Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
30. Perdebatan


__ADS_3

...----------------...


Setelah menjelaskan ke Maya, Gendis lagi-lagi malah menangis sejadi-jadinya. Meluapkan lagi perasaan sedihnya, karena mau ditinggal Doni ke Italia.


Maya hanya bisa menenangkan sahabatnya ini, nggak menyangka juga kalau Gendis sampai sesayang itu ke Doni. Mengingat, hubungan percintaan keduaanya yang masih baru.


Maya ingat betul, waktu dia menjodohkan Gendis dengan Doni. Gendis menolak Doni, karena takut bukan selevel dengan Doni yang menurut Gendis semurna. Tapi setelah itu, Gendis justru jatuh cinta ke Doni. Sampai mau ditinggal Doni ke Italia, Gendis merasa berat untuk dipisahkan.


Belum tentu juga kalau kondisi hubungannya Gendis, seperti Maya dan juga Nover. Apakah masih bisa kuat melawan keadaan? Meskipun, hubungan Maya dan Nover sudah sangat lama terjalin.


"Ndis, inget yang terbaik buat Doni," ucap Maya menasihati.


Maya juga perlahan-lahan memberikan nasihatnya ke Gendis, apalagi Gendis dalam kondisi yang sedang sedih.


"Nover juga sering cerita soal Doni, yang punya impian untuk jadi pembalap. Tapi nggak bisa, karena harus nerusin perusahaan keluarganya."


"walaupun nggak enak pisah jauh, tapi lo bisa lihat impiannya Doni yang terkabulkan." lanjut Maya, menasihati.


"gue ...." Gendis kesulitan berkata-kata, lidahnya keluh untuk sekedar memberikan komentar dari nasihat yang Maya sampaikan.


Maya mengusap punggung Gendis, agar sahabatnya ini bisa tenang, dan berbicara dengan leluasa.


"gue ambilin minum dulu ya," ucap Maya m3nawarkan diri, lalu bangkit dari kasurnya Gendis menuju ke dapur.


Kedua netra Gendis menatap ke arah meja belajarnya, Gendis melihat pajangan polaroit yang dijepitnya di frame foto berukuran 4x6. Belum sempat fotonya dengan Doni diberikan rumah, karena Gendis juga baru sampai dari Garut semalam.


Nggak pernah terbayangkan dibenak Gendis, kalau dia dan Doni akan berpisah secepat ini. Meskipun untuk kebaikan Doni, tapi Gendis belum siap berpisah jauh dari Doni. Apalagi, Gendis membutuhkan sosok Doni yang selama ini menyayanginya, menemaninya. Terlepas dari sahabat-sahabatnya yang juga bisa menemani Gendis. Namun ada perasaan yang berbeda, disaat Doni yang menemaninya.


Maya datang, membawakan air putih hangat untuk diberikan ke Gendis.


Tanpa menolak, Gendis menerima perhatian dari sahabatnya ini.


Setelah dirasa sudah tenang, Gendis pun mencoba menyampaikan ucapannya yang sempat tertahan karena susah diluapkan.


"gue baru mau cerita ke kak Doni, kalau ada pengagum rahasia. Gue mau minta ke kak Doni, untuk setiap hari jemput gue di sekolah. Supaya orang itu nggak ngejar-ngejar gue, tapi ...." ucapan Gendis, lagi-lagi terpotong.


Gendis nggak perlu menjelaskannya lagi, kalau rencananya sudah batal sebelum disampaikan ke Doni.


"sebentar, gue mau ngalihin obrolan soal Doni yang mau pindah. Ini soal pengagum rahasia. Lo belum cerita soal ini ke gue, Ndis?"


Gendis menghela nafasnya. Di kondisi seperti ini, Maya selalu bikin Gendis kesal. Ya begitulah persahabatan keduanya, kalau nggak saling bikin jengkel dan nggak ngerti sikon, rasannya kurang afdol.

__ADS_1


Gendis dengan terpaksa menjawabi pertanyaannya Maya, siapa tau Maya punya solusi dari cerita yang Gendis sampaikan ke sahabatnya ini.


"saran gue, jangan dikasih tau ke Doni." timpal Maya.


Gendis langsung mengerutkan dahinya, dia berharap Maya punya solusi. Tapi, setelah Maya menyampaikannya, Gendis malah terllihat menolaknya. Sifat Gendis yang suka terang-terangan, membuatnya kurang setuju dengan idenya Maya.


"kok, nggak usah disampaiin ke kak Doni?" Gendis perlu menanyakan maksud saran dari Maya.


"udah jelas Ndis, kalau lo kasih tau ke Doni. Doni bakalan berat lagi ngelepasin lo, karena ada orang baru yang mau deketin lo. Mana anak satu sekolah." cerocos Maya.


"justru baguskan?" batin Gendis.


Gendis malah jadi egois, setelah Maya menjelaskan sarannya tadi.


Namun, keegoisannya Gendis seketika luntur, setelah Maya melanjutkan ucannya.


"lo mau impiannya Doni nggak terjadi? Cuma karena mikirin lo yang ditinggal di Jakarta. Belum lagi, dia mikirin cowok yang lagi deketin lo."


"dewasa sedikit Ndis, masalah itu bisa lo bagi ke gue, atau ke power ranger lo. Tapi nggak usah lo bagi-bagi ke Doni." lanjut Maya, menambahkan nasihatnya.


"nanti Ndis, lo tunggu moment. Kalau emang lo mau ngomongin masalah cowok yang naksir sama lo, tunggu moment yang pas." timpal Maya lagi, karena melihat reaksi penolakannya Gendis, yang Maya tau kalau Gendis belum bisa menerima nasihat darinya.


