
Doni langsung keluar dari kamarnya, dan mengejar kedua orang tuanya. Doni masih berharap, kalau suaranya tadi didengar kedua orang tuanya.
"Doni nyerah Ma, Pa." pinta Doni lagi, seraya menahan tangan kedua orang tuanya.
"sudah terlambat Don, kesabaran Mama sudah habis!" sergah bu Destri.
Doni langsung bersimpuh di lantai, dengan air matanya yang langsung berlinangan.
"Ma, Pa. Doni mohon, jangan sakitin Gendis."
Bu Destri dan pak Yosua, tetap bungkam. Bahkan kedua orang tua Doni ini, malah memalingkan muka dari putranya.
Sementara bu Popy, langsung menghampiri dan membisikkan informasi pada kedua orang tua Doni.
Doni melihat senyum kedua orang tuanya yang nampak puas, setelah bu Popy memberikan informasi.
Sementara Doni, hanya bisa menangis tanpa bisa mengetahui ide jahat apalagi, yang kedua orang tuanya rancangkan untuk bisa memisahkan Gendis darinya.
...----------------...
Sementara di Star school, Nover yang masih mengikuti pelajaran. Tiba-tiba menerima panggilan dari pengeras suara, untuk memintanya datang ke ruang kepala sekolah.
Nover beradu pandang dengan Rezy yang satu kelas dengannya, karena Rezy memanggilnya. Nover jelas menggeleng, menandakan nggak tau alasannya dipanggil ke ruang kepala sekolah.
Setelah tiba di ruang kepala sekolah, Nover langsung disondorkan gagang telfon.
"ada telfon penting dari Italia," ucap bapak kepala sekolah.
Nover mengernyit heran, kalau ada telfon penting, pastinya dari Belanda. Karena Papa dan adiknya tinggal di sana, dan bukannya malah dari Italia.
Bapak kepala sekolahpun keluar dari ruangan, sembari menepuk bahu Nover.
"iya, halo?" ucap Nover memberi salam, pada si penelfon.
Tubuh Nover terasa lemas, sampai tangan kirinya mencoba meraih meja kerja milik kepala sekolah.
Telfon telah disudahi, namun Nover masih terlihat lemas, bahkan air matanya terus menetes dengan deras, seraya Nover berusaha berjalan ke luar ruang kepala sekolah.
Dihampirinya ruang informasi, lalu memberikan pesan lewat pengeras suara.
"Bram dari kelas 3-2, Steve, Oliv dan Cindy dari kelas 3-3, dan Rezy di kelas 3-1. Harap datang ke ruang informasi, sekarang juga."
Tiga menit kemudian.
"ada apa Ver?" tanya Cindy, yang lebih dulu datang, karena kelasnya lebih dekat.
Disusul Oliv dan juga Steve.
Cindy langsung menghampiri Nover, karena melihat Nover menangis.
Lima menit kemudian, Bram dan Rezy ikut menyusul.
Nover langsung menginformasikan, berita yang didapatnya lewat panggilan telfon tadi.
Bel sekolah berkumandang, tepat setelah Nover mengakhiri penjelasannya.
Nggak ada yang menyangka dengan informasi yang Nover sampaikan, tapi tetap saja, berita itu membuat teman-temannya ikut menangis.
"kita ke sekolah Gendis sekarang ver, Gendis harus dikasih tau," ucap Cindy dengan bahasa Inggris, supaya pacarnya mengerti apa yang disampaikannya.
"gue nggak sanggup jelasinnya Sin," ucap Nover, membalas dengan berbahasa Inggris.
"nggak ada yang mampu menjelaskan itu Ver, Gendis sepupu lo. Hanya lo yang bisa menjelaskannya ke Gendis," ucap Steve menimpali, dengan berbahasa Inggris.
Bram juga ikut mendukung ide Cindy dan juga Steve. Hanya Oliv dan Rezy yang diam saja, karena masih syok mendengar informasi yang disampaikan Nover tadi.
__ADS_1
Nover menghela nafasnya, lalu mengangguk mengisyaratkan kalau dia menerima saran teman-temannya.
"gue nyusul nanti, ke sekolah Gendis. Gue ada urusan sebentar," ucap Rezy, meminta izin dan langsung keluar ruangan lebih dulu.
...----------------...
Tiba di sekolah Gendis, sekujur tubuh Nover langsung gemetar. Nggak pernah terbayangkan di benaknya, kalau sahabatnya itu telah tiada dan meninggalkan kenangan yang begitu mendalam baginya, dan juga Gendis yang akhirnya ditinggalkan juga.
Gendis meminta Nover melepaskan pelukannya, dia nggak dengar dengan jelas apa yang Nover ucapkan.
Teman-temannya Gendis juga langsung mendekat, karena penasaran sama omongannya Nover, ditambah Nover juga langsung menangis.
"Mas Nover ngomong apaan sih, Gendis nggak denger?" ucapnya meminta diperjelas.
Nover melepaskan pelukannya dari Gendis, dia mengatur nafasnya dan menyeka air matanya.
