
Doni terkejut mendengar permintaan maaf dari mulut Gendis, tapi dia mencoba tenang, dan menunggu maksud ucapannya Gendis.
"jujur aja, selama ini Gendis sebenernya kabur dari kak Doni, Gendis bingung banget kak."
"Gendis mikirin perasaan kak Doni, kalau Gendis tolak gimana. Tapi juga Gendis mikirin perasaan Gendis juga, Gendis nggak mau terpaksa nerima kakak, takutnya kakak mikir kalau Gendis cuma nyari pelampiasan karena Adam, atau Gendis nyari orang yang nyaman cuma sekedar jadi kakaknya Gendis aja."
"Gendis juga sengaja kak, ngehindarin sms dan telfon dari kak Doni. Gendis takut ngecewain kak Doni, kalau Gendis tolak kakak. Gendis juga masih bingung jawabnya." dijelaskan Gendis lagi, karena Doni nggak bereaksi sama ucapannya Gendis.
"kak Doni nggak marah kan?" tanya Gendis takut-takut, sembari memberanikan melirik ke arah Doni.
Selesai Gendis berbicara, Doni langsung mencubit pipinya Gendis.
"nggak kok, kamu nggak salah Ndis. Kak Doni juga sama kayak kamu, kak Doni juga mencoba menjauh dari kamu, supaya kamu ngebutuhin kakak pas kakak nggak ada." timpal Doni, menjawabi dengan jujur.
Gendis mengangkat bahunya, ia terkejut mendengar perkataannya Doni dan mulai berani memandang wajah Doni.
"kak Doni mau sedikit egois Ndis, nggak mau dianggap sama kayak Nover kalau kita terus-terusan cuma jadi adik-kakak an. Kak Doni juga pernah sampaiin ini ke kamu kan?" Doni menggantung ucapannya, menunggu respon dari Gendis.
Gendis menganggukkan kepalanya, lalu Doni melanjutkan ucapannya lagi.
"di mana-mana, posisi kakak cuma bisa ngelindungin adiknya. Tapi nggak bisa ngejaga adiknya, kayak seorang laki-laki ngejagain ceweknya. Lagian yang kak Doni lihat juga, kamu nggak perlu seorang kakak, karena udah ada banyak laki-laki yang ngelindungin kamu, tapi justru belum ada laki-laki yang bikin kamu jatuh cinta."
Gendis makin dibuat berbunga-bunga sama ucapannya Doni, anak umur 13 dan 14 tahun, membicarakan masalah cinta aja udah hal yang lucu, ditambah membicarakan soal keseriusan cinta dan justru mengharapkan cinta yang bukan sekedar cinta monyet, tapi cinta sejati yang di harapkan orang dewasa.
"setelah kita ketemu lagi di sekolah kak Doni, kak Doni mulai merhatiin kamu, dari situ kak Doni mau ngelindungin kamu, mau tau tentang kamu."
Gendis tersenyum sambil menundukkan kepalanya, ia tersenyum karena memang lucu mengingat pertemuan pertama mereka, dan pertemuan yang nggak sengaja di sekolahnya Doni.
"untuk yang kedua kalinya, kak Doni mau nembak kamu, kamu mau nggak nerima kak Doni jadi pacar kamu?" tanyanya dan langsung memindahkan tangannya, untuk memegang tangan Gendis.
Dulu Gendis harus ngejar-ngejar sampai jatoh-jatoh, kehilangan gebetan sampai teman sebangku yang tiba-tiba minta tuker tempat duduk, setelah menawarkan jasa menjadi mak comlang. Setelah Gendis capek dan udah sembuh dari rasa sakitnya, Doni pun datang sebagai vitamin untuk proses penyembuhannya Gendis.
__ADS_1
Gendis memandang Doni, tapi nggak menjawab pertanyaan yang Doni berikan. Gendis juga bingung harus ngomong apa, sementara Gendis juga ngerasain bersalah karena sempat menjauhi Doni.
"kalau nggak bisa dijawab sekarang juga nggak pa-pa kok, kalau kamu juga nggak bisa jawab dan mau nolak kakak juga nggak pa-pa." Doni berucap, sambil melepaskan perlahan tangannya dari tangan Gendis, Doni masih menantikan harapan itu walaupun hanya sedikit.
Gendis malah meraih tangan Doni, melupakan kehadiran penonton yang berniat menonton kejuaraan motor sport.
