
Gendis keluar dari kelasnya, dan langsung menghampiri Maya yang sudah menunggunya di depan kelasnya Gendis.
Maya penasaran, dengan murid bernama Deka, yang menurutnya sangat semena-mena sama Gendis. Sampai Maya berjanji mau menegur Deka, karena ulahnya ke Gendis.
"yang mana orangnya?" tanya Maya, setelah Gendis keluar dari kelas.
"tuh, yang lagi ngobrol sama guru." Gendis menjawabi.
"oke, tunggu sampai dia selesai ngobrol. Gue bakal negor tu anak!" ancam Maya, sambil menampakkan wajah marahnya.
Gendis tersenyum memperhatikan Maya yang sok pemberani, mau melabrak anak cowok.
Handphone Maya pun berdering, bertepatan dengan Deka yang selesai mengobrol dengan guru.
Niat Maya menegur Deka pun batal, dikarenakan Nover menelfonnya. Namun, Maya nggak kehabisan akal.
Kakak ipar, yang masih ogah diakui Gendis ini, tiba-tiba menarik tangan Gendis sambil sibuk mengobrol dengan Nover di telfon.
Di sinilah, ide Maya dilancar. Maya sengaja menabrak Deka, seakan kalau Maya sedang terburu-buru karena menerima telfon, dan juga sambil menarik Gendis.
Gendis tersenyum puas, walaupun niat Maya menegur Deka batal. Namun setidaknya, Maya punya ide lain untuk membalaskan dendam untuk ulah Deka ke Gendis.
Nggak disangka, Deka yang dipastikan nggak terima dengan perlakuan Maya tadi, langsung mengejar keduanya. Namun yang malah ditarik Deka, justru Gendis.
Tas Gendis ditariknya karena dipastikan Maya juga akan ikut berhenti, karena keduanya saling berpegangan tangan.
Deka langsung menghadang, membuat langkah kedua perempuan di hadapannya jelas terhenti.
"maksud lo apa, nabrak-nabrak gue tanpa minta maaf?" tegur Deka, malah mendorong bahu Gendis.
Gendis jelas nggak terima, dan malah membalas mendorong bahu Deka.
Maya langsung menghentikan aktifitasnya, tanpa menghiraukan Nover yang masih berbicara di line telfon.
"bukan Gendis yang nabrak lo, tapi gue!" tantang Maya, persis jagoan, dan langsung mengangkat lehernya, menandakan dia benar-benar menantang lawan bicaranya.
__ADS_1
Biarpun Maya lembek di depan Gendis, tapi Maya cukup berani menghadapi anak cowok, apalagi jenisnya macem Deka, yang seenak jidatnya memperlakukan perempuan dengan seenaknya.
"lo ada masalah sama gue? Sampai nabrak gue, dan nggak pakai maaf langsung lari gitu aja!" Deka jelas bingung, karena nggak mengenal Maya, atau punya masalah sama Maya, sampai Maya seenaknya memperlakukan Deka.
"nggak enakkan, kalau ada orang yang salah. Tapi nggak mau minta maaf, nggak enak jugakan. Lagi diem, tiba-tiba diganggu!" Maya menjelaskan unek-uneknya, yang dimaksudkan untuk membela Gendis.
Deka langsung melirik ke Gendis, yang malah santai memperhatikan sahabatnya yang malah asik dipertontonkan.
"ooh, lo bawa sekutu buat ngelawan gue?!" tunjuk Deka, dengan tatapan matanya yang menyiratkan kemarahan.
Gendis hanya menyeringai, malas menjawabi perkataan Deka. Yang seharusnya Deka sudah faham, apa yang sedang Gendis lakukan.
Tapi, Maya langsung menyela tudingan Deka tadi.
"gue yang berinisiatif mau ngebela Gendis, dari ketua kelas sok, macem lo!"
"Maya! Gendis!"
Kedua yang empunya nama pun menoleh, saat nama mereka dipanggil suara lelaki yang nggak asing di telinga mereka.
Nover langsung mematikan sambungan telfonnya, setelah menemukan keberadaan Maya yang dari tadi diajak mengobrol di telfon, tapi Maya malah sibuk sendiri karena niatnya, mau membalas perbuatannya Deka ke Gendis.
Nover mengalihkan pertengkaran keduanya, lalu memotong mengajukan pertanyaan.
