Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
24. Pengagum Rahasia


__ADS_3

Sesuai janji, Gendis membantu sepupunya supaya bisa ketemu sama Maya.


Maya dipaksa Gendis berangkat ke sekolah bareng, Maya sampai mengira, kalau Gendis ikut mengajak para power rangernya berangkat ke sekolah bareng.


"ini penipuan!" Maya mengeluh, setelah tau kalau mobil keluarganya Nover sudah menunggu di depan gapura.


"emangnya lo mau berantem terus?" tegur Gendis menasihati sahabatnya ini.


"kok lo tau?" tanya Maya, kaget.


"nggak usah cari tau gimana caranya gue tau, intinya, obrolin aja apa masalahnya, jangan malah diem-dieman." Gendis menjawabi pertanyaan Maya, sekaligus menasihati sahabatnya ini.


"lo nggak berangkat bareng?" tanya Nover ke Gendis, yang malah berpamitan ke Nover dan juga Maya.


Maya juga menahan Gendis, supaya ikut semobil dengannya.


Gendis menggelengkan kepalanya, dia nggak mau di antara kedua orang yang lagi bersitegang. Apalagi, Gendis ada di posisi yang rumit. Dia temen deketnya Maya, tapi juga Nover sepupunya. Makanya Gendis memilih nggak bergabung dengan keduanya, dan lebih memilih berangkat ke sekolah sendiri.


Sampai di sekolah, Gendis ditelfon sama Doni.


"selamat pagi pacar," ucap Doni menyapa.


Gendis sampai terdiam, mendengar panggilan Doni. Biarpun terkesan berlebihan, tapi sapaan Doni, berhasil membuat senyumnya Gendis langsung merekah.


"selamat pagi juga kak," ucap Gendis membalasi.


"udah sampai di sekolah?" tanya Doni memastikan.


"udah, baru aja sampai. Kak Doni, udah sampai di sekolah juga?" tanya Gendis membalikkan pertanyaan.


Gendis selalu bingung untuk memulai obrolan, makanya dia hanya bisa mengcopy pertanyaan Doni sebelumnya.


"nggak berangkat ke sekolah, kak Doni nemenin Nini ke rumah sepupu-sepupunya kak Doni," ucapnya menjawabi pertanyaan Gendis.


"jadi kepingin ikutan," ucap Gendis.


Doni nggak mengomentari, tapi di balik telfon, ia tersenyum merespon ucapannya Gendis.


"oh iya, nanti kamu pulang sekolah jam berapa?"


"sama kayak kemarin," ucap Gendis menjawabi.


"yaudah, nanti kak Doni jemput ya?" ucapnya menawarkan diri.


"iya," ucap Gendis sembari tersenyum.


Tanpa Gendis sangka, senyumnya yang manis itu, berhasil membuat murid lain ikut senang melihat senyuman yang Gendis tebarkan.


Murid lelaki itu mematung, berdiri di depan kelasnya Gendis. Memperhatikan setiap geraknya Gendis, dan nggak lupa ikut tersenyum memperhatikan Gendis.


Namun murid lelaki itu nggak bertahan lama di depan kelasnya Gendis, karena aksinya memperhatikan Gendis, terbagi dengan teman-teman sekelasnya Gendis yang mulai berdatangan.


Murid laki-laki itu berjalan, melewati kelas Gendis, tapi masih memperhatikan Gendis yang kini sibuk mengambil minuman.


Nggak lama, Ade pun muncul.


"lo ada acara nggak sama kak Doni?" tanya Ade menyela.


"ada, nanti dijemput." Gendis menjawabi setelah menutup botol minumnya.


"orang kalo pacaran emang beda ya, ada aja jadwal sibuknya." sindir Ade.


"kan sepulang dari ketemu kak Doni, bisa De. Ada apaan sih?" tanya Gendis mengalihkan sindirian Ade.


"siap-siaplah Ndis, kan besok kita udah berangkat ke Garut," ucap Ade mengingatkan.


"yaelah, siap-siap apaan sih De? Emangnya gue mau bawa semua isi rumah." dijawabi Gendis sembari tersenyum meledek.

__ADS_1


Bejo, Widi, dan juga Didot langsung masuk ke kelas Gendis dan juga Ade.


Ketiganya berhasil membungkam ucapan Ade, mengenai sesuatu yang memang sudah mereka siapkan.


"eh, nanti jangan nangis ya, kalau kelas kalian kalah tanding futsal dan basket dari kelas gue," ucap Widi menyindir, sengaja Widi mengalihkan, supaya nggak dicurigai Gendis, karena Bejo lagi mengingatkan Ade.


