Cinta Berbuah Luka

Cinta Berbuah Luka
Buah Simalakama


__ADS_3

Lanjutan cerita....


..."Untuk persyaratan lainnya aku bisa memenuhi nya, namun untuk persyaratan terakhir, kenapa pak Tjhin ingin menikahi putri ku?", tanya pak Hardian tak percaya dengan syarat terakhir yang diajukan Tjhin....


"Jadi begini, saya melakukan pernikahan ini karena bisnis, saya hanya berniat membantu anda, bukankah dengan menikah kan putri anda dengan saya, bisa membuat bisnis kita berdua lebih maju, dan pastinya akan banyak para Investor berdatangan untuk berinvestasi di perusahaan anda, dan saya juga memiliki jaminan, supaya anda nantinya tidak mengkhianati saya", jawab Tjhin menjelaskan.


-benar sekali yang diucapkan nya, klu Diya menikahi Tjhin, perusahaan ku bukan hanya saja tertolong dari masalah Finansial dan kebangkrutan, bahkan akan semakin kuat dan menjadi besar. Tapi... tidak bisa, kalau seperti itu berarti sama saja aku seorang ayah yang sangat buruk, karena telah menjual anaknya demi perusahaan ". (ucap pak Hardian dalam hati).


Bibir Tjhin menyeringai, saat melihat Pak Hardian sedang berpikir keras.


-Aku yakin kau akan masuk kedalam jebakanku pembunuh, dan tanpa sadar engkau akan menjerumuskan anakmu sendiri kedalam siksaan yang akan kubuat, kau tidak akan bisa menolak syarat ku itu, karena hanya itulah jalan satu-satunya supaya perusahaanmu tetap bertahan. (ucap Tjhin dalam hati).


"Anda tak perlu terburu-buru menjawab, silakan bicarakan terlebih dahulu dengan putri anda, begitu sudah mendapatkan jawaban, segera hubungi Jhon Asisten saya", ucap Tjhin.


"Pak Tjhin, apakah anda yakin dengan persyaratan itu...ehem(berdehem), maaf pak saya hanya ingin bertanya sedikit prihal pribadi anda, apa boleh?", tanya pak Hardian ragu.


"Tentu, silakan", sahut Tjhin memberi izin.


"Melihat dari Wajah, perawakan,karir, dan keluarga anda yang sangat hebat, bukankah anda pasti sudah memiliki wanita yang dicintai?", tanya pak Hardian penuh ragu.


"hmmm, memang saya sudah memiliki wanita yang sangat saya cintai, namun dia sudah tidak ada didunia ini, karena seseorang telah...", jawab Tjhin sedikit geram.


Jhon segera memotong pembicaraan nya,


"Maaf pak Hardian itu sudah masa lalu tuan Tjhin, seperti nya kurang pantas untuk dibicarakan disini, saya hanya ingin menjelaskan kalau saat ini tuan Tjhin masih single", Jhon menjelaskan.


" Oo oh ya, maaf kan saya pak Tjhin, pasti anda merasa kurang nyaman dengan pembicaraan ini, terutama soal mantan anda yang sudah..., ah maaf.. maaf Pak, klu begitu beri saya waktu untuk memikirkan dan membicarakan nya dengan putri saya terlebih dahulu, kami pamit undur diri".


Pak Hardian dan Bram segera beranjak dari tempat duduknya, dan berpamitan untuk pulang.


"Silakan,saya antar bapak sampai Lift", ucap Jhon sambil menuntun mereka ke arah pintu dan lift.


Tak lama Jhon pun kembali masuk ke kantor Tjhin.


"Tjhin apa kau sudah gila, tadi hampir saja kau keceplosan", teriak Jhon mengingat kan.


"Cih! Ingin rasanya kuhabisi dia sekarang juga Jhon, namun itu terlalu mudah untuknya, aku akan membuat dia perlahan-lahan merasakan sakit dan siksaan, sehingga rasanya dia ingin mati".ucap Tjhin penuh dendam.


"Matamu benar-benar sudah tertutupi dendam Tjhin, sehingga kau sudah kehilangan akal sehatmu, please sadarlah Tjhin, balas dendam itu adalah hal sia-sia yang akan membuatmu makin menderita!", Jhon terus mengingatkan, namun Tjhin tidak menggubris nya.


"Sebaiknya kau keluar Jhon, aku benar-benar muak dengan semua nasihat-nasihatmu itu", jawab Tjhin dengan nada kesal.


"Ok.. ok, kau memang laki-laki keras kepala Tjhin, lakukanlah sesukamu, kalau itu memang membuat mu merasa puas, namun jangan salahkan aku, apabila kamu menyesalinya nanti", ucap Jhon kesal sambil melangkah keluar dari kantor Tjhin.


Tjhin dan Jhon kembali fokus ke pekerjaan mereka masing-masing.


Sementara itu Pak Hardian dan Bram sudah kembali ke kantor.


