
Jam menunjukkan pkl 07:15. Sepulang Gendis dari toko buku, Gendis kaget karena Bundanya sudah ada di rumah. Padahal biasanya, Bundanya akan pulang larut malam.
"dari mana kamu Ndis? Jam segini baru pulang sekolah dan tidak mengabari Bunda. Handphone kamu rusak lagi Ndis?" tanya bu Ayu.
"iya Bun, dibikin rusak sama temen sekelas Gendis! Jatoh pas tadi lagi nelfon kak Doni," ucapnya mengadu.
"terus pulang sekolah, Gendis ke kantor pos buat ngirim diary ke kak Doni. Habis itu di jalan, Gendis baru inget kalau ada tugas, dan harus ke toko buku. Makanya nggak ngabarin Bunda, Gendis pikir juga Bunda biasanya pulang malem."
"ya sudah, tidak pa-pa Ndis, nanti kalau Ayah kamu punya rejeki. Beli lagi saja handphone baru, tidak perlu juga menagih ganti ke teman kamu itu."
"iya, males juga Gendis ngomongnya sama dia. Anaknya reseh, selalu gangguin Gendis di sekolah. Apalagi kalau Gendis lagi nelfon kak Doni, adaaaa aja ulahnya dia." cerocos Gendis antusias, sedang mengadu ke Bundanya.
"ya sudah, mandi sana. Lalu kita makan malam, dan nanti ada yang mau Bunda sampaikan ke kamu," ucap bu Ayu.
Gendis mandi lalu setelah itu mengambil makanan, dan duduk di ruang tamu, sambil menunggu Bundanya yang sedang mengurusi Jingga.
Bu Ayu kembali ke ruang tamu, ikut makan dengan Gendis sambil menyelingi membahas kegiatan di sekolahnya Gendis.
Setelah makanan mereka selesai, bu Ayupun langsung mengingat sesuatu.
"oh ya, Ndis. Bunda dari tadi mau sampaiin ke kamu, tapi Bunda baru ingat. Tadi Bunda ketemu sama Widi. Widi bilang, kalau Doni sudah balas pesan sms kamu."
Gendis langsung sumringah dan mau bangkit dari sofa, supaya bisa ke rumah Widi sekarang. Namun, bu Ayu langsung menahannya.
"kamu mau ke rumah Widi?"
"iya Bun, boleh ya? Sebentar aja, cuma mau bales smsnya kak Doni." jelas Gendis.
"sebelum itu, ada yang mau Bunda sampaikan ke kamu," ucap bu Ayu.
Wajah bu Ayu nampak sedih, beliau memegang kedua tangan putri sulungnya ini, lalu mulai menyampaikan informasi pada putrinya ini.
"Bunda minta maaf ya Ndis, untuk sementara ini, bayaran sekolah kamu nunggak dulu ya, Ndis?"
"iya, nggak pa-pa Bun. Banyak kok, temen-temen Gendis yang nunggak," ucapnya malah nggak serius, karena memang Gendis nggak merepotkan masalah itu. Toh juga menurutnya, masih banyak yang belum bayar sekolah, karena keterbatasan keuangan orang tuanya. Dan Gendis juga nggak memaksakan kedua orang tuanya, untuk selalu tepat waktu membayarkan sekolah, atau kebutuhan lainnya yang Gendis perlukan di sekolah.
__ADS_1
"benar tidak pa-pa Ndis?" bu Ayu memastikan, karena tetap saja beliau merasa malu karena tidak bisa bertanggung jawab mencukupi kebutuhan sekolah putrinya.
"iya Bunda, nggak pa-pa kok. Gendis juga ngerti, kalau Bunda juga harus bayar mbak Ani. Belum bayar listrik, belum bayar PAM, belum makan kita, terus ongkos juga. Belum Ayah juga harus bayar cicilan motor, sama biaya lainnya." dijawabi Gendis dengan sangat bijaksana.
"terima kasih ya nak, kamu mengerti kesusahan orang tua. Kamu juga tidak menuntut, harus beli ini, beli itu."
"untuk sementara juga, Bunda tidak memperpanjang mbak Ani." imbuh bu Ayu.
"terus nanti, Jingga siapa yang ngejagain?" tanya Gendis, mulai mengkhawatirkan adiknya.
"di kantor Bunda, ada pengurangan karyawan. Bunda diberi pilihan untuk dipindahkan ke Sukabumi, atau diistirahatkan sementara sampai kondisi keuangan perusahaan stabil."
"karena ada masalah di perusahaan. Jadi untuk sementara, Bunda yang jagain Jingga."
"jadi Bunda pilih nggak kerja?" tanya Gendis.
Bu Ayu menjelaskan, kalau beliau memilih berhenti bekerja untuk sementara waktu. Daripada nantinya, Jingga nggak ada yang mengurusi. Dan Gendis yang juga harus sekolah, ditambah lagi Bu Ayu harus stay di kantor cabang yang berada di Sukabumi.
