Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
15. Kisah Di Balik Traumanya Gendis


__ADS_3

Pulang dari rumah Rezy, dan tiba di rumah Gendis. Nover langsung membawa Gendis ke kamarnya. Tubuh Gendis benar-benar lemah, kehabisan energi sampai nggak menghiraukan panggilan telfon dari Doni.


Melihat Gendis lemah, Nover terpaksa nungguin Gendis di rumahnya sampai Bundanya Gendis pulang.


Nover sampai memanggil Maya, supaya menemanin Gendis juga. Tapi Maya menolak, dan hanya mau menemani Gendis dari ruang tamu.


"kenapa cuma sampai sini?" tanya Nover, yang dijawabi Maya dengan gelengan kepalanya, lalu dijelaskan alasannya menolak menemani Gendis di kamarnya.


"Gendis lagi marah sama aku, aku juga lagi marah sama Gendis."


"kok bisa?" tanya Nover menyelidik.


Maya menjelaskan alasannya marah ke Gendis, yang nggak mau menemaninya ke rumah Nover, waktu Nover belum dehidrasi dan akhirnya terpaksa masuk rumah sakit. Dan Maya juga menjelaskan ke Nover, kalau kemarahannya Gendis karena dipaksa datang ke rumah sakit malam-malam.


Nover memaklumi cerita yang Maya jelaskan, ia juga menjelaskan alasannya, kenapa sampai Gendis meminta Maya untuk izin terlebih dulu ke rumah Nover. Maya sudah bisa mengerti, kalau alasannya Gendis, berhubungan dengan anjing peliharaanya Nover.


Sementara Doni, dia masih berusaha menelfon Gendis, tapi Gendis nggak juga menjawab panggilan telfon dari Doni. Merasa telfonnya diabaikan Gendis, Doni pun menyerah dan merasa bersalah, karena sudah mengerjai Gendis.


...----------------...


Doni datang terburu-buru, ada yang ia tuju, agar bisa tiba di Star School dan menemui Nover.


Nover sudah duduk di kursinya, di samping kursi yang Doni tempati.


Nover sampai melirik jam di tangannya yang menunjukkan pkl 06:07, ia heran melihat Doni yang sudah tiba di sekolah, padahal jam masuk sekolah masih lama.


"lo mau ikut rapat osis, pagi-pagi udah di sini?" tanya Nover, bermaksud menyindir sahabatnya ini.


Pasalanya, Doni menolak ikut organisasi kesiswaan, karena nggak bisa bangun pagi kalau dibutuhkan untuk rapat seperti hari ini.


Doni menggeleng, menjawabi pertanyaan sahabatnya ini.


"gue butuh waktu lo, sebelum lo ke ruang Osis." pinta Doni, menjelaskan alasannya datang pagi-pagi.


Nover sudah bisa mengira, ia tersenyum meledek Doni, karena sahabatnya ini mau membahas keadaannya Gendis.


"Gendis, apa kabarnya Ver?" tanya Doni ragu-ragu.


"kalau yang lo tanyain soal kejadian kemarin, udah pasti dia nggak baik-baik aja." jawab Nover sambil mempersiapkan buku catatan, yang akan dibawanya ke ruang organisasi.


"dia, marah sama gue ya? Sampai gue telfon nggak mau ngejawab," ucap Doni, khawatir kalau Gendis marah besar.


"kalau marah, gue juga marah Don. Apalagi lo sepet ngerjain dia," ucap Nover dengan tatapan kesal.


"dari rumah Rezy, sampai rumahnya. Dia masih nangis dan nggak bisa ditenangin, gue coba nenangin dia sampai minta bantuan Maya. Tapi dia masih panik dan nggak mau ditenangin." jelas Nover.


Nggak semua penjelasan yang Nover jelaskan, benar-benar menceritakan kondisi yang Gendis alamin kemarin. Nover sengaja melebih-lebihkan, supaya Doni jera dan nggak ngisengin sepupunya lagi.


"sorry Ver, gue nggak tau kalau Gendis bener-bener takut sama anjing." jelas Doni merasa bersalah.


"Gendis bukan takut biasa, kayak kita takut sama serangga. Dia tuh punya trauma sama anjing," ucap Nover, kali ini yang ia sampaikan benar, tanpa ada yang ditambah-tambahkan.

__ADS_1


Nover pun menceritakan semuanya ke Doni, perihal kenapa Gendis takut banget sama anjing, sampai menimbulkan perasaan trauma.


"waktu Gendis umur 5 tahunan gitu, dia sama Ferrell main bareng Brown. Waktu itu Brown baru lahir, Gendis sama Ferrell seneng gendongin Brown."


"di situ, Blacky lihat mereka berdua main sama anaknya. Karena baru beberapa minggu lahir, kakinya juga masih belum kuat mau nyoba jalan, terus jatoh-jatoh melulu. Gue juga nggak ngerti sama peliharaan gue sendiri, kenapa sampai bisa membahayakan dua adek gue itu."


"maksud lo, Blacky nyerang Gendis?" tanya Doni khawatir.


Kekhawatiran Doni makin membuatnya merasa bersalah, karena mengingat jenis peliharaan yang Nover punya, berjenis Black Tan. Sementara anjing yang kemarin dilihat Gendis, berjenis Golden retriefer. Yang pastinya akan berdampak pada rasa takutnya Gendis, meskipun Retriefer yang Gendis temui kemarin, masih terbilang lucu dan mungil.


"awalnya dia mau nyerang Gendis, tapi ketahan sama Ferrell yang malah kena imbasnya juga," jawab Nover, diakhiri dengan helaan nafasnya.


Doni meminta sahabatnya ini untuk menjelaskan kejadian selanjutnya.


