
Mendengar bel istirahat berkumandang, Gendis langsung antusias. Dia benar-benar melupakan kekesalannya, karena dipilih menjadi Sekretaris kelas, atas usulan Widi dan juga Deka.
Gendis bisa merubah mood-nya dengan seketika itu, dikarenakan Gendis mengingat Doni. Gendis harus merubah mood-nya yang sedang bete, supaya Doni nggak khawatir saat mereka mengobrol ditelfon nanti.
Sebelum menelfon Doni, Gendis mengirimi sms ke Doni berupa, ["Gendis udah istirahat kak, kak Doni lagi tidur ya?"]
Gendis bertanya lebih dulu, karena tau perbedaan waktu di Italia, yang berjarak 5 jam lebih lambat dari Jakarta, dan pastinya sekarang sudah malam.
["nggak Ndis, kak Doni lagi nungguin kmu kok."] balas Doni.
["makan siang pakai apa hari ini?"] Doni mengirimi Gendis sms lagi.
["Gendis bawa nasi goreng kak. Tadi pagi seblum brangkat sekolah, Gendis bikin buat dbawa ke sekolah."] balasnya, menjawabi pertanyaan Doni.
["tumben, bawa makan dari rumah. Biasanya kak Doni bakalan denger jawaban kmu, kalau kmu habis makan siomay."]
Gendis hanya tersenyum, sembari membaca pesan yang Doni kirimkan. Sementara fikirannya sedang mengawang, memikirkan niatnya menabung dan nggak banyak jajan di sekolah.
Gendis hanya memberikan emotikon senyuman, dan mengalihkan pembahasan mengenai bekal yang dibawanya siang ini.
["kak Doni udh makan siang?"] tanya Gendis mengalihkan, sampai lupa dengan perbedaan waktu di Italia.
["klau makan malam udh, tapi kalau sarapan, atau makan siang. Ya belum Ndis, di sinikan masih jam 2 subuh Gendis sayang ... :D "] balas Doni menjawabi pertanyaan Gendis.
Gendis terdiam, sembari membaca pesan dari Doni. Ada perasaan nggak enak, waktu Doni mengingatkan Gendis mengenai perbedaan waktu. Tapi, kemudian, melihat ketikan yang Doni sampaikan ke Gendis, membuatnya langsung deg-degan nggak karuan.
Doni langsung menelfon Gendis, karena Gendis nggak merespon smsnya tadi.
"kirain tidur, kak Doni tungguin smsnya, kok nggak dibales-bales." Doni berucap, dengan nada meledek.
"kak Doni nggak ngantuk?"
"tadi pagi juga, kakak kan belum tidur." tambah Gendis, melanjutkan ucapannya, yang sengaja dialihkannya dari rasa grogi, karena perkataan Doni di sms-nya tadi.
"udah kok, tidur di pesawat. Terus, pas baru sampai dan nelfon kamu. Kak Doni juga udah tidur," ucap Doni, menjawabi pertanyaan Gendis.
Doni menjeda ucapannya sejenak, untuk menguap. Doni memang sudah tidur, seperti yang disampaikannya ke Gendis. Tapi reaksi dari tubuhnya Doni nggak bisa bohong, kalau sebenernya Doni memang ngantuk.
Demi bisa menelfon Gendis, dan membayar kesalahannya karena sudah memilih cita-citanya. Doni rela nggak tidur, supaya bisa bikin Gendis bahagia. Walaupun yang bisa dilakukannya, hanya mengajak Gendis mengobrol di telfon seperti saat ini.
"mulai besok ...," ucapan Gendis terpotong, karena mendengar suara.
Brak!
Diikuti tumpukan LKS di atas mejanya Gendis, serta ada 1 buku tulis di paling atas.
"mulai besok kenapa? Itu suara apa Ndis?" tanya Doni panik, namun pertanyaan Doni nggak sempat didengar Gendis.