"bu Popy, sekretaris Mamanya Doni ngabarin gue, kalau Doni meninggal karena kecelakaan jam delapan pagi tadi waktu Itallia," ucap Nover sekali lagi, sambil memegang kedua bahu Gendis.
Gendis tersenyum memaksa, dia jelas nggak percaya karena jelas-jelas, siang tadi mereka masih telfon-telfonan.
"jam dua belas, Gendis masih ngobrol sama kak Doni, mas." Gendis berusaha meyakinkan kalau Doni nggak pa-pa, dan Gendis nganggepnya ini hanya ulah isengnya Nover.
"Doni meninggal jam delapan pagi di Italia Ndis, kalau kalian telfon-telfonan jam dua belas, berarti di sana jam tujuh pagi kan?" ucap Nover, mengharapkan Gendis menerima kenyataan ini.
Gendis tetap nggak percaya sama omongan kakak sepupunya ini, dia langsung merogoh saku celananya Nover untuk mencari handphone, dan langsung menelfon Doni dan diloud speaker.
Gendis mendengar nada tersambung ke handphone Doni, dia juga langsung mendengar suara, tapi suara itu bukan suara Doni. Suara itu justru milik bu Popy, sekretaris Mamanya Doni.
Bu Popy dan kedua orang tuanya Doni langsung memberitau Gendis, kalau Doni beneran udah nggak ada. Beliau juga memberitau, kalau keluarganya mengelar rumah duka di kediaman mereka di Indonesia, dan jasadnya Doni akan dikuburkan di Italia.
Nover langsung mengambil handphonenya, tanpa sempat mematikan sambungan telfon. Nover hanya mau memegang tangan Gendis, karena Gendis mulai sadar kalau ucapannya ke Gendis tadi bukan candaan.
Kaki Gendis jelas lemas, sampai terduduk di aspal. Gendis syok berat, teman-temannya Gendis langsung menenangkannya. Hanya Maya yang nggak bisa ngapa-ngapain, karena kakinya juga lemas mendengar berita duka ini, ditambah Maya melihat Gendis histeris.
"Ndis lo nggak pa-pa?" tanya Deka yang terlihat terkejut, karena Gendis hampir aja terjatuh lagi.
Beruntung Bejo menahannya.
"Ndis ... tenang dulu, lo mau ke mana?" tanya Bejo yang langsung mencengkram lengan Gendis, tapi Gendis tetap berusaha melepaskannya.
"Gendis ... eling Ndis ... eling!" ucap Didot yang juga nggak bisa meraih tangan Gendis.
Widi juga langsung berlari menghadang Gendis dibantu Ade.
"Ndis, sadar, jangan kayak orang kesetanan gini. Sabar Ndis, tenangin diri lo dulu," ucap Widi.
Sementara Ade berusaha memeluk Gendis, supaya Gendis nggak ke mana-mana.
Ucapan apapun yang keluar dari mulut sahabat-sahabatnya Gendis, nggak akan kedengeran di telinganya. Gendis serasa mau pingsan, jiwa raganya ikut hilang setelah mendengar kabar kematiannya Doni, dia cuma mau ngedatengin Doni dan membuktikan kebenarannya.
Gendis mulai menyadari perkataan Doni pagi tadi, Doni udah nyiapin ucapan maaf untuknya, tapi Gendis malah nggak menyangka kalau ucapan maafnya Doni pagi tadi, bener-bener untuk minta maaf terakir kalinya. Gendis nggak pernah punya firasat buruk apapun, karena ajal bukan Gendis yang menentukan.
Gendis berhasil kabur dari penjagaan Widi, dan Ade. Yang mengira kalau Gendis sudah bisa tenang, tapi ternyata suara klakson panjang pun hanya lewat di telinga Gendis.
...----------------...
Dan kedua orang tuanya sendiri, yang mengatakan kalau Doni sudah tiada.
Mendengar itu, Doni langsung kesal. Tapi nggak bisa berbuat apa-apa.
Doni juga denger suaranya Gendis, yang syok banget dari balik telfon. Sampai dia juga denger teriakan teman-temannya yang memberitaukan Gendis kalau di depannya ada mobil. Terdengar juga suara dentuman keras, dan suara rem mobil, serta klakson mobil yang bunyinya saling sahut-sahutan.
"Gendis!!!!" Doni berteriak, terkejut mendengar Gendis yang mengira, kalau Doni udah nggak ada dan Gendis malah kecelakaan.
Handphone di tangan bu Popy pun langsung dimatikan, untuk mengantisipasi kalau teman-temannya Doni nggak tau kalau Doni sebenernya nggak kenapa-kenapa.
__ADS_1
"Mama dan Papa, bener-bener tega!" keluh Doni, sambil menangis dengan histeris, mendengar kondisi yang terjadi sama Gendis, yang mengira Doni udah nggak ada.
Sementara di Jakarta, suara tadi yang sempat Doni dengar adalah suara banyak orang yang mengenal Gendis, mewanti-wanti tindakan yang Gendis lakukan.
