
Hayati masuk kedalam lift dengan hati kesal. Raut wajahnya juga tidak bisa menyembunyikan rasa kesal tersebut.
''Haaah... Cukup sekali ini aku berurusan dengannya. Kalau hanya untuk menghina masakan rumah makan kami ngapain dia beli semuanya. Aku juga tidak butuh balas budi yang tidak tulus darinya. Neneknya saja baik tapi cucunya malah seperti malin kundang. Mulut tidak bisa dijaga seperti datuk maringgih. Aku do'akan nanti dia keinjak kotoran sapi biar tahu rasa. Bla,bla,bla'' omel Hayati dengan mulut dan alis naik turun. Untung hanya dia saja yang ada didalam lift. Kalau sempat ada orang lain mungkin sudah pusing telingannya mendengar omelan Hayati.
Pintu lift terbuka Hayati keluar dengan terburu-buru. Tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
''Aww'' pekik orang tersebut memegang pundaknya.
''Maaf mbak, saya tidak sengaja'' ucap Hayati. Dia melihat seorang wanita yang cantik dan anggun berdiri didepannya. Penampilannya yang sangat elegan membuat orang yang memandang akan mengaguminya.
''Cantik'' gumam Hayati.
''Ckck. Kenapa anak SMA ada disini? kamu mau magang ya?'' tanya cewek tersebut dingin dan sombong. Dia melihat penampilan sederhana Hayati dengan pandangan menghina.
''Tidak, sekali lagi saya minta maaf. Kalau gitu saya pemisi dulu'' jawab Hayati sambil tersenyum. Hayati masih bersikap ramah karna tahu dia yang salah.
''Ok,untung saya juga ada urusan. Kalau tidak kamu pasti tidak akan saya lepaskan'' ucapnya masuk kedalam lift tanpa melihat kearah Hayati.
''Tampilan juga tidak menjamin orang akan ramah'' Gumam Hayati setelah pintu lift tertutup.
''Hmm, dia pasti cocok dengan CEO itu. Sama-sama angkuh'' sambungnya lagi meninggalkan tempat tersebut.
Saat melewati lobi Resepsionis memanggilnya.
''Hei dek, sini dulu''
''Ada apa mbak?'' tanya Hayati menghampiri mereka.
''Nasi bungkus ini dari tempat kamu bekerja ya?'' tanya resepsionis memperlihatkan nasi bungkus yang dibagikan karyawan Rahmat tadi.
''Iya, semoga mbak suka'' jawab Hayati.
''Ntar kalau cocok dilidah akan saya pesan lagi'' ucap Resepsionis.
''Iya mbak. Kalau gitu saya permisi'' jawab Hayati. Resepsionis menganggukan kepalanya sambil tersenyum ramah.
Hayati sampai ditempat mobilnya terpakir. Disana Andi dan dua karyawan lain sudah menunggu.
''Kok lama Uni? Apa ada masalah?'' tanya Andi cemas.
''Hanya ada sedikit kendala. Sekarang sudah selesai. Bagaimana dengan jumlah nasinya? Apa sesuai dengan yang tertera di kertas tagihan?'' tanya Hayati.
__ADS_1
''Malah berlebih sepuluh bungkus uni'' jawab Andi.
''Biarkan saja. Lebih baik berlebih daripada berkurang. Ayo kita kembali saya sedang ndak mood lama-lama disini'' ajak Hayati.
''Saya yang menyetir ya uni'' kata Andi. Dia trauma kalau Hayati yang menyetir.
''Hmm, terserah kamu. Saya ikut aja. Energi saya juga sudah habis karna berdebat tadi'' jawab Hayati naik kedalam mobil.
''Berdebat apa uni?'' tanya Andi penasaran. Tidak biasanya dia melihat Hayati lesuh begini. Biasanya Hayati yang paling semangat dalam segala hal. Bahkan tidak pernah bisa dihalangi apa yang mau dia lakukan.
''Kamu kepo sekali. Ayo jalan jangan banyak tanya. Saya hanya butuh refresing'' ucap Hayati melihat malas kearah Andi.
''Kebetulan sekali. Kami ingin pergi ke Monas setelah ini. Uni mau ikut?'' tanya Andi.
''Ke Monas? Ide yang bagus. Apa selama tinggal disini kalian belum pernah pergi kesana ya?'' tanya Hayati.
''Ya, selama ini kami libur selalu gantian. Tidak pernah barengan. Jadi karna sekarang kita tutup cepat. Kami berencana jalan-jalan ke Monas. Rame-rame gitu biar seru'' jawab Andi.
