Cinta Dalam Perjodohan 2

Cinta Dalam Perjodohan 2
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Mas bawa makanan untuk kamu, kamu makan ya" ucap Dirga membawa makanan pada Kayla yang tengah bersandar disandaran kasur.


"Aku belum laper Mas. Lebih baik Mas dulu yang makan, dari pulang kantor Mas kan belum makan"


"Tapi kamu lagi gak sehat kan, jadi kamu harus lebih dulu makan. Mas nanti bisa ko makan sendiri"


"Gak mau Mas, pokoknya kalau Mas minta aku makan Mas juga harus ikut makan" pinta Kayla.


"Ya udah kita makan berdua ya, Mas suapin ya"


"Iya Mas"


Mereka berdua menikmati makan dalam sepiring berdua. Rasanya seperti mengulang diawal pernikahan mereka saat cinta mulai saling tumbuh. Selesai menikmati makan berdua, Dirga memberikan vitamin pada Kayla. Selesai meminumnya tiba-tiba Kayla membicarakan soal Papa Dito pada Dirga.


"Tadi siang aku ketemu dan bicara sama Papa Mas"


"Kenapa kamu gak ajak Mas?"


"Aku butuh bicara berdua sama Papa Mas, aku mau Papa mendengarkan isi hati aku yang sebenarnya. Memang awalnya Papa kecewa sama kamu Mas dan meminta aku untuk bercerai sama kamu, tapi aku berusaha menyakinkan Papa untuk gak berpikir seperti itu. Aku yakin Mas, Papa juga sebenarnya gak mau pernikahan kita selesai begitu aja. Mungkin saat itu Papa emosi, orangtua manapun pasti gak mau Mas anaknya terluka. Tapi sekarang Papa bisa menerima yang terjadi Mas, aku berharap semoga kejadian yang lalu gak akan kembali lagi kedepannya" harap Kayla.


"Iya sayang, Mas janji akan berusaha menghindari kejadian Lalu untuk kedepannya.. Makasih ya sayang udah mau bertahan dan mengerti keadaan yang terjadi. Mas bener-bener sayang dan beruntung dapatin kamu dihidup Mas" ucap syukur Dirga.


"Iya Mas"


"Mas heran deh sama kamu, kamu sering perawatan ya akhir-akhir ini?" tanya Dirga.


Kayla refleks memegang wajahnya.


"Engga ko Mas, aku cuma perawatan 2kali dalam sebulan. Emang kenapa Mas? aku jelek ya? apa ada yang salah sama wajah aku" panik Kayla.


"Kamu gak jelek sayang. Mas cuma ngerasa kamu jauh lebih cantik aja" puji Dirga.


"Ih Mas nih, aku pikir ada penghuni jerawat dimuka aku soalnya aku sebentar lagi jadwal datang bulan"


"Emang kalau ada jerawat dimuka kamu kenapa? bukannya normal kan?"


"Ih siapa bilang. Itu ujian tau buat cewe" protes Kayla.

__ADS_1


"Lho kok ujian?"


"Iyalah Mas, keliatan jelek dong kalau ada jerawatnya. Apalagi sekarang lagi musim rebut suami orang, aku gak mau kalau sampai ada penghuni diwajah aku, nanti Mas bisa berpaling lagi sama yang lain" keluh Kayla.


"Kamu tuh lucu ya, mana ada sih Mas berpaling sama yang lain hanya karna kamu tumbuh jerawat"


"Aku kan cuma berjaga aja Mas. Aku kan pengen selalu terlihat cantik didepan kamu"


"Kamu selalu cantik kok setiap waktu. Apalagi kalau lagi tanding dikasur, wah cantiknya berkali-kali lipat lho. Ditambah kamu selalu pinter nyenengin Mas" goda Dirga.


"Ih mulai deh otak mesumnya muncul" gemas Kayla mencubit perut Dirga.


"Tiba-tiba Mas jadi kepengen deh. Nanti malam ya? kamu udah sehatan kan?" Goda Dirga.


"Engga tau ah, aku mau tidur" ucap Kayla berbaring sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Jujur saja Kayla begitu malu jika Dirga sudah menggodanya.


"Ya udah kamu istirahat ya, Mas mau liat Darren dulu"


Sadar Dirga sudah keluar dari kamar, Kayla lalu membuka selimut. Entah kenapa, walau sudah lama hidup bersama Dirga rasa malu seakan masih melekat pada Kayla jika Dirga sudah menggodanya dengan hal sensitif sebagai pasangan.


