
Kayla melangkah pergi dan duduk ditepi kasur. Sambil menatap Dirga, Kayla menanyakan sikap apa yang akan Dirga lakukan menghadapi anak yang tak pernah ia duga selama ini ia miliki bersama Irene. Sejujurnya Kayla tak ingin membahas hal itu sekarang,, tapi mau tak mau Kayla harus melawan rasa sakit itu untuk tetap bertahan demi Darren.
"Aku mau tanya Mas, apa Mas punya niatan untuk mengakui anak Ka Irene?" tanya Kayla.
Dirga mengikuti Kayla duduk ditepi kasur. Sambil menghela nafas pelan, Dirga mencoba menuruti Kayla untuk membahas soal anak yang ia miliki dari Irene.
"Semua tergantung kamu. Mas bukan gak mau mengakui kesalahan dan lepas dari tanggung jawab. Tapi Mas lebih mementingkan perasaan kamu dan juga Darren, kalau kenyataanya kamu gak terima Nadia sebagai anak Mas dari Irene, Mas gak akan mempermasalahkan hal itu"
"Mas sadar, sejauh apapun Mas menolak dan menghindari hal itu tetap aja bahwa Nadia lahir karna kesalahan Mas. Sekarang semua Mas serahin sama kamu, apapun hal yang kamu inginkan Mas akan turuti" ucap Dirga.
Kayla menatap Dirga sekilas, pasti hal yang dihadapi juga tak mudah Dirga terima.
"Kalau kamu yakin Nadia itu memang anak kamu Mas, aku mau kamu mengakui itu. Tapi, aku gak mau Mas kalau Darren tau soal ini. Aku gak peduli sesakit atau seterluka apapun perasaan aku, yang terpenting Darren tetap menjadi Darren seutuhnya dihidup kamu saat ini. Aku bukan mau egois, Aku cuma lebih mengutamakan perasaan dan mental Darren Mas. Dan Aku juga gak mau ada hal sekecil apapun tentang masalalu kamu yang harus Darren tau Mas nantinya" pinta Kayla.
Dirga menundukkan dirinya berlutut dihadapan Kayla. Dirga menyadari, tak mudah menjadi seorang ibu sekaligus wanita untuk tetap bertahan melewati semua yang terjadi. Tapi setidaknya Dirga merasa bersyukur, Kayla masih mau menerimanya untuk tetap bertahan disampingnya.
"Apapun yang kamu pinta Mas akan berusaha untuk memenuhi hal itu. Buat Mas, kamu dan Darren segalanya. Terimakasih karna kamu mau tetap bertahan disamping Mas, Mas begitu mencintai kamu dan juga Darren. Mulai sekarang, kita menata hidup kita kembali ya. Anggap yang terjadi adalah penguji untuk rumah tangga kita. Aku juga mau kamu memaafkan semua kesalahan yang membuat kamu sampai sesakit ini, jujur Mas gak ada maksud untuk itu. Mas tau kamu wanita yang baik, tolong jangan abaikan Mas lagi ya" Dirga memelas.
Kayla tersenyum kecil menatap Dirga. Mungkin sudah saatnya Kayla berlutut menerima pada keadaan. Karna yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan untuk keluarganya.
__ADS_1
Kayla refleks memeluk Dirga dengan eratnya. Rasa rindu yang tersingkirkan karna rasa kecewa selama ini seakan kembali lagi bersemi dengan memaafkan dan menerima yang terjadi. Tak hanya Kayla, Dirga juga begitu merindukan Kayla bahkan Dirga juga merindukan kebutuhannya terpenuhi oleh Kayla. Selama ini Dirga tak bisa mengelak jika pesona Kayla begitu mengairahkan tapi selama ini Dirga hanya bisa memendamnya karena situasi yang tak pantas untuk memintanya.
