
Fajar mulai bergerak menuju pagi sanak saudara dan para tetangga yang mengenal Laura dan juga keluarga Zayn berdatangan untuk menyampaikan rasa duka cinta mereka.
Sedari subuh Alea uring-uringan tak mau lepas dari Dara.
Dara dan juga Alea di temani Meli duduk di samping jenazah Laura dengan melafalkan doa untuk almarhumah Laura.Zayn berusaha untuk tegar dan ikhlas menerima takdir sang istri.
"Assalamualaikum.."ucapan seseorang masuk ke dalam rumah besar itu
"Al,Za,kalian dateng.."ucap Zayn saat melihat para sahabat nya yang satu kampus dengan Laura dan Zayn mereka saling berpelukan
Kedua sahabatnya itu mencoba menguatkan sahabat yang kehilangan sang istri.
Sementara Alan melangkah dengan gontai menuju jenazah Laura yang di baringkan di ruang tamu.
Alan menatap perempuan yang dengan memangku Alea anak Laura.Perempuan yang terlihat sembab di matanya dan malah masih ada buliran air mata yang menetes dari matanya.Perempuan itu sedang membaca Alquran di samping jenazah Laura dengan mencoba untuk menenangkan Alea yang terlihat gelisah.
"Perempuan itu,Laura...Lo bener-bener sudah ikhlas menerima takdir mu dan tak membiarkan anakmu sendirian, seperti nya dia memang sangat baik dan semoga selalu menjaga Alea dengan baik."batin Alan memandang Dara dan sekarang melihat ke jenazah Laura.
Jam tujuh pagi jenazah Laura segera di sucikan karena jam sepuluh akan segera di kebumikan.
"Ra,kamu mau ikut memandikan jenazah?"tanya Meli dengan berbisik pada sahabatnya.
"Iya aku ingin Mel."ucap Dara lirih.
"Aku bicara sama Tante Wina."ucap Meli
Meli bergegas menuju dimana mama Wina duduk dan mengatakan jika Dara ingin ikut mensucikan Laura.
.
.
Saat ini di sudut rumah dengan di batasi dinding kain yang menutupi tubuh kaku Laura ada beberapa pihak dari keluarga inti untuk memandikan jenazah.Ada Mama Wina,mama Laura sendiri,Oma pun ikut merasa berkewajiban untuk memberikan yang terbaik buat Allahyarham.
__ADS_1
Giliran suami mendiang Laura kini sedang mensucikan dan itu sangat sulit untuk Zayn membendung air matanya.Dia menegarkan hatinya untuk tak mempersulit langkah istrinya menuju ke kehidupan lain.
Dalam hati Zayn berdoa dan meminta maaf pada istri nya yang sudah tiada,dia menyayangi istrinya dengan ikhlas dan tulus.
"Ra,giliran mu..Alea sama ayah yah.."bujuk Zayn mengambil alih Alea dari gendongan Dara.
"Aku mau sama aunty aja ayah."tolak Alea dengan mata yang sudah terlihat berkaca-kaca.
"Jangan nangis sayang,Lea sayang sama mama kan,ikuti aunty yah..kita sucikan mama,kita doakan mama semoga mama jadi bidadari surga nya Allah,ayo nak.."ucap Dara pada Alea menurunkan Alea dan mulai mengajak Alea mengikuti apa yang Dara lakukan dengan mengatakan hal-hal baik saat sang mama disucikan.
Setelah di sucikan Dara masih setia di samping jenazah,Dara ikut mengkafani jenazah Laura,rupa yang cantik dan tersenyum dengan damainya.
Alea masih setia di samping Dara sekarang ada di pangkuan Zayn,semua orang memandang haru melihat tingkah Alea yang diarahkan oleh Dara untuk mengikuti step yang dilakukan sampai sudah selesai di kafani.
Untuk terakhir kali Dara mencium kening Laura dan berbisik.
"Mba yang tenang,aku berjanji akan melakukan apa yang mba inginkan walaupin dari jauh .mba,maafin Dara jika mba tersakiti olehku.Dara sayang mba Laura dengan ikhlas dan tulus."ucap Dara berbisik lirih.
