
"Delivery report: jam 9:14 sms terkirim ke kk Doni." diucapkan Ade dan Widi, secara bersamaan.
"WHAT?!" Gendis langsung berteriak, diikuti tampakkan wajahnya yang semakin panik, karena mendengar ucapan kedua sahabatnya itu.
"apaan sih Ndis, ngagetin aja!" ucap Bejo yang baru saja datang, karena baru selesai mengantri pesenan makan siangnya.
"tau nih, cuman delivery report aja panik banget gitu," ucap Ade, menimpali.
"akh! Lo sih Dot!" sewot Gendis malah menyalahkan Didot.
"llah kunaon si Gendis, malah nyalah keun Didot?" ucap Didot kebingungan.
Gendis diam, dia nggak membahas kejadian tadi sampai makananya habis.
"kak Doni siapa Ndis?" tanya Widi menyela.
Gendis semakin diam, bahkan pura-pura nggak mendengar pertanyaan Widi, sambil menyeruput teh manisnya.
"Ndis?" Widi memanggilnya dengan teriakan cukup keras.
"hmm … apaan?" tanya Gendis, masih mengalihkan.
"Doni siapa?" tanya Widi, mengulang pertanyaannya yang diacuhkan Gendis tadi.
Dan dengan sangat terpaksa, Gendis menceritakan siapa Doni, supaya teman-temannya nggak kebanyakan bertanya lagi.
"temennya sepupu gue tuh yang cowoknya Maya," jawab Gendis bertele-tele.
"kayaknya, nggak asing deh tu nama?" celetuk Ade, sambil mengingat-ingat.
"oooh ... yang itu bukan?" tanya Ade, masih menerka-nerka.
"yang waktu di warung siomay, pas kita di gelanggang renang. Ada cowok yang ngasih nomornya Doni, itu dia yang namanya Doni?" ucap Ade, yang akhirnya berhasil mengingat-ingat nama Doni, yang memang nggak asing di telingannya.
Gendis menganggukkan kepalanya, tapi juga langsung menjelaskan lagi, " kalau yang waktu itu bukan kak Doni, tapi kak Rezy."
"lo suka sama dia Ndis?" tukas Widi terang-terangan.
"masa iya secepet itu?" ujar Bejo, belum yakin.
__ADS_1
"siapa tau aja Jo, dia berubah pikiran," ucap Widi, menimpali lagi.
"nggak gitu kali, ini semua gara-gara Didot!" ucap Gendis sewot, lagi-lagi malah menyalahkan keteledoran Didot tadi.
"akh! … alesan aja lo Ndis, bener katanya Widi, siapa tau aja lo berubah pikiran. Dulu lo bilang nggak mau tukeran nomer hape, taunya sekarang malah smsan. Terus sekarang, lo bilang nggak suka. Taunya, nanti lo berubah pikiran lagi, dan malah ngejar-ngejar si kak Doni itu," ucap Ade panjang lebar, dan malah bikin Bejo, Widi, dan Didot senyum-senyum mendengar perkataan yang Ade sampaikan.
"pinter lo De." komen Bejo, sambil mengajak Ade high five.
Keduanya juga mulai menyunggingkan senyuman meledek, supaya Gendis mau menjelaskan, alasannya kenapa sampai dia mau mengabari Doni.
Gendis memandang kesal wajah para power rangernya, tapi setelah itu, Gendis memulai menjelaskan.
"gue sms dia, karena mau tau dia marah apa nggak. Kan kemaren, dia nungguin gue di rumah sampai setengah jam, tapi karena ada Adam, jadinya dia udah keburu pulang."
"oh, cowok yang itu Doni?" ucap keempatnya, serentak.
"yang mana?" tantang Gendis, karena merasa teman-temannya sok tau.
"yang habis Adam pergi, dia nongol dari gang rumah lo," ucap Bejo menjelaskan.
Gendis menganggukkan kepalanya.
"eh Ndis, ieu Doni bales," ucap Didot, memberitaukan.
Widi berhasil memegangi Gendis, Ade langsung merebut handphone Gendis dari Didot, dan pesan itupun dibacakan Ade dengan lantangnya.
9:20 [Hai juga Gendis, kak Doni sehat-sehat aja. Terus kamu, gimana keadaannya?]
Dan untung saja, Gendis berhasil merebut handphone-nya, lalu menghapus pesan yang Ade ketik, sebelum Ade mengiriminkan balasan sms ke Doni yang bertuliskan, [udah membaik kok kk, karena perhatian kakak ...]
