
Sebelum Doni pulang ke Jakarta. Gendis mengajak Doni berjalan-jalan di sekitaran pantai, sembari menikmati deburan ombak dan menunggu matahari yang siap tenggelam.
"seru ya, liburan di sini? Sayang banget, kak Doni nggak bisa nginep." komen Doni, sembari menggandeng tangan Gendis.
"kalau di sini seru, kenapa kak Doni nggak mau nginep di sini?" Gendis mengajukan pertanyaan.
Donipun mengusap kepala Gendis.
"nggak mau, sama nggak bisa, itu berbeda Gendis."
"ya kenapa, kak Doni nggak bisa nginep di sini?" tanya Gendis, memaksa agar Doni mau memberikan alasan.
Doni pun mulai menjelaskan, alasannya kenapa nggak bisa menginap di rumah Didot.
"kak Doni nggak bisa nginep, takutnya nanti malah bikin temen-temen kamu, dan keluarganya Didot khawatir. Soalnya, ini berhubungan sama Ojiisan."
Gendis mulai menyimak, namun sebelum Doni menjelaskannya lebih detail lagi. Doni lalu melepaskan jaketnya, untuk diberikan ke Gendis.
"kak Doni nggak kedinginan?" tanya Gendis memastikan.
"nanti kalau kak Doni kedinginan, kak Doni ambil lagi deh." Doni menjawabi seraya tersenyum.
Doni khawatir kalau Gendis akan kedinginan, karena angin pantai yang cukup kencang. Ditakutkan, kalau pacarnya ini malah masuk angin.
Gendis juga nggak tinggal diam, mana mungkin dia merasakan kehangatan sendirian, sementara Doni juga merasakan kedinginan karena angin pantai.
"kita bagi dua aja kak," ucap Gendis.
Gendis pun memasangkan lengan sebelah kanan untuk Doni, sementara Gendis, memakai lengan yang sebelah kiri. Otomatis juga, keduanya harus saling mendekat, agar sama-sama terlindung di jaket yang sama.
Doni tersenyum, seraya mengucapkan terima kasih. Setelah melihat usaha Gendis, yang nggak egosi dan malah mengajak berbagi.
"sama-sama kak," balas Gendis, nggak lupa juga diakhiri dengan senyuman.
"mau lanjutin penjelasan yang tadi, soal Ojiisan?" tanya Doni, mengingatkan.
Gendis mengangguk dengan antusias, pastinya ia menantikan kisahnya Doni, yang sebelumnya membuat Gendis penasaran menunggu cerita yang akan Doni sampaikan.
"Ojiisan mau ketemu lagi sama Nini Annette. Tapi karena dilarang, Ojiisan ngancem akan ngirim orang, buat nyulik salah satu cucunya, biar Ojiisan bisa diketemuin sama Nini." jelas Doni, ia ucapkan dengan hati-hati, supaya Gendis nggak syok.
Gendis langsung celingukan, merespon apa yang Doni sampaikan tadi.
__ADS_1
"Ojiisan, ngikutin kak Doni juga sampai di sini?" tanya Gendis memastikan, alasannya sampai celingukan tadi.
"nggak tau. Tapi kak Doni sih udah aman, dijagain sama pengawal tantenya kak Doni." jelas Doni, supaya Gendis nggak khawatir.
Gendis mulai menyamakan dengan cerita yang Nover sampaikan, mengenai Ojiisan, dan juga kakak dari Mamanya Doni.
"sebenarnya juga, Nini nggak punya riwayat sakit apa-apa. Kak Doni bingung mau menyampaikan apa ke kamu Ndis, kalau kamu tau silsilah keluarganyanya kak Doni." paparnya, terlihat wajah Doni yang khawatir, kalau Gendis nggak menerima kondisi keluarganya yang rumit.
Doni menjelaskan, dari waktu ulang tahunnya. Ia pernah memberitaukan kalau Nininya sakit, lalu kejadian beberapa hari lalu. Yang ternyata, keluarganya Doni sedang diancam Ojiisan, yang mau menculik salah satu cucunya, seperti penjelasan yang Doni sampaikan tadi.
Dari awal Gendis bertemu dengan Doni, Gendis mulai paham, kenapa Doni bisa merasakan kalau Gendis punya masalah. Masalah yang waktu itu Gendis alami, ternyata masih belum seberapa dengan kerumitan yang terjadi pada Doni, bahkan keluarganya yang lain, yang sering diteror oleh lelaki yang Doni sebut; Ojiisan.
Bahkan, Doni bercerita kalau salah satu sepupunya, sampai punya trauma tidak bisa berenang, saking kejadian itu sangat membekas.
"alasan kak Doni nggak mau pelihara anjing lagi, itu juga karena ulah Ojiisan. Anjing yang kak Doni pelihara, mati tertabrak mobil, waktu mau nyelamatin kak Doni dari Ojiisan." jelas Doni, memberitaukan rahasia lainnya.
