk acara lamaranku malam ini,di Taman hiburan yang baru selesai di bangun itu?" tanya Tjhin, sambil tangannya menandatangani berkas-berkas.
"Sudah 90% selesai tuan, tinggal menunggu 99 batang rose, katanya sudah dalam perjalanan ke sana, dan sesuai perintah tuan hanya 1 teknisi yang bertugas untuk menyalakan semua lampu-lampu di taman hiburan itu saat nona Jeje datang, dan menyuruhnya segera pergi meninggalkan kalian berdua," jawab Jhon.
"Untuk mini dress yang saya suruh kamu beli, sudah di antarkan ke Jeje belum?" tanya Tjhin.
"Sudah diantar ke nona Jeje tadi pagi tuan, " jawab Jhon.
"You're John's best assistant, "
mengacungkan ke dua jempolnya ke arah Jhon.
"Aku sudah gak sabar melihat Jeje, pasti dia sangat cantik memakai mini dress itu, " Tjhin tersenyum sebentar, lalu segera kembali ke wajah datarnya, saat melihat sekilas tawa kecil asisten nya.
"Ehem."
__ADS_1
Tjhin berdehem dan merasa sedikit malu, lalu lanjut menandatangani berkas-berkas yang ada di hadapan nya.
Dalam hati Jhon, Ingin rasanya meledek dan tertawa sekeras-kerasnya melihat tingkah GM sekaligus teman tampannya ini, namun diurungkan nya, karena mereka saat ini sedang berada di kantor, dia tak menyangka dibalik sikap dingin Tjhin ada keromantisan juga untuk wanita yang dicintai nya.
Sementara di dapur hotel, terlihat Jeje sedang sibuk menyiapkan berbagai hidangan untuk para tamu hotel.
"Tolong ambil kan saos dan daging cincang nya segera!" perintah Jeje ke asisten chef, sambil tetap sibuk menumis bawang bombay.
Keadaan di dapur hotel berbintang itu memang selalu rame pengunjung setiap jam makan malam, tapi hari ini para chef luar biasa dibuat kalang kabut, karena di hotel sedang ada kedatangan tamu Olimpiade.
Ponsel Jeje berdering berkali-kali, Jeje berhenti sejenak mengambil ponsel dan berlari masuk keruang persediaan bahan-bahan makanan, untuk mengangkat ponselnya.
"Hallo sayang, ada apa menelepon?" tanya Jeje.
"Sayang, jangan lupa ya sama janji kencan kita jam 21.00 malam ini ke alamat yang kukirim barusan," jawab Tjhin lembut.
"Hmm oke, mungkin aku agak telat ya sayang, masih banyak yang perlu aku kerjakan, begitu aku menyelesaikan semua pesanan tamu Olimpiade aku akan langsung berangkat sendiri naik busway supaya tidak kena macet, ingat jangan suruh asisten mu menjemputku, kasihan nanti kelamaan, aku belum tau kapan akan selesai, " jawab Jeje.
"Chef Jen, Chef...cepatlah pesanan terus berdatangan," asisten nya menghampiri Jeje dengan gelisah, dan mengagetkan Jeje.
"Astaga kamu mengagetkan aku saja," sambil menyembunyikan ponsel di balik punggung nya.
" Kamu keluar duluan ya, potong segera paprika, dan bersihkan ikannya, aku akan segera menyusul!" perintah Jenifer ke asisten chef.
"Sayang udah dulu ya, aku harus segera pergi menyiapkan hidangan-hidangan tamu, bye muaach, " Jen memberikan kecupan, dan segera mematikan ponselnya.
"Huh, Jeje seperti nya sedang sibuk sekali, karena hotel kita kedatangan banyak tamu-tamu dari luar negeri yang sedang mengikuti Olimpiade di sini Jhon," Tjhin mengeluh pada asisten didepan nya yang sedang mengemudikan mobil.
Jhon hanya tersenyum tipis melihat dan mendengar keluhan dan kegelisahan Tjhin.
