Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
18. Kebetulan Bertemu


__ADS_3

Sementara Doni, justru nggak mengikuti saran dari Nover. Dia nekat mengejar Gendis karena menurutnya, cara yang Nover kasih malah bikin Gendis lupa sama dia.


Doni nggak menangkap maksud Nover yang sebenarnya. Padahal, Nover mau lihat, apakah Gendis merasa kehilangan kalau Doni nggak ada, dan dengan sendirinya perasaannya Gendis timbul untuk Doni.


Doni yang nggak sabaran, sampai menunggu Gendis sepulang sekolah, di tempat biasa Doni menunggu Gendis. Tapi, karena aksi nekatnya Doni ketahuan sama Nover, Nover pun langsung mengabari Maya, supaya ngasih tau Gendis, biar Gendis bisa kabur dari Doni.


"terus, gue harus gimana May?" tanya Gendis panik.


Maya malah menggelengkan kepalanya, dia juga nggak bisa membantu Gendis.


Gendis yang panik, akhirnya meminta bantuan Bejo, yang paling mengerti kalau ada masalah kayak gini. Mereka sampai lewatin rute yang justru lebih jauh dari biasanya, cuma untuk ngehindar dari Doni.


Untungnya juga, Doni nggak nekat nunggu Gendis di gang rumahnya, karena Doni juga nggak mau ketahuan Nover kalau dia maksain ketemuan sama Gendis di rumahnya.


...----------------...


Sudah 2 minggu, Doni yang makin nggak sabaran, ditambah Gendis tipe cewek yang cuek, dia juga ngikutin sesuai skenario Maya yang jelas gagal total buat Doni, dan malah bikin Doni makin penasaran sama Gendis.


Doni nekat ngejemput Gendis di gelanggang renang, karena Doni tau Gendis ada pengambilan nilai renang. Ini kesempatan bagi Doni, untuk flashback kejadian di awal pertemuan mereka.


Doni mencari momen yang pas, setelah tau Gendis sudah selesai pengambilan nilai. Doni pun melancarkan idenya, menghampiri Gendis yang pas banget lagi ada di dalam kolam dan Doni sudah berdiri di depan Gendis, seakan Gendis yang menabrak Doni.


"aaa ...." rintih keduanya, karena dahi mereka beradu.


Doni sampai rela jedotan, supaya bisa melihat Gendis, dan Gendis merespon perasaannya.


"kamu nggak pa-pa?" tanya Doni, sambil menutupi mukanya dengan pura-pura mengusap kepalanya yang kesakitan.


"ya jelas nggak lah!!" jawab Gendis ketus, sambil mengusap kepalanya yang juga kesakitan.


Gendis belum sadar, kalau cowok yang di hadapannya justru Doni.


"sorry," ucap Doni sambil mengulurkan tangannya.


Gendis membalas uluran tangan Doni, sambil mengangguk dan nggak mengucapkan kata apapun, lalu Gendis mengangkat kepalanya.


"kak Doni!" ucap Gendis kaget.


"Gendis, kamu?" Doni pura-pura kaget.


"GENDISSS! Bunda sudah bangunin kamu dari tadi nak, kamu itu jadi atletik nggak, nanti temen-temen kamu jemput, kamu belum ngapa-ngapain!" tegur bu Ayu.


Gendis tertawa setelah Bunda nya pergi, dia merasa pertemuannya dengan Doni, seperti nyata. Tapi ternyata, pertemuan mereka justru hanya dalam mimpi.

__ADS_1


Gendis tiba di gelanggang renang, bareng keempat power rangernya dan juga Maya.


Setiba Gendis di tempat itu, Gendis langsung celingukan, dia takut mimpinya jadi kenyataan. Lalu bertemu dengan Doni, seperti di dalam mimpinya.


Selesai pengambilan Nilai, Gendis jadi nggak mau berenang lagi, dia keingetan mimpinya dan duduk-duduk menunggu Maya yang masih mengambil nilai.


Gendis memainkan kakinya di air, sambil memperhatikan teman-temannya.


Namun tiba-tiba, Widi, Didot dan Ade, datang mengusili Gendis. Ketiganya mendorong Gendis, tapi nggak lihat kalau di depan Gendis ada orang.


Gendis nyaris bertabrakan parah, kalau orang itu nggak segera menghindar. Orang itu pun langsung menolong Gendis yang panik, karena ulah iseng ketiga teman Gendis, membuat pernapasan Gendis kemasukan air. Air tersebut, masuk ke saluran pernapasannya, membuat pasokan oksigen ke pernapasan Gendis terhenti. Belum lagi kaki kanan Gendis kram, karena sebelumnya, Gendis memang lagi mainin kakinya.


