
Dion dan Jessy sampai direstoran langganan mereka. Karna sedang jam makan siang restoran tersebut lumayan ramai. Setelah mendapatkan tempat duduk Dion memanggil pelayan dan memesan makanan untuk mereka.
Pelayan mencatat semua pesan mereka. Selesai mencatat semua pesanan, pelayan pergi mengambilkannya.
Jessy yang duduk disamping Dion masih bersikap manja. Mungkin karna mereka tidak bertemu selama dua minggu. Dion sudah biasa dengan sikap manja Jessy setiap bertemu. Jadi dia tidak masalah dengan semua itu. Walaupun banyak mata yang melihat kemesraan mereka disana.
''Sayang'' Jessy mulai bicara.
''Iya, apa sayang?'' tanya Dion lembut manatap wajah kekasihnya.
''Aku ada rencana pergi ke Paris'' ucap Jessy ragu.
''Ngapain?'' tanya Dion. Raut wajah Dion berubah.
''Mau lihat fashion show disana. Dan aku berencana melanjutkan belajar disana'' ucap Jessy sambil tersenyum. Dia tahu Dion pasti tidak suka. Dion hanya diam saja.
''Kok diam?'' tanya Jessy.
''Lain kali saja kita bahas'' jawab Dion.
Pelayan datang membawa pesanan mereka. Mereka makan tanpa bicara lagi. Karna Dion memang tidak mau membahasnya. Suasana jadi hening. Jessy makan dengan tidak semangat.
Selesai makan Dion langsung mengajak Jessy pulang. Karna tadi Jessy yang menjemputnya pakai mobil. Jadi Dion diantar Jessy pulang kerumahnya. Rumah Dion berada dikawasan Elite. Jessy hanya mengantar sampai didepan rumah Dion saja. Dia beralasan ada urusan saat Dion mengajaknya masuk walaupun hanya sebentar. Jessy tetap tidak mau.
''Kak Dion'' teriak Demia adiknya Dion saat dia masuk kerumah. Dia langsung berdiri dari tempat duduknya. Dion tersenyum melihat adik semata wayangnya.
''Baru sampai kak? Kok gak beri tahu kami kalau kakak pulang hari ini? Mana oleh-olehnya?'' tanya Demia beruntun.
''Adu sayang. Kamu biarkan kakakmu duduk dulu baru bertanya'' ucap Oma Yenti. Demia hanya cengegesan menanggapi ucapan omanya.
''Siang Oma'' sapa Dion.
''Iya, ayo sini duduk disamping oma. Kamu pasti capek baru sampai. Apa kamu sudah makan?'' tanya Yenti.
''Sudah tadi oma'' jawab Dion duduk disamping omanya.
''Kamu dijemput siapa kebandara?'' tanya Nila mama Dion yang muncul dari dapur.
''Sama Jessy ma'' jawab Dion.
''Terus mana Jessynya. Kok gak kamu bawa masuk?'' tanya Nila.
''Katanya lain kali saja ma. Dia sedang ada urusan'' jawab Dion
__ADS_1
''Apa alasannya saja tidak mau bertemu dengan mama dan oma. Sejak ditanya kapan kalian mau nikah Jessy sepertinya selalu menghindar. Dia juga hampir tidak pernah lagi main kesini'' ucap Nila.
''Kami masih belum memikirkan untuk buru-buru menikah ma. Jessy juga masih sibuk dengan pekerjaannya'' jawab Dion.
''Sampai kapan? Kalian pacaran sudah lama loh. Jangan sampai kamu hanya menjaga jodoh orang'' ucap Nila.
''Menurut oma juga gitu. Umur kamu sudah tidak muda lagi. Papa kamu diumur segini sudah punya dua anak'' sambung oma.
''Hmm, Dion mau kekamar dulu istirahat'' jawab Dion berdiri dari duduknya. Dia malas berdebat dengan mamanya.
''Terus oleh-oleh aku mana?'' tanya Demia.
''Coba cek didalam koper kakak. Kalau Teguh tidak lupa membelikannya berarti ada'' jawab Dion berjalan naik lantai dua menuju kamarnya.
''Kenapa harus om Teguh yang membelikannya'' ucap Demia sambil berjalan ke arah koper Dion.
''Huft, selalu saja menghindar kalau kita ajak bicara masalah penikahan'' omel Nila.
''Anak muda zaman sekarang tidak seperti anak muda zaman dulu. Sekarang mereka lebih betah berpacaran daripada menikah'' ucap Oma Yenti.
Demia tidak mendengarkan percakapan mama dan omanya. Dia sibuk membuka koper Dion.
