Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
35. Kepergian Jessy


__ADS_3

Dion sampai didepan apartemen Jessy yang berada dilantai empat. Tanpa menunggu lama dia segera naik kelantai empat. Sampai didepan pintu apartemen Jessy. Dion memencet bel tapi setelah berkali-kali pintu apartemen tidak juga terbuka. Dia juga mencoba menelpon Jessy namu tetap tidak diangkat. Dengan perasaan putus asa Dion kembali kelantai satu dan keluar apartemen.


''Pak Dion'' sapa seorang satpam.


''Hmm'' Dion tidak menjawab karna pikiran sedang kacau.


''Anda pasti mencari nona Jessy ya?'' tanya Satpam.


'' Iya. Tapi dia tidak ada '' jawab Dion cepat.


''Jam tujuh tadi dia sudah pergi ke bandara. Katanya mau berangkat ke Paris hari ini'' ucap Satpam. Dion melihat kearah satpam.


''Bapak tahu dia berangkat jam berapa?'' tanya Dion memegang bahu satpam dengan keras.


''Tidak pak. Dia hanya mengatakan itu saja sebelum pergi'' jawab Satpam meringgis kesakitan karna bahunya dipegang sangat kuat sama Dion.


Dion segera kemobil. Dia menyuruh sopirnya kebandara. Dion sudah seperti orang gila mencari Jessy.


Sementara Jessy sedang duduk dibandara menunggu keberangkatannya bersama seorang pria.


''Kamu yakin tidak mau memberitahu Dion?'' tanya Pri tersebut.


''Biarin dia pusing mencariku. Dari tadi dia terus menelpon. Aku yakin dia sekarang sedang mencari kebutik dan Apartemen. Mereka disana hanya tahu aku berangkat ke Paris. Padahal tujuan kita bukan kesana'' Jessy tertawa.


''Hehe, aku senang kamu memilih untuk pergi denganku dibandingkan tinggal dan menikah dengannya'' kata pria itu merangkul bahu Jessy dan mencium rambutnya.


''Iya dong. Pacaran dengan orang kaku seperti dia sangat membosankan. Sampai sekarang kami tidak pernah berciuman. Jangankqn berciuman memeluknya saja susah minta ampun. Lebih baik bersama kamu. Aku bisa merasakan nikmatnya dunia tanpa menikah'' ucap Jessy. Pria yang bernama Niko merupakan kekasih lain Jessy. Dia tersenyum senang mendengar ucapan Jessy. Dia mencium pipi Jessy. Jessy tersenyum senang.


Tidak lama operator memanggil kalau pesawat mereka akan segera berangkat. Saat Jessy dan Niko masuk kedalam pesawat. Dion sampai dibandara. Dia segera berlari masuk untuk mencari keberadaan Jessy.


Setelah berkeliling mencari tapi Jessy tidak juga ditemukan membuat Dion putus asa.


''Aarrrrgghhh'' teriak Dion keras dengan marah. Bahkan orang-orang yang berada di dalam bandara melihat kearahnya.


Dion keluar bandara dengan keadaan kacau sekali. Dia tidak bisa menerima Jessy pergi meninggalkannya begitu saja. Hatinya terasa sangat sakit. Dia masuk kedalam mobil dengan tidak semangat.


''Kita kemana lagi tuan?'' tanya Sopir.

__ADS_1


''Kekantor'' jawab Dion menyandarkan kepalanya dikursi mobil. Tidak ada lagi pertanyaan dari sopir. Dia sangat takut membuat Dion marah kalau banyak bertanya. Ditambah melihat keadaan Dion sekarang.


Pukul sebelas siang Hayati dan Hamka berangkat ke Bekasi. Keadaan Daffa sudah mulai membaik. Demamnya juga tidak naik lagi. Hamka juga bisa tidur walaupun hanya satu jam.


Melihat Hamka masih kurang tidur. Hayati tidak membiarkan Hamka menyetir. Dia yang akan menyetir sampai Bekasi. Vita juga merasa lebih tenang kalau Hayati yang menyetir.


''Sebaikanya uda tidur saja selama perjalanan'' kata Hayati diselah perjalanan.


''Uda ndak ngantuk'' jawab Hamka hanya bersadar saja.


''Kalau adik bicara harus dituruti. Nanti sampai dirumah makan uda harus menyelesaikan masalah yang menguras tenaga. Kalau uda masih kurang tidur mana ada tenaga untuk marah-marah. Apa harus aku yang mengantikan uda marah. Tidak lucu mereka mendengar aku marah sedang mereka tidak kenal denganku'' omel Hayati.