Gendis pun mulai berbicara
"Gendis tadi pagi mimpiin kak Doni, Gendis pikir Gendis nggak bakalan ketemu kak Doni lagi karena udah seminggu ini Gendis ...." ia ragu berucap, wajahnya juga memerah, matanya mulai melirik menjauhi tatapan langsung ke mata Doni karena Gendis merasa malu.
"Gendis kesepian nggak ada kakak, Gendis kangen banget sama kak Doni. Biasanya ada kakak yang tiba-tiba dateng, pas tadi lihat kak Doni di gelanggang renang, Gendis seneng bukan main, tapi juga bingung kenapa Gendis jadi begini." lanjut Gendis menjelaskan panjang lebar.
Kali ini malah Gendis menundukkan kepalanya, dia semakin malu mengatakan kejujuran yang memang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"waktu Gendis naksir sama Adam, Gendis ngerasain jantung Gendis nyut-nyutan mau copot, sekarang Gendis ngerasainnya begitu juga ke kak Doni," ucap nya.
Doni pun tersenyum sembari menarik nafas, karena bisa merasakan kelegaan setelah mendengar perkataan Gendis.
"kamu ngerasain juga kan? Kalau jantung kak Doni juga rasanya kayak mau copot," ucap Doni menambahkan.
Tanpa perlu diperjelas lagi, Doni sudah bisa menangkap maksud ucapan Gendis yang memang bertele-bertele. Dimaklumi juga sama Doni, karena Gendis yang masih berumur 12 tahun, dan di bulan depan nanti, baru genap berusia 13 tahun. Dan itulah jawaban terpolos yang pernah Doni dengar untuk pertama kalinya, menggantikan kata 'iya', yang biasanya mengartikan setuju.
Mulai hari ini perjalanan cinta mereka dimulai.
...----------------...
Setelah menonton kejuaraan motor sport, Doni mengajak Gendis makan di dekat lokasi. Doni nggak mau Gendis sakit, apalagi di saat Gendis lagi sama dia.
Banyak hal yang Gendis rasain, setelah beberapa jam jadian sam Doni. Perhatian Doni justru semakin bertambah, membuatnya merasa bahagia bukan main.
"oh iya, kak Doni mau ngajak kamu ketemuan sama Ninik, Ninik penasaran banget sama kamu Ndis," ucapnya.
__ADS_1
"kak Doni cerita-cerita ke Niniknya?" tanya Gendis antusias.
"iya," jawab Doni sambil tersenyum.
Doni menjelaskan ke Gendis, apa saja yang dia ceritakan ke Niniknya. Bahkan, Doni menjelaskan kalau Niniknya sangat setuju kalau Doni bisa punya pacar. Karena Doni sering merasa kesepian, kalau kedua orang tuanya sibuk bekerja. Makanya, Niniknya Doni kepingin kalau Doni bisa punya pacar dan saling membagi kebahagiaan.
"kamu mau kan, kak Doni ajak ketemuan sama Ninik?" tanya Doni memastikan.
"sekarang kak?" tanya Gendis spontan.
Doni dibuat tersenyum mendengar ucapan Gendis.
"udah mau malem Ndis, nanti aja pas liburan sekolah, kita ke rumah Ninik." jelas Doni.
"liburan sekolah ya?" tanya Gendis ragu-ragu.
Awalnya Gendis antusias, tapi kemudian malah ragu karena ada satu hal yang membuatnya nggak bisa mengikuti kemauan Doni.
"nggak bisa ya?" tanya Doni.
Gendis langsung menggeleng dengan cepat.
"izinnya ke Bunda gimana kak? Gendis nggak berani bohong, soalnya kalau setiap libur sekolah, Gendis selalu ikut Didot liburan ke kampungnya." papar Gendis menjelaskan keraguannya.
"soal izin, nanti kak Doni yang minta izin ke Bunda kamu. Nggak akan makan waktu kok, atau nanti kita tunggu sampai kamu pulang liburan." Doni memberikan pilihan, agar Gendis juga nggak merasa bersalah.
"atau gini aja kak, nanti Gendis ngomong sama Didot. Biar ngundur waktu 1 hari, jadi Gendis bisa nemuin Niniknya kak Doni, setelah itu bisa liburan juga ke kampungnya Didot." sambung Gendis memberikan tambahan ide, supaya acara mereka bisa tetap terlaksana.
Doni mengusap kepala Gendis, sudah bisa dipastikan, kalau Doni merasa bahagia bisa punya pacar. Apalagi melihat Gendis juga antusias ingin menemui Niniknya Doni, meskipun Gendis sudah punya jadwal liburan dengan teman-temannya.
...----------------...
__ADS_1