
Keesokan harinya Vita sudah bisa pulang ke rumah. Hayati tidak bisa ikut karena harus pergi ke rumah makan. Siang ini suasana di rumah makan sangat ramai. Hayati sebenarnya tidak sabaran untuk pulang. Dia ingin melihat bayi imut yang baru lahir. Hayati mengetuk-mengetuk meja dengan punggung jarinya sambil melamun.
''Siang'' sapa Joshua.
''Hmm'' Hayati melihat dengan tidak semangat.
''Kok gak semangat, kamu marah ya karena kemaren saya gak jadi mengantar kamu ke bandara?'' tanya Joshua.
''Ndak kok, anda mau makan? Biar saya suruh siapkan'' jawab Hayati.
'' Saya tidak makan. Saya kesini hanya mau melihat kamu saja'' ucap Joshua tersenyum.
''Lebih baik anda pergi kekantor sana. Saya sedang tidak mood untuk dilihat'' kata Hayati dengan wajah masam.
''Kamu gak mood kenapa?'' tanya Joshua menopang dagunya dengan tangan di atas meja kasir sambil menatap Hayati. Dia seperti menunggu jawaban Hayati.
Hayati hanya menghela nafas malas menjawab. Terdengar suara ponselnya berdering.
''Assalamu'alaikum ayah'' jawab Hayati.
''Wa'alaikumsalam. Kamu hari ini pulang sebelum magrib ya. Kita setelah magrib pergi ke rumah om Adi. Tadi dia mengundang untuk makan malam di sana''
''Yati ndak usah ikut aja ya yah. Yati malas pergi''
''Kamu harus ikut! Om Adi juga menyuruh kamu datang. Karena Hamka tidak bisa datang kamu yang menggantikannya. Ayah dan Bundo tunggu kamu di rumah. Jangan sampai telat pulang. Assalamu'alaikum'' ucap ayah tegas.
''Tapi yah...'' Telepon dimatikan ayah.
''Ya dimatikan. Kebiasaan ayah kalau tidak mau mendengar alasanku'' gumam Hayati tambah tidak semangat. Dia larut dalam pikirannya.
''Kamu mau pergi kemana?'' tanya Joshua tiba-tiba. Dia penasaran karena Hayati terlihat tambah tidak semangat.
''Allahuakbar, anda masih disini?'' kata Hayati terkejut sambil mengurut dadanya.
''Hehe maaf buat kamu terkejut'' Joshua tertawa.
''Terus sampai kapan anda disini om? Menghalangi pemandangan aja'' omel Hayati.
''Saya ini hanya tua satu tahun dari kamu. Kenapa panggil om terus sih'' protes Joshua kesal tanpa menghiraukan pertanyaan Hayati.
''Tapi wajah anda berkata lain'' jawab Hayati serius walau dalam hati dia tersenyum melihat raut wajah kesal Joshua saat protes.
''Coba perhatikan wajah saya yang ganteng tiada dua ini. Mata kamu pasti bermasalah. Sebaiknya besok kamu beli kacamata'' ucap Joshua. Hayati menatap serius wajah Joshua dengan menggerakkan kepalanya dan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
''Sama aja masih tidak berubah'' jawab Hayati serius.
'' Hayatiiiiii... Kamu cari masalah'' ancam Joshua tidak terima.
''Hahaha'' akhirnya Hayati tidak bisa menahan ketawanya.
''Malah tertawa'' omel Joshua tersenyum.
''Kamu manis kalau tertawa. Ya udah saya kembali kekantor dulu. Karena malam ini harus pulang cepat dan kamu juga sudah bersemangat lagi. Lain kali kalau lagi gak mood kamu boleh cari saya'' ucap Joshua pede sambil berjalan keluar rumah makan.
''Hmm, kepedean amat'' kata Hayati melihat Joshua pergi
Jam lima sore Hayati sudah pulang. Rumah makan dipercayakannya kepada Mira. Tidak beberapa lama dia sampai di rumah. Hayati melangkah masuk dengan tidak semangat. Padahal tadi sebelum ayahnya menelpon dia ingin cepat-cepat pulang.
''Assalamu'alaikum'' Hayati memberi salam. Tapi tidak ada yang menjawab. Suasana ruang tamu sepi. Hayati berjalan masuk. Terdengar suara tertawa dari arah kamar Hamka. Hayati segera ke sana.
