Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
30. Pingsan


__ADS_3

Dion mengajak Jessy untuk makan malam. Dia juga berencana membahas persoalan yang ditanyakan mama dan omanya tadi siang. Dia sampai tidak konsentrasi bekerja karna memikirkannya. Bahkan kepalanya terasa pusing memikirkan semua masalah belum lagi masalah pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya.


Mereka sampai direstoran langganan mereka. Dion langsung memesan makanan dan minuman untuk mereka.


''Sayang, ada yang mau aku bicarakan denganmu'' Dion mulai pembicaraan setelah pelayan pergi mengambilkan pesanan mereka.


''Mau bicara apa sayang?'' tanya Jessy lembut sambil tersenyum.


''Bicara kapan kita akan menikah? Oma dan mama terus menanyakan. Aku pusing didesak sama mereka'' jawab Dion serius. Jessy menghela nafas. Dia paling tidak suka membahas masalah ini.


''Kenapa mama dan oma kamu selalu menanyakan itu terus sih?'' tanya Jessy kesal.


''Kok kamu jadi kesal?'' tanya Dion tidak suka dengan sikap Jessy.


''Habisnya mama dan oma kamu selalu saja ikut campur dengan hubungan kita. Aku sudah katakan kalau aku mau ke Paris dulu untuk kuliah. Kamu sendiri juga sudah setuju'' jawab Jessy.


''Tunggu dulu, aku belum mengatakan setuju kamu melanjutkan kuliah lagi di Paris'' ucap Dion.


''Tapi waktu itu kamu diam saja. Jadi aku anggap kamu setuju'' jawab Jessy.


''Bukannya aku bilang kita bicarakan lagi'' kata Dion.


''Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku sudah pasti untuk pergi ke Paris. Karna ini mimpiku'' sahut Jessy.


''Sekarang aku tanya kepadamu. Apa kamu tidak mau menikah denganku? Bagaimana kalau kita tunangan saja dulu supaya oma dan mama senang'' bujuk Dion.


''Kenapa kamu selalu membahas tentang menikah terus sih. Kita ini masih muda. Masih ada waktu untuk menikah. Aku belum ingin terikat. Keluarga kamu terlalu kuno. Zaman sekarang menikah itu tidak harus diumur muda. Dan banyak juga orang memutuskan untuk tidak menikah'' kata Jessy.


''Jessy...Aku tidak mau dengar kamu menjelekan keluargaku'' bentak Dion. Jessy terdiam. Selama ini Dion tidak pernah membentaknya.


''Kenyataannya seperti itu. Pokoknya aku akan tetap pergi ke Paris'' jawab Jessy meninggi. Dia berdiri dari tempat duduknya.


''Kalau kamu tetap pergi lebih baik kita putus saja'' ancam Dion. Jessy terdiam sejenak.


''Terserah kamu'' katanya melangkah meninggalkan Dion.


''Selangkah kamu keluar dari sini. Berarti kamu setuju kita putus'' teriak Dion. Beberapa pengunjung disana melihat kearah Dion.


Jessy tidak menghiraukan. Dia terus keluar restoran tanpa melihat kearah Dion. Pelayan mengantar pesanan datang. Dion segera berdiri mengeluarkan beberapa lembar uang dan pergi keluar restoran mengejar Jessy.


Sampai diluar restoran Jessy sudah pergi mengunakan taksi.

__ADS_1


''Dia benar-benar pergi'' ucap Dion geram mengusap kasar wajahnya. Hati Dion terasa sakit. Bagaimanapun dia sangat mencintai Jessy. Karna Jessy merupakan cinta pertamanya. Dia rela sampai berpacaran jarak jauh dengan Jessy. Berharap Jessy bisa menjadi istrinya kelak.


Didalam mobil Jessy menelpon seseorang. Hatinya terasa sakit saat Dion mengatakan kata putus.


''Aku mau berangkat besok pagi'' katanya lalu menutup telepon.


''Kita lihat sampai kapan kamu sanggup jauh dari aku Dion. Aku pastikan kamu tidak akan bisa hidup tanpaku. Dari awal aku memang tidak ada niat untuk menikah denganmu. Aku memang tidak mau hidup terikat'' ucapnya.


Hayati memutuskan untuk pulang sendiri. Dia sudah menelpon Hamka. Karna mereka tutup jam delapan malam. Hayati ingin jalan kaki sebentar menikmati suasana kota.


Hayati berjalan santai sambil bersenandung kecil menyanyikan lagu kampuang nan jauah dimato. Kepalanya sampai bergerak mengikuti lagu.


''Apa yang dijual orang didepan sana ya? Kenapa ramai sekali? Kalau enak aku beli dan bawa pulang juga'' ucap Hayati melihat pedangang kaki lima.


