
Sejam telah berlalu. Tapi tidak ada pergerakan dari Dion. Hayati sudah mulai kesal karna diabaikan. Rahmat juga tidak enak hati melihat sikap Dion. Hayati berdiri dari tempat duduknya.
''Sampai kapan saya harus menunggu?'' tanya Hayati melihat Rahmat. Rahmat juga tidak tahu mau jawab apa.
Dion juga tidak menjawab dia masih sibuk dengan pekerjaannya. Seolah tidak mendengar pertanyaan Hayati.
''Maaf pak Rahmat. Kalau memang tidak bisa melakukan pembayaran sekarang. Kertas tagihan akan saya tinggalkan disini. Hubungi saya jika memang sudah bisa melakukan pembayaran atau anda juga bisa mentransfernya. Nanti saya kirimkan nomor rekeningnya. Kalau begitu saya permisi'' ucap Hayati agak keras sambil meletakan kertas tagihan diatas meja. Dia sudah bersiap untuk berjalan keluar dari ruang Dion.
''Apa kamu segitu tidak sabarnya?'' tanya Dion melihat kearah Hayati. Hayati menghela nafas.
''Menurut anda saya harus sabar bagaimana lagi? Satu jam saya menunggu disini dan diabaikan'' jawab Hayati.
''Kamu tidak lihat pekerjaan saya sedang banyak. Hanya diabaikan sebentar saja sudah marah'' ejek Dion.
''Kalau memang pekerjaan anda banyak. Kenapa dari awal anda menyuruh saya menagih pembayaran kepada anda. Bukannya anda yang seorang CEO perusahan sebesar ini bisa menyuruh karyawan anda mengurus pembayaran yang tidak seberapa. Jadi pekerjaan anda tidak akan terganggu'' jawab Hayati tegas. Dia balik menatap Dion. Dimatanya jelas sekali ada rasa kesal.
''Hayati bisa duduk dulu?'' tanya Rahmat ingin mendinginkan suasana. Tapi tidak dihiraukan.
''Saya ada alasan kenapa kamu saya suruh langsung menagihnya kepada saya. Asal kamu tahu saya sebenarnya juga tidak sudih bertemu denganmu yang sombong ini'' ucap Dion.
''Ckck, anda bilang saya sombong?'' tanya Hayati tidak percaya.
''Semut diseberang laut nampak. Gajah dipelupuk mata tidak nampak'' gumam Hayati dengan senyum mengejek.
''Gimana gak sombong. Saya ini pembeli. Seharusnya kamu menjadikan saya raja dan menunggu dengan sabar kapan saya harus membayarnya. Ini tidak kamu malah membentak saya dan ingi cepat pergi'' jawab Dion.
''Dan satu lagi pribahasa itu lebih cocok untukmu bukan untuk saya'' sambungnya.
''Pembeli yang harus dijadikan raja bukan yang seperti anda. Sekarang anda mau bayar atau tidak?'' tanya Hayati. Suasana menjadi semakin tegang. Rahmat tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menghela nafas.
__ADS_1
''Asal kamu tahu saya punya alasan untuk membeli semua makanan dirumah makan kamu. Kalau tidak saya juga ogah melakukannya. Kamu kira saya suka dengan masakan rumah makan kamu sehingga ngeborong semuanya ha? Apalagi semua makannya berminyak dan pedas'' ejek Dion. Dia tidak mau kalah debat dari Hayati.
''Ok, apa alasan anda?'' tanya Hayati dingin.
''Agar saya tidak berhutang budi kepadamu'' jawab Dion santai.
''Berhutang budi? Emang saya melakukan apa sehingga anda sampai berhutang budi kepada saya?'' tanya Hayati heran.
''Kamu ingat nenek yang kamu tolong kemaren. Dia itu oma saya. Jadi untuk membalas budi kamu saya membeli semua makanan yang ada ditempat kerjamu. Saharusnya kamu berterima kasih kepada saya. Mungkin sekarang bos kamu akan memujimu karna saya'' jawab Dion angkuh.
''Ooh gitu, kalau anda meras berat melakukan balas budi ini. Kenapa dilakukan? Saya diajarkan oleh orang tua saya menolong orang dengan ikhlas tanpa pamrih. Dan saya tidak butuh balas budi yang anda lakukan'' ucap Hayati tidak kalah sombongnya.
''Tapi saya tidak mau berhutang budi sedikitpun. Apalagi kepada orang yang seperti kamu'' kata Dion.