__ADS_1
Gendis sendiri sedang mengatur nafasnya, dia kaget bukan main, dan nggak membayangkan dari mana datangnya pengganggu yang nggak lain Deka.
"tuh tugas lo, tulis sekarang di papan tulis! Dan bagiin LKS-nya." perintah Deka, tanpa melihat kesibukannya Gendis.
Kedua alisnya Gendis langsung mengerut, diikuti sorotan matanya yang tajam.
"kenapa malah ngeliatain gue? Lo marah karena diperintah?" ucap Deka, bisa-bisanya dia mengajukan pertanyaan, yang sudah jelas kalau perintahnya ke Gendis sudah keterlaluan.
"gue lagi nggak mood berdebat sama lo! Taroh aja di situ, nanti gue kerjain tugas yang lo minta," ucap Gendis, berusaha menahan emosinya, karena mengingat Doni yang mendengarkan percakapannya dengan Deka.
"kerjain sekarang juga!" perintah Deka sekali lagi.
"coba buka mata lebar-lebar, lihat apa yang lagi gue kerjain!"
"nantikan bisa, masih banyak waktu, ini jam istirahat. Nggak usah semena-mena jadi ketua kelas, gue jadi sekretaris juga nggak dibayar. Ini bukan di kantor, dan gue nggak harus nurutin kemauan ketua kelas yang sok ngebos!" cecar Gendis, karena sudah nggak tahan lagi.
Gendis langsung bangkit dari kursinya, mengangkat tempat makannya dan menjauh dari Deka.
Deka langsung menghadang, membuat langkah Gendis terhenti.
"ini tugas Ndis, gue juga nggak bisa istirahat. Dan harus nyatet jadwal mata pelajaran setelah diminta pak Soleh," ucap Deka, memberikan alasannya memerintah Gendis.
"tapi permintaan lo tuh nggak sopan! Gue kan nggak nolak, nanti bakalan gue kerjain. Tapi tunggu, gue masih harus makan, gue juga lagi ngobrol di telfon!" bentak Gendis sembari terus menyerocos, membalasi Deka.
Gendis langsung pergi, tanpa memperdulikan Deka yang masih ngoceh dan memerintahnya.
Gendis berhasil duduk di pinggir lapangan, setelah menghindar dari Deka.
Namun, handphone Gendis sudah keburu kehabisan daya. Gendis hanya bisa menahan tangisannya, karena nggak enak dilihat murid-murid 1 sekolah.
Nggak lama, Maya pun muncul setelah mencari Gendis ke kelasnya.
"nih, Doni ... nelfon ke hape gue .... Hape lo ... lowbat ya?" tanya Maya, dengan nafas tersengal-sengal karena habis berlarian dari kantin.
Gendis merasa tertolong, melihat Maya yang langsung datang membantunya di tengah perasaan kesal yang sedang Gendis tahan, karena nggak bisa berbuat apa-apa.
"makasih May," ucap Gendis, dengan suara bergetar udah nggak bisa menahan air matanya yang malah tumpah di depan Maya.
Maya mengusap punggung Gendis, sambil berucap.
"udah nggak pa-pa Ndis, gue tingal sebentar ya. Tadi gue lagi antri makanan, nanti gue temenin di sini."
Gendis menganggukkan kepalanya, dan langsung tertuju ke handphone-nya Maya, yang sudah ditunggu Doni di balik telfon.
"tadi kenapa?" tanya Doni terdengar khawatir.
"maaf ya kak, Gendis tadi ..., Gendis tadi ...." Gendis nggak bisa mengeluarkan suaranya, yang saling balapan dengan perasaan sedihnya.
__ADS_1
"tarik nafas, terus minum."
Gendis hanya bisa menarik nafasnya, dia lupa membawa air minumnya, saking kesal dan kepingin buru-buru menjauh dari Deka.
"Gendis nggak sadar, kalau hape Gendis lowbat, kak."
