
Jam 7 malam, setelah Nover pamit pulang, Maya langsung ke kamar Gendis. Sambil tiduran di kamar Gendis, Maya mulai bertanya-tanya ke sahabatnya ini.
"besok, lo masuk sekolah Ndis?"
"iya kayaknya, kan obat andalan gue udah lo bawain," ucap Gendis, menjawabi.
"tapi kalau nggak bisa, jangan dipaksain Ndis," ucap Maya menasihati.
"kan gue bilang kayaknya, jadi bisa iya, bisa nggak May." timpal Gendis.
"Oiya ...." ucapan Maya menggantung, membuat Gendis menoleh ke arah Maya yang berada di sebelah kanannya.
"kemarin, kemana aja sama Doni?" tanya Maya, melanjutkan membahas rasa penasarannya itu.
"nggak kemana-mana, kan hujan. Dia ngajak neduh di warteg, sambil minum teh anget," jawab Gendis, menjelaskan pertanyaan sahabatnya ini.
"yaelah Doni, nggak romantis banget sih. Masa, ngajak cewek ke warteg," komen Maya.
"ke restoran kek gitu." imbuh Maya lagi.
"kenapa nggak sekalian aja, minum wedang jahe di pinggir jalan, di bawah pohon cemara," tandas Maya, baru berhenti menyerocos.
Gendis lalu menyentil dahi Maya, karena terlalu berisik dan terdengar matre.
"lagi hujan May, tempat neduh terdekat cuma warteg, dan di situ juga posisinya maag gue udah kumat," ucap Gendis menimpali.
"Owh … lagi hujan." Maya meledek Gendis, dengan menampakkan senyuman pula.
"udah siih Ndis, Doni tuh baik, dia juga belum pernah pacaran, siapa tau aja lo bisa jadi cinta pertamanya dia," ucap Maya, mulai memperomosikan Doni.
"May!" tegur Gendis.
"iih … lo gitu sih, buka hati lo buat cowok lain Ndis, biar lo bisa lupain tuh si Adam," ucap Maya, menasihati.
"jangan mulai ngebahas Adam deh May." sewot Gendis, yang langsung menampakkan wajah sebalnya.
"lagian, lo gue tawarin sama Doni nggak mau," ucap Maya lagi, masih kekeh mau menjodohkan Doni ke Gendis.
"lagian juga, apa sih yang bikin lo suka ke Adam?"
"Adam juga sama kayak Don, cakepan Doni malah." lanjut Maya, malah membanding-bandingkan.
__ADS_1
"udah gitu, kalian seagama," ucap Maya menimpali lagi.
Saran Maya, sebelumnya memang ada benarnya. Namun, kalau sudah membanding-bandingkan antara yang lama dengan yang baru. Pastinya, tetap ada kekurangannya masing-masing.
Gendis, baru aja patah hati. Dia jelas masih sakit hati, untuk memulai mengenal orang baru lagi. Apalagi, tetap ada perbedaan yang mencolok diantara mereka.
"lo kenapa bisa suka sama sepupu gue, padahal kan kalian juga beda agama?" Gendis langsung meninggikan nada bicara, karena Maya membuat perbandingan antara Adam dan Doni.
"Ya ... namanya perasaan Ndis," ucap Maya canggung, saat menjawabi petanyaan Gendis.
Yang tanpa sadar, Maya sudah menjawabi pertanyaannya sendiri, yang ia ajukan ke Gendis tadi.
Gendis pun langsung menimpali, "itu udah taukan, jawabannya."
"kenapa juga lo malah ngebandingin antara kak Doni dan Adam, dengan perasaan gue, terus, pakai ditambahin sama perbedaan keyakinan lagi."
"gue juga tau diri lah May," ucap Gendis lagi dan membuat Maya yang kali ini ke sulut emosi, karena dikiranya, Gendis sedang menyindirnya.
"jadi maksud lo, gue nggak tau diri gitu, karena pacaran sama Nover?"
Gendis malah dibuat tertawa terpingkal-pingkal, dan menjelaskan maksud perkataannya tadi, yang disalah artikan oleh sahabatnya ini.
"bukan itu May, itu sih terserah lo, karena lo memang nggak punya malu," ledek Gendis mulai menenangkan suasana, karena ucapannnya Gendis tadi, bikin Maya yang merasa kesindir, padahal Gendis nggak bermaksud menyindir Maya.
"kalau lo mau pakai perbandingan, coba lo bandingin antara nyokap gue yang pegawai swasta, bokap gue yang kerja di percetakan. Dengan orang tuanya kak Doni, yang seorang pengusaha kaya raya."
"gue nggak mikir panjang, soal hubungan gue sama kak Doni, May. Punya temen kayak kak Doni aja, gue udah bersyukur banget." imbuh Gendis, menambahkan alasanya menolak Doni.
