Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
25. Perjalanan Liburan


__ADS_3

Akhirnya, Gendis dan para power rangernya, menikmati liburan kenaikan kelas.


Jam 5 pagi, setelah teman-teman Gendis melangsungkan sholat subuh. Merekapun berangkat dengan didampingi kedua orang tua Didot, yang dipastikan ikut karena sudah rutin pulang kampung setiap kali Didot libur sekolah.


Orang tua Gendis, Widi, Ade dan Bejo, ikut mengantar dan menitipkan anak mereka ke pak Engkus dan juga bu Hesti, yang nantinya akan menjaga anak-anak mereka selama di Garut.


Untuk keluarganya Didot, sebenernya nggak mesti liburan ke Garut setiap kali kenaikan kelas. Tapi, mengingat kebersamaan Didot dengan teman-temannya yang juga punya keluarga, akhirnya dipastikan setiap kenaikan kelas, mereka akan berlibur ke Garut.


Karena tetap saja, orang tua dari Gendis, Ade, Widi dan juga Bejo, pastinya ingin merasakan liburan bersama anak-anak mereka.


Seperti Ade contohnya, kedua orang tuanya yang sibuk sebagai dokter. Membuat Ade bisa bertemu, dan mengobrol dengan kedua orang tuanya, hanya saat liburan sekolah.


Gendis yang juga kurang perhatian dari sang Bunda, dan juga Ayahnya yang bekerja di luar kota. Pastinya, perlu bertemu dan mengobrol dengan leluasa, saat Gendis tidak sedang sekolah.


Widi yang kedua orang tuanya sibuk berjualan, membuatnya kesulitan liburan, karena harus membantu mengurusi adiknya.


Sementara Bejo, juga punya waktu bareng dengan keluarganya, saat libur sekolah. Kedua orang tuanya, juga mirip seperti kedua orang tua Didot, yang masih membudayakan pulang ke kampung.


Saat Gendis berangkat ke Garut, Doni nggak sempat bertemu dengan Gendis karena masih ada di Bandung menjagai Nini Annette. Namun, Doni tetap saling berkomunikasi dengan Gendis melalui telfon.


"semuanya, udah dibawakan Ndis? Nggak ada yang kelupaan termasuk obat maag kamu?" tanya Doni memastikan.


"iya kak, nggak ada yang kelupaan kok. Bunda juga udah bantu mastiin, kalau barang bawaannya Gendis nggak ada yang ketinggalan." dijawabi Gendis sambil menutup kaca angkot, karena anginnya cukup kencang.


"seru nggak sih, liburan naik angkot?" tanya Doni, berharap banget bisa ikut menikmati liburan bareng Gendis dan teman-temannya.


"seru kak, sekalipun udah sering dilakuin selama bertahun-tahun. Tetep aja yang begini tuh selalu ditunggu-tunggu," ucap Gendis, menjelaskan dengan antusias.


"ibaratnya, kayak kak Doni liburan ke luar negeri gitu. Kan seru tuh bisa ngerasain naik pesawat, terus nikmatin jalan-jalan di negara orang." sambung Gendis, menjelaskan sebagai perbandingan.


"oh gitu serunya, lain kali deh. Kak Doni boleh ikutan ya, liburan bareng temen-temen kamu?" ucap Doni, ikut antusias membayangkan bisa liburan ke tempat baru dengan menggunakan angkot, membayangkan juga hal baru yang belum pernah Doni rasakan, dan yang terpenting bisa liburan bareng Gendis.

__ADS_1


"boleh banget kak, pasti seru banget kalau ketambahan orang," ucap Gendis merespon ucapan Doni sebelumnya.


Gendispun mulai membahas mengenai Nini Annette, kabar beliau sudah jauh membaik. Gendis hanya menyimak setiap perkataan yang Doni jelaskan, belum mengerti kalau ada yang Doni rahasiakan mengenai kondisi Nini Annette.


Donipun mengalihkan pembahasan, ia membahas mengenai Maya, yang kenapa nggak ikutan liburan bareng Gendis, apalagi Nover ada di Indonesia.


Gendis menjelaskan ke Doni, kalau Maya dan keluarganya, juga berlibur ke Solo. Maya nggak pernah merasa kepingin ikut liburan bareng para power rangernya Gendis, karena memang menjauhi Widi yang nggak pernah akur sama Maya.


"terus, kak Doni kalau liburan biasanya ke mana, selain ke rumah Nini Annette?" tanya Gendis, kepingin tau banyak mengenai Doni.


Donipun gantian menjelaskan kesehariannya, kalau libur sekolah. Biasanya, Doni akan menyusul ke mana orang tuanya bekerja. Ia juga sekalian belajar mengenai bisnis, selain karena Doni anak semata wayang. Jadi dari sejak dini, sudah diajarkan hal-hal rumit seperti mempelajari data analytic, mempelajari etika berbisnis, dan juga cara menyelesaikan masalah di perusahaan.


