Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
39. Doa Jadi Kenyataan


__ADS_3

Dion menyibukkan dirinya dengan pekerjaan. Walaupun sudah seminggu Jessy pergi tapi dia masih belum bisa melupakannya. Rasa sakit yang ditinggalkan Jessy sangat dalam. Membuatnya makin larut dalam pekerjaan untuk menghilangkan rasa sakit itu. Suasana kantor jadi mencekam karna Dion lebih sering marah bahkan hanya karna masalah sepele. Rahmat juga terkena imbasnya dengan banyak pekerjaan yang diberikan Dion. Dia terpaksa ikut lembur. Dion juga jarang pulang kerumah. Dia lebih memilih untuk tinggal diapartemennya.


Oma Yenti dan Nila cemas melihat kondisi Dion seolah tidak punya semangat. Wajah terus kusut dan dia lebih pendiam dari biasanya. Mereka belum mau bertanya tentang pernikahan Dion. Joshua sudah menceritakan apa yang terjadi antara Dion dan Jessy. Apalagi Dion juga sudah jarang pulang kerumah. Sehingga tidak ada waktu bagi mereka untuk bicara. Sedangkan Aditama tidak mau ikut campur. Selagi Dion masih fokus dalam bekerja.


Hari ini Dion pergi meninjau proyeknya yang ada di Bekasi. Rahmat tidak bisa ikut karna dia masih harus bertemu klien dan banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan. Dion lebih memilih pergi sendiri daripada memakai sopir.


Sementara sudah seminggu Hayati bolak balik Jakarta-Bekasi untuk menjadi penanggungjawab rumah makan disana. Dia disana sampai Hamka mendapatkan manager baru yang bisa dipercaya. Hamka menyuruhnya untuk pergi mengunakan mobil tapi Hayati lebih nyaman pergi dengan motor. Sebenarnya Hamka khawatir Hayati pakai motor pulang pergi. Namun Hamka tidak bisa melawan keras kepala Hayati.


Hari ini Hayati sibuk mengatur semuanya. Karna banyaknya persoalan yang terjadi dirumah makan. Dia berkerja keras untuk membuat rumah makan seperti semula. Dia tidak ingin jerih payah Hamka hancur begitu saja. Dia tahu Hamka merintis semua ini tidaklah mudah.


''Huft capeknya'' keluh Hayati saat dia mau pulang. Hari sudah menunjukan jam setengah tujuh malam. Biasanya jam lima sore Hayati sudah pulang. Tapi karna banyak pekerjaan dia pulang agak telat.


Hayati baru mau mengeluarkan motornya. Terdengar suara mobil dibelakangnya. Hayati berhenti karna mobil tersebut menghalanginya untuk keluar.


Dia berjalan kearah mobil mewah tersebut dan mengetuk kaca mobil. Hayati tidak bisa melihat orang yang ada didalam mobil.


''Maaf bisa dipinggirkan sedikit mobilnya?'' teriak Hayati dari luar sambil mengetuk kaca mobil.


Dari dalam mobil Dion melihat Hayati mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. Dion tidak sengaja melihat Hayati keluar dari rumah makan saat dia mau pulang. Entah kenapa hatinya ingin sekali berhenti didepan Hayati. Dion memperhatikan rumah makan dari dalam mobil.


''Dia pindah kesini?''batin Dion.


Dia kemudian membuka kaca mobilnya setelah Hayati beberapa kali mengetuknya.


''Pak Ceo A...'' teriak Hayati kaget melihat Dion. Sejak dia meninggalkan Dion dirumah sakit waktu itu. Dia tidak pernah bertemu Dion lagi. Ditambah dia sekarang berada di Bekasi.


''Hmm'' Dion hanya melihat datar Hayati dari dalam mobilnya.


''Bisa dipinggirkan dulu mobilnya? Saya mau keluar'' kata Hayati kesal melihat Dion diam saja. Padahal mereka baru bertemu.


''Kamu mau pulang?'' tanya Dion masih dengan wajah datarnya.


''Iya'' jawab Hayati singkat.

__ADS_1


''Hari sudah malam'' ucap Dion


''Saya tahu'' jawab Hayati tidak peduli.


''Hmm, kamu tidak takut jalan malam?'' tanya Dion meski ekpresi wajahnya masih sama.


''Saya sudah biasa'' Hayati juga dengan ekpresi dinginnya.


Dion menatap Hayati. Hayati menatapnya balik. Bahkan matanya sampai melototin Dion. Membuat suasana hati Dion jadi baik. Padahal sebelum pulang tadi dia baru memarahi penanggungjawab proyek hanya karna masalah sepele.