"kan kalau lo bisa jadian sama Doni, bisa memperbaiki keturunan Ndis," ucap Maya, menimpali.
Hahahaha ....
Gendis sampai tertawa terbahak-bahak, karena ucapan sahabatnya ini. Sebelum Maya nantinya emosi, karena Gendis malah mengetawainya. Gendis pun, langsung menjelaskan alasannya mengetawai komentar Maya tadi.
"eh May, lo itu kebanyakan nonton sinetron deeh."
"kita tuh masih anak smp, baru 12 bulan yang lalu, kita lulus SD. Pikiran lo udah kemana tau," ucap Gendis, sengaja melebih-lebihkan, supaya Maya nggak makin kesal, karena Gendis menasihatinya.
"jalan kita masih panjang May," ucap Gendis lagi.
"kak Doni itu, cuman seorang kakak buat gue, dan nggak lebih, apalagi berharap jadi pacanya." imbuh Gendis, sekaligus mengakhiri penjelasan panjangnya.
__ADS_1
"seumpama, Doni nembak lo dan beneran suka sama lo, lo gimana?" tanya Maya memastikan.
Gendis malah tersenyum, lalu mnjelaskan arti senyumannya itu, "nggak gimana-gimana May, karena itu nggak mungkin!"
"lo tuh! Jadi cewek peka dong Ndis, kemungkinan itu pasti ada. Makanya, jangan temenan sama power ranger lo terus, biar pikiran lo tuh makin maju," ucap Maya, kembali menasihati.
"temanan sama mereka, cuman disibukin sama bercanda, dan nggak tau kayak apa di luar sana. Kayak macemnya pertemanannya Nover dan temen-temennya."
"kita tuh harus punya wawasan luas, biar nggak dibilang kampungan," ucap Maya lagi, yang memang lebih terbuka pemikirannya daripada Gendis.
Selain Maya cerewet, dan kadang-kadang bisa berpikir dewasa. Maya juga jenis cewek yang nggak monoton, dan suka hal-hal baru yang membuatnya bisa mengenal sesuatu, yang sebelumnya nggak dia ketahui.
Berbeda dari Gendis, yang belum mau menerima perubahan, di umurnya yang masih mau puas-puasin main.
Gendis, hanya mengikuti alurnya, dan masih menikmati keadaan yang sekarang dengan teman-teman yang ia percaya sejak kecil.
Gendis juga sempat melihat perlakuan Oliv, yang menunjukkan ketidak sukaannya secara terang-terangan ke Gendis dan Maya. Dia menyadari keberadaannya di tempat yang tidak semestinya, dan dikalangan yang berbeda jauh dengan pandangan pertemannya selama ini.
Arti katanya, Gendis sadar diri. Karena memang tempat ternyaman, yang mengerti satu sama lain. Dan yang bisa ia nikmati, tanpa adanya orang yang sifatnya seperti Oliv. Ya memang, hanya ada saat Gendis bersama, dengan teman-teman power rangernya dan juga dengan Maya.
"udah ah, pulang gih sana! Gue ngantuk," ucap Gendis, mengalihkan pembicaraan, yang sebenernya membuat Gendis stuck untuk membalas ucapannya Maya.
Karena sudah malam juga, obrolan mereka nggak akan pernah selesai dan semakin memanas, kalau Gendis nggak mengakhirinya lebih dulu.
"Wah! lo ngusir gue nih Ndis?" tegur Maya.
"nggak ngusir May, berhubung udah malem dan gue ngantuk berat, serta badan gue juga lagi nggak fit. Jadi sebaiknya, lo pulang aja ya, May." cerocos Gendis dengan bernada halus, untuk meyakinkan Maya, kalau dia nggak berniat mengusir sahabatnya ini.
"kalau gue nginep, boleh nggak?" Maya merayu, masih belum mengerti sama keinginannya Gendis yang menginginkan ketenangan.
"nggak!" jawab Gendis dengan tegas.
"Yaah … Gendis," ucap Maya, bersikeras merayu.
"lo kan udah nginep di rumah Nover, May. Nggak takut diomelin bokap lo apa?" timpal Gendis, mengingatkan dengan alasan pengalihannya itu.
"justru bapak abis marah-marah," ucap Maya, sambil nyengir.
Gendis bales nyengir juga, tapi kemudian menggelengkan kepalanya dan memberikan penjelasan lagi ke Maya.
"kalau gue lagi sehat sih nggak pa-pa May, kan lo tau kondisi gue yang lagi sakit. Kalau sampai tidur sama lo, dalam kondisi yang nggak berdaya gini. Bisa nambah penyakit, karena ditendangin lo."
__ADS_1
Maya terlihat kecewa, sampai manyun 2 centi dan terpaksa pulang, karena penolakan Gendis.
...----------------...