"GENDIS! AWAS!! MOBIL!!" teriakan itupun nggak dihiraukan Gendis, pinggangnya menabrak bumper depan mobil SUV, Gendis terpelanting setelah kepala dan tubuhnya menabrak mobil di depannya, lalu Gendis tergolek lemah dengan darah yang mulai keluar di sekujur tubuhnya.
Pengemudi dan juga penumpang mobil tersebut, langsung turun untuk melihat keadaan Gendis.
"Ndis ... maafin, maafin supirnya kak Rezy." hanya itu ucapan terakhir yang didengar Gendis.
"makasih kak," bisik Gendis dengan susah payah.
"Gendis ...." dengan nafasnya yang tersengal-sengal, ia mencoba menyampaikan ucapannya ke Rezy.
"Gendis ada kesem ...."
"-pa-tan, nyusul kak Doni," bisik Gendis ketiga kalinya, sambil tersenyum untuk yang terakhir kalinya dan Gendis pun memejamkan matanya.
"jangan Ndis, jangan dulu ...," ucap Rezy, sambil menangis dan memeluk Gendis yang bersimbah darah dan sudah nggak sadarkan diri.
...----------------...
Tangisan Doni, serta percakapan di telfon tadi, terdengar di telinga bu Annette yang ternyata terlambat menolong cucunya.
Beliau sudah melihat cucunya menangis histeris, setelah mendengar kabar Gendis yang kecelakaan karena mengira Doni telah tiada.
"Mama dan Papa bener-bener jahat! Doni nggak nyangka, kalian sejahat ini!"
"terserah, kamu berfikiran apapun tentang kami Don. Mama dan Papa, melakukan ini untuk menyelamatkan kamu dari perasaan cinta yang tidak berguna!" sergah bu Destri.
Doni menyeringai, ia kesal mndengar jawaban dari kedua orang tuanya. Sementara bu Annette masih belum memunculkan wujudnya, sengaja berdiam di depan pintu, menunggu waktu yang tepat untuk membantu cucunya.
"Doni malu punya orang tua seperti kalian! Doni malu, kalau suatu saat Nover tau perbuatan Mama dan papa!"
"ada hubungan apa Nover dengan Gendis? Jangan-jangan kalian menyukai orang yang sama?" bu Destri mengajukan pertanyaan.
"ternyata kamu belum tau Destri? Gendis adalah adik sepupu Nover, wanita yang kamu pecat dari pekerjaannya. Itu adalah tantenya Nover, adik dari Puji, teman dekatmu yang tinggal di sebelah rumah kalian!" bu Annette langsung muncul dan menjawabi pertanyaan bu Destri.
Tatapan mata bu Destri pun kosong, beliau jelas syok karena tindakannya justru secara tidak langsung, sudah menghancurkan persahabatannya dengan Mamanya Nover.
Bu Annette pun menghampiri Doni, dan memeluk cucunya sembari menenangkan Doni.
"Mama dan Papa, akan melihat kebahagiaan yang sudah kalian buat. Jangan sesali perbuatan kalian, Doni akan ikuti kemauan Mama dan Papa." tandasnya, seraya melepaskan pelukan bu Annette.
Doni yang sejak tadi sudah mengantongi kunci motor, handphone yang direbutnya dari bu Popy. Serta paspor yang diam-diam sudah dikantonginya, lalu kabur ke luar rumah.
Pikirannya, sama kalutnya dengan Gendis yang terhubung satu sama lain. Cinta yang dipikir kedua orang tua Doni hanyalah main-main, namun ternyata justru bertahan sampai keduanya nggak mau dipisahkan, sampai Gendis mengira kalau Doni telah tiada dan berpikiran mau menyusul keberadaan kekasihnya.
Melihat cucunya kabur, bu Annete pun tidak bisa meraih cucunya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Doni, yang masih syok dan baru sadar kalau mereka baru menyesali perbuatan mereka.
Setelah tersadar dari lamunan, kedua orang tua Doni langsung memerintahkan orang untuk mengejar Doni.
Doni hanya mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya, dia menelfon salah satu temannya. Namun nggak ada jawaban, dan hanya mengirimi pesan suara.
"titip Gendis_, maaf gue udah mengecewakan lo yang ...." pesan suara yang Doni kirimkan pun terpotong.
Derrrr!!
Tubuh Doni tertabrak mobil, hingga terpental dan terlepas dari motor yang dikendarainya.
Pesan suara tadi pun sudah terkirim ke penerimanya. Apa yang Doni sampaikan kepada kedua orang tuanya, yang semula hanya angin lalu. Namun saat apa yang Doni katakan justru kejadian, hasilnya hanyalah penyesalan yang didapatkan.
Pelajaran untuk dua insan yang dimabuk asmara. Terkadang, kita melupakan betapa berharganya hidup kita untuk orang yang kita pikir sudah tiada.
Cinta Pertama Gendis, Berakhir ...
__ADS_1