"Blacky mungkin nggak terima, kalau anaknya dibuat jatoh. Gendis diserang secara tiba-tiba, terus dia berusaha kabur sampai nabrak lemari, dan gucinya nyokap ngejatohin Gendis sampai kepalanya berdarah."


"Ferell maksudnya mau ngebantuin Gendis, taunya malah digigit." lanjut Nover menjelaskan kronologi ketakutan Gendis, yang membuat Gendis trauma berlebih ke anjing.


"serem juga ya Blacky kalau lagi ngamuk, tuannya sendiri diserang," ucap Doni sambil geleng-geleng kepala.


"yaa, namanya juga naluri orang tua, Don." timpal Nover.


"sampai sekarang, dua-duanya trauma kalau ketemu sama anjing, ras apapun itu." sambung Nover lagi.


Doni pasang tampang khawatir yang semakin berlebih, setelah mendengar penjelasannya Nover. Nover juga menjelaskan kalau budehnya itu, sampai nggak pernah datang lagi ke rumahnya dalam berbagai acara, karena insiden penyerangan Blacky.


Bu Ayu juga hanya menelfon aja untuk menanyakan kabar, makanya sampai Gendis dan juga Nover nggak saling kenal karena sama-sama lupa wajah sepupunya. Sementara Mamanya Nover, juga segen ke rumah Gendis, karena kejadian itu bikin mereka jadi canggung untuk saling bertatap muka.


Setelah kejadian itu, Blacky sering dikurung kalau Ferell pulang ke rumah, karena Ferell pun jadi trauma sama anjing. Makanya Gendis meminta Maya untuk mengabari Nover terlebih dulu, sebelum ke rumah Nover, untuk mengamankan Blacky.


...----------------...


Di SMP 24, usai pelajaran olah raga. Gendis didatangi Adam yang memintanya mengundur niatnya Gendis yang mau masuk ke kelas.


"Ndis, gue mau ngajak ngobrol boleh?"


Gendis menerima ajakan Adam, mereka berdua duduk di pinggiran lapangan. Dan Adam langsung mengulurkan tangannya ke arah Gendis.


"sorry, gue udah bikin kita jadi salah faham," ucap Adam.


Mendengar permintaan maafnya Adam, Gendis akhirnya membalas jabat tangan Adam.


"udah gue lupain kok," ucap Gendis.


"lo lupain doang Ndis, tapi nggak mau maafin gue?"


Gendis tersenyum dengan ucapan Adam yang juga cuma candaannya.


"iya. Lo, gue maafin juga kok," ucap Gendis.


"entar, kalau kita beda kelas dan ada yang lo taksir, nggak usah minta bantuan siapa-siapa, langsung aja utarain perasaan lo, biar nggak ada penyesalan lagi," ucap Gendis, diselingi dengan kekehan.

__ADS_1


Adam juga ikut tertawa, membalasi ucapan Gendis.


"gue bakalan minta bantuan lo aja Ndis, siapa tau lo bisa suka lagi sama gue."


Gendis tersenyum, membalasai perkataannya Adam. Keduanya juga sudah mulai akrab lagi, melupakan masalah yang pernah terjadi diantara mereka.


Ade langsung menghampiri Gendis, setelah Gendis selesai mengobrol dengan Adam.


"ngobrolin apaan lo berdua?" tanya Ade penasaran.


"ngobrolin apaan emangnya yang lo mau?" tanya Gendis balik, sambil berjalan menuju kelasnya.


Ade yang nggak puas sama jawabannya Gendis, masih terus mengikuti Gendis dan merangkul Gendis, supaya Gendis nggak lari dan langsung menjawabi pertanyaannya.


"gue, orang pertama yang nggak setuju lo jadian sama Adam!" tukas Ade.


"gue nggak jadian sama Adam." jelas Gendis, membalasi rasa penasarannya Ade.


"terus, dia jadian sama Sinta?" tanya Ade lagi.


Gendis diam, memang dari awal nggak mau menjelaskan obrolan diantara dia dan juga Adam.


"akh! Brengs* si Adam! Bikin gue patah hati aja!" sewot Ade.


"lo naksir sama Sinta?" tanya Gendis, heran.


"bukan cuma gue, Didot juga naksir sama Sinta," jawab Ade.


"kok lo malah marah sama Adam? Kalaupun Adam sama Sinta nggak jadian, lo kan juga tetep saingan sama Didotkan?" sambung Gendis.


"iya sih," ucap Ade malah mengiyakan ucapan Gendis.


"aneh deh lo, De! Kayak cewek cuma Sinta doang, sampai ngatain Adam brengs*k." cerocos Gendis, jelas nggak suka ke Sinta.


"kok, lo malah belain Adam sih! Cemburu lo, kalau mereka berdua jadian?" Ade membalasi ucapan Gendis.


Gendis langsung menyeringai, malas membalasi ucapan Ade. Dia juga langsung melepaskan rangkulan Ade, setelah tiba di depan kelasnya.


"behenti di sini!" ucap Gendis.


Ade langsung pasang tampang bingung, yang justru nggak kejawab karena Gendis langsung menutup pintu menuju kelas.


"Gendis! Pintunya ngapain di tutup!" teriak Ade.


"yang tadi belum selesai! Lo ngobrolin apaan?" pinta Ade, sembari berteriak lagi.


"cewek-cewek mau ganti baju, jangan coba-coba masuk ke kelas ya! Awas aja lo De!' ancam Gendis.


Gendis sengaja mengalihkan, karena memang nggak mau membahas mengenai Adam. Apalagi mengenai Sinta, yang padahal udah salah. Tapi Ade masih membela Sinta, dan masih naksir sama Sinta.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2