
Waktu berjalan cepat. Tibalah waktunya Hayati berangkat ke Jakarta. Karna hari minggu ayahnya bisa mengantar ke BIM(Bandara International Minangkabau).
Diatas mobil Hayati ingat bagaimana perpisahannya dengan teman-teman sesama bekerja di Panorama malam tadi. Walau seru tapi terselip kesedihan melepas kepergian Hayati.
''Kamu harus sering-sering menghubungi aku'' ucap Dea sambil menangis.
Dea yang paling berat melepas kepergian Hayati. Begitu kuat ikatan persahabatan diantara mereka.
''Iya, kamu harus sering-sering main kerumah biar Bundo tidak kesepian'' jawab Hayati. Mereka berdua berpelukan.
''Huft'' Hayati menghela nafas.
''Kamu kenapa menghela nafas?'' tanya Bundo.
''Yati hanya ingat perpisahan semalam. Dea sampai menangis tidak ingin Hayati pergi. Terus Yati juga sudah menyuruh Dea sering-sering main kerumah biar Bundo tidak kesepian selama Yati di Jakarta'' jawab Hayati.
''Bukan hanya Dea yang berat melepasmu. Ayah dan Bundo juga. Tapi kita harus melihat mana yang lebih penting sekarang. Udamu sangat membutuhkanmu sekarang'' ucap Bundo.
''Iya, Yati mengerti'' jawab Hayati tersenyum.
''Yang penting sampai di Jakarta kamu harus sering-sering menelpon ayah. Nanti ayah dosenmu ini kesepian'' sambung Syamsul yang sedang menyetir mobilnya.
''Siip, Ayah jangan risau'' jawab Hayati.
Tiga jam kemudian mereka sampai diBIM. Karna hari minggu jalan lumayan ramai. Apalagi setelah melewati Padang Panjang. Pesawat yang akan ditumpangi Hayati berangkat jam sebelas siang. Masih ada satu jam lagi sebelum berangkat.
Sementara Dion juga baru sampai di BIM. Dia langsung diantar Teguh. Keberangkatannya juga jam sebelas siang.
''Sampai jumpa lagi bos. Sering-sering datang Bukittinggi'' ucap Teguh.
''Bukannya bagus kalau saya tidak datang lagi'' kata Dion.
''Siapa bilang. Biar saya langsung pecat'' jawab Teguh pura-pura tidak tahu.
''Kamu jangan pura-pura bodoh. Udah saya berangkat dulu. Kamu langsung kembali kehotel jangan keluyuran kemana-mana. Nanti kamu kirimkan saja lewat email laporan hotel'' ucap Dion. Dia berjalan masuk kedalam Bandara.
''Siap bos. Hati-hati dijalan semoga selama sampai Jakarta'' teriak Teguh. Dion yang mendengar teriakan Teguh tersenyum sekilas tanpa melihat kearahnya.
Teguh segera kembali keparkiran mobilnya. Tidak sengaja dia dan keluarga Hayati berselisih jalan.
__ADS_1
''Sepertinya saya mengenal orang itu tapi dimana?'' gumam Teguh membalikan badan. Tapi Hayati dan keluarganya sudah jauh.
''Mungkin mirip saja'' ucap teguh lagi kembali berjalan kearah pakiran mobilnya.
Sementara Hayati berpamitan dengan kedua orang tuanya.
''Yati berangkat dulu ya bundo. Jaga diri dan kesehatan bundo. Yati pasti akan sangat merindukan kalian berdua'' ucap Hayati memeluk bundonya. Air mata Siti keluar melihat anak gadisnya akan pergi. Syamsul berusaha menahan air matanya.
''Iya sayang. Kamu hati-hati dijalan. Kabari kami kalau sudah sampai'' jawab Siti menyeka air matanya.
''Iya'' jawab Hayati melepaskan pelukannya. Dia melihat kearah ayahnya
''Ayah Syamsul Bahri. Anakmu pergi dulu. Baik-baik disini dengan Siti Nurbaya jangan sampai diambil datuk maringgih'' ucap Hayati berusaha bercanda. Syamsul tersenyum melihat kearah anak yang sangat dia sayangi.
''Hehe, tenang saja selagi Syamsul Bahri hidup tidak ada yang berani merebut Siti Nurbaya'' jawab Syamsul bergaya. Hayati tertawa.
''Udah, jangan bercanda terus. Nanti kamu ditinggalkan pesawat'' ucap Bundo.
''Iya, Hayati pergi dulu ayah'' kata Hayati memeluk ayahnya. Syamsul sebenarnya juga berat melepas Hayati pergi sendiri ke Jakarta. Tapi dia harus terlihat tegar. Agar Hayati tidak meledeknya nanti.
