
''Kamu ngapain disini?'' tanyanya dingin.
''Sedang ngambil es krim'' jawab Hayati tanpa menoleh. Dia sudah tahu siapa yang bertanya tanpa melihatnya. Orang itu adalah Dion.
''Maksud saya kamu ngapain di rumah saya?'' tanya Dion tidak senang dengan jawaban Hayati.
Hayati tidak menjawab. Dia sibuk mengambil es krim yang di pilih Daffa sambil berkata ''Pilih satu saja tidak boleh banyak-banyak ntar sakit perut''
''Dua boyeh miti?'' Daffa memohon. Hayati mengangguk sambil tersenyum. Daffa kemudian mengambil dua dari sekian banyak yang sudah dipilihnya. Hayati membuka satu es krim agar bisa langsung dimakan Daffa.
''Ayo kita kembali ketempat nenek dan kakek'' ajak Hayati sambil mengendong Daffa. Saat membalikan badan '' Allahuakbar'' Hayati terkejut mendapati Dion masih berdiri dengan tangan terlipat didadanya. Penampilannya terlihat lebih santai dengan baju kaus oblong dan celana pendek. Dia menatap Hayati dengan tajam karena diabaikan.
''Anda masih disini, ayo ke depan. Anggap saja rumah sendiri'' ucap Hayati melangkah menutupi rasa terkejutnya. Namun tangan Dion tiba-tiba menahan tangannya.
''Ada apa lagi pak CEO?'' tanya Hayati berhenti berjalan dan menatap Dion. Dion juga menatap Hayati. Suasana jadi hening seketika.
''Ekhem'' terdengar suara dehem dari pintu dapur. Demia menghampiri mereka sambil melirik tangan Dion yang memegang tangan Hayati. Dion segera melepaskan pegangan tangannya. Suasana menjadi canggung. Hayati melihat wanita cantik yang seumuran didepannya dan bertanya siapa dia.
''Aduh anak siapa ini imutnya'' tanya Demia mendekati Hayati dan Daffa.
''Siapa namanya?'' lanjut Demia.
''Daffa nte'' jawab Hayati. Sedangkan Daffa cuek saja. Dia lebih tertarik dengan es krimnya. Sifat cuek Daffa kepada orang lain sama dengan Hamka.
''Nama yang bagus. Anak kamu ya? Kamu nikah muda? Kecil-kecil sudah punya anak. Tapi kamu siapa kenapa saya baru lihat disini? Dan kak Dion ngapain disini Sampai pegang tangannya segala? Apa dia pacar kakak? Apa kak Dion sekarang pacaran dengan janda beranak satu? Apa Oma dan mama tahu? Bla,bla'' Demia mengajukan begitu banyak pertanyaan. Hayati sampai membesarkan matanya saat mendengar pertanyaan yang diajukan Demia. Tapi dia lebih fokus dengan janda beranak satu.
''Apa aku terlihat seperti seorang janda beranak satu ya? Tenyata adiknya pantasan sifat ceplosnya sama'' batin Hayati.
''Hei, bisa diam tidak?'' bentak Dion. Demia terdiam seketika.
''Kenapa kakak bentak aku?'' tanya Demia tidak terima.
Sementara diluar dapur, tepatnya diruang makan terdengar suara Nila menyuruh pembantu untuk memanggil Dion dan Demia ke kamar. Sepertinya mereka mau makan malam. Suara Bundo dan ayahnya Hayati juga terdengar.
Hayati memilih keluar dari dapur daripada meladeni dua kakak adik yang sedang berdebat.
__ADS_1
Saat Hayati keluar dari dapur semua mata tertuju padanya.
''Kamu ngapain disini?'' Tanya Syamsul kaget melihat Dion berada dibelakang Hayati. Dion juga kaget saat melihat orang tua Hayati. Dia emang tahu kalau ada teman papanya yang akan datang malam ini. Tapi dia tidak tahu kalau yang datang orang tua Hayati.
''Ayah amnesia ya? Bukanya aku kesini karena ayah yang ajak'' jawab Hayati tidak tahu kalau pertanyaannya ayahnya untuk Dion.
''Bukan kamu yang ayah tanya. Tapi ayah bertanya sama sopir yang dibelakang kamu'' jawab Syamsul santai.
''Apaa sopir?'' kata Oma Yenti dan Aditama serentak. Ada rasa terkejut saat anaknya dikatakan sopir.
''Iya, emangnya kenapa?'' tanya Syamsul heran dengan reaksi Oma Yenti dan Aditama. Hayati mau menjelaskan tapi bingung mulai dari mana.
