Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
13. Gara-Gara Maya Dan Perhatian Yang Adam Berikan


__ADS_3

"Diare," ucap Maya.


Gendis yang tadinya mulai serius dan khawatir, langsung merubah mimik wajahnya. Ia hanya tersenyum simpul, mendengar jawaban dari Maya.


"heh! kakak sepupu lo itu lagi sakit Ndis, bukannya khawatir, malah nyengir!" tegur Maya.


"kalau nggak mau nganterin, nggak usah ngeledek gitu Ndis," sewot Maya berlanjut.


Gendis mencubit pipi tembemnya Maya, sambil meledek Maya yang justru serius kesal ke Gendis.


"gue emang khawatir, tapi nggak berlebihan kayak lo, May." balas Gendis.


"gue mau pulang ah, angkotnya Didot udah nungguin di depan," ucap Gendis.


"Ya ampun Ndis, lo mau pulang sama mereka, dan nggak mau nemenin gue?" tanya Maya, sambil menahan tangan Gendis.


Gendis menggeleng, mengingatkan Maya soal kejadian ke sekolah Nover, dan terakhir kali ke rumah Doni, yang ujung-ujungnya Gendis ditinggalin juga dan makanya Gendis menolak menemani Maya.


Gendis sebenarnya mau menemani Maya ke rumah Nover, asalkan, Maya mengabari Nover sebelum mendatangi rumah sepupunya itu. Karena ada alasan yang membuat Gendis menolak datang ke rumah Nover, sebelum mengabari si pemilik rumah.


Maya pun terpaksa ikut pulang dengan Gendis, sambil membawa kekesalannya ke Gendis. Sekalipun Gendis sudah memberikan pilihan, Maya tetap menolaknya, karena kedatangannya yang secara diam-diam itu, yang mau Maya tunjukkan ke Nover, sebagai bentuk perhatian ke pacarnya yang sedang sakit.


Selain itu juga, Maya juga nggak berani nekat menjenguk Nover sendirian ke daerah yang terbilang rawan, jauh dan membutuhkan uang yang nggak sedikit untuk ongkos ke rumah Nover.


...----------------...


"budeh, Gendis ada?" tanya Maya, seraya menampakkan wajahnya yang panik.


Wajah Maya juga terlihat pucat, karena terburu-buru dan memaksa bertemu Gendis, walaupun sudah tau kalau jam menunjukkan pkl 9 malam. Namun, Maya tetap memaksa bertamu ke rumah orang.


"sudah tidur May, dia pusing sama pr fisika. Makanya mau tidur awal, supaya subuh nanti bisa bangun pagi dan mengerjakan prnya itu." jelas Bu Ayu.


Sambil memeriksa kondisi dahinya Maya, Bu Ayu pun bertanya, "kamu kenapa pucat gitu, kamu sakit May?"

__ADS_1


"Maya nggak sakit budeh, yang sakit Nover. Makanya Maya mau ngajak Gendis jengukin Nover sekarang." katanya menjelaskan.


"Nover sakit?" Bu Ayu tidak kaget saat mengajukan pertanyaan, beliau justru ragu mendengar penjelasan Maya, kalau keponakannya itu sedang sakit.


Keraguan Bu Ayu didasari dari kebiasaan dan sifat sang kakak, kalau kakaknya itu, Ibu yang paling cerewet dengan kesehatan. Setiap satu bulan sekali, selalu kontrol ke dokter umum, 6 bulan sekali ke dokter gigi dan setiap harinya, kedua putranya diberikan berbagai macam vitamin, dari Vitamin ikan, vitamin c, sampai obat cacing.


"Nover masuk rumah sakit Budeeeh." Maya meyakinkan ibu sahabatnya, agar mempercayainya.


Bu Ayu pun berhasil diyakinkan, beliau yang panik, langsung mengajak Maya masuk dan membangunkan Gendis. Sampai-sampai, bu Ayu lupa bertanya ke Maya, mengenai kondisi yang dialami Nover separah apa.


Gendis juga terlihat kesal, karena baru bangun langsung melihat sahabatnya yang menangis sambil membangunkannya.


"Gendis nggak usah ikut deh Bun, Gendis temenin Jingga di rumah aja." komennya, menolak ikut.


Bu Ayu tidak menggubris penolakan Gendis, beliau tetap memaksa putrinya untuk ikut.


Sesampai mereka di rumah sakit, bu Ayu yang kerepotan membawa Jingga ikut serta, langsung mendatangi receptionis untuk mengecek ruang rawatnya Nover. Sedangkan Gendis terlihat malas-malasan, karena sudah tau penyebab Nover sampai masuk rumah sakit. Sementara Maya, masih panik sambil menangisi Nover.


