Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
44. Menjemput Ayah Bundo


__ADS_3

''Kamu kenapa masih bengong, masuk'' perintah Dion saat melihat Hayati masih berdiri.


Hayati kaget dan bertanya ''Anda mau mengantar saya?''


Dion menghela nafas ''Terus kamu mau pergi sama siapa kalau bukan saya yang ngantar? Bukannya kamu tidak tahu jalan'' tanyanya.


''Anda pasti sibuk, saya tidak ingin merepotkan anda'' jawab Hayati walaupun dihatinya berharap Dion mau mengantarnya.


''Cepat masuk! Saya tidak punya banyak waktu berdebat dengan kamu. Kalau tidak saya pergi sekarang dan kamu akan terlambat menjemput orang tuamu'' ucap Dion tegas


"Hehe, kalau gitu saya tidak sungkan lagi'' jawab Hayati segera masuk kedalam mobil.


Dion segera mengemudikan mobil menuju Bandara. Tidak ada pembicara selama perjalanan. Mereka sampai di Bandara. Hayati segera mencari orang tuanya diikuti Dion.


''Bundo, ayah'' teriak Hayati berlari saat melihat kedua orang tuanya. Tapi kedua orang tuanya seolah tidak mengenalnya. Bundo bahkan sampai menutup wajahnya dengan tas.


''Kenapa Yati disini yah, bukannya kita mau buat kejutan. Hamka mana sih'' bisik bundo. Ayah hanya menggeleng kepala.


''Udah ndak usah pura-pura gak kenal. Uda Hamka yang menyuruh Yati untuk menjemput kesini'' kata Hayati tiba-tiba memeluk bundonya dari belakang.


'' Hehe kami ketahuan, awas Hamka nanti bundo jewer telinganya tidak bisa jaga rahasia. Kenapa bukan dia yang jemput kami?'' omel bundo.


''Iya jewer aja, tapi sekarang ini apa bundo tidak kangen dengan anak bundo yang imut ini?'' tanya Hayati bersikap manja melepaskan pelukannya. Bundo tersenyum sambil membalikan bada dan memeluk Hayati. Dion baru melihat sikap manja Hayati hari ini. Bisanya dia terlihat lebih dewasa dan galak.


''Jadi sama ayah ndak kangen nih? Ayah jadi sedih karena terabaikan'' ucap Ayah Syamsul dengan nada menyindir.


''Hoho, ayah dosen ngambek. Aduh,duh Yati juga kangen ayah'' kata Hayati gantian memeluk ayahnya. Hati Syamsul merasa senang. Dia memeluk erat anak kesayangannya yang sudah hampir sebulan tidak bertemu.


''Ayo kita ke rumah Uda Hamka'' ajak Hayati membantu mendorong koper orang tuanya.


''Dia siapa?'' tanya Syamsul dengan wajah dingin. Hayati baru ingat kalau dia datang bersama Dion. Hayati mau menjawab tapi Bundo sudah duluan bicara.


''Aduh, tampannya'' puji Bundo dengan wajah senang.


''Sekarang Bundo sudah pindah ke lain hati ya? Senang melihat yang segar-segar?'' tanya Ayah tidak senang.


''Kalau ada yang lebih tampan kenapa tidak'' goda Bundo dengan tersenyum


''Hmm, ayah waktu muda juga tampan. Malah lebih tampan darinya. Sampai-sampai Bundo mengejar-ngejar ayah'' jawab ayah tidak mau kalah. Hayati hanya bisa menepuk jidatnya melihat kedua orang tuanya berdebat.


''Mau pulang atau Yati tinggal disini?'' tanya Hayati memberhentikan perdebatan kedua orang tuanya.


''Hehe, lihat anak gadis ayah sudah marah. Ayo kita pulang'' ucap Bundo.

__ADS_1


''Iya, ayo kita pulang. Kamu tolong bawain tas kami'' perintah ayah.


''Tapi ayah...'' Hayati belum selesai bicara tangannya sudah ditarik Syamsul.


''Ayo kita ke mobil, ayah tidak sabar bertemu Daffa'' kata Syamsul. Dion hanya bisa menghela nafas.


''Tapi bagaimana dengan tasnya ayah?'' tanya Hayati masih khawatir. Dia tidak bisa membayangkan Dion marah karena disuruh membawa koper orang tuanya. Apalagi dia seorang CEO yang selalu dilayani.


''Biar dia saja yang bawa. Anak muda tidak boleh manja. Apalagi dia laku-laki'' jawab Syamsul santai. Hayati melihat kebelakang. Dion mendorong koper orang tuanya dengan wajah dingin membuat Hayati merinding.


