
Mc memberi aba-aba kepada mempelai pengantin untuk meminta restu kepada orang tua.
Mereka berdua melangkahkan kakinya dan berhenti didepan Lee Suk Ho yang bersanding dengan Roro Almira.
"Tjhin, jadilah suami yang bertanggung jawab, setelah menikah bangun rumah tangga bersama Lediya, dan jangan bermain-main dengan sebuah pernikahan", bisik Suk Ho, ketika memeluk sang anak, memberi nasihat yang di balas dengan anggukan disertai senyum penuh arti oleh Tjhin.
-Maaf ayah, Lediya akan menjadi tempat melampiaskan dendam ku, untuk membalas perbuatan ayahnya karena telah membunuh kekasihku. (batin Tjhin).
Kemudian Tjhin beralih kepada Almira,
"Sayang, terima kasih sudah mengikuti ke inginan ibu...., ibu bangga sama kamu, jagalah selalu keharmonisan rumah tanggamu bersama Diya", bisik Almira sembari menitikan air mata bahagia.
Tjhin hanya menunduk, tidak kuasa menatap bola mata ibunya, ada perasaan menyesal karena telah membohongi ibunya yang sangat ia kasihi.
"Bersabarlah menghadapi Tjhin, jadilah istri sesungguhnya buat anakku Diya, ayah yakin kamu mampu mencintai dan dicintai", ucap Suk Ho dengan tatapan mata penuh arti, terselip permohonan dalam nada suaranya.
-Apa maksud ayah dengan jadilah istri sesungguhnya dan mampu mencintai juga dicintai, apa mungkin....., tidak mungkin kesepakatan pernikahan ini hanya, aku, Tjhin, dan juga Jhon yang mengetahuinya. (batin Lediya).
"I.... iya ayah, Diya akan berusaha menjadi istri yang baik bagi Tjhin", balas Lediya mencentuskan sebuah janji.
Lalu Lediya beralih pada Almira yang menatapnya dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
"Terimakasih sudah menjadi menantu ibu, dan cepat lah memberi ibu seorang cucu Diya".
Lediya hanya membalas dengan senyuman, lalu menunduk mengeluarkan air mata kesedihan, karena perasaan bersalah yang sangat besar, karena telah berbohong dengan Almira yang sudah dianggap seperti sosok seorang ibu baginya.
Kamudian mereka berdua beralih ke Hardian Putra Jap.
"Nak Tjhin, dari usia 3 tahun Diya sudah kehilangan ibunya, dan tidak memiliki siapapun, hanya aku ayahnya yang ia miliki, dari kecil aku sendiri yang merawatnya, bahkan saat bekerja Diya selalu kugendong dipunggung ku, tak pernah sekalipun aku meninggalkannya.
Saat ini aku serahkan putriku satu-satunya kepadamu, aku berharap kamu akan terus mengasihinya dan akan jadi orang yang menemani putriku seumur hidup", ucap Hardian, yang berhasil membuat air mata Lediya mengalir tiada henti.
"Iya ayah", ucap Tjhin singkat.
-Mendengar ucapan dari ayahnya, kenapa sekarang aku malah merasa kasihan dengan Diya, tapi bagaimana dengan Jejeku dia juga sudah tidak memiliki siapapun,hanya adiknya Leo yang dia miliki, namun pria ini telah merenggut nyawanya, aku harus kuat tidak boleh berubah pikiran demi Jeje kekasihku. (batin Tjhin).
"Nak, kamu sudah menikah memilki kehidupan mu sendiri bersama suamimu, berbaktilah kepadanya, seperti kamu berbakti kepada ayah, bersikaplah lemah lembut meski dia sekeras batu, karena semua pria akan luluh pada satu wanita yang bersikap lemah lembut kepadanya", bisik Hardian, seolah ia mengetahui kalau Tjhin tidak mencintai putrinya.
Lediya hanya bisa menganggukan kepalanya, air matanya terus mengalir sehingga ia tidak sanggup berkata-kata lagi.
Menjelang malam resepsipun dimulai, terdapat banyak sekali pondok-pondokan yang mengunggah selera, dan juga prasmanan, para tamu undangan menikmati hidangan dengan diiringi suara merdu singer dan alunan musik romantis.
Resepsi tersebut dibuat senyaman mungkin, tamu undangan yang tidak begitu banyak, membuat ke dua mempelai dan para tamu bercengkrama.
Setelah sesi salam-salaman memberi selamat selesai, Tjhin pergi untuk mengambil minum.
Jun melihat Lediya duduk sendiri dimeja yang di khususkan untuk pengantin, lalu ia menghampiri Lediya.
__ADS_1
"Lediya, selamat ya!", ucap Jun.
kemudian duduk satu meja dengan Lediya.
"Terimakasih Jun".
"O ya tadi siang bukankah ada yang ingin kau katakan padaku Jun?", tanya Lediya.
"Ah sudahlah, tidak terlalu begitu penting, semoga kau bahagia ya bersama Tjhin Diya", ucap Jun memaksakan senyuman.
"Thanks, kira-kira kapan acara kembang apinya ya, aku sudah tidak sabar menunggu", ucap Lediya.
Jun melihat jam yang melingkar ditangannya,
"Sepertinya sekitar 15 menit lagi, kau menyukai kembang api ya?", tanya Jun.
"Ya aku sangat menyukainya, dulu aku melihat kembang api bersama dengan ayah dan ibuku saat usiaku 3 tahun, jadi setiap melihat kembang api, aku akan selalu mengingat kenangan indah bersama ibuku", Lediya tersenyum sembari menatap langit berbintang.
Mata Jun terus menatap Lediya tak berkedip, wanita dihadapannya ini sungguh membuatnya terpesona.