Kayla hafal betul sikap dan pemikiran Dirga. Keinginan Dirga yang selama ini terpendam begitu disadari oleh Kayla. Tanpa penolakan, Kayla menerima perlakuan Dirga yang begitu menginginkannya selama ini. Dan Kegiatan panas itu pun terjadi begitu saja tanpa memperdulikan hal yang pernah terjadi.
***
Tepat pukul 8pagi semua keluarga sudah berkumpul disekolah Darren. Rasa antusias dengan penampilan Darren seakan membuat semua keluarga begitu bersemangat. Sebelum masuk kedalam aula sekolah, Kayla masih menantikan kehadiran Kirana dan juga Dimas seorang diri. Sambil memegang handphone Kayla terus mencoba menelpon Kirana.
Akhirnya yang dinanti datang, Kirana dengan wajah memelas meminta maaf karna datang dengan terlambat.
"Maaf ya cantik telat.." rayu Kirana.
"Biasa Kay, kamu gak liat cantik paripurna Kirana ini karna apa? karna hasil berlama-lama make up dikamar dari pagi buta" sindir Dimas bercanda.
"Ih sayang kamu ko gitu sih, aku kan tampil cantik biar kamu tambah sayang juga" rengek Kirana yang membuat Kayla tersenyum.
"Ya udah yuk kita masuk, nanti kita terlambat liat Darren tampil lagi" ajak Kayla.
"Ayo"
__ADS_1
Semua keluarga begitu bahagia melihat penampilan Darren bersama teman-temannya diatas panggung. Bahkan mereka pun tak melewatkan sedikitpun untuk mendokumentasikan penampilan Darren sebagai kenangan masa kecil Darren nantinya.
Tak diduga, Mama Andin menangis kecil menatap Darren. Dirga yang duduk disamping Mama Andin, refleks memberikan tissu untuk menghapus airmata mata Mama Andin.
"Ini Mah, Mama terharu ya liat Darren" ucap Dirga.
"Iya Dir, Mama gak menyangka Darren ternyata sudah besar. Rasanya baru kemarin Mama mengendong Darren waktu bayi, tapi sekarang dia udah bisa tampil didepan panggung bersama teman-temannya" haru Mama Andin.
Dirga mengelus bahu Mama Andin sebagai tanda penenang, wajar saja Darren adalah cucu pertama bagi Mama Andin dan hal yang dilihatnya saat ini menjadi sebuah keharuan yang begitu berkesan.
Selesai menunjukan penampilan, Semua penonton bertepuk tangan sambil bersorak ria menandakan jika mereka begitu bangga dengan penampilan anak-anak diatas panggung termasuk Kayla dan Dirga. Mereka bahkan menahan airmata saat melihat Darren yang melambaikan tangan pada mereka sebagai wujud terimakasih karna sudah datang untuk menontonnya.
Merasa bangga, Dirga akhirnya berinisiatif untuk mengajak seluruh keluarga dan kerabat yang menonton pertunjukan Darren untuk menikmati masak siang bersama disebuah restoran yang sudah ia reservasi sebelumnya. Dirga juga sengaja memanfaatkan momen itu untuk berkumpul bersama, karna selama ini Dirga merasa ia kurang memperhatikan keluarganya karna kesibukannya bekerja.
Tiba di restoran, Dirga yang sudah menyiapkan segalanya meminta semua keluarga untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan. Namun ada hal yang sebenarnya membuat Dirga merasa janggal saat semua berkumpul, perasaan janggal itu adalah tatapan Papa Dito padanya yang sedikit berbeda dari biasanya.
Dirga merasakan hal itu sejak pertama pertemuannya dengan Papa Dito disekolah Darren tadi, rasanya ingin menanyakan sikap Papa Dito itu saat ini. Namun Dirga mengurungkan hal itu, ia tak ingin merusak suasana bahagia yang sedang terjadi. Jika nanti ada momen yang tepat, Dirga ingin menanyakan hal itu berdua dengan Papa Dito, semoga saja Papa Dito baik-baik saja dengan perasaan dan pemikirannya padanya.
***
__ADS_1