Mereka sampai di mobil. Dion segera memasukan koper kedalam bagasi mobil. Hayati ikut membantu.


''Maaf, ayah saya sudah merepotkan anda'' ucap Hayati tidak enak hati.


''Hmm'' Dion tidak menjawab.


''Yati cepat masuk'' panggil ayah dari dalam mobil.


Hayati segera masuk. Dia duduk di bangku depan karena ayah dan bundonya sudah duduk di kursi belakang.


''Kamu pindah kebelakang. Biar ayah duduk didepan'' kata ayah serius tidak suka melihat Hayati duduk didepan.


''Iya yah'' jawab Hayati menurut.


Dion tidak bisa menolak ayah Hayati untuk duduk disebelahnya. Dia merasa tatapan Syamsul sangat menekannya. Seolah dia bertemu dengan dosen killer waktu kuliah dulu.


''T-tidak pak'' jawab Dion.


''Sekarang baru tahu dari mana turunya sifat galak Hayati'' batin Dion


''Ya udah jalan'' perintah Syamsul tegas.


''Enak saja kamu dekat-dekat dengan anakku. Walaupun wajah dan penampilan kamu lumayan. Tapi kamu harus menghadapi ayahnya dulu'' batin Syamsul kembali dengan wajah dinginnya.


''Aduh pasti sekarang pak CEO marah. Bisa-bisanya ayah memprovokasinya. Padahal dia sudah dengan suka rela menolong aku'' batin Hayati gelisah.


''Yati'' panggil Bundo.


''Ya bundo?'' tanya Hayati kaget.


''Kamu lagi mikirin apa? Dari tadi Bundo panggil diam saja'' tanya Bundo


''Hmm, Bundo bisa bilangin ayah ndak. Kalau harus bersikap baik sama pak ceo, eh salah pak Dion maksudnya. Dia sudah mau mengantar Yati menjemput ayah bundo'' bisik Hayati melihat ketegangan mereka berdua.

__ADS_1


''Ooo namanya Dion, rasanya Bundo pernah dengar'' ucap Bundo.


''Ayah... Jaga sikap. Kalau tidak turun saja'' ancam Bundo dengan wajah menakutkan.


''Hehe, ayah tidak melakukan apa-apa bundo'' jawab Ayah tersenyum. Wajahnya berubah seketika.


''Nak Dion jangan di ambil hati sikap ayahnya Hayati. Dia memang seperti itu kalau bertemu orang asing. Sering terbawa suasana kampus'' ucap Bundo lembut.


''Iya, gak apa-apa buk'' jawab Dion tersenyum.


''Hmm, apa bagusnya? murid-murid ayah banyak yang seperti ini'' gumam Syamsul tidak senang.


''Ayah, Bundo dengar loh''


''Iya, ayah diam'' jawab Syamsul pasrah. Hayati hanya bisa menahan tawanya melihat wajah pasrah Syamsul.


Hayati mengobrol dengan bundonya sepanjang perjalanan. Sedangkan ayahnya dan Dion hanya diam saja. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah Hamka.


Dion membantu untuk mengeluarkan koper orang tua Hayati dari bagasi mobilnya.


''Anda tidak mampir dulu?'' tanya Hayati. Ayah menatap tajam kearah Mereka berdua. Dion tahu kalau ayah Hayati tidak akan senang dengannya.


''Iya mampir dulu nak Dion. Kamu sudah repot-repot menjemput kami'' kata Bundo.


''Lain kali saja buk'' jawab Dion sambil melihat kearah Syamsul. Ayah Hayati pura-pura tidak melihat.


''Atuk, nek'' teriak Daffa dari depan pintu. Dia berdiri bersama Vita dan Hamka. Syamsul segera menghampiri Daffa diikuti Bundo Siti.


''Saya mau langsung kembali ke kantor saja'' jawab Dion setelah koper orang tua Hayati berada diluar mobil.


''Sekali lagi makasih'' ucap Hayati sambil tersenyum dengan tulus.


''Hmm'' Dion hanya mengangguk dan masuk kedalam mobilnya.


Hamka keluar menghampiri Hayati saat mobil Dion meninggalkan rumah Hamka.


''Kenapa Joshua tidak diajak masuk?'' tanya Hamka heran. Dia tidak tahu kalau Joshua tidak jadi mengantar Hayati.


''Yang mengantar bukan Joshua'' jawab Hayati.


''Maksud kamu?'' Hamka penasaran


''Bantu angkat koper kedalam uda'' kata Hayati mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Saat mereka berjalan masuk terdengar teriakan Bundo.


''Uda cepat masuk...''


__ADS_2