Doni malah tersenyum, dia mengira tangisannya Gendis karena ulah temannya Gendis tadi, yang sempat di dengar Doni, kalau mereka lagi berantem.
"jadi, kamu nangis karena batu baterai handphone kamu lowbat? Bukan karena anak cowok tadi?"
Untuk itu, Gendis lebih kepingin marah, daripada nangis. Gendis nangis, juga karena menumpuknya rasa kesal, yang nggak bisa ia luapkan di depan Doni. Belum lagi handphone-nya yang malah lowbat, seakan Gendis benar-benar dibuat sial setelah bertemu dengan Deka.
"iya, karena hape. Kalau sama anak itu, Gendis bener-bener kesel. Dia nyari gara-gara terus ke Gendis kak."
Akhirnya, Gendis meluapkan juga kekesalannya ke Deka, yang diceritakannya ke Doni.
"kak Doni mau denger semua cerita kamu, tapi, kamu juga harus makan siang. Nanti sepulang sekolah, kita lanjut ngobrol di telfon lagi ya?" alih Doni, karena tau Gendis pasti bakalan lebih memilih cerita, dan malah lupa sama makan siangnya.
"iya kak, habis ini kak Doni tidur aja. Nanti Gendis yang tunggu sms kak Doni, kalau kak Doni udah bangun tidur."
Percakapan keduanyapun berakhir, bertepatan dengan kehadirannya Maya, sampai bawa-bawa mangkok berisi mie ayam dan juga segelas Jasjus dingin.
"nih, hape lo May." sambil Gendis mengembalikan handphone-nya Maya.
"udah? Cepet banget?" tanya Maya memastikan.
"iya udah, kasihan kak Doni mau tidur. Di sana masih jam 2 subuh," ucap Gendis, memberikan alasan.
Gendis malas bercerita, karena tujuannya mau menghabiskan makan siangnya. Takutnya, nafsu makannya malah hilang, karena membahas Deka.
"tadi Doni khawatir banget, dia denger ada suara jatoh, terus nggak lama ada suara cowok dan suara lo yang berantem sama tu cowok. Eh, nggak lama, hape lo mati katanya." cerocos Maya, kepingin tau cerita aslinya dari Gendis.
"gue makan dulu ya May, nyeritain itu orang, takut nafsu makan gue ilang." pinta Gendis, dengan tampang serius.
Maya mengangguk, dia tau betul emosinya Gendis yang nggak terbendung lagi. Sama menyeramkannya, seperti seekor singa yang lagi kelaparan.
Selesai menghabiskan makanannya, Gendis nebeng meminta minumannya Maya, karena malas mengambil minumannya yang ketinggalan di kelas.
"iih! Nyari gara-gara aja dia! Yang mana sih orangnya, biar sekalian gue labrak!" sergah Maya, ikut terprofokasi kemarahannya Gendis, setelah Gendis menceritakan kejadian tadi, lalu flashback ke pagi tadi saat Gendis dan Deka rebutan kursi, dan kejadian sebelum liburan sekolah.
Gendis langsung bangkit, mau menunjukkan wajahnya Deka. Maya juga udah ikut bangun, tapi kemudian dia menarik Gendis supaya duduk lagi, karena dia teringat dengan sesuatu.
"ekh tapi ...," ucap Maya menggantung.
"kan di kelas lo ada Widi, Ndis. Yang ada, bukannya gue ngelabrak tu anak. Nanti malah gue yang berantem sama Widi," ucap Maya lagi, mengingatkan Gendis soal perang antara dia dan Widi.
"iya juga ya, hmmh ...." Gendis mengiyakan, diakhiri dengan menghela nafasnya.
__ADS_1
"yaudah lah, besok juga bisa. Atau nanti pas pulang sekolah, kan bisa gue unjukin ke lo." tambah Gendis, supaya rasa penasarannya Maya terbayarkan.
...----------------...