
Pagi hari yang cerah, Lediya sudah rapi dengan setelan santainya, ia terlihat cantik dengan riasan tipis seperti biasanya, lalu ia melirik ke arah pria tampan yang masih tertidur lelap, Lediyapun berjalan dan berdiri di samping ranjang Tjhin berada.
"Cih, nyenyak sekali tidurmu di kasur empuk dan hangat itu tuan muda Tjhin, sedangkan diriku hampir beku diluar sana, bahkan punggungku sekarang terasa sakit", gumam Lediya.
Lediya membungkuk kan badannya,
"Tuan Tjhin terhormat... ", Lediya berbisik lembut di telinga Tjhin, pria itu hanya menggeliat matanya masih tertutup rapat.
"BANGUUUUN WOI", teriak Lediya ditelinga Tjhin, sehingga pria yang tadinya masih terlelap itu terlonjak kaget.
"Kau kira telingaku tuli, untung saja aku tidak punya sakit jantung seperti ibuku, Bisa-bisa kau langsung menjanda", Tjhin menggerutu kesal.
"Hmm, seperti nya bagus juga, aku bisa jadi janda tapi perawan, dan juga tajir.
Kalau gitu apa kau mau aku buatkan teh atau kopi suamiku sayang?", Lediya menampakkan senyuman manisnya, yang membuat wajah Tjhin merona merah.
-Ada apa dengan wanita ini, tiba-tiba jadi semanis ini, jangan-jangan dia mulai menyukaiku, hmm tentu saja siapa yang bisa menolak pesonaku, berarti makin mudah aku membuatnya menderita nanti, setelah dia jatuh cinta padaku, akan segera kucampakkan dia, ayahnya pasti akan berlutut memohon, untuk aku tidak meninggalkan putrinya tercinta, dan saat itu tiba, akan kubuat dia mengakui kejahatannya dan memenjarakan nya, hehehe. (batin Tjhin).
"Bikinkan ku kopi saja", jawab Tjhin dengan nada datar.
"Oke, tapi tunggu sebentar ya, aku harus pergi membeli sesuatu dulu, untuk tambahan di kopinya", sahut Lediya.
"Dilemari dapur cottage ini sudah lengkap dengan teh, kopi, gula, dll, apa lagi yang perlu dibeli hanya untuk secangkir kopi?", tanya Tjhin heran.
"Belum lengkap".
"Memang kau mau buatkan ku kopi seperti apa, dan memangnya apa yang belum ada, nanti ku telepon room servis untuk membawakannya kesini?", Tjhin segera mengangkat gagang telepon hendak menelepon bagian room servis.
"Sianida, aku mau bikin kopi sianida buatmu suamiku, bwahahaha", Lediya tergelak.
Tjhin menaruh gagang telepon dengan kasar,
" Bruk ".
" Ouch ".
Sebuah bantal pun melayang ke wajah Lediya, sehingga tawanyapun terhenti, Tjhin menatap tajam ke manik Lediya,
"Puas kamu menertawakanku", Tjhin bangkit dari kasurnya, lalu meraih pundak Lediya dan mendorongnya jatuh ke atas kasur, ia menindih tubuh mungil Lediya, dan menguncinya.
Kini mata keduanya saling bertatapan, wajah mereka sangat amat dekat sehingga hembusan nafas ke duanya begitu terasa, debaran dada Lediya mulai tak beraturan.
"Ku peringatan, sebelum aku menghajarmu lebih baik kau lepaskan aku sekarang,atau....".
"Atau apa?, aku ini suamimu bukankah berdosa seorang istri membantah atau bahkan menghajar suaminya hanya karena menyentuh tubuhnya, sudah bagus aku tidak meminta hakku, kuharap kau menjaga sifatmu, jangan membuatku lepas kendali, atau aku akan menghukummu dengan cara yang menyakitkan", Tjhin menegaskan.
Tjhin segera melepaskan kunciannya, lalu bangkit pergi menuju kamar mandi, lalu menendang tempat sampah yang berada di pojokkan kamar mandi.
"Wanita s****n, berani sekali dia membodohi dan mengerjaiku", gumam Tjhin.
"Dingin dan angkuh sekali sifatnya, tidak bisa diajak bercanda sedikit pun, lama-lama beneran ku taburi sianida di satai baru tau rasa, kayak yang lagi booming sekarang ini, hehe".