"Tenang aja Tjhin, si Jeje pasti menepati janjinya untuk datang, walaupun akan sedikit terlambat, selama ini kan Jeje yang selalu tungguin u, hari ini gantian lah u yang nungguin dia, biar sekali-sekali ngerasain, klu menunggu itu adalah pekerjaan menyebalkan, " ledek Jhon tertawa kecil, sekalian nyindir temannya itu.
"S****n u Jhon," teriak Tjhin kesal sambil menendang kursi belakang Jhon yang sedang mengemudi.
Sebenarnya Jhon dan Tjhin sudah berteman dekat dari sejak kecil, ayah Jhon dulu juga asisten dari ayahnya Tjhin saat berada di Indonesia, keluarga mereka memang sudah turun temurun melayani setiap pewaris di keluarga Tjhin, namun ayahnya Jhon sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena sakit kanker dan ibu Jhon meninggal di saat Jhon masih berusia 5 tahun.
Saat istrinya meninggal ayahnya dan dirinya tinggal bersama keluarga Tjhin. saat di kantor Jhon akan berbicara dan bersikap Formal kepada Tjhin dengan memanggilnya tuan, tapi saat mereka hanya berdua dia akan berbicara dan bersikap non-formal.
Jhon dan Jeje juga berteman, mereka 1 kampus, hanya jurusan yang mereka ambil berbeda, awalnya Jhon lah yang memperkenalkan Jeje kepada Tjhin, jadi bisa dibilang cinta Tjhin dan Jeje mak comblang nya tuh ya si Jhon.
Author : segitu dulu kali ya penjelasan tentang pertemanan mereka bertiga, nanti klu diterusin bisa 3 bab, nyok kita lanjut ke lamaran si Tjhinπ.
Jeje masih berkutat di dapur hotel, akhirnya selesai juga kesibukan nya, Jeje membersihkan segala alat-alat masaknya bersama Asistennya, Jam sudah menunjukan pukul 22.00 malam.
"Jen, bukannya kamu ada janji malam ini dengan seseorang, lihat kamu sudah terlambat 1 jam ,Cepatlah! jangan membiarkan dia menunggu lama," kepala chef mengingatkan.
" Astaga saya hampir lupa, Terima Kasih sudah mengingatkan saya Chef, " Jeje buru-buru berlari ke ruang ganti karyawan.
Jenifer segera menanggalkan baju chefnya dan menggantinya dengan mini dress perpaduan warna pink dan biru muda yang diberikan oleh Jhon, aah pas sekali dibadannya, Jeje yang emang dasarnya udh cantik, makin kelihatan sweet dan seksi.
Setelah selesai dia buru-buru pergi keluar hotel dan berlari menaiki tangga busway yang berada tepat di depan Hotel, dari Hotel ke alamat Taman hiburan yang di kirimkan Tjhin memerlukan waktu sekitar 50 menit, setelah turun dari halte busway Jeje masih harus berjalan kaki ke dalam lagi sekitar 10 menit baru kemudian sampai di Taman Hiburan itu.
" Ternyata cukup jauh juga dari halte busway kesini, tau gini aku minta dijemput aja tadi ngapain tadi sok-sok nolak, huuh," keluh Jeje.
Sementara itu di dalam Taman Hiburan, Tjhin yang sudah sedari tadi menunggu pun mulai gelisah, Tjhin terus menelepon Jeje tapi tidak di jawab-jawab, setelah 10 menit barulah ada jawaban dari Jeje.
"Hallo sayang, " jawab Jeje.
__ADS_1
"Kamu udah sampai mana, hampir 2 jam aku menunggu, jangan bilang kamu masih di hotel jam segini?" jawab Tjhin dengan nada kesal.
"Iya sayang maaf, Aku udh sampai, tinggal nyebrang tunggu bentar ya sa.....," Tiba-tiba perkataan Jeje terhenti, terdengar ada sesuatu yang menabrak dan pembicaraan langsung terputus.
" Je... Jeje, jawab sayang jawab," muka Tjhin pun mendadak pucat.