Hayati terus berjalan sambil melihat kearah orang belanja dipedagang kaki lima. Dion yang berdiri tidak jauh didepan restoran melihat taksi Jessy pergi. Tiba-tiba perutnya terasa sakit dan menyesak ke ulu hati. Seketika pandangannya jadi buram saat Hayati lewat didepannya.


Buk, tubuh Dion jatuh kejalan. Hayati terkejut langsung menghampirinya. Ketika dia melihat wajah Dion. Hayati tambah terkejut.


''Hei manusia anai-anai, kenapa tidur disini?'' Hayati menepuk-nepuk wajah Dion. Tapi Dion tidak bergerak.


''Dia pingsan ya? Aduh gimana nih'' ucapnya panik. Beberapa orang yang sedang berjalan kaki mengahampiri Hayati.


'' Ada orang pingsan. Bisa tolong pesankan taksi online biar bisa dibawa kerumah sakit terdekat'' jawab Hayati.


''Tunggu sebentar ya dek'' kata orang tersebut. Tidak lama taksi online datang. Beberapa orang membantu mengangkat Dion kedalam taksi. Hayati ikut naik kedalam taksi.


''Makasih ya pak buk'' ucap Hayati.


''Iya, kamu ada uang untuk bayar ongkos taksinya?'' tanya seorang bapak-bapak.


''Ada. Makasih pak'' jawab Hayati.


Taksi melaju kearah rumah sakit terdekat. Tidak berapa lama mereka sampai. Hayati langsung meminta petugas UGD untuk mengangkat Dion. Setelah membayar ongkos taksi Hayati ikut masuk kedalam UGD.


Dokter yang piket di UGD memeriksa keadaan Dion. Hayati menunggu diluar. Dokter akhirnya selesai memeriksa Dion. Dia kemudian menyuruh perawat untuk memasang infus kepada Dion.


''Gimana keadaannya dok?'' tanya Hayati mengampiri Dokter.


''Hasil pemeriksaan menunjukan kalau pasien menderita sakit maag. Karna sehari ini belum makan ditambah banyak pikiran. Asam lambungnya naik dan menyebabkan sakit di ulu hati serta dada. Karna kelelahan juga sehingga mengakibatkan dia pingsan. Tapi adek tidak perlu khawatir pasien hanya butuh istirahat. Sebentar lagi dia akan siuman'' jelas dokter.


''Terus kapan dia boleh pulang dok?'' tanya Hayati. Karna tidak mungkin dia terus berada dirumah sakit.

__ADS_1


''Kalau dia sudah siuman dan kondisinya membaik. Dia bisa pulang'' jawab Dokter.


''Berarti dirawat dulu ya dok?'' tanya Hayati.


''Iya dek, kalau boleh tahu kamu ini siapanya pasien?'' tanya Dokter.


''Saya hanya menemukannya pingsan ditengah jalan saja dok'' jawab Hayati jujur.


''Terus bagaimana dengan pengurusan administrasinya?'' tanya Dokter menatap Hayati.


''Biar saya saja yang urus. Yang terpenting pasien cepat sadar'' jawab Hayati.


''Ok kalau gitu kamu bisa langsung ke bagian administrasi. Pasien akan dipindahkan keruang rawat'' ucap dokter.


''Ruang rawatnya yang murah saja ya dok'' bisik Hayati.


''Hehe, iya. Saya mengerti dek'' jawab Dokter tertawa.


Hayati pergi kebagian administrasi untuk mengurus segala keperluan. Selesai mengurusnya Hayati kembali keruang rawat Dion.


Saat dijalan keruang rawat Dion. Hayati menelpon Hamka dulu.


''Assalamu'alaikum uda'' ucap Hayati.


''Wa'alaikumsalam. Kamu dimana kenapa belum pulang juga?''


''Dirumah sakit'' jawab Hayati.


''Apa dirumah sakit. Kamu kenapa?'' suara Hamka terdengar cemas.


''Bukan Yati yang sakit uda. Tadi ada orang yang pingsan dijalan. Jadi Yati bawa kerumah sakit. Sekarang Yati masih dirumah sakit menunggu dia siuman'' jelas Hayati.


''Syukurlah bukan kamu yang sakit. Apa tidak ada keluarga yang bisa dihubungi?''


''Tidak ada uda. Orangnya masih pingsan belum bisa ditanya. Nanti kalau sudah ada keluarganya yang datang Yati baru pulang. Tapi kalau tidak mungkin besok pagi saja Yati pulang'' jawab Hayati.


''Ya udah. Kalau kamu mau pulang telepon saja. Biar uda yang jemput'' .


''Iya, assalamu'alaikum'' Telepon dimatikan.


Hayati sampai diruang rawat Dion. Disana terdapat tujuh buah tempat tidur pasien. Karna ruang rawatnya merupakan yang ekonomi sesuai permintaan Hayati. Terdapat empat pasien yang dirawat termasuk salah satunya Dion

__ADS_1


__ADS_2