Gendis menundukkan kepalanya, dia juga senang kalau Doni bisa mengejar mimpinya. Tapi Gendis juga belum siap.


Maya menghela nafasnya, dia nggak bisa menyalahkan Gendis yang sedang emosi. Kepalanya belum dingin, dan masih menumpukkan kemarahan dan rasa kecewa ke Doni yang tiba-tiba pergi.


Sementara itu, Doni masih menimbang-nimbang untuk menyampaikan ucapannya. Melihat Gendis saja syok, apalagi teman-temannya yang sudah sejak kecil bersama dengannya.


Doni malah iri melihat Steve, ia rela berpisah dengan kedua orang tuanya. Demi bisa bersama dengan teman-teman dekatnya, dan bisa bersama dengan Cindy, wanita yang dicintai Steve.


Sementar Doni, ia hanya ingin mengejar mimpinya menjadi pembalap. Namun rasanya malah berat melepaskan semuanya, padahal sejak kecil, dia bermimpi menjadi pembalap, dan berkali-kali mimpinya dilarang kedua orang tuanya. Kini, Doni jelas berada dipilihan sulit yang memang harus ia lakukan demi masa depannya.


"gue mau nyampiin dua kabar ke kalian." Doni berbicara dengan bahasa Inggris, supaya Steve mengerti.


Teman-teman Doni menyimak.


"orang tua gue setuju, gue ngejar cita-cita gue jadi pembalap." jelas Doni, masih dengan berbahasa Inggris. Dengan cepat juga ia sampaikan, supaya bisa melihat reaksi teman-temannya.


Senyum teman-teman Doni merekah, reaksi mereka jelas senang. Tanpa mengingat, kalau Doni baru menyampaikan kabar yang pertama.


"what's the second story?" tanya Bram menyellingi.

__ADS_1


Doni menundukkan kepalanya, saat Bram mengajukan pertanyaan.


"gue harus sekolah di Italia. Besok, gue udah nggak sekolah di Star School lagi." Doni menyampaikan berita kedua dengan berat hati.


"and then Gendis?" secara bersamaan, Nover dan juga Rezy mengajukan pertanyaan yang sama.


Doni mengangkat kepalanya, memandangi kedua sahabatnya secara bergantian.


"kenapa yang ditanyain Gendis sih? Kalian nggak mikirin kebahagiaannya Doni yang mau mengejar cita-citanya?" disampaikan Oliv dengan bahasa Inggris, agar Steve juga mengerti.


Cindy lalu memegang tangan Oliv, supaya Oliv nggak mulai memperburuk suasana.


Donipun menjawabi, sengaja untuk mengalihkan kemarahan Oliv.


"gue sama Gendis masih pacaran kok, Gendis juga setuju gue ke Italia. Dia seneng banget, kalau gue bisa mengejar impian gue."


Doni jelas berbohong, Gendis belum bisa menerima keputusan kedua orang tuanya Doni.


Oliv berulah lagi, menyela ucapan Doni sembari menyeringai.


"lo yakin dia mendukung lo, Don?" tukas Oliv.


"Oliv!" tegur Cindy, tapi teguran Cindy keduluan Nover yang langsung mencerocos, "Olivia! Berhenti memperkeruh keadaan!" bentak Nover, nggak terima kalau adiknya disinggung.


Nover selama ini sabar dengan sahabatnya yang sarkas ini, setiap kali Maya digunjingkan. Tapi untuk kali ini berbeda, Nover nggak bisa menahan kesabarannya lagi, dan harus meluapkan kemarahannya ke Oliv. Meskipun sepupu, Gendis tetap adiknya yang harus dibela, apalagi ucapannya Oliv nggak pantas untuk disampaikan.


"lo sendiri, mendukung Doni nggak?" tanya Nover, mengajukan pertanyaan yang Oliv ajukan tadi.


"gue dukung semua keputusan sahabat gue, yang kepingin mengejar mimpinya. Bukan mengejar pacaran, apalagi sama gembel!" perkataan sarkas, kembali terucap dari bibir Oliv.


Kali ini Rezy bertindak.


"lo jangan egois Liv, waktu Doni dan Nover ...." ucapan Rezy terpotong Doni, Doni sengaja mengalihkan perkataan yang lanjutannya sudah bisa ia tebak.


"Gendis cewek gue, Liv. Gue percaya kalau dia mendukung cita-cita gue." balas Doni, yang ditujukan ke Oliv.


"untuk Gendis, lo nggak usah khawatir Ver, Zy. Gue akan terus pacaran sama Gendis, gue sayang sama Gendis. Mana mungkin gue mutusin hubungan gue sama dia." jelas Doni ke Nover dan juga Rezy, menegaskan hubungannya dengan Gendis.


Oliv mau menyela lagi, tapi diapun nggak diberi kesempatan, karena Steve langsung menyela.


"gue ikut seneng sama mimpi lo, yang akhirnya bisa terwujud. Gue tau, lo juga berat melepaskan kita, apalagi pisah jauh dari Gendis juga. Nggak usah mengkhawartirkan apapun Don. Kita akan nengokin lo setiap kali liburan, kalau perlu Gendis juga kita ajak." Steve menyampaikannya dengan bahasa Inggris, karena belum mahir menggunakan bahasa Indonesia.

__ADS_1


Bram juga menambahkan, sebagai dukungan terakhir. Sengaja juga ia menambahkan, karena Nover dan juga Rezy masih emosi ke Oliv. Tanpa bisa melihat sikon, apalagi saat ini Doni butuh dukungan.


...----------------...


__ADS_2