"Mbak Puji." bu Ayu langsung menyapa kakaknya, yang bertemu di luar ruangan rawat Nover.


"Nover, Nover sakit apa mbak? Aku panik dengar Nover tiba-tiba masuk rumah sakit." cerocos bu Ayu, diikuti wajah paniknya karena mengkhawatirkan keponakannya.


Kakak kandung Bu Ayu, justru tersenyum melihat adiknya yang malah panik mengkhawatirkan keponakannya.


"nggak pa-pa Yu, Nover dehidrasi karena diare. Dia nggak kuat, lalu aku bawa ke rumah sakit. Besok juga Nover sudah boleh pulang," jelas Bu Puji.


Bu Ayu langsung melirik Maya yang sudah membaik, dan nggak menangis lagi karena mendengar sendiri kondisi pacarnya yang nggak mengkhawatirkan.


Itulah kenapa, Gendis malas meladeni ulahnya Maya yang kasmaran. Dan selalu meminta Maya menjelaskan keinginannya, sebelum akhirnya terjadi seperti sekarang ini.


...----------------...


Waktu menunjukkan pkl 06:07. Dari rumahnya, Gendis sudah terlihat terburu-buru. Dia merasa kalau jam 6 itu, sudah amat sangat kesiangan. Gendis sampai ngos-ngosan berlari dari rumahnya, sampai ke halte untuk menunggu bus. Sesampainya di sekolah, Gendis mesti lari lagi, kali ini sampai membuat Gendis nyaris terluka parah.

__ADS_1


Saking terburu-buru, Gendis sampai menabrak Adam. Tas Gendis jatuh, berbarengan dengan tubunnya yang juga terjatuh, begitu juga dengan orang yang Gendis tabrak.


"tangan lo Ndis," ucap Adam mengingatkan, saat mengambil tasnya Gendis yang terjatuh di lapangan.


"makasih ya, gue buru-buru." Gendis langsung memotong maksud ucapan Adam, dia nggak perduli dengan apapun, karena ada yang Gendis tuju sampai datang terburu-buru.


Begitu sampai di kelas, Gendis langsung melempar tasnya ke atas meja, duduk manis mengatur nafasnya, dan mengambil botol mineralnya dan menenggak habis air yang diminumnya itu.


"kenapa lo, ngos-ngosan begitu?" tanya Ade yang baru datang.


Gendis belum menjawabnya, karena masih meminum air minumnya.


"disamper malah udah jalan duluan, sengaja lo, udah nggak mau bareng anak-anak lagi?" Ade langsung mencecar Gendis, tanpa memberikan waktu Gendis untuk menjelaskan.


"berisik lo De!" sergah Gendis mengomentari.


"daripada lo nyerocos nggak bermutu, mending lo keluarin buku fisika lo, gue mau nyalin pr fisika!" sambung Gendis.


Ade menyeringai, sambil menyuntrung dahi Gendis.


"bertele-tele, pake bilang nyalin. Tinggal bilang nyontek aja susah banget," ucap Ade ngedumel, tapi juga langsung memberikan buku pr nya, yang sudah rapih dengan sampul coklat yang dilapisi sampul plastik.


Jauh-jauh dari rumah, rela capek sampai lari-larian supaya cepat sampai di sekokah, ternyata hanya demi menyontek pr fisika yang belum Gendis kerjakan. Seperti yang bu Ayu sampaikan ke Maya, tadinya Gendis mau bangun subuh untuk mengerjakan pr nya. Tapi, karena semalam ke rumah sakit menengok Nover, alhasil Gendis bangun kesiangan dan hanya berharap pada Ade, yang bisa memberikannya contekan.


"ehh!" ucap Ade tiba-tiba, sambil menarik tangan kanannya Gendis.


"tangan lo kenapa nih?" tanya Ade lagi, sambil memperlihatkan sikut Gendis.


"laah iya, kenapa nih tangan gue? Tadi nggak pa-pa, kok sekarang tiba-tiba tangan gue jadi lecet gini pas lo pegang." Gendis nggak bermaksud meledek atau mengusili Ade. Dia juga baru menyadari, kalau tangan terluka dan nggak mengingat kejadian tadi, sebelum Gendis tiba di kelasnya.


Ade yang kebingungan karena dituduh pun, makin terihat bingung karena tiba-tiba Adam datang memberikan obat luka. Komplit ada alkohol 70%, obat merah, kapas dan juga plester.


"buat lo Ndis, obatin dulu tangan lo, nanti infeksi," ucap Adam yang hanya menaruhnya di atas meja Gendis, dan ia pun pergi tanpa mendengar reaksi dari Gendis.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2