Cinta Dibawah Jam Gadang

Cinta Dibawah Jam Gadang
24. Sang Penolong


__ADS_3

''Hei kalian berhenti...'' hardik laki-laki yang keluar dari dalam mobil. Dia terlihat masih muda. Penampilannya yang sangat berkelas dengan setelan jas berwarna navy membuat aura ketampannya terpancar. Semua mata tertuju kepadanya. Tak terkecuali Hayati.


''Ada pahlawan kesiangan'' ejek salah satu pria. Yang lain tertawa. Laki-laki itu tidak menanggapi. Dia melihat kearah Hayati yang terlihat kecapekan.


''Kau jangan ikut campur urusan kami. Kalau tidak mau celaka lebih baik kau pergi dari sini'' lanjutnya lagi dengan angkuh dan memandang remeh.


Laki-laki itu berjalan kedekat Hayati.


''Kenapa saya tidak boleh ikut campur. Kalian berlima orang dan menganggu anak kecil seperti ini. Apa tidak malu?'' tanyanya sinis. Hayati terkejut dibilang anak kecil. Mau protes tapi malas. Karna kenyataannya orang selalu salah sangka dengan umurnya. Dia memilih menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


''Mau anak kecil yang penting kami suka. Dan dia bisa melayani kami'' jawab salah satu pria berambut gondrong.


''Tapi apa dia suka kenapa kalian paksa?'' tanya laki-laki itu santai.


''Hmm, kamu jangan banyak bacot. Lebih baik kita hajar dia biar semua cepat selesai'' kata sigondrong tadi. Mereka bersiap menyerang.


''Kamu minggir dulu'' kata laki-laki itu kepada Hayati. Dia bersiap untuk melawan kelima pria mabuk. Hayati minggir kearah motornya dan mendorong motornya menjauh dari tempat mereka yang mau berkelahi.


''Kalau sampai lecet motor ini. Bisa marah uda Hamka sama aku'' gumam Hayati sambil mendorong motornya.


Perkerlahian yang tidak seimbangpun terjadi. Walaupun tidak seimbang tapi dalam waktu singkat laki-laki itu bisa mengalahkan kelima pria mabuk. Mereka memutuskan untuk kabur setelah dibuat babak belur oleh laki-laki itu.


Seorang pria paruh baya keluar dari dalam mobil membawa botol minuman mineral dan memberikan kepada laki-laki berjas dengan wajah cemas. Ternyata dia sopirnya.


''Diminum dulu den'' katanya.


''Makasih pak Eko'' kata laki-laki itu.


''Anda membuat saya takut saja. Kalau sampai kenapa-napa dengan anda bisa dimarahi saya sama nyonya '' ciloteh pak Eko.


''Hehe, lumayan untuk mengeluarkan keringat. Udah lama tidak begini'' jawabnya. Dia berjalan menghampiri Hayati yang duduk didekat motornya.


''Kamu tidak apa-apa dek?'' tanya laki-laki itu.


''Tidak apa-apa, makasih'' jawab Hayati tersenyum ramah.


''Kamu kenapa malam-malam gini berada disini? Apa orang tua kamu tidak khawatir?'' tanyanya.


''Hmm, saya emang mau pulang. Tapi ban motor saya kempes'' jawab Hayati.


''Ooo, lain kali kalau mau keluar jangan sendiri-sendiri.Bahaya apalagi kalau malam banyak preman berkeliaran. Jangan-jangan kamu pulang sekolah tidak langsung kerumah tapi keluyuran dulu. Kamu tidak kasihan sama orang tuamu. Pasti mereka khawatir menunggu dirumah'' ucap Laki-laki itu.


''Dia emang menolong aku. Tapi kenapa terkesan menceramahi aku.'' batin Hayati.


Melihat Hayati tidak menanggapi ucapannya laki-laki itu memanggilnya.


''Hei kamu dengar tidak kata-kata saya?'' panggilnya

__ADS_1


''E-eh. Dengar om'' jawab Hayati cepat.


''Jangan panggil saya om dong ketuaan tahu. Umur saya baru duapuluh lima tahun'' protesnya.


''Hehe, kirain sudah emp eeh tiga puluh tahun tadi'' canda Hayati.


''Siapa namamu? nama saya joshua panggil saja Jo'' katanya memperkenalkan diri.


''Saya Hayati. Panggil saja Ha'' gurau Hayati.


''Kamu ngeledek saya?'' tanyanya.


''Gak, darimana saya meledek om?'' tanya Hayati.


''Hmm, jangan panggil saya om dong'' dia kembali protes.