"padahal, kak Doni nggak mau jadi pebisnis atau nerusin perusahaan orang tua. Kak Doni tuh, maunya jadi pembalap profesional," ucapnya, menyela obrolan mengenai liburannya.


"ya nggak pa-pa kak, siapa tau kakak bisa ambil semua ilmunya. Kitakan nggak tau, ke depannya gimanakan? Bisa aja, kak Doni yang bercita-cita sebagai pembalap, terus bisa punya bisnis yang berhubungan dengan dunia motorsport." cerocos Gendis, terdengar menasihati Doni, namun dengan bahasa yang ringan.


Doni dibuat tersenyum, karena merasa bersyukur bisa bertemu, berteman, lalu berpacaran dengan Gendis yang apa adanya. Tapi juga perhatian, dan bisa mendobrak pemikirannya yang hanya ingin memikirkan dirinya sendiri, tanpa melihat peluang di depan sana, yang juga bisa ia lakukan.


"kan kayak peribahasa tuh kak, sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui." timpal Gendis, melanjutkan ucapannya.


Gendis hanya membalas dengan tersenyum, tanpa membalasi pujian dari Doni yang sebenarnya membuat Gendis malu.


Gendispun malah mengalihkan pembicaraan, untuk menutupi perasaan malunya.


"Gendis mau tau dong kak, temen-temennya kak Doni, kalau liburan ke mana aja? Gendis juga kepingin banget bisa temenan sama mereka, nggak cuma kak Doni aja yang kenal sama temen-temen Gendis."


Doni menjawabi pertanyaan Gendis dengan antusias, karena Gendis juga antusias nggak hanya mau mengenal Doni aja. Tapi juga mau dikenalkan, dan berharap bisa membaur dengan teman-teman Doni. Meskipun harus berurusan dengan Oliv, tapi seenggaknya masih ada teman-teman Doni yang lainnya, bahkan ada sepupunya yang menerimanya masuk ke dalam circle pertemanan para murid-murid dari kalangan elit.


Bram sebenarnya nggak suka liburan, tapi karena harus kontrol cidera kakinya, diapun harus ke rumah sakit tempatnya berobat di singapur. Dan memanfaatkan liburan di sana, mumpung liburan sekolah.


Lalu, Cindy diboyong Steve ke Jerman, pulang ke kampung halamannya, begitu juga dengan Oliv yang juga liburan ke Brasil.

__ADS_1


Sementara Rezy, dia sibuk berkumpul dengan teman-teman gamenya, dan sesekali berkumpul dengan Nover.


Doni juga sampai hafal, dan menjelaskan kesehariannya Nover selama liburan sekolah. Nover biasanya liburan ke Belanda. Tapi karena adik, Papa, Oma dan Opanya Nover berada di Jakarta, diapun menikmati waktu liburannya di rumah, sesekali ikut dengan Ferrel ke gelanggang olah raga, menemani adiknya yang mengambil sekolah khusus atlet, dan harus sering berlatih meskipun sedang liburan sekolah.


Obrolan Gendis dengan Doni, harus disudahi karena handphone Gendis yang kehabisan daya dan kesulitan mengecarge, karena sedang berada di jalan. Kemungkinan, angkot yang membawa Gendis dan rombongannya, akan tiba di Garut sekitar 2 jam lagi.


"nih." Widi langsung memberikan sebotol air mineral ke Gendis, padahal Gendis nggak minta.


Begitu juga dengan Didot, yang memberikan tissue, serta Ade yang langsung mengipasi Gendis.


Hanya Bejo yang senyum-senyum melihat tingkah teman-temannya, yang suka iseng ke Gendis.


"pada ngapain sih?" tanya Gendis bingung, karena melihat tingkah aneh teman-temannya.


"barangkali lo haus, udah 1 jam lo ngoceh aja di telfon." sindir Widi.


Gendis langsung senyum malu, karena sindiran Widi.


"nih, tissue juga. Siapa tau Ndis, kuping lo sampai bernanah, abis dengerin a Doni ngoceh," ledek Didot dengan logat khasnya.


Begitu juga dengan Ade, yang nggak perlu diperjelas lagi, Gendis sudah paham maksud Ade mengipasi Gendis, dan tertuju ke telinganya Gendis.


"cemburu ya?" ledek Gendis.


"najong Ndiss!!!" serempak teman-teman Gendis mengomentari.


Gendis hanya tertawa terbahak-bahak, karena respon dari teman-temannya.


"seru betul di tukang," ucap pak Engkus dengan logat sundanya, mengomentari dari kursi kemudi.


"iya, seru betul anak-anak, nggak pada ngantuk?" ucap bu Hesti yang juga terdengar logat sundanya, ikut mengomentari dari kursi samping kemudi.

__ADS_1


Mereka hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepala dan mulai sibuk mengusili Gendis lagi.


...----------------...


__ADS_2