''Tapi sekarang banyak begal'' kata Dion cuek.


''Begal takut sama saya'' jawab Hayati santai.


''Sok berani. Sekali ketemu baru tahu'' gerutu Dion. Dia kesal dengan jawaban santai Hayati. Apalagi Hayati perempuan. Pasti akan menjadi mangsa yang empuk bagi para begal.


''Makanya anda minggir dulu. Kalau saya mengobrol dengan anda disini. Hari makin malam. Dan saya bisa bertemu dengan begal'' omel Hayati. Hamka dari tadi juga sudah menelponnya menyuruh untuk segera pulang.


''Ekhm... Kamu pulang sama saya saja. Eeh jangan salah sangka. Saya hanya mau balas budi kamu waktu itu'' Ucap Dion masih dengan wajah dinginya.


''Serius kamu? Gak nyesel? Kalau nanti motor kamu mogok dijalan gimana? Apalagi hari sudah malam'' tanya Dion masih belum menyerah.


''Hei pak Ceo, anda tidak perlu memikirkan motor saya mau mogok atau tidak. Kalau dia mogok saya tinggal saja dijalan'' jawab Hayati mulai kesal.


''Hmm, Ya udah'' ucap Dion memundurkan mobilnya kearah jalan.


Hayati mulai menghidupkan motornya. Entah kenapa motornya tidak mau hidup. Beberapa kali dia mencoba tapi tidak mau hidup juga. Dion masih melihat dari dalam mobilnya. Bibirnya tertarik keatas melihat wajah gelisah Hayati.


''Waduh apa benaran mogok ya? Do'a jadi kenyataan. huhuhu'' batin Hayati.


Hayati kembali kedalam rumah makan untuk bertemu salah seorang karyawan laki-laki. Dia menitipkan motornya malam ini dirumah makan.


''Masih gak mau pulang dengan saya?'' tanya Dion kembali sombong.

__ADS_1


''Ndak, saya mau pulang pakai taksi online saja'' jawab Hayati lebih sombong.


''Lebih baik sama saya gratis. Kalau pakai taksi online bayar. Selagi saya masih mau memberi kamu tumpangan '' ucap Dion.


Hayati berdiri sambil berpikir. Ilmu perhitungan orang minangnya mulai berkerja. Asal menguntungkan baginya.


''Ok, saya pikir lebih baik saya menumpang dengan anda. Bukan berarti saya suka gratisan loh. Saya hanya merasa kasihan tidak menerima tawaran anda. Anda dari tadi sudah bersusah payah manawarkan tumpangan kepada saya. Kata ayah dosen saya rezeki tidak boleh ditolak'' jawab Hayati panjang lebar. Dion menghela nafas. Dia merasa menyesal sudah menawarkan tumpangan kepada Hayati.


''Kamu mau naik sekarang atau saya tinggal?'' tanya Dion berusaha dingin.


''Eeeh, saya naik, saya naik'' jawab Hayati cepat membuka pintu dibelakang kursi sopir.


''Duduk didepan. Saya bukan sopir'' ucap Dion serius menatap tajam Hayati.


''Hehe, siap pak Ceo'' jawab Hayati cepat. Dia duduk didepan sebelah Dion.


Mobil Dion segera meninggalkan rumah makan. Bukan Hayati namanya kalau tidak mengoceh terus.


''Anda ngapain di sini?'' tanya Hayati.


''Main seluncuran'' jawab Dion fokus menyetir.


''Hohoho, masa kecil anda kurang bahagia pak. Pasti anda tidak masuk taman kanak-kanak'' ledek Hayati.


''Hmm, saya sangat bahagia dimasa kecil. Saya sudah masuk PAUD diusia tiga tahun'' jawab Dion serius.


''Terus ngapain sampai jauh sekali pergi main seluncurannya. Hadeh orang kaya emang aneh-aneh'' ucap Hayati geleng kepala.


''Haiss, kamu pura-pura bodoh atau bodoh benaran sih? Mana mungkin saya main seluncuran kesini. Saya lagi meninjau proyek disini'' jelas Dion.


''Ya jawab dong dari tadi. Ndak usah pakai bahasa kiasan segala'' ucap Hayati.


''Terus kamu ngapain disini?'' tanya Dion.Dia hanya ingin bertanya saja walaupun dia sudah bisa menerkanya.

__ADS_1


''Saya sedang jalan-jalan pagi'' jawab Hayati tersenyum lebar.


''Hmm'' Dion melirik dingin Hayati. Dia tidak menyangka Hayati akan membalasnya dengan jawaban seperti itu.


__ADS_2