Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
8. Pesan Masuk


__ADS_3

"Kak Doni!" Gendis terkejut, sambil menyeka air matanya.


"cepet sembuh ya Ndis, kak Doni langsung pamit." Doni terlihat terburu-buru, dan hanya memberikan senyuman ke Gendis, seraya menepuk-nepuk lagi kepala Gendis dengan halus.


Gendis jelas bingung, karena kedatangan Doni yang secara tiba-tiba, setelah itu langsung pergi begitu saja. Gendis juga nggak melihat motornya Doni dan Doni juga nggak mengabari Gendis kalau mau datang.


Gendis nggak mau terlalu pusing memikirkan masalahnya, sedangkan badanya sendiri masih perlu istirahat. Gendis pun masuk ke rumahnya dan langsung mengisi daya handphonenya yang sejak tadi kehabisan baterai.


Tumpukan sms langsung masuk ke ponselnya, setelah Gendis menyalahkan handphonenya.


17:05 [Apa kabar Ndis? Kak Doni dalam perjalanan ke rumah kamu nih.]


17:30 [Kamu nggak pa-pa kan Ndis? Kak Doni, sebentar lagi sampai Jakarta.]


18:45 [Kak Doni udah sampai rumah kamu nih Ndis. Kamu masih di sekolah ya? Kak Doni tunggu ya, sampai kamu pulang sekolah.]


Dan kemudian, ada pemberitahuan notifikasi telfon dari Doni, sebanyak 20 dan kemudian sms terakhir dari Doni.


19:55 [Maaf ya Ndis, Kak Doni bukannya nggak mau nunggu lama. Tapi, neneknya kak Doni masuk rumah sakit. Kak Doni, harus kembali lagi ke Bandung. Oiya, ada buah yang kak Doni titipin ke bibi yang ngurusin Jingga. Jangan lupa dimakan ya, buahnya. Kak Doni petik langsung loh, dari kebunnya nenek. Cepat sembuh ya Ndis.]


Gendis menaruh handphonenya di lantai, dan langsung berlari ke dapur, untuk melihat buah tangan dari Doni.


Gendis jelas merasa bersalah, karena membiarkan Doni menunggunya. Sampai berkali-kali mengabarinya sejak tadi sore, dan Gendis nggak tau karena handphone-nya lowbat


Gendis pun kembali ke kamarnya untuk menghubungi Doni, namun sudah keburu menerima telfon.


"Apaan?" tanya Gendis menjawabi.


"Didot aya di payun." Didot yang sudah khas, dengan gaya bicaranya pun langsung mematikan telfonnya.


Gendis pun keluar dari kamarnya, lalu membukakan pintu untuk tamunya itu.


"ngapain lo malem-malem ke rumah gue?" tanya Gendis yang malah dibuat bengong, karena bukan hanya Didot yang datang, tapi juga ketiga power rangernya yang lain, juga ikut datang ke rumah Gendis.


"nih." Ade sambil memberikan tempat pinsil Gendis, yang ditinggalnya di rumah Ade tadi.


"demen banget sih, lo ninggalin barang sembarangan. Mana di dalemnya ada obat, dasar teledor!" tegur Ade, dengan manampakkan tatapan khawatir.

__ADS_1


Gendis hanya tersenyum, dia membiarkan para power rangernya masuk, dan menduduki sofa satu persatu.


"kenapa tuh mata?" tanya Widi sesantai mungkin, dibarengi dengan tatapan iba.


Mata Gendis terlihat sembab sehabis menangis tadi, Gendis pun mengalihkan dari pertanyaan Widi tadi.


"emangnya kenapa sama mata gue, masih nepelkan di tempatnya?" tanya Gendis balik, sekaligus meledek.


"mending lo sekolah akting aja Ndis, biar jago ngebohongin temen-temen lo." Ade menegur Gendis, tapi kali ini dengan wajah yang serius, menunjukkan kalau Ade kesal ke Gendis yang malah mengajaknya bercanda.


"jujur atuh Ndis." sela Didot.


"kita kan babaturan Ndis, tong ngabohong kitu," ucap Didot lagi, yang ke ikutan serius, walaupun nada bicaranya Didot, membuat Gendis kepingin tertawa.


Bejo nggak komentar apa-apa, dia hanya memperhatikan Gendis yang masih menutupi masalahnya.


"tadi, gue habis jemput nyokap. Terus, gue lihat tempat pinsil lo ada di kolong meja. Tadinya mau gue nganterin tempat pinsil lo besok aja, tapi nggak taunya ada obatnya di dalem. Pas jalan ke sini tadi, gue ketemu Widi di jalan dan nebeng naik motornya dia."


