Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Jangan Memberikan Harapan


__ADS_3

Lediya menatap Tjhin tajam.


"Dasar pria g*la, ge*blung, si*ting", ucapnya pelan namun masih bisa terdengar oleh Tjhin.


"Kau bilang aku apa hah?!".


" Aku tidak bilang apa-apa ".


" Kau kira telingaku tuli, jelas-jelas aku mendengar kau mengumpatiku! ".


" Apa Tokonya masih jauh?", tanya Lediya mengalihkan pembicaraan.


"Jangan suka mengalihkan pembicaraan".


" Siapa yang mengalihkan pembicaraan, aku hanya bertanya, aku sudah tidak sabar ingin berbelanja, untuk menghabiskan uangmu".


"Oh ya, asal kau tahu, sampai tujuh turunan pun bahkan lebih, hartaku tidak akan pernah bisa dihabiskan", ucap Tjhin menyeringai.


" Huh kau memang pria yang sangat angkuh!, tau dah, anak sultan memang beda, betapa beruntung nya diriku menikah dengan anak Sultan". Lediya mencebik kan bibir nya.


Tjhin pun menanggapi ucapan Lediya dengan senyuman.


Tak lama sampailah mereka disebuah toko yang cukup terkenal di Bali.


Setelah memarkirkan mobil, Tjhin pun turun lalu ia memutari mobil, membuka kan pintu mobil untuk Istrinya, dan mereka melangkah masuk ke dalam toko oleh-oleh khas Bali itu.




"Waw lengkap sekali disini, ehem aku seperti nya harus pemanasan terlebih dahulu".


Lediya segera memutar-mutar bahu, membuka kakinya lebar lalu menekuk lututnya kekanan dan kekiri, setelah itu pinggul nya pun diputar kebelakang lalu kedepan, semua yang berbelanja menatap heran, ada juga yang tertawa kecil.


Tjhin terbelalak melihat apa yang dilakukan istrinya itu.


" Hey hentikan, apa kau sudah tidak waras, untuk apa kau melakukan pemanasan disini".


Namun wanita itu tidak menghiraukan nya.


"Cih,wanita ini sungguh tidak tahu malu, benar-benar ingin membuatku gila".


Wajah Tjhin memerah karena malu, buru-buru ia menutup wajahnya dan menyingkir meninggal kan Lediya.


"Sial, jangan sampai ada yang mengetahui, kalau aku suami dari wanita gila itu".


Lediya menatap pria itu pergi, lalu munculah seringai di sudut bibirnya.


-Biar tau rasa kau pria dingin tak berperasaan, aku sengaja lakukan ini untuk membalasmu, supaya kau jauh-jauh dari ku, aku akan belanja sepuas-puasnya menggunakan black cardmu anggap saja itu bayaran untukku karena tadi seenaknya kau menciumku lalu menghempaskan ku begitu saja, dikira aku j*l*ng apa. (batin Lediya).


Setelah selesai pemanasan, terakhir wanita itu mengibas-ngibaskan telapak tanganya, lalu segera mengambil 2 troli, dan berjalan kesana kemari, tidak ada satupun rak yang terlewat oleh matanya.


Lediya memborong berbagai oleh-oleh ciri khas Bali, dari pie susu, kacang bali, souvenir, bahkan baju, ia mengisi 2 troli itu penuh.


Tjhin yang melihat tingkah laku istrinya itu, hanya menggelengkan kepala nya, ia tak menyangka seorang CO Harley bridal dan fotografer, bak orang kesetanan kalau belanja.


"Pantas saja dia melakukan pemanasan, sudah 3 jam ia berkeliling, apa gak ada capeknya nih cewe", gumam Tjhin.


Melihat Lediya sudah berbaris dikasir, Tjhin pun segera menghampiri nya.


"Kenapa gak sekalian aja kau borong berikut toko juga karyawannya, mau taruh dimana oleh-oleh sebanyak itu, mobilku mana muat! ", ucapnya jengkel.


"Tenang kita hanya membawanya sebagian, sebagian nya lagi aku suruh mereka untuk mengirim paket langsung ke kediaman mu".


"Terserah kau saja, bawa sendiri belanjaanmu, aku tunggu di mobil", ucap Tjhin jengkel.


Pria itu hendak pergi meninggalkan wanita itu untuk menuju mobil, namun Lediya segera berteriak.


" SAYANG!".

__ADS_1


Tjhin pun segera menghentikan langkah nya, mendengar teriakan Lediya itu, semua menatap ke arah Tjhin juga Lediya, pria itu segera berbalik dan menghampiri wanita itu.


"Kau sengaja ya ingin mempermalukan ku", bisik Tjhin.


Lediya pun segera berakting.


" Sayang, bantu bawain ya tangan dan kakiku capeeek sekali, karena habis berkeliling, tolong ya sayangku".


