
Setelah Doni menghilang dari pandangan, Cindypun menghampiri Gendis.
Sejak awal berkenalan dengan Gendis. Sahabat Doni yang satu ini, benar-benar baik dan tulus. Sampai memperhatikan Gendis, yang ia tau kalau Gendis sangat membutuhkan dukungan.
"kita sarapan di situ yuk, kopinya enak, makanan di sana juga enak loh." Cindy berucap ke Gendis, sembari menunjuk salah satu gerai kopi yang cukup terkenal.
Melihat niat Cindy untuk merayu Gendis, Nover pun membantu Cindy supaya adiknya itu mau ikut sarapan.
"Gendis, biasanya suka makan apa? Kita cari restoran, yang makanannya dia suka aja," ucap Nover ke para power rangers-nya Gendis.
"Siomay," ucap teman-teman Gendis secara serentak, diikuti Maya juga.
Mendengar kekompakan teman-temannya Gendis, Oliv pun mulai menyeringai. Untungan reaksi Oliv langsung diketahui Bram, yang hafal kalau Oliv mau berkomentar kasar.
"moment-nya lagi bersedih, lo jangan mulai bikin ricuh, ya!" tegur Bram, mengingatkan supaya Oliv nggak mulai mengeluarkan kalimat sarkas.
Oliv hanya mendeham, ia kesal karena teman-temannya selalu membela Maya, dan sekarang malah ketambahan Gendis, yang juga ikut dibela oleh teman-temannya.
"ayok Ndis, rekomendasinya Cindy nggak diragukan loh," ucap Rezy, ikut membantu untuk merayu Gendis, dan supaya mengalihkan juga tingkahnya Oliv yang mulai nyebelin.
Steve malah menarik Gendis, tanpa menunggu jawaban dari Gendis yang dipastikan akan menolak ajakan Rezy dan juga Cindy.
"Gendis nggak minum kopi kak," ucap Gendis, sambil menoleh ke Steve yang dipastikan nggak mengerti apa yang Gendis sampaikan.
Gendis juga bingung, dia juga nggak bisa berbicara dengan bahasa Inggris, supaya bisa memberikan penjelasan ke Steve.
Cindypun muncul, disusul dengan teman-temannya yang lain dan juga sahabat-sahabatnya Gendis, yang ikut mengekori.
"kak, tapi Gendis nggak minum kopi." jelas Gendis, berharap Cindy mau mendengarkan ucapannya.
"minuman lain kan bisa Ndis," ucap Bejo, yang mulai menimpali.
"lo juga belum sarapankan, pas berangkat ke sini?" timpal Bejo lagi, dengan tuduhan benar, yang dibalasi Maya.
__ADS_1
"malahan, dari semalem dia nggak nafsu makan, Jo."
Gendis langsung melirik ke Maya dengan tatapan sadis, karena Maya selalu bikin Gendis nggak bisa berkomentar atau membuat alasan lagi.
Ade langsung menepuk bahu Gendis, sementara Widi langsung memukul kepala Gendis, lalu Didot mulai geleng-geleng kepala dan menyerocosi Gendis dengan bahasa Sunda, mengingatkan Gendis soal penyakit langganannya itu.
Nover hampir mau menegur ulah Widi, tapi Maya menghalanginya.
"biarin aja, itu caranya mereka biar Gendis nurut." bisik Maya memberitaukan.
"tapikan kasihan May, seenggaknya jangan mukul kepalanya," ucap Nover, membalas ucapannya Maya.
"iya, nanti aku yang sampaiin ke Widi. Yang pentingkan, Gendis mau diajak makan dulu." Maya memastikan ke Nover, supaya pacarnya ini nggak khawatir berlebihan sama ulahnya Widi ke Gendis.
Dipastikan Maya hanya membual, sejak kapan Maya mau ngobrol sama Widi. Ketemuan seperti sekarang aja, Maya udah males banget kalau nggak terpaksa.
Maya juga nggak mungkin menegur Widi yang kasar, karena kebiasannya Widi itu, sampai menular ke Gendis yang suka memukul kepalanya Maya. Makanya, melihat ulahnya Widi tadi, Maya merasa dibalaskan perasaan kesalanya. Yang nggak pernah bisa membalas perbuatannya Gendis, kalau udah mulai main pukul.
Selain Oliv, Gendis memang merasakan perhatian sahabat-sahabatnya Doni yang benar-benar tulus. Terlepas karena Gendis juga sepupunya Nover, Gendis juga bisa merasakan kalau ia merasa diterima.
Selama sarapan, teman-temannya Doni terus berinteraksi dengan Gendis. Seperti sengaja mengalihkan kesedihannya Gendis, karena ditinggal Doni sekolah di Italia.
