Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
43. I Love You Dari Hati Yang Terdalam


__ADS_3

Jam 12 di Jakarta, sementara jam 7 pagi di Italia. Doni dan Gendis melanjutkan obrolan mereka, yang terjeda karena kondisinya Doni yang Gendis pikir sedang sakit.


Gendis memilih mengobrol di koridor, karena di lapangan sedang hujan. Yang terpenting, Gendis hanya perlu menghindar dari Deka, yang memang dari tadi pagi Deka nyariin Gendis terus, untuk minta maaf soal kejadian rusaknya handphone Gendis.


Sementara Doni, dia sendiri masih merasakan kebingungan. Dan masih belum bisa menyampaikan keinginan kedua orang tuanya, untuk memutuskan hubungan dengan Gendis. Akhirnya, Doni memilih mengulur waktu lagi, supaya dia bisa menyampaikannya ke Gendis dan nggak mengecewakan Gendis.


Doni sengaja membahas mengenai pelajaran, supaya dia teralihkan sejenak dengan permasalahan yang harus di sampaikannya ke Gendis. Dan mengalihkan juga dari pertanyaannya Gendis, yang merasa kalau Doni lagi nggak enak badan.


"nilai Gendis masih belum sebagus nilainya kakak, iih."


"sok tau kamu, sekarang aja kak Doni harus bersosialisai lagi di sekolah baru. Jadi belum ada nilainya, dan belum ketahuan kalau nilainya bagus," ucap Doni.


"kan kak Doni pinter, pasti nanti nilainya rata-rata 7,5. Yah kalau Gendis mah di bawah rata-rata kak," ucapnya sambil dibawa lucu.


"belajar yang rajin dong, jangan berkecil hati, dan jangan pernah punya pikiran untuk nyerah, biar kamu bisa dapet nilai bagus kayak kak Doni."


"iya kak ...."


"jangan iya aja Gendis, kan kasihan kedua orang tua kamu udah bayar sekolah. Tapi kamunya malah nggak serius belajarnya," Doni tiba-tiba membahas perihal kedua orang tuanya Gendis, yang membuat Gendis mengingat masalah yang sedang dihadapi Bundanya.


"ndis?" panggil Doni, karena Gendis tiba-tiba diam.


"iya kak."


"kamu ada masalah? Kok diem aja?" Doni mengajukan pertanyaan, sengaja untuk mengorek informasi.


"iya kak, tapi nggak pa-pa kok," ucap Gendis, berusaha menutupi permasalahan yang sedang dihadapinya.


"Bunda dan Ayah kamu, nggak pa-pakan?" Doni kembali mengorek informasi, sekalian juga untuk mengetahui, apakah kedua orang tuanya hanya menggertaknya saja supaya benar-benar putus dari Gendis.


"Ayah-Bunda sehat-sehat aja kok kak." Gendis terdengar menjeda ucapannya.


"tapi?"


Doni berusaha sabar, karena Gendis masih mau menutupi masalah yang terjadi sama Bundanya. Tapi akhirnya, Gendis menyampaikannya juga ke Doni.


"Gendis kasihan sama Bunda. Bunda lagi diberhentikan dari kantornya, karena perusahaannya ada masalah keuangan. Tadinya Bunda mau dipindahin ke Sukabumi, tapi Bunda nolak karena bingung nggak ada yang jaga Gendis dan Jingga."


Degg!


Dada Doni terasa sakit, mendengar akhirnya Gendis menceritakan masalah yang terjadi pada Bundanya. Yang penyebabnya, nggak lain adalah kedua orang tuanya Doni sendiri.

__ADS_1


"love you dari hati yang terdalam," ucap Doni, menyela rasa sakit yang ia rasakan.


"love you too kak," ucap Gendis, menimpali tanpa merasakan malu didengar teman-temannya yang berlalu-lalang di sekitar tempat Gendis sedang menelfon.


"maaf ya, kak Doni nggak bisa di situ nemenin kamu di saat kamu butuh. Nemenin kamu cerita, nemenin kamu ketawa-ketawa, dan saat kamu nangis, kamu malah udah dihibur sama temen-temen deket kamu."


"iya, nggak perlu minta maaf juga kok kak." timpal Gendis.


"temen-temen Gendis, juga belum ada yang tau. Maya juga belum tau, soalnya nanti nyampe ke mas Nover. Belum nanti mas Nover sampaiin lagi ke Mamanya," ucap Gendis lagi.


"jadi baru kak Doni yang tau?"


"iya," jawab Gendis.


"kak Doni juga nggak perlu merasa bersalah, karena kondisi kita yang jauh. Kita kan jauh juga karena impian kakak, sebentar lagi juga kakak lulus SMP, terus ketemu liburan dan kita bisa ketemuan lagi," ucap Gendis, melanjutkan perkataan untuk menenangkan perasaan Doni, yang terus-terusan merasa bersalah.