"Tck!! Rusuh lo semua!" bentak Gendis, lalu bangun dari tempat duduknya, agar bisa menghindar dari power rangernya.
...----------------...
Gendis sudah berhasil membalas sms Doni tadi siang. Tapi, Doni belum juga membalas sms Gendis, yang malah membuat Gendis berpikiran, kalau Doni memang marah.
Dengan terpaksa, Gendis akhirnya meminta tolong ke Maya, untuk membantu menyelesaikan masalahnya dan juga sekalian curhat.
Maya sudah ada di kamar Gendis, mendengarkan cerita yang ingin Gendis curahkan ke sahabatnya ini.
__ADS_1
"jelas aja Ndis, Doni marah sama lo. Mana ada sih cowok yang mau nunggu lama-lama dan bela-belain dari Bandung ke Jakarta, cuma, buat cewek yang bukan siapa-siapanya," cerocos Maya sampai mempertegas setiap kata yang ia ucapkan, yang jelas terdengar menyalahkan Gendis.
Gendis menghela nafasnya, terlihat makin gusar saat ditambahi dengan ucapan Maya tadi.
"terus Adam?" ucap Maya, beralih ke pertanyaan.
"Adam ternyata suka juga ke gue, May." Gendis menjawabi pertanyaan Maya tadi.
"hah! Masa, terus Sinta apa kabarnya?" kaget Maya, merespon penjelasan Gendis tadi.
"baik-baik aja May," ucap Gendis mulai iseng.
"Gendis!!! Serius dikit kek, kali-kali." protes Maya, langsung bertampang kesal.
"gue kan penasaran," ucap Maya lagi, berharap Gendis serius dan buru-buru menjelaskan, karena Maya sudah benar-benar penasaran.
Gendis akhirnya menceritakan detail kejadian tentang Adam, sampai Doni datang, dan power rangernya Gendis juga sudah tau dengan masalahnya Gendis.
Maya nggak bereaksi apa-apa, dia diam karena menyimak cerita yang Gendis sampaikan. Lalu merespon sedikit dengan senyuman, dan kembali lagi menyimak perkataan Gendis, sampai Gendis mengakhiri penjelasannya.
"lo nggak bakalan ngelabrak Sinta lagi kan May?" tanya Gendis memastikan.
"gue nggak bakal ngelabrak Sinta, tapi lo yang bakalan gue labrak!" sergah Maya, seraya menyuntrung dahi Gendis.
"kok gue?" tanya Gendis bingung.
"lo bener-bener nggak peka ya Ndis, pantesan aja, Sinta ngebegoin lo!" ucap Maya yang bikin Gendis makin bingung, dan kebegoan Gendis pun malah semakin terlihat di mata Maya.
"Kok lo malah ngatain gue sih May!" ucap Gendis kesal, nggak terima dikatai oleh Maya.
"lo itu harus cangkok perasaan Ndis, supaya peka." Maya masih kesal dan malahan bikin Gendis nggak ngerti sama bahasa yang Maya ucapin.
Maya sebenernya cuma mau bilang, kalau Gendis memang nggak peka, sampai orang lain bisa membohongi dan memperdaya dia karena terlalu baik. Seharusnya Gendis bisa percaya diri, ketimbang percaya sama orang lain yang baru dikenalnya.
Maya berbicara bukan sebagai sahabat yang biasanya, sahabat yang baru berumur 13 tahun dan masih duduk di bangku SMP. Tapi Maya berbicara sebagai saudaranya Gendis, sebagai kakak tertuanya Gendis yang memberi tau adiknya, kalau Gendis seperti itu terus, bisa terus diperdaya karena kepolosannya.
Maya justru pulang, setelah membuat Gendis kelimpungan memikirkan perkataanya yang belum bisa ditangkap sama nalarnya Gendis.
Maya belum mau bilang secara langsung, kalau ada yang Maya rahasiakan dari Gendis yang memang masih polos. Maya sengaja membuat sahabatnya ini penasaran, dan memikirkan perkataan Maya tadi, yang bekali-kali mengatai Gendis yang nggak peka.
__ADS_1
Cinta bagi Gendis, memang belum sepenuhnya ada. Apalagi untuk Doni, karena perhatian Gendis masih terfokus ke Adam. Jadi percuma saja, kalau Maya mencerocosinya, dan ngebet menjodohkannya ke Doni, sebelum Gendis merelakan perasaannya dan melupakan Adam.
...----------------...