Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
34. Nama Yang Tidak Asing


__ADS_3

"Deka!"


Gendis menerka-nerka, ia merasa nggak asing dengan nama yang Widi ucapkan.


Widipun membuat Gendis mengalihkan lamunannya.


"ngapain sih, pagi-pagi gini udah pada berantem?" tanya Widi.


"temen lo nih Wid," ucap Deka dengan pedenya malah mengadu.


Gendis langsung pasang tampang kesal, dan mendorong bahu murid bernama Deka.


"eh! Nggak salah? Lo duluan yang bikin gara-gara!" sewot Gendis nggak terima disalahkan.


Widi langsung menarik Gendis supaya menjauh dari Deka, takutnya juga Deka nggak sabar menanggapi emosinya Gendis, dan malah main serang aja.


"ada apaan sih?" Bejo langsung menyela, supaya tau duduk permasalahannya.


Keduanya sama-sama nggak mau mengalah. Apalagi Gendis sudah mengklaim, kalau dia yang lebih dulu menempati kursi tersebut, walaupun hanya tasnya yang mendarat lebih dulu.


Mendengar penjelasan dari Deka dan juga Gendis, Didot langsung menasihati Gendis.


"lo waraskan Ndis? Ngalah ajalah!" Didot sengaja nggak mempergunakan bahasa Sunda, supaya Deka mengerti apa yang ia sampaikan.


Didot juga nggak suka ke Deka, karena jelas-jelas Gendis yang menemukan kursinya terlebih dulu. Meskipun Deka yang langsung menempati tempat duduk, yang sudah Gendis tandai.


"lo ngatain gue?" Deka, malah tersulut.


"lo ngerasa gue sindir?" Didot ikut bernada tinggi, tanpa memakai logatnya supaya mendandakan kalau ia benar-benar sedang marah.


"udahlah, nggak usah diperdebatkan lagi." Widi langsung menyela, tumben Widi nggak mengebu-gebu, padahal Gendis membutuhkan bantuan Widi yang terkenal sangar.


Gendis nggak terima, dan mengira kalau Widi membela Deka.


"udah! Nggak usah diperdebatkan lagi, Ndis!" Widi mengingatkan Gendis lagi, supaya nggak melawan.


"kenapa nggak duduk berdua aja sih, biar sama-sama bisa nempatin kursinya?" Ade langsung menimpali, membuat Gendis dan juga Deka tersulut emosi.


"ogah!" keduanya berkomentar secara bersamaan.


Deka juga sambil bangun dari kursinya.


"mending buat lo aja tuh!" ujar Deka, sambil melenggang meninggalkan kursi yang sempat dipertahankannya tadi.


Gendis dan para power rangers-nya, seketika heran dengan reaksi Deka.

__ADS_1


Kenapa nggak dari tadi aja, Ade muncul dan bikin Deka menyerah pindah dari tempat yang sebenernya memang sudah Gendis tempati.


"nggak jelas banget sih! Udah ngacak-ngacak mood gue, abis gitu nyerah gitu aja!" sewot Gendis, merasa sia-sia berdebat dengan murid bernama Deka.


"nggak dari tadi aja, pake cape-cape ngajak berdebat!" lanjut Gendis, meracau saking kesalnya.


Hampir saja, Gendis kehilangan kesempatan bisa menempati kursi dibarisan yang sudah ia bayangkan tadi..


"makasih ya, semuanya." Gendis berucap, sambil merekahkan senyumannya.


Keempat power rangers-nya Gendis, langsung menggangguk dengan serentak.


Tadinya, Ade dan Bejo mau nemuin Gendis di kelasnya, untuk memastikan kondisinya Gendis yang mereka pikir, Gendis hanya pura-pura menahan kesedihannya. Tapi nggak taunya, Gendis malah lagi berantem memperebutkan kursi.


"lo kenal Wid, sama anak tadi?" tanya Didot masih bernada marah, sampai nggak menggunakan bahasa Sunda.


"temen sekelas gue, di kelas 1." Widi menjawabi pertanyaan Didot.


"namanya nggak asing deh Wid," ucap Gendis menimpali.


"iya, diakan yang waktu itu nitipin boneka dari pengagum rahasia lo," jawab Widi.


"gimana sih Ndis? Bukannya, lo yang nanya sama gue, kenal sama Deka apa nggak? Terus lo jelasin kejadiannya ke gue," cerocos Widi lagi, sekaligus untuk mengingatkan Gendis yang pelupa.


Bejo, Didot, dan Ade, langsung memperhatikan Deka. Mereka juga penasaran dengan Deka, selain karena masih kesal dengan ulah Deka yang nggak mau mengalah.


Saking sibuknya Gendis dengan masalah yang sedang dialaminya, Gendis sampai lupa dengan pengagum rahasianya. Sampai lupa juga, sama Deka yang menjadi perantara mengantarkan boneka dari si pengagum rahasianya Gendis.


