Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
36. Terungkap


__ADS_3

Dion sampai dikantornya dengan wajah sangat dingin. Semua karyawan berpapasan dengannya tidak berani menatap. Mereka hanya menundukan kepala saat menyapa. Aura yang dipancarkan Dion sangat menakutkan.


Sampai diruangnya Dion langsung memanggil Rahmat. Dia menunggu Rahmat dengan duduk dikursi kebesarannya.


''Ada apa pak?'' tanya Rahmat saat sampai diruang Dion. Rahmat sudah merasa ada tidak beres saat melihat raut wajah Dion. Padahal tadi pagi dia melihat Dion biasa saja.


''Kita meeting sekarang. Kamu beritahu semuanya kalau dalam lima belas menit sudah harus berada diruang meeting. Saya mau mengecek semua laporan hari ini'' kata Dion tegas.


''Tapi pak, bukannya waktu terlalu singkat untuk mempersiapkan semuanya? Takutnya mereka belum menyiapkannya'' kata Rahmat. Dia melihat wajah Dion mengelap.


''Siapa yang tidak siap atau terlambat datang langsung pecat saja. Saya tidak mau punya karyawan yang tidak bisa bekerja'' ucap Dion marah.


''Aduh, siapa yang membuatnya marah seperti ini. Pasti meeting hari ini tidak akan berjalan lancar. Semoga semua yang ikut meeting siap menerima kemarahan bos'' batin Rahmat menangis dalam hati. Dia merasa kasihan sama karyawan yang akan ikut meeting. Harus siap mental untuk menghadapi Dion.


''Kamu dengar saya tidak?'' hardik Dion tambah emosi.


''Dengar pak'' jawab Rahmat menghela nafas.


''Kalau gitu kenapa masih disini. Cepat pergi beritahu mereka'' perintah Dion keras.


''Baik pak'' jawab Rahmat keluar dari ruang Dion.


Dion duduk dimeja dengan suasana hati tambah tidak baik.


''Aarrrgghh'' teriaknya membuang barang yang ada diatas meja. Semuanya berserakan dilantai. Dia bersandar sambil memijit keningnya yang pusing. Rasa sakit dihati karna ditinggal pergi Jessy tanpa pamit membuatnya tersiksa. Dion ingin melampiaskan kekesalan hatinya yang sudah tak tertahan.


Rahmat kembali keruang Dion untuk memberitahunya pergi keruang meeting. Saat sampai di depan pintu sekretaris Dion memanggil Rahmat.


''Ada apa dengan pak Dion pak? Dari tadi saya dengar dia berteriak-teriak dan sepertinya ada barang yang dilempar. Saya mau masuk takut'' kata Sekretaris takut.


''Saya juga tidak tahu. Mungkin lagi dapet'' jawab Rahmat mau membuka pintu.


''Semangat'' bisik Sekertaris. Rahmat hanya tersenyum kecut sebelum masuk ruang Dion.


Betapa terkejutnya Rahmat saat melihat ruang Dion berserakan. Sedangkan Dion duduk dengan kepala tertunduk diatas meja.

__ADS_1


''Anda sebenarnya kenapa?'' tanya Rahmat mulai memungguti barang-barang yang berserakan dilantai. Dion tidak menjawab.


''Lebih baik anda tenangkan diri dulu. Saya akan membatalkan meeting hari ini'' lanjut Rahmat.


''Tidak, meeting hari ini harus dilanjutkan'' kata Dion tiba-tiba.


''Dengan mood anda seperti ini?'' tanya Rahmat dengan suara meninggi. Dia sudah tidak tahan lagi melihat sikap Dion hari ini.


''Tapi saya butuh tempat untuk pelampiasan'' jawab Dion menatap tajam Rahmat.


''Dan anda memilih mereka? Apa anda pikir setelah melepaskan kekesalan anda kepada mereka semua kekesalan didalam hati anda akan hilang? Atau semua masalah anda akan selesai?'' tanya Rahmat. Dion terdiam. Dia tahu kalau yang dikatakan Rahmat ada benarnya.


''Coba anda ceritakan apa masalahnya? Mana tahu saya bisa bantu'' tanya Rahmat.


''Kamu tidak akan bisa bantu'' jawab Dion.


''Apa semua ini karna Jessy?'' Tanya Rahmat yakin. Karna tadi pagi Dion juga menceritakan tentang Jessy.


''Darimana kamu tahu?'' tanya Dion melihat Rahmat.


Dion menghela nafas. Dia kembali duduk dikursinya.


''Jessy pergi...'' katanya Pelan.


''Maksud anda?'' Rahmat tidak mengerti.


