Cinta Pertama Gendis

Cinta Pertama Gendis
29. Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"kenapa Ndis?" tanya Doni, karena melihat Gendis yang malah diam, mengira Gendis masih melakukan siasat untuk menangkapnya, supaya bisa membalaskan dendam saling perang butter cream.


"kak Doni, kenapa harus pergi sih?" tanya Gendis yang langsung menghampiri Doni.


Melihat Gendis bertampang muram, Doni nggak mundur, atau merasa curiga dengan Gendis. Doni juga langsung diperlihatkan isi sms yang sudah Gendis baca tadi.


Papa


3:56 [Surat pindah sekolah, sudah papa titipkan bu Poppy.]


3:56 [Tiket pesawat, visa, rumah tinggal dan kebutuhan kamu, sudah disiapkan. Besok, kamu berangkat ke Italia.]


3:57 [Ini pilihan yang kamu mau, menjadi pembalap dan sekolah di Italia.]


Gendis pun seketika menitihkan air matanya, jelas nggak tahan kalau dia dan Doni harus berpisah. Bukan Jakarta-Bandung, ataupun Jakarta-Garut. Tapi Jakarta-Italia.


Doni mengambil tissue untuk membersihkan sisa butter cream yang menempel di tangannya dan juga pipi nya Gendis, lalu mengambil tissue baru, untuk menghapus air matanya Gendis.


"jangan nangis dong." pinta Doni, hanya bisa menenangkan Gendis dan menyapukan air matanya Gendis yang menetes tanpa henti.


"gimana Gendis nggak nangis kak? Kita mau pisah, Gendis nggak mau pisah jauh dari kak Doni." diucapkan Gendis, sembari terisak.


"maafin kak Doni ya, kak Doni mau ngejar cita-cita kakak di Italia," ucapnya, sambil menyeka lagi air mata yang terus menetes di pipinya Gendis.


Nggak bisa dipungkiri, Doni juga terlihat sedih dari tatapannya ke Gendis, ada perasaan berat melepaskan Gendis dan nantinya harus berpacaran jarak jauh.


"kalau kak Doni malah mau ngejar cita-cita kakak ke Italia, kenapa kak Doni juga ngejar Gendis dan kita malah pisah kayak gini?" keluh Gendis.


Gendis jelas nggak terima, dengan keputusannya Doni yang tiba-tiba. Tapi juga Gendis nggak bisa egois, hanya mementingkan hubungannya dengan Doni saja. Padahal, ada yang harus Doni kejar juga, bukan hanya percintaan saja, tapi juga pendidikan dan impiannya Doni, yang mau menjadi pembalap profesional.


"ini udah pilihan kak Doni, Ndis. Dari kecil, kakak nggak dibolehin ngejar cita-cita jadi pembalap, kak Doni anak satu-satunya keluarga dan mereka maunya kak Doni nerusin perusahaan." Doni mengulang penjelasannya saat di Garut waktu itu, sekaligus mengingatkan ke Gendis, soal impiannya Doni yang terhalang karena harus melanjutkan perusahaan yang sudah dibangun oleh kedua orang tuanya.


"karena tiba-tiba orang tua kak Doni kasih izin, kak Doni jelas mau banget terima hadiah itu Ndis, ...." ucapan Doni dipotong sama Gendis.


"walaupun dengan pilihan, kita harus berpisah dan kak Doni harus sekolah di Italia?"


Doni menganggukkan kepalanya, diselipkan juga kata, "maaf." berharap perkataan itu bisa membuat Gendis tenang.


Pacaran sama Gendis masih bisa bahagia, walaupun mereka harus LDR.

__ADS_1


Doni juga nggak bisa memilih kebahagiaanya sekaligus, ia memang harus merelakan salah satu dari kebahagiaan yang ia harapkan.


Doni terus memeluk Gendis, melihat Gendis meluapkan kesedihannya. Ada perasaan sedih yang juga Doni rasakan, saat melihat air mata kekasihnya ini yang nggak bisa berhenti menangis.


Belum lagi, Doni harus menyampaikannya ke Nover, kalau ia dan Gendis harus berpisah.


"Ndis, kita nggak putus kok. Hubungan kita masih berlanjut, dan masih bisa komunikasi lewat handphone. Nanti, kak Doni juga bisa ngabarin kamu lewat Nover, kalau kamu mau komunikasi lewat video call."


Gendis nggak bergeming, dia nggak membayangkan akan berpisah dengan Doni. Padahal baru sebentar mereka berpacaran, dan lagi sayang-sayanganya. Gendis malah harus berpisah dengan Doni, dan harus menerima keputusan pacaran beda negara.


Doni akhirnya pulang setelah meminta tolong Maya, supaya datang ke rumahnya Gendis.


"ada apaan sih Don?" tanya Maya yang baru datang, langsung melihat wajah Gendis yang sembab.