''Wuiih sepertinya seru. Let's go...'' ucap Hayati kembali semangat. Semua rasa kesalnya menguap tanpa tersisa.
''Kita kerumah makan dulu. Yang lain menunggu disana'' kata Andi.
''Iya tahu. Saya juga tidak mungkin pergi dengan pakaian seperti ini'' jawab Hayati. Mobil mulai berjalan.
''Saya bukan bos tapi adik bos. Lagian saya ingin kita sama semua dan tidak dibedakan'' jawab Hayati. Andi geleng kepala mendengar jawaban Hayati. Jarang ada adik bos yang bersikap sepertinya.
''Oh ya kita pergi pakai apa?'' tanya Hayati.
''Pakai motor saja. Biar gak terjebak macet'' jawab Andi.
''Ok. Monas tunggu kedatanganku'' jawab Hayati lebay. Andi tertawa melihat tingkah Hayati. Dia juga tidak sabar pergi ke Monas. Sebenarnya Hayati sudah pernah pergi kesana bersama ayah dan bundonya. Tapi pergi sekarang pasti berbeda. Dia pergi rame-rame bersama karyawan rumah makan.
Sementara hati Dion masih kesal saat terdengar ketukan dari luar pintu.
''Masuk'' ucapnya dingin.
Ceklek
''Sayang'' teriak Jessy saat pintu dibuka. Dion langsung merubah raut wajahnya menjadi senang.
''Kenapa kamu kesini?'' tanya Dion lembut menghampiri Jessy. Jessy langsung memeluk Dion. Tapi dengan cepat Dion melepaskannya. Dia merasa risih kalau berpelukan. Apalagi mereka berada dikantor. Selama ini Dion termasuk orang yang menjaga tindakan ketika pacaran. Bahkan sering Jessy mengeluh karna menganggap cara pacaran Dion yang kaku.
__ADS_1
''Emang aku tidak boleh datang kekantor pacarku sendiri?'' tanya Jessy cemberut.
''Hehe boleh dong sayang'' jawab Dion sambil tertawa.
''Kamu udah makan siang?'' tanya Jessy
''Belum, aku sedang tidak mood makan'' jawab Dion.
''Kenapa? Apa karna aku datang kesini?'' tanya Jessy sewot.
''Bukan sayang. Aku malah senang kamu datang. Tadi ada sedikit masalah disini. Untung kamu datang rasa kesalku langsung hilang'' jawab Dion.
''Ooo, kita makan siang diluar ya. Sudah lama kita tidak makan siang diluar. Kamu mau ya'' ajak Jessy dengan sikap manjanya. Membuat Dion gemas melihat Jessy.
''Iya, apa yang tidak untukmu. Ayo kita pergi sekarang'' jawab Dion mencubit lembut hidung Jessy.
''Hehe'' Jessy tersenyum.
Mereka keluar ruang Dion. Jessy berjalan sambil mengandeng tangan Dion. Semua karyawan disana sudah tahu kalau Jessy adalah kekasih bos mereka.
''Tadi aku lihat saat mau keruangmu semua karyawan disini makan nasi bungkus. Apa perusahaan sedang ada acara?'' tanya Jessy ketika mereka sudah didalam lift.
''Hmm, aku yang belikan mereka'' jawab Dion.
''Dalam rangka apa?'' tanya Jessy penasaran.
''Bukan dalam rangka apa-apa. Kebetulan karyawan rumah makan itu menolong oma saat hilang kemaren. Jadi untuk balas budinya aku membeli semua makanan yang ada disana'' jelas Dion.
''Ooo, berutung sekali dia karna kamu membeli semua makanannya'' ucap Jessy.
''Iya, tapi dia malah tidak tahu terima kasih'' jawab Dion.
''Ooh gara-gara itu kamu gak mood?'' tanya Jessy perhatian.
''Iya, kalau bukan untuk membalas budinya. Aku ogah membeli makanannya'' jawab Dion kembali kesal mengingat yang terjadi tadi.
''Beli saja rumah makannya biar dia tahu rasa. Masak seorang Dion Aditama dianggap remeh. Setelah itu pecat dia bekerja disana'' kata Jessy.
''Udahlah tidak usah kita bahas'' jawab Dion.
''Ya udah'' jawab Jessy tersenyum kepada Dion.
__ADS_1
Pintu lift sudah terbuka. Mereka langsung keluar. Jessy tetap berjalan dengan mengandeng tangan Dion. Dia ingin melihatkan betapa bos mereka menyayanginya. Dan semua karyawan harus menghormatinya.