Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
10. Hukuman Dari Doni


__ADS_3

Gendis dan power rangernya keluar dari area sekolah, jam belajar mereka sudah usai dan mereka sudah merencanakan untuk main, karena besok hari sabtu dan tanggal merah, mereka bisa puas main.


Begitu mereka keluar dari area sekolah, keempat power ranger-nya Gendis menyingkir serentak, termasuk Gendis yang menghalangi jalan sampai membuat seorang pengendara motor membunyikan klakson.


"hai," ucap si pengendara motor ini, tapi belum membuat kelimanya sadar, siapa laki-laki yang menyapa mereka.


Dilepaskannya helm laki-laki itu, dari kepalanya dan Gendis lah orang pertama yang ngeh siapa pengguna motor yang tiba-tiba menyapa.


"eh, kak Doni."


Setelah mendengar nama Doni keluar dari mulut Gendis, para power ranger nya Gendis mulai kasak-kusuk, persis kayak ibu-ibu yang lagi ngegosip.


Doni tersenyum manis, karena wajahnya dikenali orang yang sudah lama nggak ditemuinya.


"kalian udah ada acara ya?" tanya Doni memastikan.


Keempat teman-teman Gendis diikuti Gendis juga, langsung kompakan menjawabi pertanyaan Doni.


"nggak kok," Didot, Ade, Bejo, sampai Widi menjawab dengan serentak.


Sedangkan Gendis menjawab berbeda, "udah kak."


Gendis langsung melirik ke arah teman-teman power ranger-nya, karena perbedaan jawaban yang mereka sampaikan ke Doni.


Jelas-jelas saat jam istirahat tadi, mereka berencana menginap di rumah Ade, karena Ade ditingal ibunya yang seminar ke luar kota.


Doni kelihatan bingung, Bejo pun langsung mengkonfirmasi, "tadinya, kita memang mau main, tapi kalau lo mau ngajak Gendis main. Kita nggak pa-pa kok."


"iya, nggak pa-pa kok." timpal Widi, ikut memberi izin.


Nggak tau setan apa yang merasuki Widi, baru kali ini Widi menyerahkan sahabatnya begitu saja, ke tangan orang yang belum dikenalnya. Sedangkan Maya yang dari kecil, main bareng Widi dan Gendis, Widi nggak pernah mengizinkan dan selalu melarang Gendis bermain dengan Maya.


Gendis pun akhirnya ikut pergi sama Doni, walaupun Gendis agak bingung sama Widi yang tumben-tumbenan memberikannya izin.


Gendis nggak memikirkan lagi sikapnya Widi, dan mengalihkan bertanya ke Doni yang sudah mulai menjauh dari teman-temanya Gendis.


"ngomong-ngomong, kita mau kemana ya kak?" tanya Gendis bingung.


Doni nggak menjawab pertanyaan Gendis, mungkin juga karena Doni nggak mendengar pertanyaan Gendis, karena tertutup helem.


15 menit kemudian, Doni akhirnya memberhentikan perjalananya di restoran Jepang yang nggak terlalu jauh dari SMP 24.


Gendis cuman celingukan sendiri, sambil menunggu Doni keluar mencari parkiran motor.


"kita mau ngapain kak di sini?" tanya Gendis yang masih nggak tau, tempat macam apa yang Doni datangi.


Doni nggak menjawab pertanyaan Gendis, dia hanya mengambil helm dari tangan Gendis yang ditaruhnya ke dalam jok motornya, lalu jalan menuju pintu masuk restoran.


Sapaan khas pun terdengar, setelah mereka memasuki restoran Jepang tersebut.

__ADS_1


Sementara Gendis, belum juga merubah raut wajahnya yang kebingungan, sambil duduk di kursi yang Doni arahkan ke Gendis.


"duduk di sini sebentar ya, kak Doni mau ke toilet dulu," ucapnya, sekaligus izin.


Gendis mengangguk ragu, plus bingung karena Gendis langsung disodorkan menu, yang entah apa isi makanan di dalamnya.


"pesennya nanti aja Pak, eh, Mas, eh, kak. Saya, nunggu temen saya aja," jelas Gendis, sampai terbata-bata, karena saking groginya.


Waiter tersebut pun pergi, dan tetap meninggalkan menu di atas meja.


Gendis langsung mencerna setiap nama makanan, yang tertera di menu tersebut. Berkali-kali Gendis memperhatikannya, membuatnya malah tambah pusing dan tetap tidak mengerti, meskipun sudah melihat gambar dan juga penjelasan di setiap jenis makanannya.


"kok belum pesen apa-apa?" tanya Doni begitu tiba.


Gendis menggeleng.


Doni apa nggak tau, kalau Gendis sedang kelimpungan menelaah isi menu, yang otaknya sendiri nggak bisa mencerna tulisan di menu tersebut.


Sashimi, Okonomiyaki, Sushi, Yakisoba, Teriyaki, Yakiniku dan banyak lagi menu makanan yang nggak Gendis paham dan nggak tau isi makanan itu apa.


"1 Norimaki, 1 Nigiri, 1 sashimi sama 1 Futomaki," ucap Doni yang menyebutkan menu tersebut dengan fasih, tanpa melihat menu.


"neneknya kak Doni, gimana keadaannya?" tanya Gendis menyela.


"udah bisa pulang ke rumah, makanya sekarang kak Doni udah ada di sini" jawabnya.