Gendis mulai terprofokasi ucapan Widi, dia juga nggak mau kalah dalam pertandingan class meeting nanti. Gendis juga sudah mempersiapkan dirinya, untuk melawan cewek-cewek di kelasnya Widi.


...----------------...


Bubaran sekolah, Gendis terlihat senang, karena selain ia memenangkan pertandingan futsal melawan teman sekelasnya Widi. Gendis juga nggak sabaran karena mau bertemu dengan Doni, yang sudah menjemputnya di depan gerbang sekolah.


"Gendis!!!" panggilan itu membuat Gendis menoleh, karena masih berada di lapangan.


Namun, saat mencari sumber suara yang memanggilnya tadi, Gendis justru nggak menemukan orang yang memanggilnya.


Handphone Gendis berdering, langsung dijawabnya dengan cepat, karena Doni yang menelfonnya.


"Ndis, maaf ya. Kak Doni tadi udah jalan ke sekolah kamu. Tapi nggak jadi jemput kamu, karena Nininya kak Doni sakit." jelas Doni, merasa bersalah.


"iya, nggak pa-pa kak."


Gendis juga menyampaikan ke Doni, agar menjaga Nininya dan menitipkan salam ke Nini Annette. Karena Gendis nggak bisa datang, melihat keadaan Nininya Doni yang langsung dibawa pulang ke Bandung.


Alhasil, Gendis pun pulang sendirian karena teman-temannya sudah pulang semua. Sementara Maya, juga sudah dijemput Nover untuk menemui Oma dan Opanya Nover, yang baru datang dari Belanda.


Handphone Gendis baru saja dimatikan, ia lalu mendengar lagi namanya dipanggil dengan suara nyaring.


Gendis pun penasaran, dan langsung menghampiri sumber suara, yang diyakininya berasal dari lantai 2 lorong kelas 1.


"awas aja lo, kalau sampai ketemu. Gue jadiin gulungan karpet!" racau Gendis, karena terganggu panggilan tadi.


Setiap kelas nggak luput dari pemeriksaannya Gendis, sampai Gendis memasuki kelas 1-8, empat kelas di belakang kelasnya Gendis.


Gendis mematung, dilihatnya papan tulis yang bertuliskan ; [Hai Gendis, salam kenal. Gue pengagum rahasia lo, dari awal Mos, gue udah suka sama lo. Semoga di kelas 2 nanti, kita bisa sekelas ya.]


Sudah sampai di tangga paling bawah, Gendis bertemu seorang murid laki-laki yang berdiri di depan tangga.


"Gendis ya?" tanyanya.


Gendis menganggukkan kepalanya, tadinya Gendis mau curiga, kalau cowok yang menyapanya ini, murid yang menyatakan dirinya sebagai pengagum rahasianya Gendis. Tapi, karena anak ini bertanya terlebih dulu, rasa curiga Gendis pun sirnah.


"tadi, ada yang nitipin ini ke gue. Dia minta ini dikasih ke lo," katanya, seraya memberikan boneka.


Gendis mengerutkan dahinya, sembari membaca surat yang ditempelkan di perut boneka kelinci.


[Selamat ya, udah naik kelas. Sampai ketemu di kelas 2]


"dari siapa nih?" tanya Gendis bingung, setelah membaca surat tadi.


"nggak tau, gue nggak kenal." jelasnya.


"masa iya lo nggak kenal? Emangnya lo nggak tanya?" Gendis memastikan, sekalian mengembalikan boneka dan juga surat yang dititipkan ke murid ini.


"nggak sempet tanya, katanya cuman suruh kasih ke lo," ucap murid ini.


Gendis sendiri juga nggak pernah lihat murid ini sebelumnya, dari kelasnya bahkan namanya pun Gendis nggak tau.


Murid lelaki ini pun mengembalikan boneka, serta surat yang tadi Gendis tolak, sembari berjalan meninggalkan Gendis.


Namun, Gendis pun menyusulnya.


"eh, ini dari siapa? Gue nggak mainan boneka," ucap Gendis, sembari mengoper boneka itu.


"ambil ajalah, gue juga nggak tau dari siapa. Intinya tugas gue udah selesai," ucapnya malah ketus, dan mengoper lagi boneka untuk Gendis.


"nggak mau ah! Gue nggak main boneka, buat apaan juga dikasih ke gue. Buat lo aja nih, kasih aja buat adik lo," ucap Gendis, kali ini dia yang gantian pergi.