Doni seharusnya bisa tersenyum, kalau saja keinginan Mama dan Papanya nggak memberatkannya. Penyemangat dari Gendis tadi, pasti membuat Doni antusias menunggu sampai waktunya mereka libur sekolah dan bisa temu kangen.


"maaf ya, karena kak Doni milih impian kakak, kita jadi jauh." suara Doni mulai berat, diikuti air matanya yang juga langsung menetes.


"iya ... nggak pa-pa kok, kak Doni tuh ngapain sih dari tadi minta maaf terus?"


"Kak Doni, nangis?" tanya Gendis, yang mulai khawatir, karena mendengar Doni menarik nafasnya yang terdengar susah.


"mmmmh ... ketahuan deh, maaf. Kak Doni jadi bikin kamu sedih denger kakak nangis."


"kamu jangan ikutan nangis ya, cukup kak Doni aja yang nangis, kak Doni emang harus dihukum karena udah buat komunikasi kita makin jauh, dan kita juga jadi susah ketemu."


Gendis merasakan hawa yang mulai sedih, bagaimana mungkin Gendis nggak nangis. Apalagi permasalahan di rumahnya, lalu ketambahan Doni yang malah tiba-tiba merengek merindukannya.


Gendis menyeka air matanya, mencoba menahan untuk nggak terdengar kalau Gendis sedang menangis.


"janji nggak nangis?" pinta Doni.


"iya, Gendis juga janji tetep sayang sama kak Doni."


"buktinya dong?" tanya Doni menyelingi, supaya bisa sama-sama melupakan kesedihan.


"i Love you kak Doni," ucap Gendis dan Gendis belum mendengar suara Doni yang masih menahan air matanya.


"love you too, Gendis."

__ADS_1


"yaudah, sebentar lagi mau bel masuk kelaskan? Lanjutin belajarnya ya, pacar tersayangnya kak Doni." ucapan Doni di telfon pun berakhir, karena jam istirahat Gendis juga sudah berakhir.


...----------------...


"belum juga kamu putuskan hubungan kamu dengan Gendis, Don?" pak Yosua menegur Doni, setelah melihat putranya mengakhiri panggilan telfon.


Padahal pak Yosua juga melihat, kalau putranya sedang menangis. Tapi hatinya tetap keras, bahkan nggak memperdulikan kondisi putranya yang sampai nggak mau makan karena dipaksa putus dari Gendis.


"mana tega Pa! Doni sampaikan kabar itu ke Gendis, sementara Doni dan Gendis jauh, belum lagi Bundanya dibuat nggak kerja karena keegoisan Papa dan Mama!"


"jangan mulai membangkang kamu, Don!" sergah pak Yosua.


"bagaimana Pa? Mama sudah sampai di Bandara nih!" ucap bu Destri, panik dan langsung menyela obrolan untuk memastikan ke suaminya.


Pak Yosua menggelengkan kepalanya, yang mengartikan kalau Doni belum juga mengakhiri hubungannya dengan Gendis.


"baik! Kamu sudah menantang Mamamu ini, Doni!" bu Destri kembali mengancam, lalu dipanggilnya sekretaris beliau.


"kita mulai rencana kedua," ucap bu Destri, sembari berjalan keluar kamar Doni.


Sementara pak Yosua langsung menyita handphone Doni, supaya putranya nggak bisa mengabari siapapun.


"Pa! Ma! Jangan sakitin Gendis! Doni nyerah Pa!" teriakan Doni pun nggak digubris kedua orang tuanya.


...----------------...


Jam menunjukkan pukul satu siang, lewat tiga puluh menit. Bel tanda pulang sekolah pun berbunyi.


Gendis keluar dari area sekolah, ditemani para power rangers-nya. Diikuti Maya juga, yang hanya bisa mengikuti Gendis sampai bertemu dengan Nover di tempat biasanya Nover menunggunya.


"kok rame banget?" ucap Gendis saat keluar dari pagar sekolah, dan langsung melihat Nover yang memboyong teman-temannya, terkecuali Rezy.


Nover jalan perlahan, menghampiri Gendis dan langsung memeluk adik sepupunya ini.


"mas Nover kenapa sih?" tanya Gendis, yang dibuat kebingungan dengan perlakuan kakak sepupunya ini.


"gue minta maaf, karena harus ngabarin berita ini ke lo. Dan maafin Doni juga ya." Nover berucap, tanpa Gendis sadari air mata sepupunya ini langsung rebas di bahu Gendis.


Gendis memperhatikan wajah teman-temannya Nover, yang menampakkan wajah sedihnya.


"Doni kecelakaan Ndis, dia meninggal di tempat."

__ADS_1


__ADS_2