Tjhin segera berlari sekencang-kencangnya menuju pintu utama Taman Hiburan, jarak tempat lamaran Tjhin dengan pintu utama cukup jauh, bila berlari bisa memerlukan waktu sekitar 10 menit, sesampainya di pintu utama, Tjhin melihat dari kejauhan, dia diam terpaku tak percaya.
Perasaan takut mulai menyerangnya, tangannya gemetar dan kakinya serasa mati rasa sehingga sangat sulit untuk melangkah, air matanya keluar tak tertahan kan saat dia melihat Jeje kekasihnya itu sedang menggapai sepatu seorang pria paruh baya, dan kembali jatuh tergeletak di aspal, dia melihat kekasihnya itu sudah bersimbah d***h.
Saat melihat apa yang telah dilakukan si penabrak itu, wajahnya merah padam, dan mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan amarah nya, dan kegeraman nya makin bertambah saat penabrak itu malah masuk kedalam mobilnya, dan melarikan diri tanpa menolong kekasih nya.
Tjhin berlari sekuat tenaga mengejar mobil itu, namun dia tidak berhasil, karena mobil si penabrak itu sudah melaju jauh, dia hanya berhasil mengingat nomer kendaraan nya.
Jeje telah berada di atas Brankar Ambulance, petugas Ambulance segera membawanya memasuki ruang UGD dengan di temani Tjhin saat perjalanan menuju UGD.
Jeje sempat tersadar sebentar, Ia melihat pria yang di cintainya berada disampingnya berlari mengikuti petugas sambil menggenggam tangannya dengan erat.
"T..jh..in, ma...ma..af kan aku, a..ku ba..ha...gia bi..sa me..nge..nal..mu, te..ri..ma ka..sih," ucap Jenifer terbata-bata.
Seketika itu juga tangan Jeje yang menggenggam tangan Tjhin terlepas, lalu dia menghembus kan nafas terakhir nya, yaa itulah kata terakhir Jeje untuk Tjhin.
πππππ
...Tentang Lee Tjhin Won...
Lee Tjhin Won adalah keluarga Konglomerat yang memiliki hotel-hotel berbintang tersebar di beberapa bagian dunia.
Tjhin CO sekaligus GM di beberapa hotel yang berada di Indo yang di pimpin oleh Tjhin, dan memiliki taman hiburan terbesar di Indonesia, yang baru selesai dibangun, dan rencana akan dipakainya untuk acara melamar Jeje kekasih nya sebelum diresmikan dan dibuka untuk umum.
Dia pewaris utama keluarga Lee, putra dari pasangan Lee Suk Ho pengusaha sukses dan pemilik hotel-hotel berbintang di beberapa bagian dunia itu, yang menikahi Roro Almira yang lahir dari keluarga bangsawan Jw.
Wuih dari ke dua orang tuanya aja udh kelihatan ya Tjhin ini dari lahir, sudah berdarah biru (ini cuma istilah ya, darahnya mah tetep merah kayak kitaπ).
Lee Tjhin Won biasa dipanggil Tjhin ini campuran antara Kor dan Jw, So perpaduan nya aja udh kelihatan gimana tampan dan manisnya si Tjhin ini.
Fisik Tjhin :
tinggi 185cm
dada bidang
perut sixpack
kulit eksotik seperti Aktor Kai EXO
Wajah Tjhin :
alis tebal dan hidung mancung seperti aktor Lee Dong Wook.
terdapat lesung di pipinya dan senyum an yang amat manis semanis gula, seperti Aktor Lee Min Ho.
bibir seksinya seperti aktor Lee Jong Suk.
Tjhin amat sangat tampan dan sempurna, idaman semua para wanita, so cool saat bersama orang lain namun so sweet saat bersama orang yang dicintai nya.
Author : Hai, pembaca setia Novel Toon,
__ADS_1
jangan lupa buat yang mampir, kasih jejak dengan Like, Vote, Favorite, Share dan komennya ya, LidZ tunggu π.