"belum sampai rumah lo, gue malah ketemu Didot sama Bejo yang udah ada di depan gang lo. Mereka berdua tuh berdiri di situ, udah kayak patung selamat datang." lanjut Ade menjelaskan panjang lebar.


Gendis langsung menundukkan kepalanya, keempat cowok-cowok ini langsung merapat ke Gendis dan Gendis pun menangis, di depan teman-teman power rangernya. Yang baru pertama kali melihat Gendis menangis, tapi bukan karena diusilin semasa kecil, atau jatuh di aspal karena lari-larian. Tapi kali ini, Gendis menangis karena perasaanya hancur setelah menolak Adam, sekaligus menyakiti perasaannya sendiri.


Nggak bisa dipungkiri, persahabatan diantara mereka yang rata-rata masih umur belasan tahun, tapi cara berfikir mereka, layaknya berumur puluhan tahun, yang bisa berpikir bijaksana dan dewasa.


Mereka dapat mengerti satu sama lain, dan bisa membedakan saat bercanda, saat serius dan saat dibutuhkan sebagai sahabat, yang bisa menenangkan sahabatnya yang sedang sedih dan membutuhkan pelukan penenang.


Power rangernya Gendis nggak lama-lama di rumah Gendis, sudah cukup bagi mereka, melihat Gendis menangis dan sudah puas, membuat Gendis akhirnya cerita mengenai masalah yang dipendamnya selama ini.


...----------------...


[Hmm ...]


[Hai kk?]


[Halo kk?]


Ketiga kalimat itu, urung dikirim Gendis ke Doni. Gendis justru menghapusnya berkali-kali, dan terlihat kebingungan di depan layar gawainya.

__ADS_1


"aduuh! Gue harus nulis apaan nih?" gumamnya, seraya berpikir.


Gendis terlihat frustrasi, terlihat juga ia mengulum lolipop, padahal sudah memesan makan siangnya, yang malah dihiraukannya.


Widi menghampiri Gendis di bangkunya, dan nggak lama kemudian, Ade dan Didot menyusul.


"heh Makan! Permennya taroh dulu kenapa sih!" tegur Widi, terlihat risih melihat Gendis yang sibuk dengan handphone, dan masih saja menghiraukan nasi gorengan pesanannya.


"iya, entar dulu." komen Gendis, masih tetap sibuk dengan handphone-nya.


"hape lo rusak lagi apa, dari tadi diotak atik mulu?" tanya Ade ikutan risih, melihat Gendis sibuk sama handphone-nya.


Gendis menggeleng, setelah mengetik sebuah pesan ke Doni, [Hai kak Doni? Apa kabar?]


Gendis lalu membuang permennya dan mengambil sendok-garpu tanpa mengalihkan pandangan dari handphone-nya. Sms tadi juga belum dikirim Gendis, karena sibuk mermikirkan caranya mengabari Doni.


Namun, secara tiba-tiba. Didot menarik handphone Gendis dan nggak sengaja, pesan tadi terkirim ke Doni.


"yaah, Dot! Apa-apaan sih lo?" bentak Gendis mulai panik, karena handphone-nya direbut Didot.


"sibuk pisan euy, engke hape’na Didot benerin. Ayeuna dahar heula … maag'na mau kumat deui?" cerocos Didot memastikan, sekaligus menasihati sahabatnya ini.


"tck, akh!" Gendis mendecak kesal, dan terpaksa menuruti kemauan Didot.


3 menit kemudian handphone Gendis bergetar, karena ditaruh di atas meja, membuat getarannya terasa sampai ketiga cowok-cowok ini menengok, dan tertuju ke handphone milik Gendis.


"ada sms tuh Dot, siniin hapenya." pinta Gendis, seraya menadahkan tangannya.


"nggak biasa-biasanya Ndis, lo ngebet pengen baca sms," celetuk Widi.


"siapa tau dari nyokap gue, nyokapkan kalau gue sakit perhatian banget, udah siniin hapenya," ucap Gendis memberikan alasan, sekaligus memaksa.


Ketiganya terlihat curiga dengan alasannya Gendis, muka Gendis juga terlihat aneh, ditambah pucat karena panik.


Gendis tetap memaksa, meminta handphone-nya dikembalikan.


Karena reaksi paniknya itu, Gendis malah membuat perhatian teman-temannya tertuju ke handphone tersebut.

__ADS_1


Ade, dan Widi jelas penasaran dan berebutan mau membaca pesan masuk tadi.


__ADS_2