"nanti, biar Gendis aja yang jelasin. Gue tinggal ya May, titip Gendis."


Gendis menggeleng, tangannya nggak mau terlepas dari Doni.


"kak Doni juga harus ketemu sama yang lain Ndis, nanti kita berkabar lewat telfon ya?"


Gendis hanya menundukkan kepalanya.


...----------------...


Sepanjang perjalanan pulang, yang Gendis kira kalau Doni hanya memikirkan hobinya dan impiannya. Nyatanya nggak seperti yang Gendis pikirkan.


Pikiran Doni mengawang, anak umur 14 tahun harus dihadapkan dengan cobaan hidup, dan keputusan yang harus ia terima dengan sangat terpaksa.


Doni nggak pernah membayangkan, kalau makan malam dengan keluarganya saat ia baru saja pulang dari Garut. Ternyata menjadi makan malam yang menegangkan, dan menjadi makan malam yang ia sesali.


"Doni mau kenalin seseorang ke Papa dan Mama," ucap Doni, dengan air muka bahagia.


"pacar?" tanya Papanya Doni.


Doni mengangguk disertakan senyuman bahagia, sementara Mamanya langsung melirik, dan mengajukan pertanyaan pada Doni.


"yang kamu kenalkan ke Nini Annette?"


"iya, Nini juga seneng banget Ma, dikenalin sama Gendis." jelas Doni, antusias.

__ADS_1


"satu sekolah di Star School?" tanya pak Yosua


"kita nggak satu sekolah Pa, dia sekolah di sekolah negeri," jawab Doni menjelaskan.


"kok bisa kenalan? Kenalan di mana kalian?" tanya Mamanya Doni.


"pertama kenal di gelanggang renang, Ma. Terus ...," ucapan Doni terpotong, padahal bermaksud menjelakan kalau Gendis juga sepupunya Nover.


"gelanggang renang?!" disampaikan secara bersamaan, oleh kedua orang tua Doni yang terlihat terkejut.


"Mama, akan kabulkan permintaan kamu menjadi pembalap. Asalkan kamu sekolah di Italia!" tegas beliau.


"Ma! Sudah Papa tekankan, tidak ada menjadi pembalap. Bagaimana dengan perusahaan kita Ma?" tegas sang kepala rumah tangga.


Doni hanya menyimak perdebatan antara kedua orang tuanya.


"*nanti kita bahas lagi Pa, Doni masih umur 14 tahun. Impiannya masih panjang, kalau dari umurnya sekarang, kita paksa dia untuk meneruskan perusahaan. Biarkan dia mengejar mimpinya, toh itu hanya sampai batas waktu yang bisa kita tentukan juga." Bu Destri dengan tegas memberikan keputusan*nya.


Doni menepikan motornya sejenak, sebelum masuk ke rumah Rezy.


Air matanya menggenang menghalangi pandangannya, saat mengingat percakapan dengan kedua orang tuanya.


Bagaimana mungkin Doni nggak sedih, bagaimana mungkin Doni bisa senang, meskipun impiannya selama ini menjadi pembalap Motor Grand prix , akhirnya dikabulkan.


Setelah dirasa tenang, Doni pun masuk ke rumah Rezy. Dari rumah Gendis tadi, Doni sudah dikabari keberadaan teman-temannya yang sedang berkumpul di rumah Rezy.


"sakit melulu lo, Zy? Harus punya pacar lo, biar ada yang ngingetin. Biar nggak nge-game melulu!" ledek Doni, yang baru datang langsung mengomentari Rezy.


Sengaja ucapan itu ia sampaikan ke Rezy, hanya untuk mengalihkan dari kesedihannya saat ini.


"nggak usah punya pacar, kurang perhatian dan cerewet apalagi kita sebagai temennya. Belum lagi, tante Tasya yang perhatian dan cerewet sama kondisi anaknya sendiri. Emang dasar anaknya aja yang susah nurut." cerocos Nover, menasihati Rezy.


"untung lo nggak jadi anaknya nyokap gue, Zy. Vitamin A sampai Z, harus dikonsumsi kalau lagi musimnya penyakit atau badan udah nggak enak." timpal Nover, menambahkan lagi.


Doni hanya menyimak teman-temannya, yang malah menyalahkan kondisi Rezy yang sakit lagi, karena kebiasaan main gamenya yang nggak kenal waktu. Walaupun ada hasil dari kegigihan Rezy yang sudah menjadi Pro Player, tapi sayangnya Rezy selalu lupa sama kesehatannya, karena saking padatnya sama kompetisi game yang sebelumnya ia ikuti.


"boleh menyela sebentar?" tanya Doni, meminta izin.


Ada perasaan takut, saat Doni mau menyampaikan informasi kepindahannya. Ada perasaan sedih juga, karena hubungan pertemanannya sudah terjalin dari kecil. Hingga sampai saat ini, yang harus ia akhiri dengan perpisahan.

__ADS_1


__ADS_2