Wanita itu sengaja menggelayut manja, sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.


-Wanita ini, hah!, pasti dia sengaja ingin mengerjaiku, baiklah kuladeni aktingmu. (batin Tjhin).


"Oh tentu dong sayang, tapi kau harus menciumku terlebih dahulu, gimana", ucap Tjhin menaik turunkan alisnya.


-Sial, kenapa jadi balik aku yang dikerjainya. (batin Lediya).


Cup


Lediya mengecup pipi Tjhin.


"Sudah puas kan, nih tolong bawain ya sayang".


" No no no, aku mau kau mencium yang ini".


Tjhin mengusap pelan bibirnya sendiri dengan ibu jarinya.


-Gila nih ya laki, minta cium terooos, dasar otak m*s*m. (batin Lediya geram).


" Bli bagus, mesranya nanti aja dirumah, jangan disini, kita yang jomblo kan merasa tambah ngenes ini", ucap salah satu anak muda yang sedang berbelanja.


"Iya bli, liat kalian mbok pengen jadi pengantin baru lagi nih jadinya", ucap wanita paruh baya yang berbelanja.


Beberapa orang yang berbelanja disitu pun tertawa.


Wajah Lediya berubah merah karena malu, wanita itu segera memberikan semua belanjaan nya ke Tjhin, dan segera melangkah pergi, menuju mobil.


"Eh tunggu.....".


-Awas aja kamu Diya, akan kubalas kau nanti. (batin Tjhin).


Lediya yang sudah berada di depan mobil, melihat Tjhin kesusahan berjalan karena membawa plastik sekaligus papper bag didepan dadanyapun, tertawa, ia puas sudah bisa mengerjai suami dinginnya itu.


"Mampus kau, emang enak dikerjain", gumam Lediya sembari mencebik kan bibir.


"Diya, cepet buka pintu mobil, kuncinya ada di kantong celanaku, ambilkan".


Lediya pun tertawa kecil melihat suaminya kerepotan membawa barang belanjaan nya, iapun segera menghampiri dan merogoh kedalam kantong celana Tjhin, dan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ia sentuh.


"Eh apaan ini, kok makin lama makin keras", gumam Lediya.


"Hey, aku menyuruh mu mencari kunci mobil, bukan menyentuh benda keramatku".


Wajah Lediya pun merona malu.


" Ma.. maaf aku tak sengaja, disini tidak ada seperti nya, ku periksa kantongmu satu lagi", jawab Lediya.


Lediya pun kembali merogoh kantung celana satunya lagi, rogohan tangan wanita itu kembali menyentuh dan menimbulkan gesekan ke sang junior, sungguh membuat Tjhin menelan salivanya kasar.


Glup..


"Kau ini, ambil kunci mobilnya yang benar!, jangan ngerambat ke mana-mana".


Tjhin benar-benar jengkel dibuatnya, secara itu si otongnya bangun, gegara sentuhan dan gesekan telapak tangan Lediya.


"Abis kantong celanamu dalam sekali, dan juga terlalu ketat, aku susah menggapainya, ah akhirnya dapat juga".


Tjhin pun bernafas lega, hampir saja ia frustasi menangani gejolak hasratnya, Lediya segera membuka pintu belakang, dan memasukan barang belanjaan yang di bekap oleh suaminya itu, selesai memasukan semuanya, mereka pun masuk kedalam mobil, dan melajukan mobilnya kembali ke cottage.


Skip

__ADS_1


Sesampainya didalam cottage, Tjhin membaringkan tubuhnya sejenak di atas kasur, ia ingin meluruskan punggung, kaki, juga tangan nya, yang berasa pegal-pegal, karena menemani Lediya berbelanja, dan membawa barang belanjaan nya yang cukup banyak.


-Aku tidak akan mau lagi, menemani wanita berbelanja, sungguh menyiksa, apa mereka tidak merasa lelah berkeliling kesana kemari, wanita memang ajaib, ckckck. (batin Tjhin).


"Tjhin apa kau ingin mandi?", tanya Lediya.


" Hmm".


"Kalau begitu, aku siapkan air mandi untukmu".


Lediya segera masuk kedalam kamar mandi, membuka keran, mengatur suhu air, dan mencampurkan minyak beraroma therapy, setelah pas, ia pun segera keluar.


" Tjhin air mandi sudah siap, mandilah".


Pria itu segera bangun lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sedangkan Lediya, membuka lemari dapur, untuk melihat apakah ada yang bisa dimasak, karena perutnya sudah merasa lapar.


Wanita itu mengambil satu bungkus indomie, lalu membuka kulkas mengambil, telur, sayur, baso, sosis dan daun bawang, tidak lupa dengan cabe rawit.