"tapi ...." ucapan Doni terhenti, matanya tertuju pada bayangan dari balik badannya yang mulai mendekat.
Doni langsung memeluk Gendis dengan eratnya, melindungi Gendis dari serangan yang Doni takutkan.
Gendis panik, karena sikap Doni yang tiba-tiba tadi. Tapi kemudian, Doni langsung menghela nafasnya, "huff ..."
Lalu dilanjutkannya lagi, dengan penjelasannya, "saya kira, bapak orang itu."
Doni mengangguk, meminta supirnya itu untuk menunggunya di mobil. Karena Doni masih mau menyampaikan sesuatu ke Gendis, sebelum dia kembali ke Jakarta.
"temenin yuk, pamit sama temen-temen kamu, dan keluarganya Didot." pinta Doni, sembari menggandeng tangan Gendis.
Namun, Gendis menahan tangan Doni.
"kamu, marah atau takut Ndis?"
"Gendis nggak marah kak, nggak juga ngerasa takut." Gendis berucap, seraya menggelengkan kepalanya.
"sebelum kak Doni pamitan, kita lepasin dulu jaket ini. Tau sendiri, temen-temen Gendis tuh anaknya iseng semua." cerocos Gendis, menjelaskan alasannya menahan langkah Doni.
Doni pun tersenyum, sudah salah menduga respon Gendis, yang dikiranya sedang marah, takut atau menolak Doni, karena kondisi yang Doni alami.
"tapi, kamu marah beneran nggak? Setelah denger penjelasan kak Doni tadi?" tanya Doni memastikan, karena masih mengkhawatirkan Gendis yang akan berubah.
"nggak, kak Doni. Gendis malah seneng kalau kak Doni cerita, sekalipun Gendis nggak bisa bantu. Tapi senggaknyakan, kak Doni percaya sama Gendis, karena mau membagi kisahnya kak Doni."
__ADS_1
Doni memeluk Gendis, puas karena mendengar penjelasan dari Gendis.
"terima kasih, karena kamu mau menerima kisah keluarga kak Doni yang rumit. Nanti, kalau kamu udah sampai di rumah, kak Doni janji bakalan cerita lebih banyak lagi, soal Ojiisan."
Gendis mengangguk, lalu mengingatkan pacarnya ini, untuk berpamitan dengan keluarganya Didot, dan para power rangernya Gendis.
Gendis pun mengantar kepergian Doni, hanya sampai melihat mobil yang ditumpangi Doni, pergi dari pelataran rumah keluarganya Didot. Pastinya, ada tatapan khawatir yang nampak di wajah Gendis.
"nanti juga bisa ketemu lagi Ndis, sedih bener mukanya." ledek Ade, sambil memperhatikan wajahnya Gendis.
Gendis hanya pasang tampang kesal, yang di arahkan ke Ade.
"naha Ndis, a Doni nggak mondok di dieu?" ditanyakan Didot, dengan logat sunda.
"nggak bisa Dot, ada masalah keluarga yang bikin kak Doni nggak bisa nginep." jelas Gendis, menjawabi pertanyaan Didot.
"masalah apaan?" tanya Widi langsung menyela.
Bejo menepuk bahu Widi lalu berucap, "kalau Gendis nggak cerita, berarti dia juga belum dikasih tau sama Doni."
"kirain, orang kaya nggak punya masalah ya," ucap Ade ikut nimbrung.
Bejo, Widi, Didot sampai Gendis, langsung memandangi Ade.
Ade nggak sadar, kalau dia bisa dibilang paling berada di antara teman-temannya. Paling kaya di antara teman dekatnya Gendis, sampai pernah merasakan keluarga negeri. Dan satu-satunya yang punya mobil, di lingkungan tempat tinggal mereka.
Tangan Widi melayang ke kepala Ade.
"lo sok merendah De. Emangnya, orang kaya bukan manusia? Nggak punya masalah, karena punya uang banyak gitu?" cicit Widi, diselingi teguran dan nasihat.
Ade malah tersenyum khas iklan pasta gigi, sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa sakit karena tabokan Widi.
"kayak masalah yang kemarenan, orang diminta diem-diem. Ini malah mau disampein. Untung aja, gue, Didot sama Widi dateng ke kelasnya Gendis." timpal Bejo.
"kemarenan di kelas gue?" Gendis ikut menimpali, sambil celingukan meminta penjelasan.
Didotpun yang menjawabi, kejadian di kelas Gendis dan Ade, waktu Ade hampir keceplosan mau memberitaukan soal kejutan ulang tahunnya Gendis, yang akan dirayakan di Garut.
Gendis tersenyum sambil geleng-geleng kepala, udah nggak heran sama ulahnya Ade.
Obrolan Gendis dengan sahabat-sahabatnya, berhasil membuatnya melupakan sejenak masalah yang terjadi dengan keluarganya Doni.
__ADS_1
...----------------...