Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
26. Hadiah Ulang Tahun Terspesial


__ADS_3

Sudah 4 hari, Gendis dan kawan-kawannya menghabiskan waktu liburan mereka di Garut.


Kampung halamannya Didot cukup dekat dengan pantai, membuat teman-temannya Didot selalu merindukan liburan mereka, dengan kegiatan yang selalu seru untuk dilakukan. Dan pastinya, kegiatan itu nggak bisa mereka lakukan di Jakarta.


Dari membuat tenda di pinggir pantai, memancing ikan lalu dibakar dan seru-seruan lainnya di pantai, benar-benar memanfaatkan liburan sekolah, setelah berjibaku dengan tugas sekolah.


Selama liburan, hubungan Gendis dan Doni juga tetap terjalin lewat telfon. Doni juga nggak cemburu, atau melarang Gendis berkumpul dengan teman-temannya di saat liburan. Yang terpenting, mereka masih bisa saling kasih kabar.


Kali ini, Gendis duduk di atas pasir pantai, sambil melihat deburan ombak dan ditemani Doni di line telfonnya. Gendis sedang menghindar dari keisengan Ade dan juga Widi seperti biasanya. Gendis malas meladeni ulah mereka, yang dialihkan Gendis dengan menelfon Doni, untuk menanyakan kabar pacarnya itu.


"kamu nggak lupa pakai jaket kan Ndis?" tanya Doni memastikan.


"iya kak, Gendis pakai kaos lengan panjang sama jaket juga kok." dijawabi Gendis, sambil menuliskan namanya dan juga nama Doni di atas pasir pantai.


"kamu nggak lupa makan juga kan Ndis? Jangan kumat lagi ya, maagnya," ucap Doni mengingatkan Gendis.


"iya kak Doni, kakak tuh lebih bawel ya ternyata, dari orang bawel yang ada di rumah." ledek Gendis, tanpa mengucapkan siapa yang dia maksud, yang sudah dipastikan Bundanya sendiri.


Doni hanya tersenyum.


"di sini mulai mendung kak, di sana gimana?" tanya Gendis, berusaha mencari topik pembicaraan.


"di sini kangen nih, sama yang di situ," jawab Doni, sampai bikin pipinya Gendis memerah.


"padahal, setiap hari kita telfon-telfonan ya kak? Kok masih tetep kangen ya?" ledek Gendis.


"nggak cukup hanya denger suara aja Ndis, wujudnya juga perlu dilihat." timpal Doni membalasi ledekan Gendis.


"yaudah, malam ini Gendis pulang aja deh, terus nemuin kak Doni," ucap Gendis, memberikan ide.


"nggak perlu nemuin Ndis, kak Doni cuma mau tau, kamu kangen juga apa nggak?" tanya Doni, yang sebenarnya hanya ingin mengusili Gendis yang terkenal pemalu.


"kak Doni lagi di mana?" tanya Gendis, yang malah nggak bisa jawab pertanyaan mudah yang Doni ajukan, dia lebih memilih mengalihkan.


Doni tersenyum dan mengusili Gendis lagi.


"di belakang kamu," jawab pacarnya Gendis ini, sambil tersenyum.


Gendis langsung menengok secepat kilat, mempercayai dengan mudah ucapan Doni yang justru cuma iseng.


"bohong!" komentar Gendis membuat Doni tertawa terbahak-bahak, mendengar responnya Gendis yang nggak percaya.


"barusan, kamu habis nengok kan, nyariin kak Doni?" ledek Doni lagi.

__ADS_1


"nggak!" jawab Gendis terdengaar tegas, padahal aslinya Gendis malu banget.


"bohong tuh …." ledek Doni.


"iih … reseh, serius apa kak, sekarang kak Doni lagi ada di mana?" tanya Gendis mengalihkan.


"lagi di dalam mobil," ucap Doni menjawabi, sembari tersenyum memandang ke arah kaca.


"ngapain di mobil kak, emangnya kakak mau pergi ke mana?" tanya Gendis penasaran, sekaligus juga mengalihkan perasaannya yang masih malu karena Doni meledeknya.


Gendis belum mendapatkan jawaban dari Doni, ciri-ciri cuaca yang sebelumnya sudah Gendis sampaikan ke Doni tadi. Mulai berubah, dari mendung menjadi hujan. Membuat Gendis kelimpungan mencari tempat berteduh, dan berlari menghampiri pohon kelapa.


Setelah Gendis sampai, Gendis dibuat terkejut saat ada payung di atas kepalanya. Gendis pun langsung berbalik, dilihatnya Doni di hadapannya.


"kok diem aja, ini beneran kak Doni loh," ucapnya meyakinkan Gendis.


"kak Doni dari tadi di sini?" tanya Gendis masih nggak percaya.


"iya, kan tadi juga kak Doni udah bilang. Eh, kamu malah nggak percaya." Doni menjawabi, sambil mengusap rambut Gendis pakai lengan jaketnya, untuk mengeringkan tetesan air hujan yang sempat mengguyur rambut pacarnya ini.


"kita berteduh di mobil aja yuk, bahaya berteduh di bawah pohon." ajak Doni, sambil tangan kanannya menggandeng tangan Gendis, sementara tangan kirinya tetap memegang payung.


Gendis masih belum percaya, sama kedatangannya Doni. Ia sampai memastikan, takut dikira mimpi di siang bolong. Gendis pun mencubit tangan Doni, sebagai cara untuk memastikan dirinya, kalau Doni beneran menyusulnya ke Garut.


