
''Kok gak dijawab? Kamu takut ya?'' tanya Joshua menatap Hayati.
''Saya sekolah di Bukittinggi'' jawab Hayati santai.
''*A**ku emang sekolah di Bukittinggi. Tidak bohong'' batinnya*.
Hayati tersenyum melihat wajah binggung Joshua. Dia ingin bertanya tapi sebuah mobil berhenti didepan mereka. Hamka turun dari dalam mobil.
''Uda Hamka'' teriak Hayati senang. Joshua melihat laki-laki yang turun dari mobil tidak kalah gagahnya darinya. Dan menurut Joshua umur laki-laki itu lebih tua darinya.
''Hmm, pantasan betah disini ternyata ada yang nemanin. Siapa dia?'' tanya Hamka melihat ke arah Hayati. Dia memasang wajah serius
''Tadi sudah Yati katakan saat menelpon. Ini orang yang menolong Yati dari preman-preman'' jawab Hayati heran melihat wajah serius Hamka.
''Ooo, makasih ya. Saya kakaknya Hayati. Hamka'' ucap Hamka mengulur tangannya.
''Iya sama-sama. Saya Joshua'' Joshua menerima uluran tangan Hamka.
''Kalau gitu kita pulang sekarang. Motornya dinaikan ke atas mobil saja'' kata Hamka kepada Hayati. Dia sengaja membawa mobil pick upnya agar motor bisa dinaikan.
''Biar saya bantu menaikan motornya'' Joshua menawarkan bantuan. Dia juga memanggil sopirnya.
''Makasih'' jawab Hamka ramah.
Setelah motor naik keatas mobil. Hayati dan Hamka pamit pulang. Tidak lupa Hayati mengucapkan terima kasih lagi.Joshua masih menatap mobil Hayati pergi.
''Aku merasa dia sangat menarik. Bahkan saat dia diganguin preman tadi tidak terlihat sedikitpun wajah takutnya'' gumam Joshua. Pak Eko menghampirinya.
''Kita berangkat sekarang den. Bukannya anda ada janji bertemu den Dion''
''Waduh saya lupa pak. Pasti kak Dion marah karna telat. Dia orangnya tepat waktu. Pakai alasan apa kalau ketemu dia ntar ya?'' sahut Joshua menepuk jidatnya. Dia adalah sepupu Dion yang baru pulang dari luar negeri.
''Ntar aja dipikirkan. Ayo pak kita berangkat'' sambung Joshua. Pak Eko mengangguk tanda mengerti. Dia langsung membukakan pintu untuk Joshua. Dan mereka berangkat ke tempat janjian dengan Dion di sebuah restoran mewah.
Sementara dia atas mobil Hamka meledek Hayati. Sikap serius yang dia lihatkan kepada Joshua hilang seketika saat mereka berdua saja diatas mobil.
''Cie,cie, cie. Bertemu pahlawan gagah. Senangnya hati tak terkira''
''Siapa yang senang. Biasa aja kali'' Hayati memonyongkan mulutnya.
''Kenapa kamu harus nunggu pertolongan sih. Bukannya kamu bisa mengatasinya sendiri?'' tanya Hamka.
''Itu gara-gara wajahku yang imut ini. Banyak orang kasihan'' jawab Hayati pede.
__ADS_1
''Haha, imut darimana?''
''Dari ayah bundo dong''
''Hmm, pasti modus biar kamu ditolongin cowok seperti tadi dan kemudian kenalan, tukar nomor hp, terus janji ketemuan...''
''Udaaaa... Jangan salah mengira. Mereka semua saja yang anggap aku lemah seperti anak kecil yang butuh pertolongan. Tapi kata-kata uda betul juga. Dia lumayan ganteng. Sayang dia menganggapku anak kecil'' potong Hayati seketika ceria.
''Pfftt, hahaha. Kasihan kamu dek. Tapi bagus juga. Orang lain banyak pengen punya wajah seperti kamu. Apalagi cewek-cewek sekarang banyak yang menolak tua'' Hamkan masih tertawa.
''Iya, ada plus minusnya. Tapi lebih banyak minusnya. Terutama aku selalu dianggap remeh'' jawab Hayati sedih.
''Siapa yang berani menggapmu remeh ha?'' tanya Hamka marah.
''Emang kalau uda tahu mau diapakan? Tidak hanya satu atau dua orang saja yang begitu'' tanya Hayati senang diperhatikan udanya.
''Hanya mau bilang terima kasih saja. Sudah mewakilkan isi hati uda hahaha'' Hamka tertawa. Hayati cemberut melihat udanya.
''Teganya dirimu, dirimu, dirimu'' Hayati bernyanyi dengan ekspresi sedih.
''Nyesel Yati berharap sama uda. Nanti Yati suruh ayah dosen mengeluarkan uda dari kartu keluarga. Biar Yati tidak punya uda yang tegaan seperti ini lagi'' lanjutnya.