Drrtt drrttt drrrtt
Lediya mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias, tertera nama si penelepon Ibu Syantik, Lediya pun segera mengangkatnya dengan senyum sumringahnya,
__ADS_1
"Hallo Diya sayang, kalian sudah pada bangun belum", tanya Almira di sebrang sana.
"Udah bu, Diya udah rapi tinggal tungguin Tjhin yang sedang mandi".
"Oo ya udah, nanti kalau kalian udah rapi, langsung ke resto cottage ini ya, kita sarapan bersama, sebelum ayah ibu, ayahmu dan lainnya kembali ke JK".
"Oke bu, nanti Diya sama Tjhin langsung kesana".
"Baiklah kalau begitu, kami tunggu ya sayang".
Tut tut tut
telepon pun terputus.
Lediya segera menyiapkan baju Tjhin yang baru 1 hari menjadi suaminya, ia berusaha semaksimal mungkin melakukan semua perjanjian pernikahannya sebaik mungkin, supaya tidak harus membayar denda.
"Tapi kenapa Tjhin tidak mencantumkan berapa lama aku harus menjadi istrinya ya, dasar pria aneh, apakah dia lupa?, huh kalau seperti inikan aku tidak tahu kapan harus bersiap-siap sebelum diriku diceraikan, apa aku mulai mencari pacar saja ya supaya saat aku diceraikan, tidak begitu merasakan sakit". gumam Lediya
-Tidak bisa, ada perjanjian yang no. 3, Pihak B tidak boleh merusak citra dan reputasi pihak A dalam bentuk apapun, tapi sampai kapan?, yang aku takutkan diriku ini, bagaimana kalau aku semakin cinta dan tidak bisa melepaskannya, kayak di drama-drama romans bahkan di novel-novel yang sering kubaca juga begitu, apakah Tjhin bisa mencintaiku?. (batin Lediya).
Lediya membuang nafasnya dengan kasar,
"Huh, melelahkan".
Tanpa di sadari Tjhin sudah berdiri dibelakangnya,
"Apa yang sedang kau keluhkan?, apa kau lelah dan tidak suka menyiapkan segala keperluan ku, berarti kau harus membayar denda karena melanggar perjanjian no. 2".
"Kyaaa astaga jantungku mau copot".
Tjhin berjalan mendekati Lediya untuk mengambil baju yang berada di gengaman Lediya, seperti biasa selalu mengekspos dada bidang, dan tubuh atletisnya setelah mandi, entah sengaja atau ia memang sudah tidak punya urat malu, Lediyapun menelan l***h nya dan segera menutup matanya, yang sering kali tercemar karena ulah Tjhin yang selalu keluar dengan hanya handuk melilit di pinggangnya.
"Untuk apa kau menutup matamu, apa kamu tidak pernah melihat seorang pria bertelanjang dada seusai mandi?", ledek Tjhin.
Lediyapun menggeleng kan kepalanya, terdapat rona merah diwajahnya.
"Hahaha, tidak mungkin, memang kau selama ini tidak pernah berpacaran?", tanya Tjhin lagi sembari memakai celana juga kaos yang di sediakan Lediya.
Lagi-lagi Lediya menggelengkan kepalanya.
"Berarti akulah pria yang pertama mencium, dan memelukmu, pantas saja sudah 2 kali aku m*****t bibirmu, tapi kau hanya mengatup rapat dan tidak membalas sama sekali, kau memang tidak berpengalaman, hahaha".
Terpampang senyum di wajah Tjhin, tak menyangka kalau dia akan menjadi pria, pacar, sekaligus suami pertama dari wanita dihadapannya ini, itu hal yang patut di banggakan.
"Siapa bilang kau pria pertama yang memeluk dan menciumku", jawab Lediya ketus.
Seketika senyum Tjhin memudar,
"Kau bilang sendiri belum pernah berpacaran, bagaimana bisa hal itu terjadi..., tunggu apa kau melakukan One-night stands?", wajah Tjhin berubah geram.
"Enak aja, kalau ngomong tuh dipikir dulu tuan muda Tjhin, menginjakkan kaki ke club malam saja aku belum pernah", sahut Lediya.
"Lalu siapa pria yang pertama kali mencium dan memelukmu, tanpa kau berpacaran dengannya?", tanya Tjhin penasaran.
"Itu, RA-HA-SIA, kurasa aku tak perlu menjelaskannya, kau masih ingatkan perjanjian no.4, selama masa pernikahan, kedua belah pihak, saling hormati privasi satu sama lain", ucap Lediya mencebikkan bibirnya, lalu segera melangkahkan kakinya menuju pintu, namun Tjhin menahannya.