Seleha Gendis mengingatnya, iapun menyela obrolan.


"nggak ada yang mau duduk sama gue nih?" tanya Gendis, yang ditujukan untuk Widi dan Didot.


"lo aja Dot, gue duduk di belakang kalian," ucap Widi.


"oke, kalau gitu. Gue ke luar dulu ya?" Gendispun mengalihkan, sekaligus izin ke teman-temannya.


"mau ke mana?" tanya serempak para power rangers-nya Gendis.


"ke lapangan, mau nelfon kak Doni." jelas Gendis dengan sumringah, menjawabi pertanyaan teman-temannya.


Melihat Gendis yang sudah bisa melupakan pertengkarannya tadi, dan sudah mulai mengingat Doni lagi. Membuat teman-temannya Gendis merasa lega, karena Gendis bisa tersenyum lagi.


"titip Gendis Dot, Wid." Bejo langsung menimpali.


"pantau juga tu anak." Ade juga ikut menimpali, sembari mengarahkan wajahnya ke arah Deka.

__ADS_1


"tenang, aya Didot di dieu," ucapnya sembari menatap Deka, dengan tatapan tajam.


"iya, gue juga lagi mantau si Deka. Gue punya firasat, mereka berdua nggak akan akur selama sekelas." timpal Widi, ikut memperhatikan Deka.


...----------------...


"good morning Ndis?" sapa Doni terdengar senang, dari balik sambungan telfon.


Gendis membalasi sapaan Doni dengan sumringah dan antusias juga, dia juga langsung menanyai aktifitas Doni selanjutnya.


"hari ini kak Doni masih santai kok, besok baru mulai sekolah. Jadi hari ini, masih dikasih istirahat di rumah.


"gimana sekolah kamu?" Doni mengajukan pertanyaan balik ke Gendis.


Gendis pun menjelaskan, kalau dia sekelas dengan Widi dan juga Didot. Gendis sebenarnya mau menceritakan mengenai Deka. Tapi Gendis nggak mau membuat Doni khawatir, karena dia habis bertengkar dengan murid laki-laki.


"kak Doni, minta maaf sekali lagi ya Ndis. Setelah sampai di sini, kak Doni malah makin inget sama kamu." Doni tiba-tiba membahasnya lagi.


Mendengar ucapannya Doni, Gendis mencoba menahan air matanya, supaya bisa melupakan kepindahan Doni. Dan menganggap, kalau Doni sedang berlibur ke rumah Nini Annette.


"iya kak Doni, Gendis udah nggap pa-pa kok. Temen-temennya kak Doni banyak ngehibur Gendis," katanya, sembari menenangkan perasaan bersalahnya Doni.


"gimana sama diary-nya, udah banyak yang kamu isi?" tanya Doni mengalihkan.


Doni sengaja mengalihkan mengenai diary, untuk menutupi kesedihannya juga, karena mengingatkan mengenai kepindahannya ke Italia.


"mmm ... bingung nulisnya kak, karena Gendis nggak terbiasa nulis diary."


"sama, kak Doni juga nggak terbiasa. Tapi lumayan kok, jadi kayak nulis cerpen." ucapnya.


"kak Doni, kenapa nyaranin nulis diary? Kalau kakak juga nggak terbiasa?"


"kan kita dibatasi sama perbedaan waktu. Kalau kita sama-sama mau curhat, tapi karena udah malem dan nggak enak ganggu. Jadi bisa disampaiin lewat diary.


"soalnya kan ngobrol di telfon, juga terbatas karena durasi cerita di telfon nggak bisa banyak-banyak, apalagi lama-lama, karena punya kesibukan masing-masing sama sekolah."


"jadi ya, kak Doni pakai cara itu supaya kita masih bisa cerita. Dan nantinya, bisa jadi bahan obrolan di telfon," ucap Doni panjang lebar menjelaskan.


Gendis jadi keingetan masalah pengagum rahasianya, dia jadi punya ide untuk membahas mengenai pengagum rahasianya itu. Tanpa membuat Doni khawatir, karena diary-nya baru diberikan setelah 1 bulan kemudian.


"iya deh, nanti pulang sekolah, Gendis mau mulai nulis diary."


"iya, anggep aja kita lagi dapat tugas dari sekolah." timpal Doni.


Keduanya tersenyum, dan setelah sama-sama saling dukung.

__ADS_1


Gendis juga harus mengakhiri panggilan telfonnya, karena bel masuk sekolahpun berbunyi. Gendis nggak perlu masuk ke kelas lagi, dan tetap berada di lapangan. Karena pagi ini akan ada upacara bendera seperti biasanya, sekalian penyambutan murid baru yang akan menjadi adik-adik kelasnya Gendis.


...----------------...


__ADS_2