Zayn pun melakukan hal yang sama,dia menatap lekat wajah istrinya yang nampak cantik dan ayu.Dia mencium dan mencoba tegar dan ikhlas.
"Alea cium mama nak.."ucap Dara
Benar Alea dengan patuh mengikuti apa yang di intruksikan oleh Dara.
"Alea sayang mama,mama jangan sedih yaa..Alea akan selalu belajar biar pinter."ucap bocah yang mungkin belom paham akan semua keadaan ini.
.
.
Benar jam sepuluh pagi iring-iringan mobil jenazah dan juga beberapa mobil menuju kompleks pemakaman San Diego Hills Karawang.Pemakaman yang sudah banyak yang tahu adalah kompleks pemakaman yang mempunyai harga pemakaman dengan kelas-kelas tertentu. Seperti ada kelas Single dengan harga ± 65juta ,Peak Estate yang seharga ±6M,semi private ± 500jt, Private ± 1M, Paviliun ±1,5 M .
Untuk pemakaman Laura keluarga Wasesa pemakaman Paviliun yang mereka pilih untuk Laura.
__ADS_1
"Ren,itu Dara kan?"tanya Tami saat melihat Zayn yang menyenangkan Alea pada Dara karena Zayn akan ikut menggotong istrinya.
"Kayaknya iya deh,tapi...dia pake hijab."ucap Reni mereka berdua dengan cepat menerobos kerumunan pelayat.
Tami berharap itu sahabatnya Dara yang sudah lama tidak bertemu dengannya.Dia merindukan sahabatnya yang selalu ceria.
Melihat Dara masuk ke salah satu mobil Keluarga Wasesa dengan cepat Rena mengajak Tami ikut ke mobilnya bersama keluarga Wasesa lainnya.
Sepanjang perjalanan menuju makam Dara hanya bisa berzikir dan meminta pada Allah supaya semuanya di lancarkan.
.
.
Pemakaman Laura berjalan lancar .Terlihat Zayn dengan pandangan kosong menatap gundukan tanah merah dengan taburan bunga dan juga Papan bertuliskan nama istrinya.Rasanya sangat sakit,kini Laura benar-benar sudah pergi dari sisihnya.Dia ingin sekali mengeluarkan air mata namun sudah tak bisa lagi.Dadanya merasa sesak dan gemuruh yang dia rasakan.
Semua pelayat berangsur angsur membubarkan diri dan kini tinggal keluarga inti.Dara pun berjongkok di samping makam Laura di samping nya ada Alea diseberang Dara ada Zayn juga.Dua orang yang dirasa paling kehilangan,namun..siapa bisa melihat kesedihan juga menyelimuti dua orang tua Laura yang sangat menyayangi anaknya yang dia rawat dan di besarkan kini malah pergi meninggalkan mereka lebih dahulu,dan ada sosok lain juga yang merasa kehilangan dia berdiri di dekat dimana Zayn baradan yaitu Alan yang sekali-kali menyeka air matanya dengan kasar.Gemuruh di dadanya semakin memuncak saat mengingat ada beberapa amplop yang dia harus berikan pada orang-orang yang Laura sayangi.
.
.
"Zayn ,kita pulang nak...kamu butuh istirahat,Alea juga kelihatan sudah lelah kasihan juga Dara sedari tadi menjaga Alea dari semalam."ujar Oma Safitri mengingatkan sang cucu.
"Iya Oma,Ra ..kita pulang ."ucap Zayn pada Dara dan di angguki Dara.
"Alea gendong ayah yah,kasihan aunty Dara capek,berat gendong Alea."ucap Zayn dan Alea pun tak keberatan.
Mereka akhirnya dengan berat hati meninggalkan tempat pemakaman itu dan sesekali Dara menoleh ke arah belakang.
"Aku janji nanti kalau ke Jakarta aku main nengokin mba yaaa.."batin Dara kembali melanjutkan langkahnya.
"Dara....
__ADS_1
Bersambung