
Hayati dan yang lainnya sampai dirumah makan. Karyawan yang tinggal juga sudah siap membersihkan rumah makan. Mereka sudah bertukar baju dan siap untuk pergi.
''Kamu ikut kami pergi ke Monas Yati?'' tanya Mira.
''Iya dong mbak. Gak seru kalau gak ada saya'' jawab Hayati pede.
''Yee kepedean. Tapi emang kamu sih yang paling heboh '' sahut Mira mengakui.
''Bentar ya saya ganti baju dulu. Biar semua orang tahu kecantikan saya yang hakiki'' ucap Hayati masuk kedalam ruang ganti.
''Aduh ni anak'' kata Mira geleng kepala melihat kepercayaan diri Hayati yang sebenarnya hanya candaan. Tapi Mira tetap mengakui selain imut Hayati emang anak yang cantik. Hanya saja terkadang dia tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Dia lebih suka berpenampilan santai dan apa adanya.
Tidak butuh waktu lama Hayati sudah selesai ganti baju. Sekarang dia tidak seperti karyawan rumah makan lagi. Penampilannya sudah langsung berubah dari saat dia pakai baju seragam rumah makan tadi.
''Ayo kita berangkat'' ajaknya semangat.
''Ya'' jawab Mira.
Tiba-tiba ponsel Hayati berbunyi. Ternyata yang menelpon adalah Hamka.
''Tunggu sebentar ya. Uda Hamka menelpon'' kata Hayati masuk kedalam.
''Assamu'alaikum uda'' Hayati mengangkat telepon
''Wa'alaikumsalam. Kamu dimana dek?'' tanya Hamka.
''Masih dirumah makan. Ada apa Da?''
''Unimu mau ngajak cari perlengkapan bayi ke mall'' ucap Hamka.
''Ndak bisa besok da? Hari ini Yati mau pergi kemonas sama yang lain. Yati mohon uda Hamka tersayang. Kapan lagi bisa pergi bareng-bareng seperti ini. Padahal Yati sudah ganti baju, dandan yang cantik. Uda tidak kasihan sama Yati. Belum tentu nanti Yati bisa pergi sama mereka. Apalagi Yati hanya sebentar di Jakarta setelah itu pulang ke Bukittinggi. Di Bukittinggi kan ndak ada Monas. Bla,bla,bla'' Hayati membujuk Hamka dengan panjang lebay. Terdengar Hamka bicara kepada istrinya.
''Ya udah. Besok pagi saja kita perginya. Jangan sampai pulang malam'' jawab Hamka pasrah.
''Iya, sampaikan terima kasih Yati kepada uni. Karna sudah mau mengundur waktu perginya. Terus untuk waktu pulang Yati usahakan cepat. Uda tahu sendiri kalau jalan-jalan tidak tahu bisa cepat selasainya'' Ucap Hayati beralasan.
''Ya, moga menyenangkan jalan-jalannya. Assalamu'alaikum''
__ADS_1
''Wa'alaikumsalam'' panggilan dimatikan.
''Gimana?'' tanya Mira dan karyawan yang lain penasaran.
''Gimana apanya?'' tanya Hayati.
''Maksudnya apa uda Hamka mengizinkanmu pergi'' jawab Mira.
''Hmm'' Hayati memasang wajah sedih.
''Cepatlah jawab. Jangan buat kami penasaran'' sambung Mira.
''Uda Hamka akhirnya...'' ucapan Hayati terjeda. Semua mata tertuju padanya menunggu jawaban.
''Ya jelas memberi izin dong'' sambungnya santai sambil berjalan menuju motor.
''Udah gitu aja?'' tanya Andi yang dari tadi sudah sangat menunggu jawaban Hayati.
''Terus mau jawaban yang gimana?'' tanya Hayati.
''Kirain kami uda Hamka mau bandari kita jalan-jalan dan makan-makan'' sahut Mira.
''Maksudnya uni yang akan traktir kita semua?'' tanya Andi semangat. Diikuti yang lain.
''Siapa bilang?'' Hayati balik bertanya dengan wajah serius.
''Hmm, tidak ada yang bilang. Kami hanya berharap'' jawab Mira muram.
''Hehe, Ayo kita berangkat. Walaupun disini saya tidak digaji. Tapi hanya sekedar traktiran makan saya masih sangguplah'' kata Hayati naik keatas motornya.
''Yee... Kita berangkat'' sorak semua karyawan semangat.
