
Dimanapun berada Hayati selalu bisa menyesuaikan diri. Melihat Dion belum siuman dia mulai merasa bosan duduk sendiri. Hayati memilih untuk bergabung dengan keluarga pasien lainnya yang ada disana. Dalam waktu singkat suasana menjadi ramai. Gelak tawa mulai terdengar. Salah satu penyebab adalah Hayati. Untung perawat tidak ada diruang rawat tersebut. Sehingga mereka bebas tertawa tanpa harus memikirkan pasien lain tergangu. Karna pasien disana ikut juga tertawa. Hanya Dion yang masih belum sadar.
Dion mulai sadar tapi belum sepenuhnya sadar. Dia bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang ada disana.
''Kamu siapanya dia nak?'' tanya seorang pasien nenek.
''Pasti adiknya, karna kamu kelihatan sangat muda dan dia sudah agak tua'' sambung pasien ibuk-ibuk
''Menurut ibuk begitu?'' tanya Hayati. Walaupun dia tidak mau sedikitpun menjadi adik Dion. Ibuk itu mengangguk.
''Tapi dia kelihatan tampan'' ucap nenek. Yang lain juga setuju dengan pendapat nenek. Dipikiran Hayati mulai muncul ide usil untuk membuat kehebohan.
''Hmm, apa nenek dan ibuk-ibuk disini punya anak dan cucu yang masih gadis. Kalau mau kalian bisa jodohkan dengannya. Dia bisa kerja jadi kuli bangunan, kerja serabutan, pedagang kaki lima atau keliling dan bisa bertani juga'' kata Hayati menahan tawannya
''Serius kamu dia bisa kerja seperti itu? Tapi kulitnya kelihat sangat bersih'' tanya seorang ibuk
''Ya seriuslah buk. Dia hanya beruntung saja punya kulit bagus'' jawab Hayati meyakinan.
''Boleh juga jadi menantu untuk anakku yang baru janda'' kata seorang ibuk
''Untuk calon suami cucuku yang berumur tiga lima tahun bisa juga'' kata seorang nenek. Semua orang disana mulai ingin menjodohkan anaknya dengan Dion. Dan Dion bisa mendengar walaupun baru setengah sadar.
''Tunggu dulu, karna banyak yang menginginkannya. Supaya adil saya akan buka pelelangan. Siapa yang menawar paling tinggi. Dia yang akan mendapatkan untuk dijodohkan dengan anak atau cucunya. Apa semuanya setuju?'' tanya Hayati senang.
''Berapa Harga tertinggi dari tawaran mereka ya. Aku jadi penasaran. Bagaimana reaksinya kalau tahu aku lelang'' batin Hayati senyum-senyum sendiri.
''Setuju'' jawab semuanya.
''Tapi jangan mahal-mahal buka harganya. Kami disini juga tidak punya banyak uang'' kata seorang ibuk.
''Oooh tenang saja saya jual murah. Saya buka mulai dari harga sepuluh ribu. Bagaimana murahkan?'' kata Hayati menaikan kedua alisnya.
__ADS_1
''Murah banget, saya tawar sebelas ribu'' jawab seorang ibuk
''Lima belas ribu'' kata pasien nenek tidak mau kalah.
''Dua puluh ribu'' penawaran pun berlanjut sampai lima puluh ribu.
''Ayo siap lagi, haha'' Hayati tidak bisa lagi menahan tawanya. Saat semua orang semangat menawar.
''Hayatiiiii'' teriak Dion marah. Dia sudah sepenuhnya sadar saat Hayati dan yang lainnya sedang tawar menawar dirinya. Dion berusaha duduk tapi tidak ada tenaga. Apalagi tangannya juga pakai infus.
''Nanti kita lanjutkan lagi, orangnya sudah sadar'' kata Hayati segera menghampiri Dion dan duduk dikursi samping tempat tidur Dion. Sebelum itu dia membantu Dio untuk bersandar.
''Saya dimana? Kenapa saya berada ditempat seperti ini? Dan kamu juga ngapain disini?'' tanya Dion marah.
''Hello pak CEO, anda tidak ingat pingsan dijalan tadi? Ya sekarang anda berada dirumah sakitlah. Saya yang bawa anda kerumah sakit'' jawab Hayati santai. Pasien lain dan keluarganya melihat kearah mereka. Dion merasa risih.
''Tutup tirainya'' perintah Dion. Hayati menurutinya dan menutup tirai pembatas antara kasur pasien yang satu dengan yang lainnya.
