
Hayati duduk santai dikasir sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba datang laki-laki menghardiknya.''Hei kamu siapa? Kenapa bisa duduk dimeja kasir?''
Hayati tidak menghiraukan dan masih memainkan ponselnya. Dia juga tidak kenal dengan orang yang menghardiknya. Hayati hanya mengosok telinganya tanpa melihat kearah laki-laki tersebut.
''Kenapa kalian membiarkan orang asing duduk di meja kasir?'' teriaknya kepada para karyawan yang ada disana karna Hayati tidak menghiraukannya. Tapi para karyawan hanya diam seribu bahasa.
''Kenapa pada diam. Mau saya pecat kalian semua?'' lanjutnya emosi. Hayati melihat kearahnya.
''Berisik'' ucap Hayati santai.
''Apa katamu?'' laki-laki dengan emosi mengangkat tangan ingin menampar Hayati. Hayati melihatnya dengan dingin.
''Rizal hentikan...'' hardik Hamka berdiri tidak jauh dari sana. Dia baru saja selesai memeriksa semua laporan keuangan rumah makan secara garis besar. Dan juga sudah menanyakan beberapa karyawan tentang prilaku Rizal sebagai manager rumah makan selama ini. Banyak sekali pengelapan dana yang dilakukan Rizal. Bahkan hampir membuat rumah makannya tutup.
''U-uda Hamka'' ucap Rizal tergagap dengan cepat menurunkan tangannya. Dia terkejut tidak menyangka Hamka datang hari ini. Seketika wajah Rizal berubah pucat.
''Kenapa terkejut? kamu tidak suka saya datang kesini?'' tanya Hamka berjalan kearah Rizal.
''B-bukan begitu da. Saya senang melihat uda datang. Tapi kalau uda beritahu saya. Saya bisa...''
''Bisa menyembunyikan semua yang kamu lakukan selama ini haah?'' potong Hamka. Walau kelihatan tenang tapi tekanan yang diberikan Hamka membuat Rizal takut.
''Saya tidak menyembunyikan apa-apa uda'' jawab Rizal.
''Selama ini saya terlalu percaya kepadamu. Kamu katakan penjualan menurun saya percaya. Dan laporan yang kamu berikan kepada saya berbeda dari yang sebenarnya. Saya sudah menanyakan kepada para karyawan rumah makan selalu ramai. Namun saya harus mengeluarkan uang tiap bulan untuk menutupi kekurangan gaji karyawan. Berapa banyak lagi yang kamu ambil dari rumah makan saya?'' tanya Hamka marah mendekatkan wajahnya kearah Rizal. Rizal masih menundukkan kepala.
''Angkat wajahmu'' hardik Hamka keras. Membuat semua orang disana terdiam.
''Maaf saya uda, saya khilaf. Saya janji tidak akan mengulangi lagi'' ucap Rizal memohon.
''Sekali berbohong seumur hidup orang takkan percaya'' sindir Hayati.
''Kamu...'' Rizal melihat Hayati dengan geram.
''Kamu berani melototin adek saya haa?'' ucap Hamka. Rizal membatu saat Hamka mengatakan Hayati adiknya. Seketika dia tidak tahu harus berbuat apa. Hayati hanya tersenyum mengejek.
''Mengingat kita sekampung. Hari ini kamu saya pecat'' ucap Hamka tegas.
__ADS_1
''Jangan pecat saya uda. Bagaimana saya harus hidup dikota sebesar ini'' Rizal memelas.
''Masih untung kamu tidak saya bawa kekantor polisi. Sekarang pergi kamu. Saya tidak ingin melihat wajahmu lagi. Ini balasan yang saya dapat dari kamu. Air susu kamu balas dengan air ketuba'' ucap Hamka marah. Rizal memeluk kaki Hamka sambil memohon. Hamka dengan cepat menarik kakinya.
''Pergi kamu!!!"teriak Hamka.
Rizal menunduk lemas berjalan keluar rumah makan.
''Tunggu...'' kata Hayati menghampiri Rizal. Rizal berhenti dan membalikan badan kearah Hayati.
Bukkkk, satu tinju Hayati bersarang diperut Rizal. Rizal meringkuk kesakitan sambil memengang perutnya. wajahnya memerah menahan sakit. Semua karyawan disana terkejut melihatnya. Biarpun kecil tinju Hayati kuat juga.
''Itu karna kamu berani mengangkat tangan kepada saya dan menipu uda saya'' ucap Hayati meninggalkan Rizal yang masih kesakitan.
''Hehe, makan yuk da. Yati dari tadi lapar'' kata Hayati sambil tersenyum kepada Hamka.