Mereka langsung berangkat menuju Monas. Beberapa saat kemudian mereka sampai di Monas. Hayati selalu kagum dengan kemegahan Monumen Nasional yang dibangun tahun 1961 ini. Monas juga merupakan simbol kebangaan Nasional di negara Indonesia.
Dia tidak lupa mengabadikan foto sendiri dan bersama karyawan lainnya untuk kenangan-kenangan. Semua tampak menikmati suasana di Monas. Setelah puas berkeliling disana. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke Mall. Sebenarnya pergi ke Mall merupakan rencana dadakan saat mereka selesai berkeliling monas.
Hayati ikut saja. Walaupun mereka pergi hanya sekedar cuci mata dan refresing saja. Tak terasa waktu cepat berlalu. Usai sholat magrib Hayati mengajak mereka makan di food court. Semua karyawan antusias memesan makan yang mereka inginkan.
__ADS_1
Pukul delapan malam mereka memutuskan untuk pulang. Semua karyawan mengucapkan terima kasih kepada Hayati. Mereka terlihat senang dan puas jalan-jalan hari ini. Karna rumah Hayati berbeda arah dia memutuskan untuk berpisah dari rombongan.
Diperjalanan pulang ban motor Hayati kempes.
''Aduh. Dimana aku harus mencari bengkel untuk tambal ban ya'' gumam Hayati. Dia mulai mendorong motornya. Jalan yang dilewati lumayan agak sepi.
''Hilang nasi yang dimakan tadi gara-gara mendorong motor. Kamu ndak kasihan ya sama saya. Ban pakai kempes segala'' sambungnya. Dia mendorong motor dengan santai bahkan masih sempat bersenandung. Tidak lupa melihat bengkel yang buka malam ini disepanjang jalan.
Karna Hayati masih kuat mendorong motornya. Dia tidak ada niat menelpon Hamka. Lima belas menit sudah Hayati mendorong motornya tapi belum juga ketemu bengkel.
''Apes amat sih. Baru senang-senang sebentar sudah seperti ini. Apa aku telepon uda hamka saja ya. Ntar dia omelin pula. Pasti dia akan bilang. Makanya sudah dibilangin kalau pulang jangan lambat...hmm'' gumam Hayati. Tiba-tiba segerombolan pria menghampirinya. Mereka berjumlah lima orang. Namun Hayati tidak menghiraukan. Dia dengan santai mendorong motornya seolah tidak ada orang.
''Bannya kempes ya Neng?'' tanya salah satu pria.
''Iya'' jawab Hayati cuek.
''Mau ditolongi mendorongnya. Kasihan kamu cantik-cantik mendorong motor. Apa gak capek?'' goda yang lainnya. Mereka tertawa. Dari mulut mereka tercium bau alkohol.
''Tidak terima kasih'' jawab Hayati. Mereka masih mengikuti Hayati. Tiba-tiba salah satu pria mencolek tangan Hayati dan yang lainnya tertawa senang.
''Daripada mendorong motor lebih baik temani kita bersenang-senang'' ucap pria itu. Hayati sudah mulai kesal berhenti berjalan dan memarkirkan motornya. Dia menatap tajam kepada kelima laki-laki.
''Wuiih, tatapan matanya mengoda sekali'' kata salah satu pria.
''Huft, Hei bisa tidak jangan gangu saya. Apalagi pakai colek- colek segala. Sudah saya capek kalian menganggu pula. Mana perut saya lapar lagi gara-gara mendorong motor. Bengkel juga ndak ketemu-ketemu. Kalia mengangu...'' omel Hayati.
''Siapa suruh anak kecil sepertimu berkeliaran malam-malam begini? kami ini hanya mau ngajak kamu senang-senang saja. Kalau kamu nurut. Nanti kami bantuin mencarikan bengkel'' kata salah satu pria.
''Tidak ada yang suruh'' jawab Hayati tegas. Pria-pria tersebut tertawa.
''Kami suka lihat cewek yang galak. Ayo ikut kami'' kata mereka.
''Hmm, kalau saya tidak mau kalian mau apa?'' tanya Hayati melipat tanganya didada.
''Ya kami paksa'' jawab mereka dengan senyum jahat dibibir mereka. Mereka melihat Hayati sebagai mangsa yang siap diterkam. Apalagi Hayati terlihat lemah. Dengan nafsu yang sudah membara mereka mulai mengelilingi Hayati. Tapi Hayati masih bersikap tenang.
Sebuah mobil mewah berhenti didekat mereka. Seorang laki-laki keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
''Hei kalian berhenti...''