"Bram seperti nya kita harus mencari cara yang lain, aku tidak mungkin bisa menjual putriku sendiri hanya karena bisnis", ucap pak Hardian penuh dengan kekhawatiran.

__ADS_1


" Saya paham soal itu pak, namun hanya inilah jalan satu-satunya supaya perusahaan kita bisa bertahan, tidak bisakah anda mencoba membicarakan nya dengan putri anda soal hal ini, bagaimana pun dia juga salah satu pemimpin di perusahaan ini dan berhak mengambil keputusan!", jawab Bram.


Pak Hardian hanya duduk terdiam, lalu beranjak mendekati jendela kantor nya dan berpikir sangat keras,


"Ini sama saja seperti memakan buah simalakama, salah satu harus aku korbankan", gumam pak Hardian.


Waktu sudah menunjukan Pukul 10 malam, Lediya sedang duduk di sofa menonton televisi, Diya melirik ke arah jam dinding.


"Tumben sudah malam begini ayah belum pulang, apakah dia lembur lagi, tapi bukannya tadi pagi ayah bilang sudah mendapatkan kontrak kerja sama dan investasi dari hotel keluarga Lee, hmm aneh", ucap Lediya khawatir, namun segera melanjutkan tontonan Drama Korea kesukaannya.


Tak lama terdengar suara mobil pak Hardian dan security membuka pagar.


"Eh ayah udah pulang",


teriak Diya dan segera beranjak menuju pintu dan membukakan pintu untuk ayahnya, namun Diya tak melihat senyuman hangat ayahnya seperti tadi pagi.


-Apa kontrak kerja sama ayah gagal dengan hotel keluarga Lee, atau mungkin ayah kelelahan karena lembur malam ini. (Batin Lediya bertanya-tanya).


Pak Hardian duduk dan menyandarkan tubuhnya di sofa, menarik nafas panjang dan menghembuskannya berulang kali.


Lediya segera menghampiri ayahnya.


"Ayah, ada apa, gimana kontrak kerja samanya?", tanya Lediya sembari memijat bahu ayahnya.


"Seperti nya ayah harus mencari cara lain nak, ayah yakin pasti bisa mendapatkan kontrak kerja sama dengan hotel lainnya, dan juga pengusaha yang mau berinvestasi di perusahaan ayah", jawab pak Hardian dengan suara lemah.


"Ayah, bekerja sama dengan hotel keluarga Lee lah, menurut Diya sangat tepat untuk perusahaan kita, itu bisa meningkatkan kepercayaan semua calon-calon pengantin, dari kalangan pejabat dan bahkan artis besar sekalipun akan mengenal Harley, dan perusahaan kita akan mengalami perkembangan yang signifikan", Lediya mencoba mengutarakan pendapat kepada ayahnya.


"Haaah ada hubungannya denganku, apa maksud ayah?", Tanya Lediya sedikit bingung.


Tak lama mbok Inah datang menghampiri.


"Tuan, air mandinya sudah siap", ucap mbok Inah.


"Ok Mbok, terimakasih ya", jawab pak Hardian dan segera beranjak dari sofa.


"Sudahlah nak, kita tidak perlu membahasnya lagi, ayah sudah memutuskan.


ayah mandi dulu ya sayang, badan ayah sudah lengket nih", segera beranjak pergi menaiki tangga.


Hardian sebenarnya sedang menghindari pertanyaan Lediya.


Setelah mendengar tutupan pintu kamar ayahnya, Lediya buru-buru mengambil ponsel dimejanya untuk menelepon pak Bram.


"Aneh, ada apa sebenarnya dan apa urusan nya denganku", Lediya bergumam.


Lediya mencari kontak pak Bram, dan segera memencet tombol telepon.


" Hallo nona Lediya, ada yang bisa saya bantu?", terdengar suara pak Bram di sebrang sana.

__ADS_1


"Pak, sebenarnya apa yang terjadi dengan ayah saat pertemuan tadi pagi, kata ayah ada persyaratan yang dia tidak bisa melakukannya dan itu berhubungan dengan ku?", tanya Lediya penasaran.


"Eh itu anu nona... sebaiknya nona tanyakan langsung ke pak Hardian", jawab Bram dengan ragu.


" Yaelah pak, kalau ayah saya mau menceritakannya dan menjawab pertanyaan saya, ngapain saya telepon bapak", jawab Lediya dengan nada kesal.


"Ayolah pak pleaseee, ceritakan kepada saya semuanya, sebenarnya ada apa,tidak biasanya ayah dengan mudahnya menyerah dan melepaskan kesempatan yang sangat bagus itu?", jawab Lediya memohon.


Karena dipaksa terus menerus oleh Lediya, akhirnya pak Bram menceritakan semuanya.


Setelah selesai mendengarkan semua cerita dari pak Bram, Lediya menutup telepon nya.


"Bruuuuk", Lediya tiba-tiba menjatuhkan dirinya ke lantai dan gemetar.