''Yaah, kenapa hanya gantungan kunci saja sih. Padahal menurut informasinya oleh-oleh dari Bukittinggi banyak yang lain'' ucap Demia kecewa. Hanya ada sebungkus gantungan kunci jam Gadang didalam koper Dion.
''Tidak bisa dibiarin. Mesti diberi pelajaran kak Dionnya'' ucap Demia berlari kekamar Dion. Dari lantai dua sudah terdengar teriakan Demia memanggil Dion. Nila dan Oma Yenti hanya bisa geleng kepala mendengarnya.
......................
Hayati dan Hamka sampai dirumah. Mereka disambut oleh Vita dan Daffa.
''Yah tang'' teriak Daffa senang berlari keluar rumah. Hayati yang melihat badan kecil Daffa lari kearahnya ingin menyambut dengan pelukan. Tapi bukannya lari kearahnya Daffa malah lari kearah Hamka.
''Duh anak ayah sudak kencang larinya sekarang ya'' puji Hamka mengendong Daffa.
''Iya dong'' jawab Daffa. Dia hanya bisa bicara beberapa kata saja.
''Daffa gak mau peluk mimi Ati?'' tanya Hayati pura-pura sedih.
''Dak au'' jawab Daffa dengan tingkah lucunya. Dia memeluk kuat Hamka.
''Hehe, jangan gitu sayang. Masak Daffa tidak mau sama mimi Ati'' tanya Hamka. Daffa geleng kepala. Vita keluar rumah menghampirinya.
''Ayo masuk dulu. Kasihan Yati pasti capek'' ucap Vita.
__ADS_1
''Assalamu'alaikum Uni'' sapa Hayati memeluk Vita.
''Wa'alaikumsalam sayang, kamu sehat?'' tanya Vita melepaskan pelukannya.
''Alhamdulillah sehat Uni. Uni gimana sama dedek bayinya?'' tanya Hayati mengusap perut Vita.
''Alhamdulillah sehat, ayo kita masuk dulu'' ajak Vita.
''Kalau Daffa tidak mau sama mimi. Biar dedek dalam perut bunda untuk mimi saja'' goda Hayati.
''Dak boyeh, tu dek Afa'' teria Daffa marah. Bukannya menakutkan tapi dia kelihatan semakin mengemaskan dengan pipinya yang tembem.
''Gak mau, adik bayinya untuk mimi'' Hayati makin suka mengodanya.
''Hehe, udah dek. Ntar kalau Daffanya nangis susah membujuknya loh'' ucap Hamka.
''Sekarang Daffa jalan sendiri dulu ya. Ayah mau bawa koper mimi Ati kedalam dulu'' kata Hamka menurunkan Daffa.
''Ayo sini gendong sama mimi, ntar mimi kasih es krim'' bujuk Hayati. Awalnya Daffa ragu tapi pas dibilangkan Es krim dia mau
''Fa uka es yim'' katanya sambil mengangkat tangan mau digendong Hayati. Hayati dengan cepat mengendong Daffa.
''Anak pintar'' ucap Hayati mencium pipi Daffa.
''Ek yimnya ana?'' tanya Daffa dengan wajah polos. Vita dan Hamka tertawa mendengar pertanyaan Daffa.
''Ada didalam'' jawab Hayati membawa Daffa masuk kedalam di ikuti Hamka.
Hayati berjalan sambil goyang dan bernyanyi membuat Daffa ikut goyang. Vita tersenyum melihat kedekatan Hayati dan Daffa hanya dalam waktu singkat. Ditambah Hayati pandai sekali mengambil hati Daffa.
''Kita makan dulu. Uni sudah menyiapkannya'' ucap Vita.
''Ok, Yati juga sudah lapar'' jawab Hayati mengosok perutnya.
''Es yimnya ana?'' Daffa masih belum menyerah.
''Kita makan nasi dulu, siap makan baru makan es krim'' bujuk Hayati.
''Janji'' ucap Daffa.
''Iya, janji'' jawab Hayati menautkan kelingkingnya ke kelingking mungil Daffa.
Mereka pergi ke meja makan untuk makan siang. Makanan sudah dihidangkan oleh bik Iyem ART Hamka.
__ADS_1
Daffa tidak mau duduk jauh dari Hayati. Mungkin karna masih ingat dengan es krimnya. Hayati yang dari awal memang suka dengan anak kecil. Dia dengan telaten menyuapkan Daffa makan. Walaupun Vita sudah menyuruhnya untuk makan dan biar dia yang menyuapin Daffa makan. Tapi Daffa malah tidak mau dengan Vita. Apalagi Hayati menyuapkannya dengan cara yang unik membuat Daffa makan dengan lahap. Suasana makan siang hari ini jadi heboh dengan kelakuan Hayati dan Daffa.