
Sesuai dengan rencana Laura keluarga mereka kembali ke Jakarta.Mereka melakukan perjalanan menggunakan penerbangan paling pagi.
Setelah beberapa lama kemudian mereka sampai di Bandara Soekarno Hatta.Mereka di jemput oleh supir pribadi orang tua Zayn.
"Siang Tuan Muda,non, saya bawa kopernya tuan."ucap mang Sarip.
"Nggak usah mang cuma koper kecil."tolak Zayn.
Tanpa bantahan akhirnya mang Sarip mengikuti arahan Zayn.Mobik yang di kendarai mang Sarip mulai bergerak meninggalkan bandara.
"Mang Sarip sama keluarga apa kabar,masih suka ke rumah saya kan mang,"
Zayn mulai membuka suara dan menanyakan kabar supir pribadi ayah dan ibunya.
"Alhamdulillah semua sehat tuan,kalau soal bersih-bersih di rumah tuan muda tentunya masih tuan."
Zayn memang pribadi yang terlihat dingin pada orang yang baru dia kenal.Namun,jika dia sudah dekat dengan seseorang dia akan penuh perhatian.
"Kita ke rumah tuan besar kan tuan muda,"
"Iya mang,biar kita juga bareng ke acaranya Reni.
Mendengar ucapan suaminya Laura lebih suka tinggal di rumah sendiri.Apalagi di rumah mertua nya itu semua di kendalikan oleh nenek Zayn.
Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah keluarga Zayn.Alea sudah tak sabar untuk keluar dari mobil yang mereka tumpangi.Alea berlari masuk dalam rumah besar itu.
"Bang,apa kita akan tinggal di sini selama di Jakarta?"
Tiba-tiba Laura mencekal lengan suaminya dan mempertanyakan tentang mereka tinggal.
"Kalau iya kenapa sayang,pasti mama sama Oma kangen sama Alea.Kenapa emangnya kalau kita tinggal disini untuk sementara.Apa ada hubungan nya sama Oma,sudahlah sebaiknya kami tidak perlu takut sama Oma.Coba deh..kamu dekati Oma,ambil hatinya.Kamu pasti bisa,sudah ayo..!!'
Zayn keluar dari mobil dan menunggu istrinya juga keluar dari mobil.Dengan sedikit ragu Laura keluar dari mobil dan dengan senyuman Zayn menggenggam tangan istrinya dan mereka berjalan beriringan masuk dalam mansion itu.
"Assalamualaikum..."
__ADS_1
Zayn dan Laura masuk kedalam mansion dengan mengucap salam.
"Wa'alaikumsalam." Jawaban yang terdengar kompak dari beberapa anggota keluarga.
"Oma.."
Zayn langsung mendekati wanita tua yang masih terlihat aura tegasnya.Zayb mencium punggung wanita tua itu dan mencium kening sang Oma.
"Apa kabar kamu,perasaan anak kamu sedari tadi masuk,kenapa kamu baru sampe,memangnya jarak dari depan Spain kesini jauh takut tersesat sampe kamu bujuk istri kamu masuk sini,kalau dia nggak mau masuk biarkan saja."
Ucapan sang Oma sungguh membuat Laura sakit tapi tidak berdarah.Sikap Oma belum berubah semenjak Zayn memutuskan untuk menikahi Laura.Oma sangat menentang keputusan Zayn namun,karena bujukan anak laki-laki nya yaitu ayah Zayn dan suami tercinta nya yaitu Opa Zayn mau tak mau harus menerima keputusan Zayn.Dia nggak mau Zayn di kuasai oleh istrinya.
"Oma, please jangan sampai ribut di depan cicit Oma lho."
Zayn berusaha untuk menekan emosinya dan hanya bisa membujuk sang Oma supaya tidak terlalu dalam untuk berkata yang menyakiti hati istrinya.
"Selalu saja Oma yang salah,dia yang selalu benar."
Oma Zayn pun beranjak dari tempat duduknya dan melenggang pergi menuju kamarnya.
Mama Zayn berusaha menenangkan menantunya menghadapi sifat ibi mertuanya yang teramat sangat tidak suka dengan kehadiran cucu menantunya.