-Cantik, kau sungguh gadis yang kuat, dan juga sangat baik Diya, bagaimana diriku tidak mengagumimu, seandainya saja aku lebih dulu bertemu denganmu, aku tidak akan pernah melepaskanmu, hanya saja sekarang kau telah menjadi milik Tjhin. (batin Jun).
"Ada apa dengan tatapanmu itu Jun, seolah kau ingin membawa lari istriku", ucap Tjhin tiba-tiba, ia sudah berada dibelakang mereka berdua, lalu Tjhin segera duduk di sebelah Lediya.
"Apa yang sedang kalian bicarakan", tanya Tjhin.
"Kami hanya membicarakan, kapan acara kembang apinya dimulai", ucap Lediya santai.
"Mari kita mulai hitung mundur, 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, dan satuuuuuu", teriak MC.
" Beng... beng.... ctaaar, ctaar".
Semua bersorak sorai dan bertepuk tangan.
"Huwaaaa indahnya", mata Lediya berbinar dan tersenyum bahagia melihat kembang api yang melesat dan bersahut-sahutan di langit malam bertabur bintang.
Lediya tidak menyadari 2 sosok tampan di kanan kirinya sedang menatap terpesona dengannya, matanya yang berbinar, dan senyum manisnya yang tulus menambah aura kecantikan seorang Lediya.
Bibir Tjhin melengkung membentuk senyuman, ada sedikit perasaan asing yang mulai masuk kedalam hatinya tanpa disadarinya.
Hari semakin larut, ke dua mempelaipun sudah berada didalam cottage besar Tjhin.
"Aku mau mandi dulu, siapkan piyamaku, ada di koper itu", perintah Tjhin sembari menunjuk koper besar disudut lemari.
"Kenapa kau tidak memindahkan nya ke dalam lemari, supaya lebih mudah mengambilnya".
__ADS_1
"Aku malas membongkarnya, kau saja yang bongkar dan susun kedalam lemari".
"Kenapa harus aku, kau kan bisa menyusunnya sendiri".
"Apa kau lupa, sekarang ini kau istriku, menyusun baju suami kedalam lemari adalah tugasmu, apa gunanya punya seorang istri kalau semua aku yang urus, kau masih ingatkan dengan perjanjian nikah kita yang no. 2", jawab Tjhin ketus, lalu duduk di sofa, menyandarkan kepalanya sejenak, karena merasa lelah.
"Huh, kalau kau berpikir istri itu untuk menjadi pelayan pribadimu, kenapa tidak nikah saja dengan salah satu pelayanmu, menyebalkan", gumam Lediya, lalu melangkahkan kakinya menuju koper besar milik Tjhin.
"Tjhin kenapa kau banyak sekali membawa baju, bukannya besok kita sudah akan kembali ke JK", tanya Lediya heran.
"Siapa bilang besok kita pulang, ibu menyuruh kita menginap disini 3 hari lagi, untuk berbulan madu, sedangkan ayah ibu dan lainnya akan kembali ke JK besok".
"Bu...bulan madu, apa cuma kita berdua di..sini?", seketika Lediya menjadi gugup.
"Sudah ku bilang kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan pernah menyentuh wanita yang tidak kucintai, selama 3 hari ini, kita pergi berkeliling dan melihat-lihat saja, hitung-hitung liburan, lagipula ada Jhon nanti yang akan mengantar kita".
"Kenapa kau tidak memberitahuku sebelum kita berangkat kesini, aku hanya membawa sedikit baju, karena kupikir besok kita sudah kembali", ucap Lediya kesal.
"Besok kita bisa pergi membeli baju, gak perlu ribet, aku mau pergi mandi dulu, jangan lupa piyamaku", ucap Tjhin lalu segera masuk ke kamar mandi.
"Apaan ini, malam pertama bukannya enak-enak, eh malah disuruh bongkar koper sama nyusun baju, dasar suami kampret emang", Lediya pun menghambur-hamburkan baju Tjhin ke udara karena kesal, begitu sadar baju suaminya berserakan kemana-mana karena ulahnya, buru-buru ia mengumpulkan dan melipat nya kembali lalu menyusunnya kedalam lemari.
Setelah selesai menyusun semua baju Tjhin dan juga bajunya, Lediya pun mengambil ponselnya lalu duduk diatas ranjang, dan berchat ria dengan ke 3 rekan sekaligus temannya.
Lediya : Kalian udah pada tidurkah?
Nikko : Woi Diya u masih sempet-sempetnya ngechat kita, emang belum mulai acara gol-golannya, wkwkwk.
Sari : U jangan lupa pake baju lingerie nya, biar klepek-klepek noh laki u, hahaha.
Indra : Gimandoske body laki ye Diya pasti mantap, akika yang cowo ajose ampe ngiler liatnya ih.
Nikko : Eh Ndra u itu setengah jadi, makanya ngiler, gw buktinya biasa aje, secara body gw juga beda-beda tipislah sama suaminya Diya.
Lediya : Idih kalian ini ya, yang nikah siapa yang rempong siapa sih, ckckckck.
Eh udah dulu ya, si Tjhin udah kelar mandi tuh.
Sari : Okelah selamat memulai main dokter-dokterannya ya, wkwkwkwk.
Nikko : Gw do'ain cepet jadi si jabang bayinya.
Indra : Ho oh dah, bye ucul.
Tak lama pintu kamar mandi pun terbuka, Lediya mengangkat kepalanya, matanya membulat sempurna ketika melihat pria itu keluar....
Bersambung....
__ADS_1
Author : Maaf hari ini LidZ telat up ya readers🙏.
Jangan lupa tinggalin jejak ya berupa like, vote, koment, dan masukan ke favorit kalian. thanks😘