''Terus kenapa saya harus berada diruang seperti ini? Seumur hidup saya tidak pernah dirawat di ruang kelas rendah. Saya biasa dirawat diruang VVIP'' kata Dion sombong.
''Terus kenapa kamu melelang saya seperti barang murahan?'' tanya Dion kembali kesal.
''Ya untuk cari uang bayar biaya rawat anda dong'' jawab Hayati tanpa rasa bersalah. Dion melototin Hayati.
''Tapi mereka menawar anda terlalu murah, hahaha'' Hayati tidak bisa menahan tertawanya.
''Aduh pak Ceo, saya tidak menyangka harga anda semurah itu, bahkan lebih murah dari baju yang diobral dipasar. Tapi anda harus melihat semangat mereka untuk menjadikan anda menantu mereka. Biarpun anak dan cucu mereka ada yang janda satu anak, ada yang perawan tua, ada yang masih berusia lima tahun'' Sambung Hayati sambil tertawa sampai air matanya keluar.
''Diam kamu'' hardik Dion kesal.
''Opps...'' Hayati menutup mulutnya masih tersenyum.
__ADS_1
''Mana ponsel saya? Saya mau menelpon Rahmat'' tanya Dion. Hayati mengeluarkan ponsel Dion dari dalam tasnya.
''Ponsel anda mati'' kata Hayati menyerahkan ponsel Dion. Dion mengambil dan mencoba menghidupkan ponselnya. Ternyata batrainya habis. Salah satu kebiasaan Dion suka lupa mengecas ponselnya. Bahkan sering ponselnya kehabisan batrai.
''Kamu ada charger?'' tanya Dion masih dengan wajah angkuh.
''Ndak ada. Mana mungkin saya bawa charger kemana-mana'' jawab Hayati.
''Saya ada'' kata keluarga pasien nenek mengintip dibalik tirai.
''Hmm, tapi kamu harus setuju menjadi menantu kami. Ternak sama sawah kami sangat banyak'' sambungnya.
''Tidak perlu'' jawab Dion cepat. Hayati menahan tawanya dengan tangan dimulut.
''Semua gara-gara kamu'' ucap Dion geram.
''Terus gimana cara anda menghubungi keluarga anda?'' tanya Hayati.
''Hmm'' Dion tidak menjawab dia kembali merebahkan badannya karna merasa pusing saat bersandar.
''Oh ya, kata dokter penyebab anda pingsan karna maag anda kabuh dan seharian ini anda tidak makan, terus anda kelelahan juga dan yang paling penting karna anda streeeess. Saya jadi penasaran kenapa seorang CEO seperti anda bisa strees? Padahal uang anda banyak'' ucap Hayati.
''Bukan urusanmu'' jawab Dion. Dia teringat kejadian putus dengan Jessy tadi.
''Hmm, jangan-jangan anda stres karna putus cinta ya? Kalau iya betapa bodohnya anda. Saya saja yang patah hati karna diselingkuhi tidak pernah stres tuh. Apalagi sampai pingsan. Kalau karyawan anda sampai tahu Ceonya pingsan karna putus cinta. Mau diletakan dimana wajah anda yang lumayan ini kata nenek sebelah...''
''Bisa diam tidak?'' potong Dion.
''Ya deh saya diam. Bentar saya pergi panggilkan dokter dulu. Supaya bisa memeriksa keadaan anda. Karna ini ruang rawat paling ekonomis. Jadi tidak ada bell untuk memanggil perawat dan dokter'' kata Hayati panjang lebar meninggalkan Dion. Setelah Hayati pergi pasien-pasien yang lain mulai datang mengintip Dion.
''Apa kalian lihat, pergi sana'' hardik Dion. Mereka sampai takut melihat wajah marah Dion sehingga segera kembali ketempat masing-masing.
__ADS_1
''Hiiiss, kenapa harus dia yang nolongin gue. Enak saja melelang-lelang gue dengan orang-orang itu. Andai saja bisa menelpon Rahmat pasti gue langsung pindah dari ruang rawat murahan ini'' gumam Dion geram.
Tidak lama dokter yang tadi memeriksa Dion masuk bersama dengan perawat. Dia mulai melakukan pemeriksaan kepada Dion. Awalnya Dion protes ingin pindah ruang rawat. Tapi sang Dokter tetap tidak bisa memutuskan karna harus menunggu persetujuan Hayati. Karna Hayati meminta ruang rawat paling murah.