''Aduh dek. Kamu tidak tahu ya kalau setelah menikah uda emang sudah keluar dari kartu keluarga ayah'' jelas Hamka
''Aiiss iya, ya? Kok aku gak tahu'' tanya Hayati sambil berpikir.
''Iss, jangan sebut namanya. Dia sudah Yati tenggelamkan di dasar ngarai'' jawab Hayati kesal mendengar nama Syaiful disebut.
''Benaran? terus sekarang sudah diganti dong dengan nama Joshua'' goda Hamka.
''Apaan sih uda. Joshua hanya menolong sambil lewat. Tidak ada yang lain mengerti'' Hayati mengerutkan keningnya.
''Ooolala''
Hayati tidak menjawab. Dia malas berdebat dengan udanya yang suka usil.
''Gimana kalau kamu tinggal disini saja dek. Daripada dikampung'' kata Hamka serius.
''Gak mau, enak tinggal dikampung dekat dengan ayah bundo'' jawab Hayati.
''Nanti kalau ayah sudah pensiun uda akan suruh ayah bundo tinggal bersama kita disini''
''Pokoknya Yati gak mau tinggal disini. Dimana mata memandang hanya ada gedung tinggi saja. Enak dikampung kemana mata memandang banyak pemandangan yang nampak''
__ADS_1
''Yelah. Susah ngomong sama kamu kalau kampung sudah menjadi darah daging. Kita sebagai orang minang diharuskan merantau''
''Ya bagi yang mau merantau. Kalau Yati nanti mau tinggal dikampung. Kalaupun dapat suami petani juga tidak apa-apa. kami buka lahan pertanian di gunung merapi dan singgalang''
''Hahaha, baiklah buk tani Hayati. Semoga bertemu Zainudin yang mau bertani denganmu'' Hamka tak sanggup menahan tertawanya.
''Uda sayang. Jangan remehkan petani. Kalau bukan karna mereka uda tidak bisa jualan nasi sekarang'' ucap Hayati. Dia tidak terpengaruh dengan tertawa Hamka.
''Siap komandan. Biar nanti uda sampaikan sama ayah dosenmu''
Mereka terus berdebat sampai rumah. Bagi Hayati dan Hamka begini cara mereka saling menunjukan kasih sayang adik kakak.
Joshua sampai direstoran tempat dia janjian dengan Dion. Dengan terburu-buru dia masuk kedalam restoran. Ternyata disana Dion sedang menunggu dengan Jessy.
''Kak Dion'' sapa Joshua tersenyum ceria saat sampai dimeja Dion. Dia melirik Jessy yang bersikap manja kepada Dion.
''Hei Jo'' sapa Jessy.
''Hei'' jawab Joshua. Dia dari awal emang kurang suka sama Jessy. Terutama sikap manjanya kepada Dion tidak lihat tempat dan keadaan. Joshua melihat sikap Jessy seolah dibuat-buat.
''Kenapa lama sekali datangnya?'' tanya Dion datar.
''Hmm, ada masalah dijalan tadi'' jawab Joshua langsung duduk dikursi yang masih kosong.
''Hmm, masalah apa? Kamu baru kembali ke Indonesia sudah buat masalah? Jangan bilang tadi kamu berkelahi'' introgasi Dion.
''Hehe, berkelahi sedikit'' Joshua garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia tahu Dion paling tidak suka kalau dirinya terlibat perkelahian. Apalagi waktu sekolah dulu dia termasuk siswa yang suka berkelahi.
''Jo, sudah berapa kali kakak katakan. Kamu tidak boleh berkelahi lagi. Bisa fatal akibatnya'' ucap Dioln tegas.
''Hehe, iya kak. Kalian sudah makan ya?''tanya Joshua mengalihkan pembicaraan.
''Udah, karna Jessy sudah lapar. Dia tidak mungkin menunggu kamu datang'' jawab Dion.
''Maaf ya Jo'' sambung Jessy dengan lembut.
''Ooooo tidak masalah. Saya akan pesan untuk saya saja'' jawab Joshua sambil senyum dipaksakan.
''Kamu makan sendiri saja ya. Aku mau ngantar Jessy pulang sepertinya dia sudah ngantuk'' ucap Dion berdiri.
''Ya udah'' jawab Joshua cuek.
''Pamit ya Jo'' kata Jessy berdiri. Joshua hanya mengangguk.
__ADS_1
''Besok kita bertemu di kantor'' lanjut Dion. Mereka meninggalkan Joshua sendirian.
''Huft, Apa yang lihat kak Dion dari cewek sepertinya. Pura-pura lemah dan manja saja. Lebih baik pulang daripada makan sediri disini'' Ucap Joshua menatap Dion dan Jessy keluar restoran.