***


Mama Andin yang sudah tiba di apartemen begitu panik bergegas menghampiri saat melihat Nindy tengah berbaring diatas sofa.


"Nindy, kamu kenapa sayang?" tanya Mama Andin.


"Aku lagi ngerasa gak enak badan Mah" lemas Nindy menjawab.


"Rifky mana? apa dia belum pulang?"


"Belum Mah, Mas Rifky bilang dia terlambat pulang karna harus ketemu Kline"


"Tapi kamu udah telpon Rifky?"


"Belum Mah, aku gak mau ganggu Mas Rifky Mah, takutnya dia khawatir"


"Ya udah Mama telpon Dokter Vivi ya, Mama gak tenang lho liat kamu begini"

__ADS_1


Selang 30menit berlalu akhirnya Dokter Vivi datang. Dokter Vivi lalu memeriksa Nindy dan mendengar semua keluhan yang Nindy rasakan. Selesai mendengarkan, Dokter Vivi pun meminta Nindy untuk melakukan tespack.


Mama Andin yang menunggu diluar kamar begitu tak tenang, namun tak berselang lama Dokter Vivi meminta Mama Andin untuk masuk ke kamar dan mendengarkan penjelasan ya g akan Dokter Vivi berikan.


"Jadi Nindy kenapa Dok? tolong jelas Dok" pinta Mama Andin tak sabar.


"Nyonya Andin sabar ya, saya akan segera menjelaskan. Jadi begini, setelah saya memeriksa dan meminta Mba Nindy untuk melakukan test, saya menyimpulkan jika saat ini Mba Nindy sedang mengandung Nyonya"


Mama Andin terdiam sejenak mendengar ucapan Dokter Vivi.


"Dokter serius dengan ucapan Dokter? Jadi Nindy sedang hamil sekarang?" Mama Andin memastikan.


"Benar Nyonya"


Dengan antusias Mama Andin bersorak gembira. Akhirnya Ia akan memiliki cucu lagi, rasanya amat sangat tak bisa diungkapkan dengan kata-kata karna kebahagiaan ini.


"Selamat ya sayang, Mama seneng dengernya"


"Iya Mah. Aku juga seneng dengernya, akhirnya yang dinanti aku dan Mas Rifky terwujud. Sebentar lagi aku akan jadi orangtua" ucap Nindy.


"Iya sayang. Mama yakin Papa dan semua keluarga juga pasti senang dengar kabar ini. Dok, kira-kira berapa usia kandungan Nindy?" tanya Mama Andin.


"Kandungan Mba Nindy saat ini berjalan 4minggu Nyonya, dan keluhan yang Mba Nindy rasakan sekarang itu memang pengaruh dari kehamilan yang dialami Mba Nindy. Lalu untuk kondisi calon bayi didalam kandungan Mba Nindy saat ini kondisinya sangat sehat Nyonya"


"Syukur kalau begitu, saya senang mendengarnya"


"Mba Nindy, nanti saya akan siapkan jadwal pemeriksaan dengan Dokter Rani. Kebetulan Dokter Rani juga Dokter yang menangani kehamilan Mba Kayla dulu. Saya juga sudah menyiapkan vitamin untuk Mba Nindy sekarang, untuk lebih lanjut jika Mba Nindy ada yang ingin ditanyakan bisa langsung menghubungi saya atau juga Dokter Rani" lanjut Dokter Vivi.


"Baik Dok.Terimakasih ya Dok"


"Iya Mba Nindy. Kalau begitu saya ijin pamit Nyonya Andin, saya ucapkan selamat sekali lagi untuk Mba Nindy semoga Mba Nindy dan kehamilannya selalu sehat"


"Iya Dok"


"Saya pamit Nyonya" ucap Dokter Vivi.


"Iya Dok"

__ADS_1


Mama Andin menggenggam tangan Nindy dengan erat, walau Nindy bukan anak yang terlahir dalam rahimnya tapi rasanya Mama Andin begitu bahagia bisa mendapatkan seorang cucu dari Nindy. Semoga saja kehamilan Nindy ini bisa menjadi awal kebahagiaan lagi dikeluarga Mahendra.


***


__ADS_2