"kalau kamu kangen sama Doni, kamu bisa bilang ke aku, Ndis. Nanti kamu bisa pakai telfon di rumah aku, bisa pakai laptop atau komputer di rumah aku, supaya bisa ngobrol sama Doni lewat telfon atau video call." Cindy mengoceh panjang lebar, menawarkan kebaikannya ke Gendis.
"iya kak, makasih. Mas Nover juga udah nawarin ke aku," ucap Gendis membalasi kebaikan Cindy.
"jangan sungkan Ndis, Doni juga nitipin lo ke kita. Kalau mau minta bantuan apapun, datengin kita ke rumah atau telfon kita juga bisa," ucap Bram, menambahkan.
"denger tuh, temen-temen gue dan Doni. Bisa lo anggep temen lo juga. Kita juga nggak akan tinggal diam, kita juga bakalan jagain lo di sini, selama Doni sekolah di Italia." Nover ikut menimpali, sembari mengusap kepala Gendis.
Perlakuan Nover dan sahabat-sahabatnya yang lain, membuat para power rangers-nya Gendis tersenyum, mereka juga ikut senang, karena ternyata Gendis diterima dan diperhatikan. Walaupun sebenarnya, mereka juga masih kesal ke Doni. Cowok itu yang diharapkan bisa membahagiakan Gendis, justru malah membuat Gendis menangis karena kepindahannya yang tiba-tiba itu.
Obrolan Gendis dengan teman-temannya Doni harus diakhiri, mereka juga harus menyiapkan keperluan untuk sekolah mereka besok.
__ADS_1
Kecuali Nover, dia masih harus mengantarkan Gendis, dan teman-temannya pulang ke rumah. Serta memastikan, kalau sepupunya itu sudah tidak sedih lagi.
Sementara Gendis pergi mandi, Gendis meninggalkan sepupunya di ruang tamunya. Nover juga ditemani Maya, yang ogah pulang dan berkesempatan berduaan dengan Nover di rumahnya Gendis.
Sebenarnya, Gendis hanya alasan mandi. Dia masih mau menangis, supaya nggak ada yang mendengarkannya.
Sementara Gendis mengalihkan kesedihannya, Maya malah mengajak Nover berbicara karena rasa penasarannya.
"kamu, nggak ada niatan kayak Doni kan, Ver?" tanya Maya, yang ternyata juga mengkhawatirkan hubungannya dengan sepupunya Gendis itu.
"nggak lah, kok kamu tanya gitu?" tanya Nover, sambil memegang tangannya Maya.
"nggak pa-pa, jadi aku udah persiapan kalau kamu mau tiba-tiba sekolah nyusul Ferrel di Belanda." jawab Maya.
"kalau gitu, aku juga bisa tanya dong? Kamu juga ada niatan pindah sekolah ke luar kota?" Nover berbalik mengajukan pertanyaan.
Maya menggeleng dengan pasti, dan dipastikan juga dari penjelasannya, "mana kuat aku, jauh-jauh dari kamu." sembari Maya menampakkan raut wajah sedih.
"janji ya, jangan pisah. Kalau emang mau pergi, jangan kayak Doni. Minimal 1 bulan sebelumnya, kamu kabarin aku." Nover meminta kepastian lagi ke Maya.
"emangnya kamu bisa pisah dari aku? Kayak Doni dan Gendis?" tanya Maya.
"ya nggak bisa May." sembari Nover mencubit pipi tembemnya Maya.
Lalu disampaikannya lagi ucapannya, "untuk antisipasi aja, biar aku juga bisa ikut pindah ke manapun kamu pergi." Noverpun menjawabi pertanyaan Maya, yang membut Maya langsung senang dengan ucapan yang Nover sampaikan.
Nover dan juga Maya, nggak tau kalau Gendis keluar dari kamar mandi, karena kelupaan membawa handuknya. Gendis hanya menyimak obrolan keduanya, dan memikirkan apa yang sepupunya katakan.
Seandainya Gendis punya uang banyak, Gendis juga kepingin punya ide yang sama dengan Nover. Bisa sekolah bareng Doni, seperti bayangan sepupunya yang sampai mau ikut Maya pindah rumah, dan juga pindah sekolah.
Sayangnya, Gendis nggak sekaya sepupunya itu, yang bisa beruntung memiliki Ayah yang punya usaha dibidang pertanian dan juga perikanan. Serta Mamanya yang seorang perawat, dipastikan keuangan keluarganya sangat berlimpah, yang membuat Nover dengan beraninya menjanjikan Maya, ikut pindah sekolah yang pastinya akan mengeluarkan biaya yang nggak sedikit.
...----------------...
__ADS_1