
Melihat orang didepannya naya langsung memasang wajah dingin sekali
"Kau tak apa apa? hati hatilah .. jangan berlarian di mall" Tegur pria yang memeluk nata. nata mengelus keningnya sambil meringis kesakitan
"Maafkan aku.. aku tak sengaja., keningku sakit sekali ojie huhuhu" keluh nata
Pria itu menatapnya intens , nata segera membenahi diri. ia mundur dua langkah melihat siapa didepannya. Mukanya langsung dingin. Naya menarik lengan adiknya dan pergi dari sana.
Tapi pria itu menahan lengan nata yang satunya. "apa kabarmu ta" tanyanya lembut. matanya penuh luka dan kerinduan
"Tadinya baik sebelum melihatmu, sekarang jadi tak baik. menyingkirlah" kata naya dingin sambil menepis tangan pria itu di lengan adiknya , tapi pria itu tak minat melepaskan tangan nata malah mempererat cengkramannya
"Lepaskan" kata naya "kalau kau tak melepaskan adikku. jangan salahkan aku tak sungkan lagi padamu" ucap hinaya
hinaya kasihan melihat adiknya yang membeku, terlalu dalam luka adiknya
"Ojie, jangan seperti ini.. aku.. " kata pria itu
"Siapa ojiemu.. menyingkirlah " naya mulai menyerang pria itu , pria itu mulai menangkis serangan naya. cengkramannya terlepas dari tangan nata. mereka berkelahi sampai jadi pusat perhatian pengunjung. pria itu lebih banyak mengalah pada naya
"ojie .. please.. sudahlah" pria itu mengelak terus dari pukulan naya. akhirnya dia agak kewalahan dan menahan lengan naya dengan cengkraman
"Bro.. jangan berkelahi dengan wanita " teguran seorang pria dengan suara berat mencengkram lengan pria itu sampai melepaskan tangan naya.
"Kau baik baik saja?" tanya zio sambil memeluk pinggang naya
"Kau mau lanjut berkelahi denganku atau mau pergi dari sini?" tanya zio sambil menatap tajam pria itu
Pria itu menatap kearah nata. terlihat juan memeluk dan mengelus kepala nata. ia menghampiri nata.
naya langsung menyusulnya "kau pergilah jangan ganggu adikku lagi, atau kau mau lanjut berkelahi hah?"
"Nata.. aku.." kata pria itu
"Pergilah.. jangan ganggu calon istriku" kata juan berat tanpa menatap pria itu. ia masih mengelus punggung nata yang terlihat shock
"Nata ... " pria itu tak menyerah. ia menarik lengan nata
"lepaskan adikku . kau tak mendengar hah? mau sampai kapan kau menyakiti adikku?" naya berteriak sambil mendorong pria itu
__ADS_1
"Naya.. jaga nata sebentar" kata juan. melepaskan pelukannya . naya memeluk nata
"Lepaskan nata bro" kata juan dengan menatap tajam pria itu. tapi pria itu tak bergeming. juan langsung memberi bogem mentah pada pria itu dan sekali tendang pria itu sudah terhempas. zio menahan punggung pria itu agar tak terjerembab
"Pergilah bro, kau tak bisa melawan juan" zio mendorong pria itu. pria itu hanya menatap nata dengan sedih
Juan kembali memeluk nata.
"Kau baik baik saja sayang?" juan mengarahkan wajah nata ke arahnya, lalu mengecup bibirnya dan mel umatnya sebentar. nata segera sadar
Juan terkekeh melihat nata manyun. "Ayo kita makan. aku lapar" juan memeluk pinggangnya seolah tadi tak terjadi apa apa.nata pun yang belum sadar benar ikut saja
zio dibelakangnya ikut memeluk pinggang naya dan mengikuti juan dan nata. mereka melewati pria tadi begitu saja
"Nata.. " panggil pria itu. tapi tak ada yang mempedulikannya
Setelah tiba di pintu restoran "bisakah kau melepaskan aku?" tanya nata pada juan. juan tergelak "apa salahnya aku memeluk calon istriku?" nata mencebik lalu masuk ke restoran. juan mengikutinya
"Menyingkirlah, cukup lama kau memelukku" perintah naya datar pada zio. "kau tak perlu berdebat denganku, masuklah aku lapar" zio memeluk naya ke kursi pilihan nata. dua wanita sangat cantik dibelakang mereka , setia mengikuti mereka dan duduk dimeja mereka
Naya hanya menatap mereka datar , tanpa minat menyapa.