"iya beneran ini kak Doni, kirain Gendis ngimpi." katanya sambil terkekeh.


Doni pun nggak mau mengalah, dan membalas mencubit pipi Gendis.


Gendis terus merintih, sambil meminta melepaskan tangan Doni dari pipinya, dan Doni malah mencium kening Gendis.


Gendis melirik ke arah kursi kemudi, di situ masih ada supirnya Doni, tapi Doni malah nggak canggung mesra-mesraan di depan supirnya.


"Happy birth day ya Gendis," ucap Doni tiba-tiba, dan bikin Gendis teralihkan sama kecanggungannya.


Gendis menarik alisnya, ia terkejut kalau Doni tau hari ulang tahunnya.


"makasih ya kak." diucapkan Gendis, seraya tersenyum sumringah.


"kak Doni tau dari mana, kalau hari ini Gendis ulang tahun?" lanjut Gendis, kali ini mengajukan pertanyaan ke Doni.


"semalam kak Doni baru sampai dari Bandung, terus langsung main ke rumahnya Nover, karena keinget sama ulang tahunnya Ferrel. Terus Ferrel bilang, kalau ulang tahun kalian barengan, makanya kak Doni langsung ke sini dan nggak taunya malah sampai di sini jam 12 siang." Doni menjelaskannya dengan antusias, seraya memegang tangan Gendis.


Jam berapa pun Doni sampai, nggak masalah buat Gendis, karena kehadirannya Doni sudah jadi kado terindah bagi Gendis.

__ADS_1


Doni menarik Gendis dan membetulkan posisi duduk mereka, dan mengambil polaroit dari kursi depan dan meminta supirnya Doni untuk mengambil gambar.


"maaf ya, kak Doni nggak nyiapin kado apa-apa. Foto ini, kado sementara dari kak Doni ya. Sampai nanti kamu sampai di Jakarta, kak Doni bakalan bikinin kamu acara spesial, plus kado juga." ujar Doni, sekaligus menjanjikan.


Gendis pun merekahkan senyumannya, dia terharu dengan kehadiran Doni yang masih menyempatkan waktu, datang jauh-jauh dari Jakarta. Sampai masih mau menjanjikan kado lain, karena menurut Doni, kado yang ia berikan ke Gendis belum sempurna.


Berkat Ferrel, yang juga berulang tahun di hari yang sama dengan Gendis. Keduanya bisa bertemu di Garut, membuat Gendis merasa dispesialkan oleh kekasihnya yang juga masih duduk di bangku smp.


Gendis tidak pernah mengira kalau perjalanan cintanya, diumurnya yang saat ini genap 13 tahun, bisa bertemu dengan Doni yang begitu mencintainya. Yang pastinya, ada harapan yang ingin Gendis raih, setelah melihat perhatian Doni.


"kamu kenapa Ndis? Kok diem aja?" tanya Doni memastikan.


Gendis menggeleng sembari menampakkan senyuman tipisnya, matanya memandang lekat-lekat ke arah bola mata Doni, seraya bermonolog di dalam hatinya, "Gendis sayang banget sama kak Doni, Gendis bahagia banget bisa kenal sama kak Doni. Gendis harap, kita bisa terus bersama sampai kapanpun juga."


"terima kasih banyak ya kak, udah dateng ke hidup Gendis." Gendis sengaja mengucapkannya, supaya Doni nggak khawatir karena diamnya tadi.


Doni menganggukkan kepalanya, memberikan juga sentuhan halus di rambut Gendis.


Hujan sudah reda, Gendis pun mengajak Doni mampir ke rumah Didot.


Nggak taunya, keluarganya Didot juga menyiapkan kejutan untuk Gendis. Gendis dibuatkan nasi kuning, dan juga kue tart.


Kebahagiaan Gendis semakin komplit, melihat usaha semua orang yang ada di dekatnya untuk membahagiakannya di hari ulang tahunnya.


"Wilujeng tipang taun nyaa Ndis," ucap Didot, sambil memegang kue tart.


Widi, Ade, dan Bejo juga menambahkan, "selamat ulang tahun Gendis, " lalu setelahnya, mereka meniup terompet kecil untuk meramaikan acara ulang tahunnya Gendis.


"eleh … eleh, Gendis bawa kabogoh kmari," ucap Ambunya Didot, mengomentari kedatangan Doni.


Wajah Gendis memerah, mendengar ucapan yang disampaikan bu Hesti. Untuk mengalihkan perasaan malunya, Gendis pun langsung mengenalkan Doni ke bu Hesti.


Bu Hesti, ikut senang melihat Doni, apalagi bisa berkomunikasi dengan bahasa Sunda. Setelah bu Hesti dikenalkan dengan Doni, beliaupun pamit ke dapur untuk menyiapkan makanan lainnya.


Gendis langsung teralihkan dengan para power rangernya.


"sengaja ya pada bikin gue marah, biar gue nggak tau kalau kalian mau bikin kejutan." sindir Gendis.


Sindiran Gendis, membuat Ade dan Widi langsung memeluknya, sambil meminta maaf.


Kemudian diikuti Bejo, dan juga Didot yang langsung merangkul Gendis, setelah keduanya meminta izin ke Doni.


Doni nggak mempermasalahkan, apalagi cemburu. Karena Doni tau, mereka memang bersahabat sejak kecil.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2