"aku udah nunggu kamu di depan May, kasihan pak Erman mau pulang dan nungguin kalian lama banget." tegur Nover, malah memarahi Maya di depan Gendis dan juga Deka.
"lo juga, handphone lo kenapa nggak bisa ditelfon?" tanya Nover, kemarahannya berlanjut ke Gendis.
"lowbat," jawab Gendis singkat.
"ayok pulang," ucap Nover, tanpa menghiraukan Deka yang malah mau ditinggalkan begitu saja.
Deka nggak tinggal diam, dia menarik tangan Gendis supaya berhenti melangkah.
"urusan yang tadi belum selesai!"
__ADS_1
"urusan apaan nih?" Nover kembali mengalihkan pertanyaan.
"lo kalau mau bawa pulang cewek lo, silahkan aja. Urusan gue hanya sama Gendis!" Deka menjawabi Nover, tanpa tau hubungan Nover dengan Gendis.
Nover nggak tinggak diam, dia langsung meraih tangan Gendis. Tapi, Dekapun menepisnya.
"nggak usah sok jagoan dikandang orang, lo nggak tau siapa yang salah di sini." Deka benar-benar marah, sampai mendorong bahu Nover.
"nggak tau diri!" gumam Gendis sambil menyeringai, dan membalas menarik tangan Deka yang sehabis mendorong Nover tadi.
Saking aja para power rangers-nya Gendis udah pulang semua, karena Widi paling males kalau Gendis udah jalan sama Maya. Makanya dia ngajak yang lainnya, untuk pulang duluan tanpa harus nungguin Gendis. Kalau sampai mereka masih ada, Deka bakalan dibikin malu habis-habisan, karena saksi mata kesalahannya udah jelas banget di depan Widi, Ade, bejo dan Didot. Untungnya juga, Gendis nggak ngasih tau kejadian waktu istirahat tadi, yang bikin Gendis kesel sama ulah nggak sopannya Deka.
"gue nggak takut di kandang siapapun, makanya jelasin sejelas-jelasnya. Biar gue tau, dan nggak nuduh lo!" tegur Nover, meninggikan nada bicaranya.
"pastinya sih, salah ni cowok!" Maya pun ikut menegur Deka, dengan nada bicara yang juga menandakan kalau Maya kesal ke Deka.
"lo nggak sadar, kesalahan lo tadi ke gue apa? Nabrak gue tanpa minta maaf, habis itu malah kabur gitu aja!" Deka membalikkan tuduhan Maya tadi.
Nover langsung menengok ke Maya, meminta pertanggung jawaban Maya, setelah mendengar penjelasan dari Deka.
"kalau bukan karena perlakuan lo ke gue tadi, temen gue juga nggak akan berniat nyari gara-gara sama lo." Gendis menimpali, supaya Nover nggak makin menyudutkan Maya dengan ucapan yang baru aja keluar dari mulut Deka.
"gue nggak mau jelasin panjang lebar, karena akan memicu perkelahian. Kalau emang lo merasa bersalah sama gue, ya minta lah maaf. Kalau emang itu yang lo cari dari temen gue, dia juga bakalan minta maaf ke lo. Itupun, kalau lo menyadari ya, apa kesalahan lo tadi ke gue." Gendis menyerocos lagi, melanjutkan perkataannya tadi dan diakhiri dengan sindiran.
Handphone Nover berdering, tepat berada di tangannya, membuatnya langsung melirik layar handphonenya.
Nover pun menerima telfon dari pak Erman, supir yang mengantarnya. Ada obrolan antara Nover dengan pak Erman, yang diminta Nover untuk pulang lebih dulu, sementara Nover pulang naik taksi.
"gue nggak tau apa urusan lo sama adik gue, kalau emang mau lo selesaiin, selesaiin sekarang juga. Dan setelah itu, jangan buat gara-gara lagi sama Gendis!" Nover akhirnya menjelaskan hubungannya dengan Gendis, yang jelas membuat Deka langsung ciut mengetahui kalau Gendis punya kakak. Padahal selama ini yang Deka tau, Gendis anak sulung dan punya 1 orang saudara perempuan, dan itupun seorang adik.
"gue tunggu di depan gerbang sekolah, jangan lama-lama. Kasihan Doni nungguin kita," ucap Nover.
Mendengar nama Doni disebut, Gendis langsung terfokus ke informasi yang Nover sampaikan.
...----------------...
__ADS_1