
Sudah sejam sejak Hayati pergi namun belum kembali juga. Dion merasa gelisah. Dia juga belum diizinkan dokter untuk pulang sekarang. Kata dokter dia harus dirawat sampai besok pagi. Padahal kondisinya sudah membaik. Dion terpaksa mengikuti perkataan dokter.
''Kemana dia? Kenapa belum kembali juga? Apa jangan-jangan dia sudah pulang'' gumam Dion.
''Apa dia benaran pulang ya? Terserahlah mau pulang atau mau pergi kemana dia juga gak ada hubungan dengan gue'' ucapnya kesal. Dia mulai mengerutu sendiri
''Baaaahh'' Kata Hayati tiba-tiba mengejutkan Dion yang sedang mengerutu.
''Kamuu, mau buat saja saya jantungan. Kamu tahu saya ini sedang sakit kan?'' hardik Dion. Dia melihat Hayati datang dengan membawa kantong plastik berisi makanan dan minuman.
''Orang sakit mana ada suaranya sebesar anda. Malah yang suka marah-marah seperti anda buat sakit jantung'' jawab Hayati meletakan kantong plastiknya diatas lemari dekat tempat tidur Dion.
''Kamu dari mana?'' tanya Dion.
''Kenapa? Anda kangen saya ya? Cie pak ceo ndak bisa jauh-jauh dari saya'' goda Hayati menatap Dion sambil tersenyum.
''Iss kepedean amat si kamu. Siapa juga yang mau dengan kamu. Kamu bukan tipe saya'' jawab Dion cepat. Hayati mutar malas bola matanya.
''Saya juga gak mau dengan anda'' kata Hayati mengeluarkan bungkus makanan dan minuman yang ada di dalam katong plastik yang dia bawa.
Dia mulai memakan nasi goreng yang dibelinya tanpa menawarkan kepada Dion. Dion memperhatikan Hayati yang makan dengan lahap. Seketika perutnya terasa lapar. Apalagi seharian ini dia tidak makan. Infus yang dipasang padanya juga tidak bisa menahan rasa laparnya.
''Anda mau?'' tanya Hayati melihat Dion. Dion segera mengalihkan padangannya.
''Dimana kamu beli?'' tanya Dion.
''Pedagang pinggir jalan yang ada disekitar rumah sakit'' jawab Hayati.
''Tidak higienis'' Kata Dion cepat.
''Hei pak ceo terhormat. Tidak semua makanan yang dijual pinggir jalan tidak bersih. Ini sebabnya anda sakit maag karna selalu pilih-pilih makanan dan berprasangka buruk kepada orang lain. Dan satu lagi mungkin ini juga karma karna anda selalu mengatakan makanan dirumah makan saya tidak enak padahal anda belum pernah mencoba. Heran saya kenapa anda berbeda dari mama dan oma anda? Jangan-jangan ada bukan anak kandung mereka'' omel Hayati panjang lebar.
''Saya tidak terbiasa makan makanan seperti itu'' jawab Dion pelan.
__ADS_1
''Ya udah'' Hayati melanjutkan makannya. Sebenarnya Dion merasa ngiler melihat cara Hayati makan. Dia makan apa adanya tidak seperti kebanyakan cewek kalau didepan Dion pasti akan menjaga image saat makan.
kruuyuuk, suara perut Dion berbunyi. Hayati sampai mendengarnya. Wajah Dion seketika menjadi merah karna malu.
''Hahaha, anda lapar pak ceo. Makanya jangan banyak pilih'' kata Hayati. Dion tidak menjawab.
''Hmm, tapi anda juga tidak bisa makan nasi goreng ini. Karna nasi goreng ini sangat pedas tidak bagus untuk penyakit anda. Saya tidak mau tanggungjawab kalau terjadi apa-apa dengan anda setelah makan nasi goreng ini'' lanjut Hayati.
''Hmm'' Dion tidak menjawab. Entah kenapa dia sangat ingin makan.
Hayati kemudian meletakan kotak nasi gorenganya diatas lemari. Dia mengambil satu lagi bungkus makanan yang berisi sate kuah kacang.
''Anda makan ini saja. Tadi saya mencari orang yang jual bubur tapi tidak ada. Jadi saya belikan saja sate kuah kacang ini. Semoga saja enak dan tidak menyebabkan penyakit anda kambuh. Kalau penyakit anda kambuh lagi terpaksa anda harus nginap lagi disini'' kata Hayati membukakan bungkusnya.