Pertolongan pertama, Gendis langsung dibawa ke luar dari kolam, lalu punggungnya ditepuk-tepuk, supaya air yang masuk tadi bisa keluar, dan membantu sistem pernapasannya supaya bisa normal lagi.


"Ndis … Gendis … Sadar Ndis," ucap Widi dan Ade.


Sementara Gendis nggak membuka matanya sama sekali, ia terus berusaha mengatur napasnya, belum lagi Gendis terus memegangi pahanya yang kesakitan karena kram.


Kaki Gendis langsung dipegang untuk diurut, perlahan Gendis membuka matanya, setelah merasakan kalau kakinya sudah nggak kram lagi.


Kedua netra Gendis membulat, dilihatnya Adam yang sedang memijit kakinya.


"lo nggak pa-pa kan Ndis?" tanya Adam, lalu memegang tangan Gendis.


Adam menganggukkan kepalanya, ia menjelaskan alasannya memijat kaki Gendis, serta menjelaskan kejadian di dalam kolam renang tadi karena ulah Ade, Widi dan juga Didot.


Bukan siapa yang membuat Gendis celaka, tapi siapa yang ada saat insiden itu. Gendis hanya sekedar ingin tau, kalau tadi bukan Doni yang menyelamatkannya seperti di dalam mimpi.


Jalan Gendis masih terpincang-pincang, terasa sakit di pangkal pahanya. Gendis pun dibantu Dewi, teman sekelasnya yang langsung membawa Gendis ke ruang ganti.


Sambil menunggu temen-temennya yang masih pengambilan nilai, Gendis dipapah lagi ke warung makan.


"lo, gue tinggal ya Ndis. Soalnya bokap gue udah jemput," ucap Dewi.


Gendis menganggukkan kepalanya, kali ini Gendis berusaha sendiri, mengantri pesanannya, sambil menahan pahanya yang masih kaku.


Gendis menyapukan pandangannya, untuk mencari tempat duduk, yang rata-rata sudah penuh sama anak-anak basket.


"siniin piringnya."


Gendis menoleh dengan cepat, karena melihat piring dari tangannya, yang tiba-tiba direbut.


Dilihatnya Rezy yang tiba-tiba muncul, membawakan piring makan Gendis, yang dibawanya ke tempat duduk yang lumayan jauh, dari tempatnya memesan Siomay.

__ADS_1


"kok malah diem, ayok sini, duduk." teriak Rezy.


Gendis malah nggak bisa menggerakkkan kakinya, yang seketika nggak mau bergerak.


Tangan Gendis pun langsung dirangkuk Doni, dia berniat membantu Gendis berjalan.


"tolong pegangin mangkok gue, Bram." pinta Doni.


"kak, Do ni?" gumam Gendis sampai terbata-bata, saat menoleh ke sebelah kanannya.


Tatapan mata Gendis, menunjukkan kalau dia masih syok, karena kali ini dia benar-benar bertemu dengan Doni.


"makasih kak Bram, kak Rezy, kak Doni," ucap Gendis akhirnya, setelah sadar dari lamunannya.


"kaki kamu kenapa Ndis?" tanya Doni sambil membantu Gendis duduk.


"kram kak, abis berenang tadi," ucap Gendis terdengar canggung.


"makanya pemanasan dulu, sebelum berenang." celetuk Nover, sekaligus menasehati.


Gendis menghiraukan teguran Nover, pandangannya terus tertuju ke Doni.


"kenapa Ndis?" tanya Doni, yang sadar Gendis merhatiin dia dari tadi.


"nggak, eh ...." jawab Gendis, sambil menggeleng, tapi juga menggantung karena ada yang mau disampaikannya tapi juga ragu-ragu untuk menyampaikannya.


Doni menyimak, dan Gendis pun bertanya supaya nggak canggung.


"kak Doni, ada pengambilan nilai juga?"


Doni menggeleng, karena sedang mengunyah.


Selesai ngunyah, dia pun menjawabi pertanyaan Gendis, "setiap hari minggu, kita berlima punya jadwal main basket."


"lain kali ikutan nonton Ndis, seru loh. Apalagi nontonin kita main pas hujan-hujanan." imbuh Bram.


Gendis tersenyum.


"iya, ikutan aja. Biasanya Maya, juga ikutan." timpal Rezy.


Gendis mengangguk, ada perasaan puas saat mendengar jawaban dari Doni. Pertanyaan Gendis sengaja ia ajukan, karena sempat mengira, kalau pertemuan mereka diatur atau ada unsur kesengajaan, atau skenario Nover dan Maya.


Lewat jawaban Doni tadi, dan diyakinkan oleh Bram dan Rezy, menjelaskan juga kalau pertemuannya dengan Doni, memang kebetulan.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2