__ADS_1
Tjhin menyudutkan wanita itu ke dinding dengan mengukung tubuh Lediya, karena kekesalan yang sudah menumpuk dari semalam, dengan apa yang dilakukan Tjhin kepadanya, akhirnya Lediya tidak bisa berdiam diri lagi, segera Lediya menggunakan teknik gerakan pukulan, mengarah ke tengah di mana perut atau ulu hatilah yang menjadi sasaran, namun Tjhin mengepalkan tangan untuk menangkis pukulan nya, terjadilah Tjhin dan Lediya saling menyerang dengan teknik bela dirinya masing-masing.
Lediya pun melakukan tendangan dengan memutar tubuh ke belakang 360 derajat dan inilah yang di sebut sebagai tendangan tornado, namun lagi-lagi berhasil ditangkis.
Terjadilah petarungan antara taekwondo (Lediya) VS Judo (Tjhin) selama 30 menit mereka bergelut.
Karena tubuh Lediya yang terbilang mungil, akhirnya bisa di kalahkan oleh Tjhin dengan menggunakan teknik bantingan Judo dengan menggunakan pangkal paha sebagai titik tumpu bantingan.
"Bruuuk".
Tjhin menjatuhkan Diya diatas kasur.
"Ouch, aw...sakit".
"Cukup, apa kau tidak lelah Diya, berhentilah, apa kau belum puas, kita sudah melakukannya selama 30 menit", ucap Tjhin tersengal-sengal.
"Tentu saja aku lelah, tapi aku belum puas, aku akan mengumpulkan tenagaku dulu, lalu kita lanjutkan lagi, selama 1 jam pun aku akan meladeni mu", ucap Lediya dengan hati yang masih dongkol.
Nafas keduanya saling memburu, keringat keduanya bercucuran.
Tanpa disadari keduanya, didepan pintu mereka telah berdiri Almira ibu Tjhin dan ke 3 rekan sekaligus teman dari Lediya, sedang mendengarkan pembicaraan mereka berdua, tanpa berani mengetuk pintu, takut mengganggu.
"Astaga, saya tidak menyangka anak muda zaman sekarang begitu kuat, sepertinya sebentar lagi saya akan segera menimang cucu", terpampang senyuman bahagia di wajah Almira.
"Pantesan aja kita tungguin, tuh berdua kagak nongol-nongol, ternyata main suntik-suntikannya belum kelar, hehehe", ucap Sari
"Besok kayaknya gw kudu segera cari istri nih, gw serasa dipermainkan denger desahan mereka berdua, apa kita dobrak aja nih pintu, biar kelar", ucap Nikko ngasal.
"Dasar bocah gelo u Nik", sahut Sari.
"Aduh tante, kita balik aja yuk,mendengar pergelutan mereka berdua, jiwa jombloku serasa diolok-olok", ucap Sari lagi.
"Ho oh, kayaknya mereka bakalan lambreta deh tante, mereka masih mawar tambah 1 jam lagi, udin lepra nih akika, mending kita balik ajose, makan isi peyut", sahut Indra.
"Maafin tante ya, udah ngerepotin kalian minta ditemenin kesini, kita makan aja duluan sambil nunggu mereka berdua selesai, ayo", Almira segera melangkah pergi.
Akhirnya merekapun pergi, menyantap makan pagi mereka, sembari menunggu Tjhin dan Lediya menyelesaikan aktifitas panasnya, yah itu hanya dalam pikiran mereka, tapi kenyataan nya berbeda.
Didalam kamar,
"Kriuuuk".
Ke dua perut pasangan itu berbunyi,
"Aku udah laper nih, kalau kamu masih ingin bertarung denganku, kita lakukan nanti setibanya di JK, dirumahku ada tempat untuk kita bertarung", Tjhin bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Lediya bangun.
"Baiklah, sudah lama aku tidak melatih bela diriku, untuk berikutnya aku pasti akan mengalahkanmu", Lediya menyambut uluran tangan Tjhin dan segera bangkit menuju kamar mandi.
Saat ini mereka berdua sudah berganti pakaian, lalu segera keluar room, untuk menyusul orang tua, saudara, dan teman mereka, untuk bersama menikmati sarapan pagi.
Bersambung....
Author : Maaf hari ini LidZ telat update lagi, maklum lagi banyak kesibukan.
Pokoknya Jangan lupa tinggalin jejak Like, Vote, Komen, dan masukan ke Favorit kalian ya Readersku tercinta 🥰.
__ADS_1