''Tidak keraskan kamu meninju perutnya? Kalau sampai masuk rumah sakit bisa repot kita'' tanya Hamka melihat Rizal masih kesakitan.
''Slow uda. Masih lembut kalau keras pasti muntah darah dia'' jawab Hayati tersenyum manis.
''Ok, ayo kita makan. Karna setelah ini uda masih harus mengitung kembali berapa kerugian rumah makan kita'' ajak Hamka.
Hayati makan dengan santai sambil mengobrol bersama Hamka.
''Bagaimana kalau laporan ini diselesaikan dirumah saja? Kasihan uni Vita dirumah. Apalagi Daffa juga sedang sakit'' ucap Hayati disela makan.
''Kasihan mereka, harusnya hari ini mereka menerima gaji'' jawab Hamka menghela nafas. Dia merasa bersalah sama karyawan yang berkerja disana karna gaji mereka harus ditunda.
''Bukan salah uda. Kita juga tidak tahu semua akan separah ini. Uda bisa janjikan gaji mereka diberikan besok. Jadi hanya telat satu hari'' ucap Hayati.
''Iya, tapi tidak mungkin uda bisa menyelesaikan dalam satu malam semuanya'' kata Hamka.
''Biar aku bantu'' ucap Hayati. Hamka menatap Hayati dengan tersenyum.
'' Makasih ya dek, kalau kamu tidak ada disini uda pasti sudah pusing memikirkannya''Hamka mengusap kepala Yati.
''Hehe, itu gunanya punya saudara. Biar ada tempat berbagi saat suka duka'' jawab Hayati. Mereka melanjutkan kembali makannya.
__ADS_1
Usai makan Hamka mengumpulkan semua karyawan. Kebetulan rumah makan sedang sepi. Hamka menjelaskan semua yang terjadi. Dan berjanji akan memberikan gaji mereka besok. Semua karyawan mengerti dan menerimanya.
Sebelum kembali ke Jakarta Hamka menyuruh Alan untuk mengawasi rumah makan sementara dan bertanggung jawab sampai dia datang besok.
Sementara Dion masih emosi setelah tahu kalau Jessy mengkhianatinya.
''Bang Rahmat kita pergi makan dulu yuk. Perutku sudah lapar'' ajak Joshua. Dia capek melihat Dion diam ditempat duduk sejak tahu kenyataan tentang Jessy.
Rahmat melihat kearah Dion. Tapi Dion masih diam.
''Kakak ikut kami makan?'' tanya Joshua.
''Kalian saja yang pergi aku tidak lapar'' jawab Dion.
''Anda harus makan pak. Apa anda mau masuk rumah sakit lagi karna maag anda kambuh seperti semalam. Walau putus cinta tapi hidup harus tetap berlanjut'' omel Rahmat.
''Masuk rumah sakit?'' tanya Joshua kaget. Rahmat segera sadar kalau Dion menyuruhnya merahasiakan masalah dia dirawat dirumah sakit.
''Eee itu...'' Rahmat binggung mau menjelaskan. Dia melihat kearah Dion tapi Dion masih diam seperti patung.
''Cepat jelaskan bang. Kalau tidak aku telepon tante dan oma untuk menanyakannya'' ancam Joshua.
''Jangan Jo'' cegah Rahmat panik.
''Hmm, sebenarnya tadi malam pak Dion sempat pingsan didepan restoran setelah bertemu dengan Jessy...'' ucap Rahmat. Dia mencerita semuanya sesuai apa yang dikatakan Dion tadi pagi.
''Lagi-lagi gara-gara Jessy. Sekarang kakak harus ikut kami makan. Kalau tidak aku beritahu oma dan tante kalau kakak dirawat dirumah sakit malam tadi'' ancam Joshua. Dia makin membenci Jessy.
''Ya udah, ayo kita makan'' ucap Dion berdiri dan berjalan gontai keluar ruangannya.
''Nah gitu dong. Laki-laki kalau putus cinta tidak perlu lama-lama patah hatinya''kata Joshua semangat mengikuti Dion.
''Kita makan dimana?'' tanya Rahmat saat mereka didalam lift.
''Ikut aku saja. Aku jamin tempat makan yang kita tuju pasti enak'' jawab Joshua mengangkat kedua alisnya.
Dion tidak berkomentar apa-apa. Rahmat juga memilih ikut saja.
__ADS_1
''Walaupun aku tidak tahu makan ditempatmu enak atau tidak. Yang penting hari ini aku akan bertemu denganmu anak kecil'' batin Joshua bersemangat.