Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
20. Diabaikan


__ADS_3

Sebelum mengantarkan pesanan Hayati menelpon Hamka untuk memberitahu kalau rumah makan tutup cepat hari ini. Hamka yang mengetahui alasannya menyetujui setelah semua karyawan membersihkan rumah makan terlebih dulu sebelum pulang atau istirahat. Karna sebagai karyawan ada yang tinggal disana.


Hayati membawa tiga karyawan laki-laki untuk membantunya nanti mengangkat pesanan dia perusahaan Dion termasuk salah satunya Andi.


''Biar saya saja yang nyetir uni'' kata Andi.


''Hmm, saya juga sudah lama tidak menyetir. Kita harus sampai cepatkan?'' tanya Hayati mengerakan kedua alisnya sambil tersenyum.


''Iya, tapi saya tidak enak kalau anda yang menyetir. Lebih baik anda duduk manis saja'' jawab Andi.


''Saya paling tidak suka duduk manis.Semua ini tanggungjawab saya. Kamu tidak perlu khawatir. Sekarang ayo naik kita berangkat. Mbak Mira segala urusan disini tanggungjawabmu. Ok'' teriak Hayati. Mira mengangguk tanda mengerti. Hayati dan yang lain naik keatas mobil.


Hayati dan Andi duduk didepan. Sedangkan dua karyawan lain dulu dibelakang. Mereka menggunakan mobil L-300 bak terbuka dibelakang untuk mengantarnya. Hayati mulai menjalankan mobil. Awalnya dia menyetir dengan pelan membuat Andi ragu dengan kemampuan Hayati.


''Bisa cepat dikit ndak uni?'' tanya Andi.


''Kamu mau cepat? Ok'' jawab Hayati tersenyum. Dia mulai menambah kecepatan mobilnya. Andi merasa ngeri melihat Hayati menyetir mobil dengan kecepatang tinggi.


''Aduh uni bisa pelan dikit?'' tanya Andi sampai berpegangan.


''Hehe, siapa tadi yang suruh saya menyetir cepat. Saya kalau sudah menyetir cepat tidak bisa pelan lagi. Sekarang nikmati aja'' jawab Hayati santai.


''Iya, tapi maksud saya tidak secepat ini juga. Bisa ditangkap polisi kita'' ucap Andi.


''Ya Allah kenapa bosku ini selalu membuat jantungan. Bentar lagi bisa stroke aku terus begini'' batin Andi.


Wajahnya sudah mulai pucat karna ketakutan. Beberapa saat kemudian mereka sampai didepan perusahaan Dion. Untung tadi Hayati meminta nomor telepon Rahmat. Dia ingin menghubungi Rahmat duluan.


Hayati turun dari mobil diikuti Andi. Wajah Andi masih terlihat pucat. Semua orang yang ada didekat sana melihat kearah mobil yang dibawa Hayati. Apalagi banyak sekali nasi bungkus diatas sana. Mungkin mereka bertanya-tanya untuk siapa nasi bungkus itu. Untung Rahmat sudah memberitahu setiap kepala bagian dikantor hari ini bos mereka mentraktir makan nasi padang.


''Ndi, pinjam ponselmu sebentar untuk menelpon orang'' ucap Hayati.


''Kenapa tidak pakai ponsel uni saja?'' tanya Andi masih menormalkan pikirannya.


''Pulsa saya tidak ada'' jawab Hayati santai.


''Aduh,duh. Kok adik bos bisa tidak punya pulsa? Pelit amat'' tanya Andi.


''Hmm, kamu tidak tahu kalau orang minang itu selalu perhitungan. Bukan pelit. Cepat sini ponselmu. Mau kamu jadi ikan asin karna berdiri terus disini?'' tanya Hayati. Andi mengeluarkan ponselnya dengan cemberut. Hayati langsung menghubungi Rahmat.


''Mana ada ikan asin yang berdiri uni'' gumam Andi.

__ADS_1


''Hallo'' terdengar suara Rahmat diseberang.


''Ini Hayati uda.Kami sudah didepan perusahaan. Dimana semua pesanan ini diletakan?''tanya Hayati.


''Bentar ya. Saya akan menghampirimu kesana''


''Ok'' panggilan diputuskan.


Tidak lama Rahmat datang menghampiri mereka dengan membawa dua orang karyawan laki-laki dibelakangnya.


''Siang uda Rahmat'' sapa Hayati saat Rahmat sampai.


''Siang Hayati. Sudah lama menunggu?'' tanya Rahmat lembut. Karyawan yang dibawa Rahmat heran melihat sikap lembut Rahmat kepada Hayati. Karna yang mereka tahu Rahmat orang yang paling ditakuti nomor dua setelah Dion diperusahaan ini.