Perlu beberapa menit agar indomie lengkap versinya matang sempurna, lalu ia juga mengoreng sosis untuk dia makan dengan saus cabe kesukaan nya, selang beberapa menit Lediya berhasil menghirup aroma sedap ke dua masakan nya.


"Indomie by Lediya sudah siap", bisiknya.


Satu suap, dua suap, membuat lidah Lediya benar-benar dimanjakan, wanita itu memainkan bentuk panjang dari mie bertekstur kenyal itu, kemudian menyesapnya, berlanjut sampai beberapa kali, namun Lediya berhenti saat menyadari nafas hangat dibelakang nya.


" Boleh aku mencicipi nya? ", ucap Tjhin.


-Bagus ini kesempatan ku untuk membalas perlakuan nya tadi saat berbelanja, yang sangat menjengkelkan. (batin Tjhin).


Lediya tertegun dan kehilangan akal untuk pergi, mie yang belum sempat masuk kedalam mulut sepenuhnya, Tjhin sudah membalikkan tubuhnya, untuk merebut mie yang menggelantung di dagu, kemudian merebutnya hingga habis dari mulut Lediya.


" Ka..kau juga lapar ya?, nih makanlah kalau kau mau, biar aku makan sosis saja", ucap wanita itu gugup.


Lediya segera menggeser kesamping mangkok indomie nya, lalu ia mengambil sosis tidak lupa dicelupkan nya ke saus, lalu memasukannya ke dalam mulut dengan terburu-buru sehingga terdapat jejak saus di sekeliling bibirnya, saat memasukan sosis berikut nya kedalam mulutnya, pria itu segera merebutnya kembali hingga habis dari mulut Lediya.


"Enak".


Tjhin tidak menyisakan setetes saus di bibir Lediya dan menyapu bersih dengan lidahnya.


" Manis ", ucapnya lagi.


Bukan karena merasa ngeri atau takut, Lediya dapat merasakan degup yang semakin kurang ajar, karena suaranya mampu terdengar sampai Tjhin, pria itu pun tersenyum.


Lalu jemari Tjhin sengaja mencocol saus dengan jari telunjuk, kemudian mengoleskan nya ke area bibir Lediya, wanita itu masih tertegun, tangan pria itu meraih pinggang Lediya, hendak kembali menikmati dan merasakan halus bibir istrinya, entah mengapa pria itu merasa bibir manis wanita dihadapannya telah menjadi candu baginya, apakah hanya karena hasrat sesaat atau memang cinta sudah mulai merasuki hatinya, itu masih menjadi pergumulan dalam dirinya.


Saat bibir pria itu hampir menyatu dengan bibirnya, Lediya pun segera tersadar, spontan ia menendang kursi yang diduduki Tjhin, pria itupun terjengkang kebelakang.


Bruuk...


"Aw.... kau sungguh wanita bar-bar".


" Siapa suruh kau selalu berbuat sesuka hati kepadaku, untuk selanjutnya jangan pernah menyentuh ku saat kita hanya berdua, kecuali dihadapan orang tua kita dan orang lain aku akan memaklumi, supaya tidak ada yang curiga", ucap wanita itu ketus.


"Apa salahnya aku mencium istriku sendiri, bahkan kalau aku mau lebih dari itu, bukankah sudah hakku sebagai suamimu!", ucap Tjhin tegas.


" Ya kalau kita memang suami istri sesungguhnya, sedangkan kita ini hanya pura-pura, pernikahan kita hanya berdasarkan kesepakatan, ingat itu!", sahut Lediya.


Entah mengapa hati Tjhin merasakan sakit, mendengar kata kesepakatan yang dilontarkan Lediya, Tjhin sama sekali belum menyadari kalau sebenarnya, posisi Jenifer sudah mulai tergantikan sedikit demi sedikit oleh istrinya, namun ia terus menyangkal nya.


Tjhin pun segera bangkit, ia segera mengambil jaketnya hendak keluar, namun terhenti begitu Lediya kembali bersuara.


"Tjhin, kalau kau tidak bisa mencintai ku, jangan pernah memberikan harapan kepadaku, jangan terlalu baik ataupun dekat denganku, karena aku bisa salah paham, dan menyangka kau mulai mencintaiku", ucap Lediya lirih.


Tjhin segera pergi keluar meninggal kan Lediya tanpa berkata sesuatu pun, wanita itu terus menatap punggung pria yang dicintai nya itu hingga hilang dibalik pintu.


Tak terasa air matanya pun terjatuh, wanita itu terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu, dari awal ia sudah jatuh cinta dengan pria itu, namun seperti nya Tjhin hanya mempermainkan nya.


"Tidak adakah sedikit pun cinta dihatimu untukku Tjhin, mengapa kau masih begitu mencintai wanita yang sudah tiada didunia ini, tidak bisakah kau memberikan sedikit celah untuk kutempati", ucapnya lirih.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2