''Apa satenya enak?'' tanya Dion.
''Tunggu bentar'' kata Hayati pergi kearah keluarga pasien yang lain. Tidak lama Hayati datang membawa sebuah piring. Dia meletakan bungkus sate diatas piring.
''Nah anda sudah bisa mememakannya. Cobalah dulu'' Hayati memberikan piring kepada Dion. Dion ragu-ragu untuk mengambil piring tersebut.
''Tidak usah, saya bisa makan sendiri'' jawab Dion cepat mengambil piring dari tangan Hayati.
Hayati kembali melanjutkan makan nasi gorengnya. Karna lapar Dion juga mulai memakan satenya.
''Kamu tidak takut gemuk malam-malam gini makan makanan berat kayak gitu?'' tanya Dion.
''Ndak'' jawab Hayati sambil menyuap nasinya.
''Kalau Jessy pasti tidak akan mau makan yang mengandung karbohidrat kalau sudah malam. Mereka sangat berbeda. Bahkan sifatnyapun berbeda'' batin Dion.
''Kenapa anda benggong, ada malaikat lewat?'' tanya Hayati membuyarkan lamunan Dion. Dion tidak menjawab. Dia memberikan piring yang masih ada sisa satenya dan lontongnya.
''Kenapa tidak dihabiskan?'' tanya Hayati memberikan botol air minum mineral kepada Dion yang dia beli tadi.
__ADS_1
''Saya sudah kenyang'' jawab Dion. Dia tidak berselera makan karna ingat Jessy. Hayati menghabiskan nasi gorengnya. Perutnya terasa sangat kenyang.
''Kalau kenyang gini enak rebahan'' ucap Hayati.
''Kamu kecil-kecil makannya banyak juga.'' ledek Dion.
''Harus dong, biar ada tenaga'' jawab Hayati.
''Tenaga untuk apa?'' tanya Dion heran.
''Untuk menghadapi anda yang suka marah-marah'' jawab Hayati santai.
''Kamuuu'' Dion mengertakan giginya melihat Hayati.
''Hehe, oh ya ini ponsel anda sudah saya cas tadi'' kata Hayati mengeluarkan ponsel Dion dari dalam tasnya. Hayati meminjam charger perawat yang ada di UGD. Dia juga menitipkan ponsel Dion sebelum pergi beli makanan disana.
''Dimana kamu cas? Bukannya kamu tidak punya charger?'' tanya Dion.
''Ada deh'' jawab Hayati berjalan kearah tempat tidur yang ada disebelah tempat tidur Dion. Kebetulan tempat tidur tersebut kosong. Tidak ada pasien yang dirawat disana.
Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam. Mata Hayati sudah sangat mengantuk. Dia biasanya tidur pukul sembilan malam. Hayati naik keatas tempat tidur dan tidak butuh waktu lama diapun tertidur.
Dion menatal layar ponselnya tidak ada satupun panggilan atau pesan dari Jessy.
''Dia sama sekali tidak menghubungiku. Kamu bahkan tidak tahu aku dirawat dirumah sakit. Apa kamu benar-benar memilih putus dariku daripada membatalkan untuk pergi ke Paris'' batin Dion
Dion melihat kearah Hayati. Dia geleng kepala melihat Hayati sudah terlelap.
''Kenapa dia begitu ceroboh? Bisa-bisanya dia tidur sembarangan seperti itu. Apa dia tidak takut ada orang berbuat jahat kepadanya?'' gumam Dion menatap Hayati.
Dion sampai tersenyum melihat Hayati tidur. Secara tidak langsung dia mengakui ada yang berbeda dari Hayati setiap mereka bertemu. Walaupun mereka selalu bertengkar.
''Dia terlihat berbeda saat tidur. Terlihat lebih tenang dibandingkan saat sudah bangun.'' gumamnya berbaring menghadap Hayati. Namun orang yang ditatap sudah terbang kealam mimpi. Tidak lama Dion ikut tertidur juga.
__ADS_1
Beberapa kali ponsel Dion berbunyi. Tapi karna nada ponselnya dalam mode senyap. Dion tidak mengetahui ada panggilan masuk. Dia juga sudah ikut Hayati terbang kealam mimpi.