"Pantas saja ayah tidak bisa melakukan persyaratan itu, tapi kenapa tiba-tiba General Manager hotel itu ingin menikahiku, saya dan dia belum pernah bertemu sama sekali, tapi kenapa...kenapa, siapa dia sebenarnya???", ucap Lediya tak percaya dan amat sangat penasaran.


Lediya menaiki tangga dengan gontai, kakinya serasa sangat lemah, dan saat melewati kamar ayahnya, terdengar suara ayahnya sedang menelepon seseorang, ya ayahnya sedang menelepon Micko kepala Chef di hotel berbintang tempatnya Tjhin, Micko adalah teman akrab pak Hardian, yang sudah seperti keluarga baginya.


"Mic, Aku tau hanya itu jalan satu-satunya untuk menyelamatkan perusahaan ku dan semua karyawan, tapi apa kamu tau persyaratan yang diajukan oleh General Manager itu, dia meminta aku menikahinya dengan putri ku, kalau aku melakukan itu, sama saja aku telah menjual putri ku sendiri, dan aku tidak bisa menerima itu", ucap pak Hardian memberitahu Micko.


"Tjhin itu anak muda yang baik Hardi dan dia anak yang luar biasa hebat, bahkan bisnis apapun yang dia kelola pasti sukses, dan juga sangat tampan, hanya saja anak itu bernasib buruk dalam soal percintaan, kekasih nya meninggal sebelum dia berhasil melamar nya, dan mungkin itu yang membuat dia sangat kesepian, Lediya anak yang ceria, cantik, dan juga serba bisa, menurut saya sangat cocok sekali mereka berpasangan, ditambah mereka berdua sama-sama belum memiliki kekasih, cobalah kau pikirkan lagi demi perusahaan mu juga", Micko berusaha membujuk Hardian.


"Saat ini aku benar-benar frustasi Mic, kalau aku mempertahankan Diya, berarti aku harus merelakan perusahaanku tutup dan membuat ratusan karyawan ku menganggur, tapi kalau aku mempertahankan perusahaan, aku harus merelakan putri ku menikah dengan pria yang tidak dicintai nya, kamu tau pernikahan karena bisnis itu akan melukai mereka berdua, terutama Diya, dia pasti akan tersiksa, seumur hidup harus membina keluarga dengan orang yang tidak dia cintai dan tidak mencintai nya, A..aku ingin melihat Diya bahagia Mic, hiks.... hiks", jawab pak Hardian sembari menitikan air mata.


"Ayah, engkau memang seorang ayah yang sangat kukagumi, pantas tidak ada lagi senyuman hangat mu, ternyata selama ini engkau amat sangat menderita, terlebih lagi tidak ada seorang pun disisimu yang bisa mendukung dan menguatkanmu, semenjak ibu meninggal, ayah berjuang sendiri membesarkan ku dan membangun perusahaan", Lediya berbicara kecil didepan pintu kamar ayahnya.


Lediya kemudian melangkah kan kakinya menuju kamarnya, lalu masuk kedalam, dan menyandarkan dirinya di kepala ranjang, dia berpikir sejenak, dan terus terlarut dalam pikiran nya, tak terasa sudah 30 menit berlalu, dan pada akhirnya Lediya memutuskan,


"Inilah saatnya diriku membalas pengorbanan ayahku, aku akan menikahi pria itu, setidaknya aku bisa membantu perusahaan dan semua karyawan Harley, dan mengurangi penderitaan ayah, aku pasti bisa", ucap Lediya sambil mengepalkan ke dua tangannya.


Lediya mengambil ponselnya dan menelepon pak Bram,


" Hallo nona ada apa telepon lagi?,saya sudah menceritakan semuanya ke nona", jawab pak Bram di sebrang sana.


"Tenang pak, aku cuma ingin bapak bikin janji pertemuan antara aku dan General Manager itu besok, bilang padanya besok jam 11 siang aku akan menemui nya di restoran yang berada didalam hotelnya", Lediya memberi perintah kepada pak Bram.


" Baik nona, tapi apakah pak Hardian sudah mengetahui hal ini?", tanya pak Bram.


"Shtttt, jangan beritahu ayah ya pak, biar saya yang akan memberitahunya sendiri, saat sudah bertemu dengan GM itu, please", Lediya memohon.


"Baiklah nona saya akan segera menghubungi asisten GM", jawab pak Bram, lalu teleponpun terputus.


Lediya segera membaringkan diri diatas tempat tidurnya, dan berharap pertemuan nya besok dengan General Manager itu berhasil.


Bersambung....


Author : Hai... silakan memberi saran dan masukan yang positif untuk LidZ, supaya Novel LidZ ini semakin baik di setiap Episodenya, jangan lupa Like, vote, dan masukkan ke favorit kalian.


Novel LidZ ini update setiap hari ya di jam 8 malam.

__ADS_1


dimohon berbicara dengan tutur kata yang baik dan sopan ya, thanks🥰.


__ADS_2