''Ok, bicara balas budi. Biasanya orang akan melakukannya dengan tulus. Tapi saya lihat dari anda tidak ada ketulusan sedikitpun. Kalau emang dari awal anda tidak suka dengan makanan ditempat saya bekerja. Seharusnya anda tidak membelinya hanya dengan alasan untuk balas budi. Semua terkesan seperti dipaksakan. Dan bukan saya juga yang untung dalam budi ini. Karna bos saya juga tidak akan menaikan gaji saja hanya anda membeli semua makanannya hari ini'' omel Hayati. Pantang baginya untuk mengalah. Lawan patang dicari kalau ketemu patang dielakan. Begitu prinsip yang diajarkan orang tuanya. Walaupun dia kelihatan lemah dan penakut. Tapi sekali bicara dia tidak akan pernah mau kalah kalau tidak salah.
''Hayati sudah ya. Maafkan bos uda. Dia memang seperti itu'' bujuk Rahmat. Dia melihat kearah Dion supaya mengalah. Tapi Dion malah tambah naik darah.
''Ya udah, tidak usah dibayar tagihan ini. Biar saya anggap sebagai sedekah kepada perusahaan anda'' jawab Hayati tidak kalah kerasnya.
''Huu, kamu sanggup membayar semuanya? Paling kamu akan dipecat dari pekerjaan kamu dan pulang kampung'' ucap Dion remeh.
''Mau saya dipecat itu bukan urusan anda. Kalau gitu saya permisi'' kata Hayati mengambil kertas tagihan diatas meja.
''Kamu kira saya tidak sanggup membayarnya. Rahmat ambilkan cek. Langsung bayar dua kali lipat'' perintah Dion sombong.
''Baik pak'' jawab Rahmat.
''Bayar sesuai kertas tagihan. Saya tidak mau dilebihkan. Biarpun uang anda banyak'' kata Hayati.
__ADS_1
''Baik Hayati'' jawab Rahmat tersenyum.
''Sok tidak mau. Padahal kamu butuh uang sampai rela bekerja diJakarta sebagai pengantar makanan'' ejek Dion.
''Siapa yang tidak butuh uang. Tapi saya bukan pengemis yang mendapatkan uang dengan cara seperti itu. Apalagi uang dari orang seperti anda'' jawab Hayati dingin.
''Lebihkan dua kali lipat'' perintah Dion marah.
''Kalau sampai anda lebihkan. Bahkan satu senpun akan saya robek cek itu'' ancam Hayati tidak kalah tegasnya.
Rahmat jadi pusing melihat mereka yang terus berdebat. Dia memutuskan untuk tetap menulis cek sesuai kertas tagihan. Dia akan menanggung resiko setelah ini dimarahi Dion. Yang penting mereka berhenti berdebat dan Hayati pergi. Setelah itu dia langsung memberikan cek tersebut kepada Hayati.
Hayati menerimanya dan melihat nominal yang tertulis didalam cek. Karna sudah sesuai dengan jumlah tagihan dia memasukan cek kedalam tasnya.
''Makasih pak Rahmat. Saya permisi dulu'' ucap Hayati tersenyum. Walaupun wajahnya masih terlihat dingin.
''Iya'' jawab Rahmat tersenyum.
Dia berjalan menuju pintu dan berhenti. Sambil melirik dari sudut matanya dia berkata.
''Lain kali kalau mau membalas budi lakukan dengan tulus. Bahkan preman dipasarpun saat balas budi lebih baik dari anda yang seorang CEO'' Hayati langsung keluar dari ruang Dion.
Muka Dion memerah saat dia dibandingkan dengan preman pasar.
''Dasar, untung dia perempuan'' kata Dion memukul mejanya melampiaskan emosi.
''Anda yang aneh pak. Kenapa tidak langsung saja mengeluar cek untuk membayar makanannya. Ini tidak anda malah membuatnya kesal sampai menghina makanannya'' jawab Rahmat.
''Kamu tidak lihat bagaimana sikap sombongnya tadi. Bahkan dia bilang mau menyedekahkan semua makanan untuk perusahaan. Dia kira saya semiskin itu. Dia saja yang berlagak sok kaya. Kalau sampai saya tidak bayar tadi. Saya jamin dia akan bekerja seumur hidupnya di rumah makan itu'' ucap Dion marah.
__ADS_1
''Ya udahlah terserah anda. Saya mau keruangan saya dulu'' jawab Rahmat. Dia langsung keluar ruang Dion dengan perasaan ikut kesal melihat sikap teman sekaligus bosnya itu. Dia sudah pusing mendengar perdebatan mereka tadi. Dan sekarang dia tidak mau lagi mendengar omelan Dio.