''Kamu sudah pulang sayang'' sapa Bundo saat melihat Hayati masuk ke dalam kamar.
''Iya bun, dari tadi Yati panggil tidak ada yang menjawab. Ternyata semua berkumpul disini'' jawab Hayati berjalan kearah box tempat tidur bayi. Hayati mau menggendong bayi tersebut tapi dilarang Bundo.
''Kamu mandi dulu baru gendong Aisyah'' ucap Bundo. Nama bayi perempuan Hamka adalah Aisyah Humaira.
''Bentar saja bun, boleh ya. Yati dari tadi menahan untuk mengendongnya'' Hayati memohon.
''Ya udah, Yati mandi dulu. Afa sayang sini peluk Miti dulu'' kata Hayati melihat kearah Daffa dengan wajah memelas.
''Gak oyeh, ta nek Miti yus ndi duyu'' jawab Daffa. Hayati terpaksa keluar dengan wajah lesu.
''Bundo buat bubur ketan hitam kesukaan kamu'' ucap Bundo lagi.
''Benaran? Ya udah aku mandi dulu'' kata Hayati semangat. Bundo dan ayah hanya bisa geleng kepala melihat anak gadisnya.
''Dasar tukang makan'' ucap Hamka tersenyum melihat adiknya berlari keluar kamar.
''Iya, tapi badannya tetap saja kecil walaupun makannya banyak'' ucap Bundo.
''Hmm, kemana lagi perginya air tuturan atap'' sindir ayah.
''Hehe'' Bundo hanya tertawa.
Tidak butuh waktu lama Hayati sudah selesai mandi. Semuanya duduk diruang keluarga kecuali Vita yang sedang menyusui Aisyah dikamar. Hayati ikut bergabung dengan membawa semangkok bubur hitam.
''Jangan makan banyak-banyak. Nanti kamu tidak bisa makan lagi di rumah om Adi'' kata Hamka saat melihat mangkok penuh berisi bubur hitam.
__ADS_1
''Uda tenang saja. Ruang untuk makan malam di sana sudah Yati sisakan'' jawab Hayati membuat semua orang tertawa.
''Nek, wa pa?'' tanya Daffa bingung melihat orang tertawa.
''Menertawakan Miti Afa yang suka makan'' jawab Bundo.
''Yar Miti pat car ya nek'' ucap Daffa.
''Pintar Afa'' jawab Hayati mencubit hidungnya.
''Tit miti'' protes Daffa menggosok hidungnya.
''Oppss. Maaf sayang'' Kata Hayati dengan wajah menyesal.
''Ngan uyang gi ya'' ucap Daffa.
''Iya'' jawab Hayati tersenyum.
''Ayah masih ingat rumah om Adi?'' tanya Hamka.
''Masih'' jawab Syamsul.
''Yakin ayah masih ingat. Jangan sampai kita nyasar dan akhirnya tidak sampai ke sana'' ucap Bundo.
''Tadi Adi sudah memberitahu kalau rumahnya masih ditempat yang lama. Ayah sudah beberapa kali pergi ke sana'' jawab ayah.
''Kalau ayah ragu suruh Hayati saja yang menyetir. Dia jago mencari alamat rumah. Baru disini saja dia sudah pergi keliling Jakarta'' kata Hamka.
''Yati malas pergi. Yati di rumah saja jaga Aisyah'' jawab Hayati cepat.
''Kamu harus pergi ayah tidak mau dengar alasan apapun. Aisyah sudah ada Hamka dan Vita yang jaga'' ucap Syamsul tegas. Hayati melihat Bundo untuk minta pertolongan. Bundo hanya mengangkat bahunya.
''Huft'' Hayati menghela nafas.
''Ayah hanya ingin mengenalkan kamu dengan keluarga teman ayah. Belum tentu kita bisa pergi bersama setelah ini. Hanya sekali ini ayah menyuruh kamu untuk ikut pergi. Biasanya ayah tidak pernah memaksa kamu untuk pergi'' jelas ayah lembut.
''Iya Yati mengerti'' jawab Hayati bersandar dipundak ayahnya.
''Afa tut gi ya nek'' kata Daffa tiba-tiba.
''Iya boleh'' jawab Bundo.
''Hole'' Daffa bersorak senang.
__ADS_1
''Daffa saja semangat pergi masak kamu tidak'' sindir ayah. Hayati tidak menjawab. Mereka mengobrol sambil menunggu masuknya waktu magrib.