''Baru saja sampai uda. Terus semua pesanan ini dibawa kemana dan ini bonnya'' tanya Hayati sambil mengeluarkan kertas tagihan dari dalam tasnya.


''Biar kedua karyawan saya yang menunjukan. Kamu ikut saya untuk menemui pak Dion. Karna dia yang akan membayarnya'' jawab Rahmat.


''Apa tidak dihitung dulu sebelum pembayaran dilakukan? Takutnya ada yang kurang'' tanya Hayati.


''Tidak apa-apa. Kurang satu atau dua tidak menjadi masalah'' jawab Rahmat.


''Hmm, begini saja. Nanti saya akan suruh karyawan saya hitung semuanya. Teman-teman sama kerja kamu tahu berapa jumlahnya yang tercatat dibonkan?'' tanya Rahmat.


''Tahu, Ok Andi nanti diulang lagi menghitungnya ya.Kalau ada yang kurang cepat beritahu saya'' perintah Hayati.


''Baik uni'' jawab Andi. Rahmat terheran mendengar Andi memanggil Hayati dengan sebutan uni. Kalau dilihat Hayati hampir seumuran dengan Andi. Mungkin lebih tuaan Andi dari segi wajah dibandingkan Hayati.


''Ayo uda. Kita langsung keruang bos anda.Biar semua cepat selesai dan saya bisa cepat pulang'' ajak Hayati.


''Ayo'' jawab Rahmat. Setelah memberi intruksi kepada kedua karyawannya. Rahmat dan Hayati masuk kedalam untuk menuju ruang Dion. Semua mata karyawan yang ada dilobi melihat kearah mereka berdua. Banyak yang bertanya didalam hatinya siapa cewek yang bersama asisten CEO mereka.


''Tadi itu nomor ponsel kamu?'' tanya Rahmat saat mereka berdiri didepan lift.


''Emang kenapa uda?'' tanya Hayati.


''Mau saya simpan'' jawab Rahmat tersenyum.


''Untuk apa?'' tanya Hayati. Pintu lift terbuka. Mereka masuk.


''Ya mana tahu saya ingin menghubungi kamu''jawab Rahmat.

__ADS_1


''Oo, uda mau pesan nasi bungkus lagi?'' tanya Hayati pura-pura polos.


''Bukan, saya hanya ingin menghubungi kamu untuk kenal lebih dekat''jawab Rahmat.


''Oo'' ucap Hayati.


''Berarti boleh dong saya simpan?'' tanya Rahmat semangat.


''Terserah uda. Lagian...''ucapan Hayati terhenti.


''Lagian apa?'' tanya Rahmat.


''Lagian bukan nomor saya. Hehe'' jawab Hayati tertawa.Pintu lift terbuka. Mereka sampai lantai sembilan tempat ruang Dion berada.


''Hmm, kenapa kamu menelpon tidak pakai nomor kamu?'' tanya Rahmat. Hayati berhenti berjalan.


''Karna pulsa saya tidak ada'' jawab Hayati santai.


''Kasihan sekali dia tidak bisa beli pulsa. Pasti gajinya kecil bekerja sebagai pengantar makanan. Apalagi hidup di Jakarta serba mahal'' batin Rahmat.


''Kalau gitu boleh minta nomor kamu? Biar saya isikan pulsa'' kata Rahmat.


''Maaf uda. Saya tidak suka dikasihani. Ayo kita temui bos anda'' jawab Hayati mulai bosan. Rahmat menjadi malu dan canggung.


Mereka sampai didepan ruang Dion. Rahmat langsung mengetuk pintunya.


''Masuk'' terdengar suara orang dari dalam. Rahmat membuka pintu dan masuk diikuti Hayati. Dion duduk dikursi kebesarannya dengan angkuh. Dia juga sedang sibuk memeriksa beberapa berkas dan laporan perusahaan.


''Saya datang bersama Hayati pak. Dia sudah mengantar pesanannya'' ucap Rahmat.


''Hmm, suruh dia duduk dulu'' jawab Dion tanpa melihat kearah Hayati. Namun Hayati masih memaklumi karna melihat Dion sibuk.


Rahmat membawa Hayati duduk disofa yang ada disana. Hayati duduk sambil melihat sekeliling isi ruangan Dion. Ruangnya tertata rapi dan lumayan besar.


''Mau saya suruh OB untuk buatkan minuman?'' tanya Rahmat.


''Tidak. Makasih'' jawab Hayati.


Sejam telah berlalu. Tapi tidak ada pergerakan dari Dion. Hayati sudah mulai kesal karna diabaikan. Rahmat juga tidak enak hati melihat sikap Dion. Hayati berdiri dari tempat duduknya.


''Sampai kapan saya harus menunggu?''

__ADS_1


__ADS_2