''Dia pergi ke Paris hari ini tanpa memberitahuku'' ucap Dion sedih.


''Anda bisa menelponnya'' kata Rahmat.


''Tidak diangkat. Dia memilih pergi ke Paris daripada menikah denganku. Aku juga sudah memberi dia pilihan untuk tunangan dulu kalau dia belum siap menikah. Tapi dia tetap pergi. Apa kurangnya aku baginya. Sehingga dia lebih memilih meninggalkanku'' Dion seolah bicara pada dirinya sendiri.


''Tidak yang kurang dari anda. Dia saja tidak bisa melihat betapa tulusnya cinta anda. Orang seperti itu tidak patut ditangisi'' ucap Rahmat.


Rahmat kasihan melihat bos sekaligus sahabatnya. Baru kali ini dia melihat Dion sangat kacau ditinggal Jessy pergi. Padahal dulu saat Jessy memutuskan untuk kuliah di Paris setelah tamat SMA dia tidak begitu tersiksa. Apa ini efek dari orang patah hati pikir Rahmat. Dion terlihat sangat menyedihkan sekali dimata Rahmat.

__ADS_1


''Saya harus cari dia ke Paris untuk memastikan...'' kata Dion tiba-tiba berdiri dari duduknya.


''Memastikan apa kak?'' tanya Joshua tiba-tiba masuk.


''Kamu ngapain kesini?'' tanya Dion tidak senang.


Joshua berjalan sambil melihat kondisi ruang Dion yang berantakan. Rahmat masih sibuk membereskan. Joshua kemudian duduk disofa.


''Hmm, ada yang mau aku bicarakan. Tapi sebelum itu kakak mau memastikan apa ke Paris?'' tanya Joshua. Dion menatap Joshua.


''Memastikan kenapa Jessy pergi tanpa pamit kepadaku'' jawab Dion. Joshua menyeringai.


''Darimana kakak tahu dia pergi ke Paris?'' tanya Joshua. Dion mengrenyitkan keningnya mendengar pertanyaan Joshua.


''Dari karyawan tempatnya bekerja dan Satpam di Apartemennya. Dia yang mengatakan sendiri kepada mereka'' jawab Dion.


''Kakak terlalu percaya kepadanya. Sampai-sampai kakak tidak bisa membedakan mana yang cinta mana yang hanya untuk main-main saja'' ejek Joshua.


''Diam kamu. Tahu apa kamu tentang hubungan kami'' hardik Dion marah.


''Setidaknya aku bukan kakak yang bodoh dibohongi terus. Cinta kakak kepadanya membuat kakak buta. Sehingga kakak mudah ditipu'' jawab Joshua.


''Sekali lagi kamu menjelekan Jessy aku bunuh kamu'' ucap Dion geram. Joshua tertawa mengejek melihat Dion.


''Apa setelah melihat ini kakak masih mau membunuhku?'' tanya Joshua melemparkan amplop warna coklat keatas meja Dion.


Dion duduk kembali dikursinya. Dia mengambil amplop dan membukanya. Kebetulan Rahmat juga berdiri disampingnya menyusun barang diatas meja yang dilempar Dion. Betapa terkejutnya Dion dan Rahmat setelah melihat foto yang ada didalam amplop.


''Kenapa Jessy bersama laki-laki?'' tanya Dion dengan tangan gemetar menahan emosi melihat satu persatu foto tersebut.


''Foto itu aku ambil tadi pagi. Saat aku pergi kebandara menjemput mama tidak sengaja melihat Jessy duduk bersama laki-laki dikursi tunggu'' jelas Joshua.


''Terus kenapa kamu tidak menelponku?'' tanya Dion. Hatinya sangat hancur saat melihat foto laki-laki itu merangkul dan memcium pipi Jessy. Dia merasa dibohongi selama ini. Padahal dia begitu tulus mencintainya. Hati Dion sangat sakit seperti diiris sembilu. Joshua mengangkat bahunya.


''Kalau aku menelpon kakak kapan aku bisa mengambil fotonya. Bukti lebih bisa meyakinkan kakak daripada omongan. Apalagi aku tahu betapa cinta matinya kakak kepadanya. Kalau aku telepon kakak dan katakan Jessy selingkuh apa kakak percaya?'' jelas Joshua. Dion terdiam. Tangannya mengengam kuat foto-foto Jessy.

__ADS_1


''Dan satu lagi dia bukan pergi ke Paris. Aku lihat penerbangannya ke Amerika'' lanjut Joshua. Dion tambah terkejut lagi. Rasa sedih yang dirasakan tadi berubah jadi sakit hati.


__ADS_2