"Gendis kirain, kakak marah sama Gendis karena malam itu," ucapnya sedikit menundukkan kepala, tapi masih melirik Doni.


"siapa bilang kak Doni nggak marah," ucapnya.


Gendis diam dan malah jadi nggak berani melihat wajah Doni, walaupun nggak nakutin pas lagi marah. Tapi Gendis merasa bersalah, karena sudah mengabaikan pesan yang Doni kirimkan.


"maaf kak, hape Gendis tuh mati karena lobet. Gendis tau banget rasanya nunggu lama, apa lagi pas lagi buru-buru." jelasnya, berusaha meyakinkan Doni, agar Doni mau memaafkannya.


Doni masih diam saja, sambil terus memperhatikan Gendis yang masih belum berani mengangkat kepalanya.


"biar kak Doni nggak marah lagi, Gendis harus apa nih kak?" tanyanya, berusaha memperbaiki keadaan.


"kan nggak enak juga kak, kalau dilihatin begitu," ucap Gendis lagi.


Dan Doni masih saja diam, mungkin dari tadi Doni sudah benar-benar marah ke Gendis, dan saat bertemu teman-temannya Gendis, Doni pura-pura nggak marah ke Gendis.


Pesanan pun datang, Doni minta Gendis untuk makan, makanan yang di pesan Doni dan semua makanan itu, jenis makanan yang sama sekali belum pernah disentuh Gendis, lihat pun baru kali ini.


(Norimaki)



(Nigiri)

__ADS_1



(Sashimi)



(Futomaki)



"emangnya nggak laper?" ucap Doni, sambil memperhatikan Gendis yang hanya memegangi sumpit, dan sedang memperhatikan makanan dengan tatapan bingung.


"ini enak loh," ucap Doni mempromosikan, sambil menyumpit salmon sashimi.


Gendis menggeleng, sambil melirik dengan tatapan enek.


"makan dong, masa kak Doni makan sendirian," ucapnya yang terlihat menikmati makanan itu, sambil beberapa kali mencelupkan makanan tersebut, ke dalam cairan hitam seperti kecap dan menaruhkan pasta hijau ke atas hidangannya, sebelum memasukan ke dalam mulutnya.


Gendis mulai mual, saat melihat makanan mentah yang dilahap Doni habis sepiring. Belum lagi, ketiga hidangan sushi berbalut nasi, yang juga habis dilahap ke dalam mulutnya Doni.


Doni menyenderkan badannya setelah terlihat kenyang, dia lalu memanggil waiters, lalu memesan menu yang sama dan satu menu beda yang Gendis sendiri nggak bisa mengucapkannya.


Doni mengambil sumpit yang dari tadi dipegang Gendis, Doni bermaksud memandu Gendis cara memakan sushi.


"ini namanya Futomaki, isi di dalamnya udah mateng semua kok, jadi kamu nggak usah khawatir," ucap Doni menjelaskan.


"kalau yang ini namanya kecap asin Jepang, sebelum semua hidangan ini di makan, harus dicelupin terlebih dulu ke kecap asinnya, terutama untuk hidangan Sashimi sama Nigiri yang masih mentah. Supaya menghilangkan bakteri dari makanan mentah dan menghilangkan bau amis nya juga. Terus, setelah itu pakein wasabi yang warna hijau ini, ini semacem sambel." setelah menerangkan panjang lebar, Doni menyuapkannya ke Gendis, dan_


"ada somai aja nggak kak?" ucapnya jelas menolak.


Doni menghela nafasnya, "katanya mau menebus kesalahan." sindir Doni dengan tatapan ketus.


Dengan terpaksa, Gendis menerima Futomaki tadi, masuk ke dalam mulutnya. Rasa wasabi yang aneh, langsung menyengat sampai ke hidungnya dan rasa pedasnya lebih mirip bawang putih yang dilahap mentah-mentah.


Gendis langsung merasa mual, karena lidahnya baru pertama kali merasakan makanan-makanan aneh yang disukai Doni.


Gendis lalu menuang ocha, ke cup dan mencoba mendorong makananya dengan teh itu, dan nggak lama, pesanan Doni bernama Yakisoba dan 4 pesanan ajaib lainnya, terhidang di atas meja. Gendis sedikit lega dengan menu bernama Yakisoba, yang nggak lain adalah nasi goreng.


Satu jam kemudian, bill datang ke meja mereka setelah Doni memintanya.


Rp.120.000; SUDAH TERMASUK PPN


Gendis melirik Doni, dengan tatapan bingung, saat Doni dengan teganya menyodorkan bill yang tertera total keseluruhan makanan mereka. Itu pun, bisa dibilang makanan yang Doni pesan saja.


Jelas-jelas, semua makanan yang Doni pesan, dia pula yang menghabiskan semua makanan dan Gendis hanya memakan nasi goreng.


"kan, tadi janji mau nebus kesalahan, jadi kak Doni kasih kamu bill ini, supaya kak Doni nggak marah lagi," katanya dengan senyuman, tanpa rasa bersalah.


Gendis berteriak dalam hati, berusaha menahan juga air matanya, yang benar-benar sudah mengambang di pelupuk matanya, merasa kesalahannya nggak seberat itu. Tapi kenapa seakan Doni menghukum Gendis, dengan membayari makan yang Doni pesan.

__ADS_1


Uang jajan Gendis saja, tidak sampai 120 ribu rupiah. Mana bisa, Gendis membayarkan makanan yang Doni pesankan tadi.


__ADS_2