Setelah mencium kedua tangan orangtuanya Hayati masuk kedalam. Tidak lupa dia melampaikan tangan sebelum menghilang dihadapan orangtuanya.
''Ini bukan pertama kali Hayati pergi ke Jakarta. Ayah tidak perlu terlalu khawatir'' jawab Bundo menenangkan.
''Tapi dia anak gadis ayah satu-satunya. Kalau terjadi apa-apa gimana?'' ucap Syamsul.
''Bukan anak gadis ayah saja. Dia juga anak gadis bundo'' jawab Bundo.
''Iya anak gadis kita berdua'' ucap Syamsul.
''Kita doakan saja Yati selamat sampai Jakarta. Nanti kalau ayah sudah libur kita nyusul'' kata Bundo.
''Iya, ayo kita pulang. Sekarang kita seperti pengantin baru menikah tinggal berdua saja'' ajak Syamsul sambil merangkul pundak Siti berjalan keluar Bandara. Bundo hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya.
Ternyata Hayati dan Dion satu pesawat hanya saja jarak mereka duduk berjauhan. Sejam limapuluh menit kemudian mereka sampai dibandara Soekarno Hatta.
Hayati sudah ditunggu oleh Hamka. Saat dia melihat Hamka. Hayati langsung berlari menghampirinya.
''Uda Hamka'' teriak Hayati memeluk Hamka. Dia sangat merindukan kakanya.
__ADS_1
''Uda merindukanmu dek'' Hamka balas memeluk adiknya. Dia terlihat senang melihat Hayati.
Sementara saat Hayati berteriak memanggil Hamka. Dion yang sedang mencari pacarnya mendengar teriakan Hayati.
''Seperti kenal gue sama suara itu'' gumam Dion. Pas Dion mau melihat kearah Hayati tiba-tiba terdengar panggilan.
''Sayang'' teriak Jessy berlari menghampiri Dion dan memeluknya.
''Aku sangat merindukanmu'' sambungnya lagi.
''Aku juga'' jawab Dion melepaskan pelukan. Dia merasa risih kalau berpelukan di depan umum. Jessy cemberut saat Dion melepaskan pelukan mereka.
''Hmm, aku lapar bagaimana kalau kita cari makan dulu'' ajak Dion mengalihakan pembicaraan.
''Ok'' jawab Jessy bersikap manja. Mereka berjalan sambil Jessy mengandeng tangan Dion.
''Kita langsung kerumah. Kasihan Unimu sudah menunggu dirumah. Dia tidak bisa datang menjemputmu kesini'' ucap Hamka.
''Ok'' jawab Hayati. Hamka mendorong koper Hayati keluar bandara dimana mobilnya terparkir.
''Uda sendiri saja kesini? Kenapa tidak bawa Daffa?'' tanya Hayati. Daffa anak Hamka yang pertama. Umurnya sudah dua tahun lebih.
''Susah membawanya kesini. Dia sedang aktif-aktifnya sekarang. Unimu saja kewalahan menghadapinya'' jawab Hamka.
''Kenapa tidak pakai babysister aja untuk jaga Daffa?'' tanya Hayati.
''Bukannya tidak mau. Tapi unimu tidak percaya anaknya dijaga babysister. Apalagi banyak kasus anak dia aniaya babysister'' jawab Hamka.
''Oo, iya juga sih. Dulu bundo juga membesarkan kita tanpa babysister'' jawab Alea. Jarak umur Hayati dan Hamka terpaut lima tahun. Hamka yang dari sekolah suka berkerja paruh waktu dirumah makan padang. Akhirnya setamat kuliah dia membuka restoran di Jakarta. Dua tahun kemudian restoranya berkembang pesat. Dia sudah mempunyai beberapa cabang disana. Dan setelah itu dia menikahi Vita pacarnya waktu kuliah.
Mereka sampai diparkiran mobil. Hamka segera memasukan koper Hayati kebagasi.
''Bagaimana kabar ayah dan Bundo?'' tanya Hamka saat mobil mereka meninggalkan bandara.
''Alhamdulillah sehat. Kata mereka kalau ayah libur. Mereka akan menyusul ke Jakarta'' jawab Hayati.
''Yang benar?'' tanya Hamka senang.
''Iya'' jawab Hayati.
__ADS_1
''Pasti unimu dan Daffa akan senang'' ucap Hamka. Vita istri Hamka adalah anak yatim piatu. Dia ditinggalkan ayahnya ketika masih disekolah Dasar. Sedangkan ibunya meninggal setahun setelah mereka menikah. Sambil perjalan kerumah Hamka, Hayati menelpon orang tuanya untuk memberitahu kalau dia sudah sampai di Jakarta.