"Iya mi,nggak papa memang Lau juga masih banyak kekurangan dan juga banyak salah."
Lautan sebisa mungkin menyembunyikan kesedihannya dengan baik.Dia tak mungkin menunjukkan emosinya saat ini.
"Mama jangan sedih lagi yah,Oma uyut mungkin capek makanya ngomel terus dari tadi."
Ucapan polos Alea sontak membuat tawa mereka pecah dengan ucapan polos bocah itu.
"Sayang,nggak boleh ngomong begitu.Kamu harus hormat Oma uyut kan mau jadi anak sholehnya ayah kan,"
"Iya mah,aku mau jadi anak sholehnya papa sama mama kayak yang di bilang aunty Dara kita nggak boleh melawan omongan orang tua nanti Allah bakalan marah sama Lea.Aku nggak mau Allah marah terus ninggalin Lea.Terus kalau Allah marah,siapa yang kasih rejeki buat ayah kalau bukan Allah."
"Pinter anak ayah.." puji Zayn pada putrinya.
__ADS_1
Lea begitu saja menyebut nama Dara,itu membuat hati Laura terasa sakit. Begitu dekat putrinya pada wanita yang dia tahu menaruh hati pada suaminya.Walaupun memang Dara tidak pernah terlihat menggoda Zayn namun,ada rasa yang berbeda saat mengingat nama gadis itu .Apalagi dengan nama cinta masa lalu suaminya dulu yang sempat dia tahu.Walaupun memang Laura tak tahu apa benar Dara yang dia kenal saat ini sama dengan Dara yang dulu pernah suaminya harapkan.
"Aunty Dara siapa sayang,kok luar biasa sekali sih,"
Zayn langsung menoleh pada sang istri,dia tahu jika istrinya tak nyaman dengan situasi saat ini.
"Aunty Dara itu...
"Sayang,nanti saja kalau mau cerita tentang semua nya.Sekarang kita istirahat saja yah,katanya tadi kamu capek,"
Zayn langsung memotong omongan putrinya dan berusaha membuat putrinya pergi dari tempat ini sekarang.
"Oke deh yah,Oma,Opa ,Opa uyut Lea ke atas dulu yah,"
Mereka pun mengangguk mengiyakan ucapan Alea walaupun mereka juga menangkap ada sesuatu yang terjadi,apalagi menantu mereka yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun.Mereka tahu jika Laura tak nyaman dengan keberadaannya disini namun,bagaimana lagi Zayn tetaplah keturunan Wasesa yang sampai kapanpun tetap patuh pada Oma nya.
Keluarga kecil itupun naik keatas ke dalam kamar Zayn dan beristirahat karena memang mereka merasa sangat lelah apalagi mereka jalan jam tiga pagi dan flight jam paling pagi pastinya masih ngantuk.
Sementara di lantai bawah ketiga orang anggota Wasesa bernafas lega karena Zayn yang bisa mengendalikan amarahnya saat sang Oma menunjukkan rasa tak sukanya pada Laura.
"Kenapa mama masih sangat keras hati pada Laura ya pah, padahal Laura aku lihat layaknya seorang menantu yang baik."
Ucapan Winarni Wasesa ibu dari Zayn membuat suami dan ayah mertuanya menoleh padanya.
Memang selama ini Laura terlihat seperti menantu pada umumnya dan masih terbilang sopan pada semua orang yang lebih tua darinya.
"Aku juga nggak tahu kenapa mama sampai sekarang belum bisa menerima kenyataan kalau Zayn Malik dengan Laura."
jawaban Arya Wasesa ayah dari Zayn memang benar adanya jika Oma Hartini belum bisa menerima keputusan cucunya itu untuk menikahi Laura.
"Nanti pasti akan ada waktunya mama bisa menerima Laura.Memang ayah rasa Laura pun seperti membangun tembok tinggi diantara kita."
Ucap Opa Zayyan Wasesa.Mengakui jika sifat keras istrinya pasti akan luluh dengan bersikap apa adanya tanpa harus menjadi pribadi yang kaku atau di buat-buat.
Bersambung.
__ADS_1