__ADS_1


Cowok ini pun kembali menghalangi langkah Gendis.


"gue anak tunggal, bukannya lo punya adik ya? Kasih aja ke adik lo," ucap anak ini.


Gendis langsung pasang tampang curiga.


"sebentar, lo tau dari mana kalau gue punya adik?"


"dari Widi," ucap anak ini menjawabi.


Ia juga menjelaskan lagi, kalau dia teman sekelasnya Widi. Dia tau karena Widi pernah bercerita, kalau Gendis punya adik.


Penjelasan anak ini, masih belum dipercaya sama Gendis. Namun, teman sekelas Widi ini, lalu mengalihkan perdebatan.


"yaudah, bawa aja sih. Lo juga nggak rugi kan, kalau dikasih boneka, walaupun nggak lo mainin juga." anak ini menasihati Gendis, sekaligus memaksa Gendis supaya menerima hadiah itu.


Dengan terpaksa, Gendis menerima hadiah boneka, beserta surat yang nggak tau siapa pemberinya.


...----------------...


Tiba di rumahnya, Gendis langsung memberikan boneka itu untuk Jingga. Sementara suratnya, langsung dibuangnya ke tempat sampah.


Jingga langsung memeluk Gendis, perasaannya benar-benar senang karena bisa mendapatkan boneka dari Gendis.


Gendis nggak menyangka, boneka yang tadinya ditolak, justru membuat Jingga terlihat senang.


Gendis sedang memperhatikan raut wajah senang, yang ditampakkan sama Jingga. Nggak lama, rumahnya mulai ramai karena kedatangan teman-teman power rangernya.


"katanya mau main sama Doni?" tanya Ade langsung mengingatkan Gendis.


"Nininya kak Doni sakit, jadi batal ketemuan." jelas Gendis.


"kok pada tau, kalau gue udah di rumah?" Gendis mengajukan pertanyaan ke teman-temannya.


"gue ngeliat lo lewat warung, tadinya gue mau nyamperin. Tapi belum bayar," ucap Ade, merasa lucu dengan ucapannya, dia malah tertawa setelah menjelaskan.


"beresin barang bawaan lo sekarang, biar langsung dibawa ke angkotnya Abah Engkus," ucap Widi mengingatkan, sekaligus menjelaskan alasannya datang ke rumah Gendis.


"kebetulan, gue mau tanya ke lo. Lo kenal nggak, sama Deka?" tanya Gendis langsung penasaran dan menanyakan teman sekelas Widi, yang tadi berdebat dengan Gendis masalah boneka dan juga surat.


Widi mengangguk, dia menjelaskan kalau Deka murid berprestasi di kelasnya. Bahkan, Deka sudah 2 kali mendapatkan peringkat 1.


Tapi yang mau Gendis tanyakan bukan hanya itu, Gendis lalu menjelaskan mengenai boneka dan juga surat yang dititipkan ke Deka, yang sekarang sudah berada di tangannya Jingga. Selain itu juga, Gendis menceritakan waktu Gendis masuk ke kelas 1-8, dan menemukan tulisan.


"pengagum rahasia?" ucap serempak, teman-temannya Gendis.


Gendis mengangguk, dia justru nggak nyaman karena ada orang yang selama ini diam-diam memperhatikannya.


"coba gue lihat suratnya." pinta Bejo.


"udah gue buang, soalnya isinya hampir sama kayak yang ada di papan tulis," ucap Gendis menjelaskan.


"bukan itu, kitakan bisa tau dari tulisannya." Bejo menjelaskan alasannya meminta surat.


Ide Bejo, boleh juga. Tapi karena surat itu sudah dibuang Gendis, ya percuma juga untuk dicari tau kelanjutannya, siapa pengagum rahasianya Gendis.


"Adam kali?" ucap Didot menyela.


"bukan, gue lihat Adam naik bus. Gue inget, soalnya dia nyapa gue." Ade mengomentari perkataan Didot.


"yaudahlah, nggak usah diambil pusing Ndis. Kalau nanti orangnya muncul, sampein aja ke kita-kita," ucap Widi, langsung pasang tampang serius memberitaukan ke sahabatnya ini.


"yaudah, lo siap-siap sana. Nanti langsung ke rumahnya Didot ya, kalau barang bawaan lo udah diberesin. Kalau udah kumpul semua, nanti kita jalan ke pasar, buat beli cemilan." imbuh Bejo, mengingatkan.


Gendis nggak memperpanjang mengenai pengagum rahasianya itu, karena kesibukannya sama persiapan liburannya ke Garut.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2