''Kamu kalau sudah mengomel persis seperti bundo'' jawab Hamka.


''Ya jelaslah. Yati fotocopy dari bundo cerewetnya. Dan kalau marah seperti ayah dosen'' kata Hayati pede.


''Adiak kanduang(adik kandung) uda ternyata sudah gadang(besar) sekarang'' ucap Hamka mengusap kepala Hayati.


''Udah cocok balaki(menikah). hahaha'' Hayati tertawa.


''Gimana mau menikah. Calonnya saja sudah menikah dengan orang lain'' ledek Hamka.


''Yang benar? tapi kata bundo kamu sempat patah hati sambil menangis beberapa hari'' kata Hamka.


''Hmm, bundo dipercaya. kucing bertelurpun dia akan percaya. Dan pasti diceritakan sama uda'' jawab Hayati tertawa.


''Haha, kamu berdosa loh ledekin bundo. Ntar uda kasih tahu bundo baru tahu rasa kamu'' ucap Hamka.


''Aduh jangan, uda tahu bundo itu kalau sudah marah sangat menakutkan. Ayah saja mengakui kehebatan bundo kalau sudah marah. Lebih menyeramkan dari ayah yang dijuluki seorang dosen killer oleh mahasiswanya''


''Hehe, kamu tuh'' Hamka hanya geleng kepala mendengar jawaban Hayati. Dia bersyukur punya adik seperti Hayati. Walau sering bertingkah konyol. Tapi dia juga bisa berpikir dewasa dalam menyelesaikan masalah. Dia berdo'a agar adiknya mendapatkan jodoh yang baik.


Beberapa saat kemudian mereka sampai dirumah makan cabang Bekasi. Saat Hamka dan Hayati masuk semua karyawan disana terkejut melihat mereka.


Hamka sangat jarang berkunjung. Dia sudah mempercayakan rumah makan kepada Rizal manager disana.


''Siang pak'' sapa semua karyawan hormat.

__ADS_1


''Siang, mana Rizal?'' tanya Hamka yang melihat kasir kosong.


''Pak Rizal sedang keluar pak'' jawab salah seorang karyawan.


''Kemana dia pas jam kerja?'' tanya Hamka menatap tajam. Semua karyawan saling pandang. Seolah ragu untuk menjawab.


''Tidak perlu ragu menjawab katakan sebenarnya. Karna saya datang kesini untuk itu'' ucap Hamka.


''Dia pergi bersama pacarnya pak'' jawab salah satu karyawan laki-laki.


''Pergi pacaran dijam kerja?'' tanya Hamka marah. Semua karyawan tertunduk takut melihat Hamka marah. Aura Hamka terasa menakutkan saat marah.


''Apa dia sering seperti ini?'' tanya Hamka lagi. Semua karyawan tidak langsung menjawab.


''Iya pak'' kata karyawan laki-laki yang menjawab tadi.


''Ya udah kalian kembali bekerja. Siapa nama kamu?'' tanya Hamka.


''Nanda pak''


''Kamu ikut saya keruang Rizal. Dan ini Hayati adik saya. Dia yang akan duduk dikasir'' kata Hamka.


''Ya pak'' kata Karyawan sebelum kembali ke tempat masing-masing.


''Kamu disini dulu dek. Uda masuk keruang Rizal dulu untuk mengecek semuanya'' kata Hamka


''Ok, kalau ada yang bisa Yati bantu beritahu saja. Biar begini aku paling jago soal hitung-hitungan'' jawab Hayati. Hamka tersenyum kearah Hayati.


''Iya'' jawab Hamka berjalan masuk keruang Rizal diikuti Nanda.


Setelah Hamka pergi beberapa karyawan mulai berbisik. Hayati bisa melihat mereka.


''Ekhm'' dehem Hayati berjalan kearah mereka. Semua jadi terdiam.


''Saat kerja tidak boleh bergosip. Apa kalian tidak melihat ada orang masuk untuk makan?'' lanjut Hayati tegas.


''Iya buk'' jawab mereka serentak.

__ADS_1


''Aiss jangan serius gitu. Layani pelanggan dengan senyuman'' ucap Hayati kembali kemeja kasir. Karyawan tadi melihat kearah Hayati yang duduk santai dia meja kasir.


''Kalian kira umurnya berapa? Bahkan dia bisa membuat kita tertekan saat bicara. Sama seperti pak Hamka. Kecil-kecil cabe rawit'' kata salah satu karyawan laki-laki. Tidak ada yang menjawab karna mereka takut tegur Hayati lagi.


__ADS_2