''Terus saya harus panggil apa. Gak lucu kalau saya panggil nama saja. Apalagi menurut anda saya ini masih sekolah. Tidak sopan kalau anak sekolah panggil nama saja kepada orang yang lebih tua. Bisa sia-sia pengajaran yang diberikan orang tua saya selama ini. Dan menurut saya panggilan om cocok untuk anda'' ciloteh Hayati panjang lebar dengan cepat.


''Hahaha'' Joshua tertawa mendengar cilotehan Hayati.


''Waduh kesurupan dia'' kata Hayati melihat sekeliling emang sepi apalagi mereka sedang didekat jembatan.


''Kamu kecil-kecil tapi kalau bicara bisa cepat gitu ya'' ucap Joshua masih tertawa.


''Saya diajar orang tua mempergunakan mulut dengan baik saat bicara'' jawab Hayati santai.


Hayati mau menjawab tapi ponselnya berdering. Hamka menelpon.


''Bentar ya saya angkat telepon dulu'' kata Hayati.


''Assamu'alaikum uda'' Hayati mengangkat teleponnya.


''Wa'alaikumsalam dek. Kamu dimana kenapa belum pulang juga'' tanya Hamka.


''Ini lagi dijalan pulang. Tapi ban motor kempes'' jawab Hayati.


''Terus motornya gak kenapa-napakan?'' tanya Hamka.


''Hmm, motornya gak kenapa-napa. Tapi akunya yang kenapa-napa. Punya uda ndak mikirin adeknya malah motor yang dirisaukan'' omel Hayati. Joshua yang mendengar Hayati menelpon tersenyum.


''Anak kecil tapi mulutnya pedes. Jarang-jarang aku ketemu dengan orang seperti ini. Kalau di lihat-lihat dia imut dan cantik juga'' batin Joshua memperhatikan Hayati.


''Siapa suruh kamu pulang lambat. Tadi sudah dipesankan jangan lama-lama pulangnya. Kualat sama orang tua''


''Bukan kualat. Tapi orang tua yang sudah lupa dengan masa mudanya. Mana ada sejarahnya anak muda kalau pergi main bisa pulang cepat'' Hayati balik ngomel. Hatinya kesal dengan Hamka.


''Hehe, iya uda kalah kalau debat denganmu. Jangan ngomel lagi''

__ADS_1


''Gimana gak ngomel Yati capek-capek dorong motor tapi bengkel gak ketemu juga. Eee malah di ganguin preman mabuk. Sekarang uda malah tidak bersimpati denganku'' ucap Hayati.


''Kalau ganti axis boleh ndak? hehe uda bercanda. Banyak premannya?''


''Lumayan lima orang'' jawab Hayati sewot


''Terus sekarang premannya dimana? gimana kondisinya?''


''Udah kabur setelah babak belur dipukulin''


''Sudah uda duga kamu akan membuat mereka begitu''


''Bukan gara-gara Yati. Ada yang menolongin tadi. Sekarang bagaimana Yati pulang uda? Ndak mungkin Yati mendorong motor sampai rumah. Apa kata ayah dosen nantinya''


''Iya biar uda jemput. Kamu dimana?''


''Didekat jembatan''


''Ok. tunggu disana''


Panggilan dimatikan. Hayati menghela nafas manatap layar ponselnya.


''Punya uda gini amat'' gumamnya


''Kamu bukan orang Jakarta ya?'' tanya Joshua tiba-tiba mengagetkan Hayati.


''Bukan, saya orang sumatra barat'' jawab Hayati.


''Dimananya?''


''Bukittinggi''


''Ooo, terus siapa yang menelpon tadi?'' tanya Joshua.


''Abang saya. Dia juga lagi dijalan mau jemput kesini. Kalau anda mau pergi sekarang gak apa-apa. Makasih banyak sudah menolong saya'' ucap Hayati.


''Hmm, bahaya kalau kamu menunggu disini sendirian. Biar saya temani sampai abang kamu datang'' jawab Joshua tersenyum.


''Apa gak merepotkan?'' tanya Hayati gak enak hati.


''Ya gak lah. Santai saja'' jawab Joshua.


''Hmm, aku lebih nyaman kalau menunggu uda Hamka sandiri disini. Pasti diledek aku kalau uda Hamka bertemu dengan orang ini'' batin Hayati.


Hayati hanya tersenyum canggung mendengar jawaban Joshua.


''Terus kamu sekolah dimana?'' tanya Joshua. Dia sangat yakin kalau Hayati masih sekolah melihat penampilan dan wajahnya.

__ADS_1


Hayati terdiam sejenak. Binggung mau menjawab apa. Karna dia memang tidak sekolah lagi.


__ADS_2