Mendengar kesulitan yang tengah dihadapi Bundanya, Gendis pun mengurungkan niatnya untuk ke rumah Widi. Gendis lebih kepingin menemani Bundanya, meskipun pikirannya juga bercabang memikirkan keadaan Doni.
Padahal sebenarnya, Doni memang mengharapkan Gendis bisa mengabarinya secepat mungkin. Dalam kondisi seperti ini, Doni hanya ingin mendengarkan suara Gendis, meskipun nantinya dia harus menutupi masalah yang sedang ia hadapi.
Setelah dirasa aman, Doni pun datang ke hotel yang sudah dibicarakan tadi. Dia secara langsung bertemu dengan Ibu dari sahabatnya itu, lalu menjelaskan niatnya menitipkan paket untuk sahabatnya. Tanpa menceritakan, permasalahan yang terjadi pada dirinya.
Doni langsung pergi, untuk mengantisipasi keberadaannya yang bisa saja dilacak orang tuanya.
Dan benar saja, Doni tertangkap dan langsung dibawa pulang ke rumahnya.
...----------------...
Di SMP 24, setiba Gendis di sekolah. Widi langsung memberi unjuk SMS dari Doni, dan mereka pun bisa telfon-telfonan lagi dengan bantuan Widi yang meminjamkan handphone-nya.
Doni berusaha tenang, karena ada masalah yang sedang dirahasiakannya.
Beberapa jam yang lalu, saat Doni akhirnya diketemukan. Kedua orang tua Doni, langsung memberikan pilihan sulit untuk Doni ambil.
__ADS_1
"silahkan, kamu bisa pilih yang mana yang terbaik menurut kamu. Kamu bisa terus berpacaran dengan Gendis, tapi kedua orang tuanya akan Mama miskinkan!"
"Mama!" Doni sampai berteriak dan menggebarak meja, jelas nggak terima dengan keputusan yang Mamanya ambil.
Sambil mengedarkan pandangannya, ke kedua orang tuanya. Doni melanjutkan ucapannya, dan tidak perduli dituduh membangkang.
"Ma, salah Gendis apa, sampai Mama setega ini sama Gendis? Doni hanya jatuh cinta sama Gendis, Ma-Pa." tutur Doni, tanpa sadar air matanya menetes di depan kedua orang tuanya.
"tidak ada toleransi lagi Doni, putus dari Gendis? Atau ayahnya Gendis, akan Papa dan Mama buat kehilangan pekerjaan seperti Bundanya!" papar pak Yosua dengan tegas.
Doni tidak mengira, sampai Mama dan Papanya begitu kejam. Jauh lebih kejam, daripada bayangan Doni tentang lelaki tua, yang biasa dipanggilnya Ojiisan.
"Mama beri waktu sampai besok, kalau besok kamu belum memutuskan hubungan kamu dengan Gendis. Mama akan pakai cara kedua, ketiga, bahkan beribu cara, untuk membuat kamu memutuskan hubungan kamu dengan Gendis!"
Bayangan Doni akan kejadian beberapa jam lalu, membuatnya nggak konsen berbicara dengan Gendis, sampai Gendis berkali-kali memanggil Doni. Barulah, Doni bereaksi.
"kak Doni lagi mikirin apa? Kok diem aja dari tadi Gendis tanya," ucapnya.
"maaf, kak Doni lagi kangen banget ke kamu, Ndis. Sampai nggak fokus kamu tanya apa. Dan cuma mau dengerin suara kamu aja." Doni jelas berbohong, karena belum mau menjelaskan alasan yang sebenarnya terjadi.
"kak Doni nggak sendirian kok, Gendis juga kangen banget sama kak Doni. Tapi kita juga harus sama-sama sabar kak, kan libur sekolah masih lama." cerocos Gendis, sedang memberikan semangat ke Doni.
"oh iya, Gendis kemaren, udah kirim paket ke Italia. Diary-nya udah Gendis kirimin ke tempat kak Doni." lanjut Gendis, antusias menyampaikannya ke Doni.
Doni menarik nafasnya, mengatur supaya nggak menunjukkan kalau dia habis menangis.
"kak Doni juga, udah." jelas Doni singkat, karena suaranya yang harus ditutupi dari Gendis, takut Gendis ngeh kalau Doni masih sedih.
"kak Doni ngantuk ya? Suara kak Doni juga serek, kak Doni lagi nggak enak badan?"
"iya, cuma sedikit kok. Lagi nggak enak badan, tapi kak Doni nggak pa-pa kok Ndis, kamu nggak perlu khawatir."
"kak Doni istirahat aja deh, nanti istirahat kedua. Gendis telfon lagi pakai hapenya Widi," ucap Gendis.
Gendis memilih mengakhiri panggilan telfon, karena memang nggak mau Doni sakit, apalagi kondisinya mereka sama-sama berjauhan.
__ADS_1
Doni pun memilih mengiyakan saran dari Gendis, karena percuma dilanjutkan, sementara memang Doni masih berat menyampaikannya ke Gendis.
...----------------...