''Mati aku kelihatannya dia marah. Kenapa ayah dosen mengatakan dia sopir sih. Padahal aku gak ada ngomong apa-apa dan ayah juga tidak tanya apa-apa '' batin Hayati menepuk jidat sambil melirik Dion.
Hayati bisa merasakan hawa dingin dibelakangnya. Dia tahu kalau Dion sangat marah saat ayahnya mengatakan dia seorang sopir. Apalagi hubungan mereka tidak akur saat menjemput ayah dan Bundo Hayati. Hayati tahu dengan harga diri Dion yang sangat tinggi pasti tidak terima.
''Kamu bilang dia sopir Syam?'' Aditama mengulang katanya seperti belum percaya dengan apa yang didengarnya.
''Iya. Karena dia yang menjemput saya ke bandara saat sampai di Jakarta bersama Hayati'' jawab Syamsul masih pedenya.
''Diam kamu'' tegur Dion tidak senang.
''Kakak memang cocok jadi sopir'' bisik Demia meledek Dion.
''Hehe'' Aditama tertawa. Begitupun dengan Nila dan Oma Yenti.
''Kenapa pada tertawa?'' tanya Syamsul tidak mengerti.
''Aduh ayah dosen. Dia ini bukan sopir tapi anaknya om Adi'' jawab Hayati malu dengan sikap ayahnya.
''Ooo, anak... Apa anak kamu Di? Dia Dion anak laki-lakimu?'' Syamsul sangat kaget.
''Iya'' jawab Aditama masih tertawa melihat wajah kaget Syamsul.
''Makanya jangan sembarangan mengambil kesimpulan. Ayah akhirnya malu sendiri'' ucap Bundo.
__ADS_1
''Sudah. Ayo kita duduk dulu. Ntar gak jadi-jadi makan malamnya'' kata Oma Yenti. Semua orang duduk. Syamsul masih melihat Dion yang duduk disebelah Nila.
''Daffa duduk dekat nenek ya'' ajak Bundo.
''Gak au, Fa au ma Miti ja'' jawab Daffa.
''Aku baru sadar kalau diperhatikan dia mirip kamu saat muda ya'' ucap Syamsul melihat Aditama.
''Hehe, iya. Dan ini anak perempuanku namanya Demia. Umurnya sama dengan Hayati'' jawab Aditama. Tapi Dion tidak bereaksi apapun. Wajah masih saja datar tanpa ekspresi. Sedangkan Demia tersenyum kearah Syamsul dan Siti.
''Cantik ya'' puji Siti.
''Makasih tante. Aku memang cantik dari lahir'' jawab Demia pede. Semua orang tertawa kecuali Dion. Dia sesekali melirik Hayati yang sedang membersihkan mulut Daffa.
Semuanya mulai mengambil makanan yang sudah tersedia di atas meja makan.
''Jadi kamu yang menjemput om Syamsul dan Tante Siti. Kamu dan Hayati saling kenal?'' tanya Aditama kepada Dion.
''Hmm'' Dion tidak menjawab.
''Kenal dimana? Kenapa pas Oma cerita kamu tidak bilang apa-apa?'' tanya Oma Yenti.
''Di Bukittinggi'' jawab Dion dan Hayati serentak.
''Cie kompak nih'' goda Demia.
Dion tidak menjawab dia kembali menyantap makanannya. Para orang tua tambah kaget saat mendengar jawaban mereka berdua.
''Jadi kalian sudah kenal lama. Kenapa kamu tidak pernah cerita kepada kami?'' tanya Oma Yenti penasaran. Ada rasa senang dihatinya saat tahu Dion sudah kenal lama dengan Hayati.
''Bukan kenal nek. Kami tidak sengaja ketemu saja di Bukittinggi. Dan kebetulan ketika saya di Jakarta juga ketemu dengan pak CEO. Tapi kami tidak terlalu kenal'' jelas Hayati. Dia tidak mau disalah sangka karena kenal dengan Dion. Dion tidak senang dengan jawaban Hayati. Menurutnya mereka sangat cukup kenal.
'' Gak masalah. Mulai sekarang kalian bisa saling dekat satu sama lain. Iyakan Siti'' jawab Oma senang. Bundo Siti hanya tersenyum.
''Kalau orang tuanya berteman. Anak mereka juga bisa berteman'' ucap Aditama.
__ADS_1
''Kirain tadi pacar kak Dion. Karena kak Dion pegang...'' Dion menutup mulut Demia supaya diam.