"joyce, ozora.. ini calon istriku dokter hinaya dan itu calon kakak iparmu joyce, hinata"
mereka segera berkenalan ala pandemi, menyebut nama dan melipat tangan didada.
"kamu mau makan apa?" bisik juan sambil memeluk pinggang hinata yang daritadi diam saja
"biar aku memesan untuk nata" jawab naya melihat adiknya tidak baik baik saja
ozora lebih banyak memasang wajah cengo karena dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pria incarannya hari ini memeluk seorang wanita yang mereka sebut calon istri
"tadi kami habis mengikuti acara baksos, ada mami tiff juga disana. setelah selesai joyce minta ditemani jalan jalan kesini, malah beruntung ketemu kalian" kata juan pada naya sambil mengelus kepala nata dengan sayang
"kalau begitu , aku harus mendapat bonus donk" kata joyce tengil. juan tertawa dan mengangguk.
"aku minta mentahnya sekarang" joyce menyodorkan tangannya kearah juan. juan mengambil dompetnya dan menyerahkan 20 lembar uang merah "dua juta ya" katanya, joyce mengangguk dan mencium uang pemberian abangnya
"sekarang ko zio" dia menodong zio juga ,
__ADS_1
"kenapa aku ikut di todong?" tanya zio sambil tersenyum
"pertama koko ikut beruntung, tadi ngomel diajak ke mall malah aku paksa paksa. sekarang setelah kupaksa malah ketemu kakak ipar. ayolah ko, bagikan rezeki atas keberuntungan koko" joyce memelas. juan ketawa. naya dan nata hanya tersenyum
akhirnya zio mengambil dompetnya dan mengeluarkan 20 lembar uang merah untuk joyce. joyce langsung tersenyum tengil mencium uangnya
"terima kasih dua koko baikku, aku cinta kalian"
katanya tengil
"kau mau beli apa empat juta?" tanya ozora
"Aku sedang menabung membeli ipad baru. harganya delapan juta . kata joyce sedih
"kenapa tak minta pada pipimu?" tanya ozora
"ahh tidak. pipiku san mimiku sudah memberiku banyak uang tiap bulannya. bahkan aku tak tega memakainya. nanti saja kalau uangku cukup" jawab joyce sambil tersenyum
nata salut dengan adik juan ini, dia tidak manja dan tak memanfaatkan keadaan orangtuanya untuk memenuhi kebutuhannya.
nata menatap juan lalu menjulurkan tangannya , juan menatapnya datar. "kau juga mau uang?" nata mengangguk. "berapa yang kau mau?" tanyanya
"lima juta" jawab nata datar , zio dan naya menatap datar pada nata
juan segera membuka tas kerjanya dan memberikan seikat uang merah pada nata. nata mengambil empat juta lalu mengembalikan sisanya dan memberikan uang utu pada joyce.
"belilah ipadmu" katanya datar. mukanya tak berexpresi
"terima kasih kakak ipar. kau baik sekali" puji joyce sambil memeluk nata tiba tiba
"kau bukan terima kasih padaku, malah terima kasih padanya" sindir juan datar
"terima kasih juga koko" joyce mengecup pipi juan. juan tersenyum
"joyce kenapa kau sangat terbiasa dengan muka datar mereka. mereka tak ada expresi sama sekali" keluh ozora yang daritadi tak nyaman melihat wajah seram dua wanita yang semeja dengannya
"ahh aku sudah terbiasa. sejak kecil aku terbiasa melihat muka datar pipi dan kokoku di rumahku. tapi mereka sangat menyayangiku. tambah dua orang lagi muka datar juga tak apa apa. yang penting mereka juga menyayangiku, jadi orang harus mudah puas. jangan banyak menuntut. nanti malah tak mendapat apa apa" kata joyce tanpa beban
naya tersenyum mendengar ucapan joyce yang polos dan dewasa.
__ADS_1
sementara ozora diam saja. niatnya memprovokasi joyce malah membuat keadaan tidak berpihak baik padanya